Only You

ONLY YOU/EUNHAE/PG-15/GENDERSWITCH/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Donghae, Eunhyuk (yeoja), Hangeng dan Henry

Eunhae

*Donghae PoV*

Hai, namaku Donghae. Ya, tanpa ku perkenalkan diri pun kalian sudah tahu siapa aku. Hehe bukannya sombong, di sekolah ini tidak ada yang tidak mengenalku. Mau bukti? Saat ku berjalan, semua mata tertuju padaku terutama mata para yeoja itu dan yang ku lakukan hanya satu yaitu memberikan senyuman mautku yang mempesona ini.

 

“Annyeong, Donghae-a!!” sapa beberapa yeoja yang tersipu menatapku. Seperti biasa, untuk membahagiakan mereka, ku berikan senyum tipisku yang lembut. “Kyaa…Donghae sshi menatapku!!” sahut seru beberapa yeoja lain yang ku jumpai di lorong sekolah terpanjang—tempat favoritku menikmati waktu luangku di sekolah karena lorong ini adalah lorong ter-ramai.

Aku berjalan santai dan semakin memperlambat langkahku. Ku masukan kedua tanganku ke dalam kantong celana dan sesekali bersiul santai sambil mengumbar senyum terbaikku. Dari kejauhan, seorang yeoja dengan handphonenya menarik perhatianku. Ia berjalan santai tidak menatapku. Apa? Tidak menatapku?! Ini tidak boleh terjadi. Aku menatap yeoja itu yang semakin mendekat ke arahku. Dahiku mengerut, melihat yeoja itu yang tidak kunjung menatapku. Apakah handphonenya itu lebih menarik dibanding aku? Aku menggelengkan kepalaku.

“Mianhae” kata yeoja itu—tersadar aku menghalangi jalannya namun tetap pada pendiriannya, Ia tidak menatapku.

Ia bergeser ke kiri dan aku pun ikut bergeser ke kiri. Yeoja itu menarik nafas pelan namun tidak kunjung menatapku, Ia bergeser ke kanan dan aku pun ikut bergeser ke kanan. Aku menghalanginya jalan agar Ia melihatku dan menyapaku seperti para yeoja lainnya. Jangan salah paham, aku hanya berusaha adil. Aku tidak akan membiarkan satu yeoja pun tidak mendapatkan senyumanku—yang biasanya membahagiakan mereka.

“Apa?” tanya yeoja itu mendongakkan kepalanya, menatapku.

Akhirnya Ia menatapku. Aku mulai merekahkan ujung – ujung bibirku dan memperlihatkan senyuman terbaikku padanya. Yeoja itu mengatupkan mulutnya dan mulai mengangguk pelan. Akhirnya dia mengerti maksudku. Ayo, sapa aku! Kau ingin menyapaku, bukan?

Yeoja itu menepuk pundakku dan pergi meninggalkan ku begitu saja. Ia berjalan santai sambil menatap handphonenya lagi tanpa mempedulikan aku. Apa – apaan yeoja ini?! Tidak bisa dibiarkan. Namja setampan aku dianggurkan begitu saja, huh?! Dasar.

Aku menarik pundaknya hingga Ia menghentikan langkahnya dan menatapku santai. “Kau tahu siapa aku,huh? Aku Lee Donghae”

“Oh. Mau kenalan? Bilang dari tadi dong. Panggil saja aku Eunhyuk” yeoja itu langsung meraih tanganku dan menjabatnya. Ia memberikan senyuman ramahnya sambil memperlihatkan gusi giginya.

Aku tercengang mendapati perlakuan yeoja ini. Tanpa basa – basi, Ia menepuk pundakku lagi dan pergi meninggalkanku sambil menatap handphonenya lagi. Aku menatap tanganku kemudian menatap punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari pandanganku. “Eunhyuk” gumamku

***

“Bwahahahahaha” tawa Hangeng hyung dan Henry membahana di telingaku. Mereka tampak senang mendapati diriku yang populer ini diperlakukan seperti itu oleh seorang yeoja yang memandangku dengan tatapan biasa. Atau mungkin tidak memandangku.

“Artinya teorimu yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun yeoja yang tak mengenalmu itu salah” ujar Hangeng hyung di sela – sela gelak tawanya.

Mendengar itu dahiku mengernyit dan bibirku mengulum maju—tidak terima, berbeda dengan Henry yang tertawa semakin keras. Inilah kami, tiga namja tampan yang populer di sekolah ini. Aku dan Henry belajar banyak dari Hangeng hyung bagaimana caranya memperlakukan yeoja dengan baik.

Henry mengadahkan tangannya di depan wajahku. Ia tersenyum penuh kemenangan hingga aku pasrah mengeluarkan beberapa lembar uang yang ada di kantong celanaku. “Tunggu! Kau pikir, yeoja yang bernama Eunhyuk itu mengenalmu, huh?! Dia itu yeoja yang tidak peduli dengan sekitarnya kecuali dunianya”

Henry mendengus, mendengar ucapanku. Ia melirik Hangeng hyung sekilas dan Ia pun mengangguk—mengerti maksudku. “Aku terima tantanganmu”

*Donghae PoV end*

 

***

Seperti biasanya, Donghae berjalan santai di lorong favoritnya sambil memperhatikan para yeoja yang menatap kagum padanya. Di saat yang sama, mata Donghae tertuju pada yeoja yang menjadi perhatiannya belakangan ini. Seperti biasanya pula, Ia berjalan menatap handphonenya tanpa melihatnya.

Donghae menghela nafasnya dan tetap berjalan lurus sambil memperhatikan Eunhyuk yang berjalan ke arahnya. Dugaan Donghae tepat, Eunhyuk berjalan melaluinya begitu saja tanpa meliriknya. Donghae menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang—menatap punggung Eunhyuk yang semakin menjauh. Ia melihat Henry yang berjalan ke arahnya. Donghae bertaruh, Eunhyuk juga tidak akan mengenali Henry.

“Eunhyuk-aa” sapa Henry mengulum senyum sambil melirk Donghae di balik kepala Eunhyuk.

Donghae mendengus dan mulai merekahkan senyum kemenangan saat Eunhyuk berhenti di hadapan Henry tanpa memandangnya. Donghae bersiul pelan, Ia tahu Henry tidak akan menang darinya.

“Ah, Henry sshi. Annyeong!” sapa Eunhyuk yang langsung melipat handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya. Ia membungkukkan diri sesaat di hadapan Henry, layaknya para yeoja lain yang memuja Henry.

Henry semakin melancarkan senyuman mautnya sambil menatap geli wajah Donghae yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ah, tidak ku sangka. Kau mengenalku yah”

“Tentu! Siapa yang tidak mengenalmu? Kenapa Henry berkata seperti itu?” tanya Eunhyuk tidak mengerti. Kata – kata Eunhyuk membuat Donghae makin tercengang.

“Ah, anii. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar – benar mengenaliku. Repot juga kan kalau aku ingin berbicara denganmu tapi kau tidak mengenaliku” jelas Henry yang berhasil membuat Eunhyuk tersipu.

Donghae mengacak – acak rambutnya—tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari kejauhan, Henry mengajak Eunhyuk untuk berbincang – bincang ringan sambil lalu meninggalkan lorong—tempat Donghae berdiri memperhatikan.

Hangeng muncul tiba – tiba di balik punggung Donghae. Ia mulai merangkul pundak Donghae dan meletakkan dagunya di atas bahu Donghae. “Bagaimana? Ternyata kemajuan Henry lebih pesat dibanding dirimu. Tidak ku sangka, Henry yang terhitung murid baruku itu bisa mengalahkanmu, yang merupakan murid handalku”

“Itu hanya kebetulan!” seru Donghae yang masih memandang kepergian Henry dan Eunhyuk yang mulai luput dari pandangannya.

“Kebetulan? Lucu juga. Kebetulan yang menarik yah? Kenapa hanya dia, yeoja yang tidak memandangmu?” bisik Hangeng di telinga Donghae. Hangeng menepuk pundak Donghae dan pergi meninggalkan Donghae secara perlahan.

Mata Donghae membulat, menelan tiap kalimat Hangeng—gurunya itu. Deru nafas Hangeng masih terasa di sela – sela telinga Donghae hingga Ia benar – benar mengecam kata – kata Hangeng. “Kenapa hanya dia?” gumam Donghae sangsi.

***

Setiap hari Donghae rajin berjalan di lorong favoritnya. Ia baru menyadari bahwa Eunhyuk juga suka berjalan di lorong ini. Donghae mengerutkan alisnya, ini semua hanya kebetulan, pikirnya. Tidak hanya Eunhyuk yang suka berjalan di lorong ini. Ada banyak siswa yang melalui lorong ini setiap harinya walau lorong ini bukanlah lorong satu – satunya yang ada di sekolahnya.

“Kau lihat itu? Itu yang namanya Lee Donghae. Orang yang paling gigih, yang pernah ku kenal” jelas Hangeng memperhatikan Donghae dari kejauhan.

Henry mengangguk setuju dengan Hangeng. Dari jejeran jendela lorong, Henry dan Hangeng dapat dengan jelas memperhatikan gerak – gerik Donghae menyusuri lorong favoritnya itu. Hangeng mengangkat kedua tangannya dan mulai menyenderkan punggungnya ke pohon yang memayunginya.

“Film yang menarik. Kau dapat berapa? Sepertinya untung banyak” kata Hangeng melirik Henry penuh makna. Henry hanya tersenyum seraya menepuk saku seragam sekolahnya.

Karena Eunhyuk, Donghae melupakan senyum tipis mautnya yang biasanya Ia tebar pada para yeoja yang mengharapkannya. Beberapa yeoja menyapa Donghae namun Donghae hanya diam sambil terus menerus memperhatikan satu yeoja yang makin mendekat ke arahnya. Donghae baru menyadari bahwa lorong favoritnya itu terlalu padat dan ramai hingga Ia harus memfokuskan matanya pada Eunhyuk agar yeoja itu tidak luput dari pandangannya.

BRUK!!

“Donghae-aa!!”, “Donghae oppa!!” , “Donghae sshi!!”, “Gwenchanayo?!!” seru beruntun beberapa yeoja yang terkejut mendapati Donghae terjatuh. Mereka heboh membantu Donghae yang hanya terjatuh ringan.

Donghae bangkit dengan bantuan para yeoja itu. Ia mengangguk – anggukan kepalanya—mengucap terima kasih pada mereka. Bisa – bisanya Donghae tersandung dan terjatuh di lorong favoritnya, di lorong—tempatnya menebar pesona. Dan itu semua hanya karena satu yeoja, yaitu Eunhyuk.

Donghae mengadahkan kepalanya kemudian menyapu pandangannya ke segala arah, mencari sosok Eunhyuk. Yeoja rambut pirang dan pendek itu telah berjalan menjauhi Donghae. Tak disangka, yeoja itu berjalan santai tanpa mempedulikan Donghae yang terjatuh disana. Donghae yang terjatuh pun tidak dapat mengalihkan pandangan Eunhyuk dari handphonenya.

Keesokan harinya, Donghae telah membulatkan tekad. Donghae akan membuat Eunhyuk memandangnya hingga hanya dia yang ada di matanya bukan handphonenya. Donghae berdiri di ujung lorong, menghirup nafas dalam – dalam. Eunhyuk, hanya nama itu yang ada di otaknya sekarang. Donghae mulai berjalan santai seperti biasanya. Ia melirik beberapa yeoja yang tersenyum dan menyapanya. Kali ini Ia hanya mengangguk pelan—memberi respon pada para yeoja itu. Donghae memilih untuk tidak menebar senyumnya agar Ia fokus dengan sosok yang dicarinya.

Deg…Deg…dada Donghae berdegup kencang saat melihat sosok yang dicarinya telah Ia kunci di matanya. Donghae melangkahkan kakinya hati – hati, mengikuti irama tabuhan hatinya. Eunhyuk dengan handphonenya semakin mendekat ke arahnya, hati Donghae pun semakin bertabuh hingga kakinya tidak sabar untuk berjalan cepat. Eunhyuk berjalan melewati Donghae tanpa memandangnya bahkan meliriknya seperti biasanya. Donghae menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang kemudian dalam satu gerakan cepat Ia menarik lengan Eunhyuk dan meraih handphone Eunhyuk.

Eunhyuk yang terkejut pun langsung menerkam tangan Donghae yang mengambil handphonenya. Donghae mengangkat tangannya yang memegang handphone Eunhyuk setinggi – tingginya hingga Eunhyuk tidak dapat meraihnya.

“Masih tidak mau menatap ku juga?!” gertak Donghae memperhatikan mata Eunhyuk yang masih berusaha meraih handphonenya. “Ternyata memang hanya handphone ini yang ada di matamu? Baiklah”

“Jangan dibuka!!” pinta Eunhyuk memberontak.

Donghae tidak menuruti kata – kata Eunhyuk. Ia penasaran dengan dunia Eunhyuk yang selama ini berada di dalam handphonenya—yang telah membuat mata Eunhyuk tidak menatapnya. Donghae memegang kepala Eunhyuk, menghentikan yeoja itu untuk berontak. “Aku tidak mau menurutimu. Aku tidak menebar pesona senyumku belakangan ini hanya karena kamu yang ada di mataku. Aku tersandung dan terjatuh di lorong ini juga karena kamu. Karena hanya kamu yang ada di mataku. Tapi kenapa kamu tidak pernah mau menatapku?”

Eunhyuk menghentikan pemberontakannya. Ia makin membuang mukanya, tidak ingin menatap wajah namja yang ada di hadapannya kini. Donghae menggelengkan kepalanya dan mendesis heran. Bahkan sampai di detik terakhir pun, yeoja yang ada di hadapannya ini masih tidak mau memandang wajahnya. Donghae melirik handphone lipat Eunhyuk yang ada di genggamannya. Ia membuka handphone itu dan terkejut mendapati apa yang dilihatnya.

“Kau bilang, aku tidak pernah menatapmu? Selama ini di lorong ini, aku selalu memandangmu. Hanya kamu, dunia yang ada di handphoneku dan hanya kamu yang ada di mataku” jelas Eunhyuk merunduk—tidak ingin menatap Donghae.

Donghae tersenyum senang melihat semua foto – fotonya yang ada di handphone Eunhyuk. Ia meraih dagu runcing Eunhyuk dan menyuruhnya untuk menatapnya namun Eunhyuk malah menutup matanya—masih tidak ingin menatapnya. “Kau selama ini memandangku melalui handphne? Eunhyukkie, sekarang hanya ada aku di hadapanmu. Tataplah aku”

“Nggak mau. Aku malu” ceplos Eunhyuk masih bertahan dengan mata yang tertutup. Eunhyuk tidak tahu semerah apa wajahnya yang masih disentuh Donghae. Bibirnya terlalu jujur hari itu.

Eunhyuk dapat mendengar desisan tawa yang ditahan Donghae. Eunhyuk mengerutkan alisnya, semakin tidak ingin membuka matanya. Ia ingin cepat – cepat melepaskan diri dari Donghae namun ternyata tubuhnya terkunci oleh tubuh Donghae dan dinding lorong yang baru Ia sadari telah menjepitnya. Hati Eunhyuk bedegup semakin kencang, membuatnya ingin memberontak dari kuncian Donghae. “Ya! Apa yang akan kau laku—–“

Eunhyuk membuka matanya dengan cepat. Ia memandang mata Donghae yang berada tepat di depan matanya. Hidung Eunhyuk dan Donghae saling beradu. Donghae dengan beraninya mencium bibirnya di lorong yang masih ramai dengan murid – murid yang berlalu lalang. Donghae menatap mata bulat Eunhyuk yang terkejut memandangnya. Donghae melepaskan bibirnya dari bibir Eunhyuk namun Ia masih memandang mata Eunhyuk yang terbuka lebar memandanginya.

“Apa aku harus menciummu seperti ini dulu, baru kau memandangku?” goda Donghae mulai merekahkan senyum tipis mautnya. Ia menarik kepala Eunhyuk ke dadanya dan mulai memeluknya. “Kau malu kan? Biar aku yang menutupi wajahmu dengan tubuhku. Apa sekarang aku harus mengatakan kata itu?”

“Tidak perlu. Aku sudah mendengar kata itu dari hatimu” ujar Eunhyuk dalam pelukan Donghae. Eunhyuk tersenyum pelan, mendengar kata cinta dari tabuhan hati Donghae yang sama berdebarnya dengan hatinya. Donghae tersenyum dan semakin menenggelamkan kepala Eunhyuk ke dalam pelukannya.

_THE END_

Iklan

Between Moon and Sun

BETWEEN MOON AND SUN/KYUMIN/PG-13/SHONEN AI/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: KyuMin (Kyuhyun-Sungmin), YunJae (Yunho-Jaejoong), Leeteuk dan Donghae

Author by: Soraciel

Disclaimer: Semua nama tokoh di fanfic ini diambil dari member Super Junior dan DBSK. KyuSun dan SungMoon adalah nama ciptaan saya. Dilarang menuliskannya tanpa seizin saya. Terima kasih.

 680094221

~Tiap malam, bulan ditemani bintang yang bermain di sekelilingnya. Bintang selalu datang dengan beragam cerita menghibur bulan. Kali ini, bintang bercerita bahwa ada sesuatu yang tuhan ciptakan untuk bulan dan bulan tidak akan pernah dipertemukan dengan sesuatu itu. Sesuatu itu adalah matahari.Sosok yang mendambakan bulan dan memancarkan sinarnya untuk dipantulkan bulan di malam hari.Bulan yang mengetahui itu, selalu mencintai matahari tanpa melihat matahari.

“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”~

***

“Hah….aku mimpi itu lagi! Kali ini sangat jelas, hyung!! Aku yakin peramal itu berkata benar. Aku adalah sang rembulan yang merindukan matahari. Dan beberapa hari lagi, aku akan bersatu dengan matahari” ujarku yang terbangun dari mimpiku.Keringat mengucur dari dahiku dan tanganku bergetar memegangi tangan Jaejoong hyung agar dia mempercayaiku.

“Kau percaya bahwa kau adalah roh bulan yang berenkarnasi?Itu hanya ramalan.Ma…mana ada kehidupan masa lalu” kata Jaejoong hyung—yang merupakan kakak kesayanganku.

“Aku percaya, hyung. Belakangan ini terasa sangat jelas. Apalagi sejak tubuhku ditato, aku merasakan sinar matahari makin hangat. Ya, mungkin ini petunjuknya. Matahari mulai mendekatiku dan aku akan berusaha mencari yeoja mana yang merupakan renkarnasi matahari” kataku dalam tubuh gemetar.

“Hentikan, Minnie! Aku tidak ingin kau sakit hati karena bergaul dengan yeoja, lalu kau dipanggil yeoja lagi. Kau sudah sejauh ini.Lihat tatomu!!”Jaejoong hyung menunjuk pada pinggangku.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

Mataku terbelalak mendengar perkataan Jaejoong hyung yang langsung menutup bibirnya. Tubuhku berhenti bergetar. Rasanya sesak dalam dadaku.Hening menguasai kamar Jaejoong hyung. “A….aku yakin dia seorang yeoja” getirku gugup.

Jaejoong hyung memelukku hingga aku merasa santai. Jaejoong hyung menyuruhku kembali ke kamarku. Aku selalu merepotkan Jaejoong hyung setiap mimpi ini datang. Dan setiap itu pula lah tubuhku bergetar dan dadaku terasa sesak. Aku kembali ke kamarku dan tidak bisa tidur. Sinar bulan memasuki kamar ku dengan hangat hingga terasa merasuki tubuhku. Aku menatap bulan dengan bibirku yang mengerucut sambil merasakan kehadiran roh bulan yang ber-renkarnasi dalam tubuhku.Aku menutup mataku perlahan dan merasakan suara Jae hyung yang berdengung di telingaku “Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

***

 “Antarkan aku sampai ke dalam kelas” kataku manja sambil mengerucutkan bibirku yang tipis nan mungil. Beginilah tiap harinya, Jaejoong hyung mengantarkan ku menuju kelas, yang sebenarnya Ia ingin menebar pesona pada para yeoja tetapi aku senang. Seperti biasanya, Jaejoong hyung hanya mengantarkanku sampai tepi lorong.

“Tidak mau.Aku juga ingin ke kelas ku” kata Jaejoong hyung mengerucutkan bibir merahnya yang menggoda—membalas tantanganku.

“Argh, sial!! Aku kalah lagi!! Kenapa bibir kerucut hyung bisa lebih seksi dariku!!” gerutuku kesal.

Jaejoong hyung tertawa dan pergi memunggungiku menuju kelasnya. Aku memandang punggungnya yang makin menjauh dengan bibir yang masih mengerucut. Terlihat dari punggungnya yang bidang, usahanya agar tidak terlihat cantik lebih keras dibanding diriku.

“Kyaaa…Sungmin-sshi!! Bolehkah kami memegang bibirmu?!” , “Kyaa…manis banget kalau kayak gitu” , “Sungmin oppa lebih manis kok dari Jaejoong oppa. Kyaa” teriak para yeoja beruntun mengelilingiku. Aku hanya tersenyum manis dan memperlakukan mereka dengan baik dan nyaman seperti biasanya. Inilah yang biasa ku lakukan demi mencari sosok matahariku yang selalu muncul dibenakku dan membuat hatiku tidak karuan.

Setelah melayani para yeoja itu, Aku berjalan menuju kelasku. Suatu hal yang menyenangkan melewati lorong sekolah dengan dimanjakan tarian sinar matahari dari jejeran jendela. Aku senyum-senyum sendiri merasakan sinar matahari merasuki tubuhku. Aku tidak sabar memperlihatkan tatoku pada teman-teman. Agar mereka mengakui aku macho sebagai namja.

Sesampainya di kelas, aku berkumpul dengan lingkaran para namja. Semua teman-teman namja di kelasku berkumpul untuk ngobrol berbagai hal. Kecuali satu orang, Si angkuh Kyuhyun. Dia selau diam dan berjalan angkuh dengan tatapan matanya yang tajam. Hanya dia, satu-satunya orang yang membenciku. Terlihat dari tatapan matanya yang seperti ingin membunuhku. Sejak saat itu, aku tidak ingin berdekatan dengan dia.

“Hebat kan?Sudah ku duga” kataku memperlihatkan pinggang ku.

“Uwoo!Daebak, Sungmin-sshi!” kata Donghae. “Aaa, Kyuhyun-sshi! Lihat tato Sungmi…”

Kyuhyun berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan kelas. Aku yang melihat hal itu merasakan sekali kebencian Kyuhyun padaku. Dia membenciku begitu saja.

“Waeyo?Apa sebegitu bencinya dia pada namja cantik?” terka Donghae enteng.

Aku menatap Kyuhyun yang pergi meninggalkan kelas sambil mengerucutkan bibirku yang mungil. Aku berdiri dari tempat dudukku dan mencari tahu kemana Kyuhyun pergi. Selama ini aku tidak pernah bertanya padanya mengapa dia begitu benci padaku. Aku pergi keluar kelas dan melangkah di sepanjang lorong. Aku tersenyum melihat sinar matahari—yang ku sukaimasuk melalui sela – sela jendela, seolah–olah sinarnya mengikuti kemanapun aku melangkah.

“Nah, gini dong!Ini Kyusun yang aku kenal!!”

“Kyusun?” terka ku sambil menghentikan langkah kakiku. Aku melihat Leeteuk hyung sedang tertawa bersama Kyuhyun. Tertawa?Apa ini? Si angkuh Kyuhyun itu ternyata bisa tertawa seperti itu juga. Aku merasakan sinar matahari makin memanas di kulitku yang lembut hingga membuat darahku mengalir deras dan sampai di hatiku yang mulai berdebar. Kenapa? Apa yang terjadi dengan hatiku? Apakah ini sebuah petunjuk bahwa Kyuhyun adalah matahariku? Tidak, tidak, tidak!! Lee Sungmin, kamu ini masih normal dan tidak mungkin matahari adalah seorang namja. Aku menggelengkan kepalaku—menepis semua asumsi yang ada di benakku.

“Kau kenapa, Sungmoon? Kok geleng – geleng kepala gitu?” tegur Leeteuk hyung yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku.

“Heeh?! Sungmoon?!” spontan ku. Aku terkejut saat melihat Leeteuk hyung dan Kyuhyun yang sudah ada di hadapanku. Aku menelan ludah dan menatap Leeteuk hyung—menunggu respon.

“Ahahaha kau seperti tidak kenal aku saja, Sungminnie! Aku kan suka asal menyebut nama orang. Hahaha tapi Sungmoon itu cocok untuk namja lembut sepertimu, seperti bulan (moon) yang lembut” jelas Leeteuk hyung yang membuatku tercengang. “Dan ini Kyusun.Hahaha ternyata aku memang pintar merangkai kata yah? Kyuhyun itu emang bener–bener kayak matahari (sun) deh. Ah, kalian berdua cocok yah! Moon and Sun. Hahaha”

“Jangan seenaknya bicara!” gertak Kyuhyun mengguncang–guncangkan tubuh Leeteuk hyung yang makin tertawa nyaring.

Mataku membulat mendengar ucapan Leeteuk hyung walaupun itu hanya sebuah gurauan. Aku terdiam menatap Kyuhyun yang masih memukul–mukul Leeteuk dengan segala canda tawa. Aku terlalu mengambil hati kata–kata Leeteuk hyung.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?” kata–kata Jae hyung menghantuiku. Aku pun menutup telinga, sinar matahari mulai terasa memanas di kulitku membuat tubuhku bergetar dan mulai mengerang kesakitan hingga membuat kedua namja sekitarku itu menatapku heran. Leeteuk hyung menepuk–nepuk punggungku cemas namun Kyuhyun hanya diam dan pergi meninggalkan kami berdua perlahan.

***

“Sudah ku bilang, jangan dekat – dekat dengan si Kyuhyun itu! Sudah tahu dia begitu membencimu! Kau tahu kan rumor Kyuhyun yang bisa mengutuk orang, huh?! Mungkin saja dia mengutukmu atau apalah tapi kau malah aissh …. Kau yakin ingin istirahat disini?! Kau benar tidak apa–apa?!” ujar Jae hyung beruntun memegangi kedua bahuku.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis pada kakakku yang begitu mencemaskanku. Leeteuk hyung mengajak Jaejoong hyung untuk berbicara secara pribadi. Ia tahu Jae hyung begitu membenci Kyuhyun, berbeda dengan dirinya yang dekat dengan Kyuhyun. Aku menyenderkan punggungku pada pohon—tempatku duduk.“Sungmoon?Kyusun?” gumamku lemah. Ada apa denganku? Otak dan hatiku tidak sejalan. Hatiku berdegup seolah – olah memberitahukan aku bahwa Kyuhyun adalah matahari namun otakku begitu menekan kepalaku—menyadarkan aku bahwa aku adalah namja normal. Tidak mungkin aku menyukai seorang namja.

***

~Bintang yang bertaburan di sekeliling bulan layaknya prajurit yang senantiasa menjaga bulan. Demi menjaga bulan, bintang menyerap sinar matahari sehingga bintang bersinar lebih terang.Hanya bintang yang tahu, dimana letak matahari dan seberapa jauh matahari dari bulan. Bintang tidak ingin bulan sepertinya, bintang tidak ingin bulan seterang bintang seperti saat ini~

***

“Sudah ku bilang, jauhi dia!! Aku tidak ingin Minnie-ku menjadi sepertiku! Menjalani cinta sesama jenis itu tidak mudah. Itu cinta terlarang, kau tahu itu!!” gertak seorang namja sambil memijat – mijat dahinya.

“Aku sudah berusaha mengikuti apa yang kau bilang.Sungmin itu berbeda denganmu! Kau menjalani cinta sesama jenis karena dirimu sendiri. Sementara aku dan Sungminhanya menerima takdir kami sebagai…”

“Cukup!! Tidak ada roh, tidak ada renkarnasi! Yang ada sekarang hanyalah kesadaranmu bahwa kau adalah seorang namja dan sebagai namja normal, kau harusnya mencintai seorang yeoja!!” gertak Jaejoong tidak dapat menahan dirinya lagi.“Terserah kau. Aku sudah memperingatimu! Aku akan mengubah Minnie-ku menjadi namja sejati agar dia tidak sepertiku. Aku akan menjaganya agar jauh darimu”

***

“Jae hyung?Eng…” gumamku membuka mataku. Aku menatap matahari yang menyapaku dari sela–sela dedaunan yang memayungiku. Aku terbangun dari mimpi–mimpi anehku lagi namun kali ini makin jelas dan aku tidak ingin mempercayainya lagi. Aku melihat sekitarku, sepertinya Jaejoong hyung telah kembali ke kelasnya hingga hanya ada aku sendiri disini. Aku mulai menyipitkan mataku melihat punggung bidang seorang namja yang tampak bercahaya. Hari itu memang terik sehingga aku tidak dapat memastikan punggung siapa itu. Dari arahnya berjalan, Ia memasuki ruang astronomi. “Kyusun?” terka ku yang akhirnya diam–diam mengikuti Kyuhyun. Aku memasuki ruang astronomi dan mendapati Kyuhyun yang sedang tersenyum menatap teropong bintangnya.

“Ternyata kau disitu, bulan” kata Kyuhyun sambil melancarkan senyuman mautnya.

Aku tertegun. Pipiku mulai memerah dan dadaku berdebar. Apakah roh bulan yang berada dalam tubuhku sedang tersipu malu? Atau aku yang sebenarnya malu? Kakiku bergetar dan tak bisa berkata-kata. Kyuhyun yang sadar ada yang memperhatikannya kini menoleh ke arahku dan terkejut.

“K..Kyu…Kyusun? A…apakah benar kau adalah mataha….”

Kyuhyun memelukku dalam satu gerakan cepat. Ia tidak membiarkan aku berbicara. Ia semakin merengkuhkan pelukannya padaku hingga erat. Mengapa tubuhku tidak menolak? Jantungku berpacu cepat, mengalirkan darah ke seluruh tubuh hingga tubuhku memanas dan dadaku terasa sesak. Otakku menekan kepalaku hingga terasa sakit dan mengucurkan bulir–bulir keringat dingin yang keluar dari dahiku. Aku merasa dingin dan panas secara bersamaan hingga membuatku ingin muntah. Aku namja tapi namja ini adalah matahari, lalu aku harus bagaimana?

“Maafkan aku. Aku sudah tidak tahan lagi.Aku sudah melanggar janji Jaejoong hyung” gumam Kyuhyun di telingaku. “Chagiya, aku tidak suka kau menato tubuhmu”

“Ah…apa? Cha…Chagi?” getirku dengan tubuh yang semakin bergetar.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dariku, memegang erat pundakku sambil menatapku tajam namun lembut. Aku memandangnya dengan wajah tak mengerti kemudian membuang mukaku dari tatapannya, tidak sanggup menatap mata tajamnya itu.

“Tanpa ku jelaskan, kau pasti sudah tahu kan aku ini siapa dan ada hubungan apa aku denganmu?” tanya Kyuhyun lembut membuat mataku melebar dan menelan ludahku. “Sudah lama aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Saranghaeyo, bulanku.Bolehkah aku menciummu?”

***

~“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”

Bulan menyadari sinar matahari yang terpancar padanya semakin terang.Bulan merasakan kehadiran matahari yang kian dekat. Bulan percaya saat itu, dia akan bertemu dengan sosok dambaannya, sang matahari. Semakin lama, semakin panas sinar matahari yang terpantul pada bulan.Tanpa sepengetahuan bintang dan atas izin tuhan, bulan dan matahari bertemu. Bulan dan matahari pun menyatu bagaikan sepasang kekasih yang saling memeluk~

***

“Mwo?!Ash….mataku sakit” kata Yunho setelah melihat langit.

“Wae, Wae? Ada apa dengan matamu?” tanya Jaejoong panik. “Apa seseorang melukaimu?”

“Ambil ini, lihatlah ke langit. Tapi jangan lama – lama melihatnya” Yunho memberikan kacamata hitamnya pada Jaejoong—kekasih terlarangnya sambil mengucek matanya yang perih.

“Tidak mungkin!Gerhana matahari. Ash…Minnie” kata Jaejoong yang segera melepas kacamata hitamnya dan berlari menuju ruang astronomi. “Aku gagal! Aku gagal!”

Jaejoong membuka pintu ruang astronomi secara kasar. Ia terkejut mendapati ku yang sedang menangis dalam pelukan Kyuhyun. Aku melihat kehadiran Jaejoong hyung yang sedang memandangku tercengang. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari ku dan membiarkan ku untuk menghampiri kakakku. Kyuhyun membungkukan diri—tanda hormatnya sekaligus meminta maaf pada Jaejoong hyung.Aku memukul Jaejoong hyung hingga terjatuh kemudian memeluknya erat.

“Jadi selama ini kau sudah tahu semuanya?Mengapa kau merahasiakannya?” gumam ku di telinga Jaejoong hyung. Aku kesal sekaligus sedih memikirkan penderitaannya. Jae hyung menjauhkan ku dari Kyuhyun, membentuk ku menjadi namja sejati agar aku tidak sepertinya.Hanya karena diriku, Jae hyung dapat berbuat sejauh itu. Jae hyung terlalu menyayangiku. Di sela–sela telingaku, aku mendengar suara Jae hyung yang menggumamkan kata maaf terus menerus.Aku dapat merasakan kerapuhannya dari tubuh besar yang ku peluk saat ini.

***

~Do’a bulan terkabul, bulan bertemu dengan matahari setiap gerhana matahari. Bintang selalu membawa cerita untuk bulan agar melupakan peristiwa gerhana matahari sehingga peristiwa gerhana matahari selalu terjadi dalam jangka waktu yang lama.Olehkarenanya di antara bulan dan matahari, ada bintang yang tahu segalanya. Ada bintang yang selalu menemani dan menjaga bulan~

***

“Aku dan Kyuhyun telah memutuskan bahwa kami akan berpisah dan bertemu lagi di renkarnasi berikutnya. Kami berharap saat itu, kami terlahir kembali dengan jenis kelamin yang berbeda hingga cinta ini tidak terlarang lagi. Hingga saat itu tiba, aku harap Jae hyung tetap menjadi bintang yang selalu menjagaku” jelas ku panjang lebar. Ini memang keputusan berat namun aku dan Kyuhyun menghargai usaha Jaejoong hyung selama ini.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi demi aku. Selama ini aku selalu mengatur hidupmu, sekarang aku memberikan kebebasan untukmu dan mungkin a…a… akuakan merelakan hubunganmu dengan Kyuhyun” ujar Jae hyung melepaskan diri dari pelukanku perlahan kemudian merangkul dan mengusap bahuku.

Kyuhyun menghampiriku yang terduduk di lantai bersama Jaejoong hyung. Ia mengusap pipiku hingga sampai di bibirku dan mulai melancarkan senyum evilnya, “Bagaimana ini, Sungmoon? Aku ingin normal tapi roh matahari yang ada dalam diriku ingin memilikimu seutuhnya dalam konteks yang berbeda. Kau mengerti? Hehe”

Aku dan Jaejoong sama–sama terkejut. Jaejoong melototi Kyuhyun sementara aku tersenyum pasrah menatap matahariku yang suka menggoda itu.

SELESAI

Ps: Fanfiction ini pernah diikutkan ke dalam lomba FF, dipublish di maorurin.wordpress.com dan di notes facebook saya. Fanfiction ini murni MILIK SAYA. NO COPYCAT