Reuni Sania

Suara tawa memenuhi ruangan pesta sederhana temu kangen kawan lama. Mata mereka tertuju pada satu layar besar yang mempertontonkan dokumentasi kenangan masa sekolah mereka. Mereka begitu menikmatinya, dan membahasnya hingga muncul sebuah foto yang membuat mereka semua hening.

***

“SANIAAAAA!!!” teriak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain bekel.

Sania berlari kegirangan setelah mengacaukan permainan bekel mereka. Siapa yang tidak tahu Sania, anak super bandel yang tidak pernah ada yang berani melawannya karena dia anak guru. Mudah bagi Sania untuk memutarbalikan fakta, mengadu pada ibunya. Dan selayaknya guru, dia akan member hukuman pada siapa yang telah menyakiti murid lainnya, terlebih murid tersebut adalah anaknya sendiri.

Semua murid berharap akan tiba dimana ada hari pembalasan untuk Sania. Hingga hari itu tiba. Hari dimana Sania membuat Rayya menangis. Rayya, si tuan putri sekolah, cantik, pintar, dan baik hati. Semua orang menyayangi Rayya, berbanding terbalik dengan Sania.

“Mulai hari ini, kita semua, satu angkatan cuekin Sania! Nggak ada yang boleh ngobrol sama dia. Kalau ada yang ngobrol, kita semua memusuhi dia juga, setuju?!” kata ketua kelas di depan kelas yang direspon positif oleh satu kelas. Tentu saja pertemuan itu tanpa Sania, dia telah pulang duluan dengan Ibunya.

“Tapi aku kan sebangku dengan Sania” sahut Tia merasa tidak enak hati. Tentu semua mata tertuju padanya hari itu.

“Hmm yaa pokoknya seperlunya saja, Tia. Yang lain bantu Tia, biar nggak banyak terjadi obrolan antara Tia dan Sania, oke?! Biar Sania tahu rasa!” ketua kelas mengakhiri kata-katanya dan pergi bermain sepak bola bersama murid laki-laki lainnya. Entah bagaimana semua murid laki-laki itu bisa kehabisan tingkat kesabarannya jika semua berhubungan dengan Rayya, si tuan putri sekolah.

Sejak saat itu, Tia hanya memberi respon seadanya pada percakapan Sania. Respon iya, tidak, diam mengangguk dan lain sebagainya. Ketika Sania mulai bercerita tentang apa yang telah dia lakukan, semua orang menarik Tia ke suatu tempat mengajaknya bermain tanpa Sania tentunya.

Sania mengambil bola yang dimainkan anak laki-laki di lapangan dan mulai berlari. Tidak ada lagi yang mengejarnya untuk mendapatkan bola. Sania melempar bola itu ke lapangan merasa bosan dan bersemangat untuk mengacaukan permainan bekel sekumpulan anak perempuan di salah satu lorong kelas. Permainan kacau, tetapi yang tersisa hanya Sania di sana. Semua perempuan telah pergi ke tempat lain, menganggap Sania telah tiada. Entah bagaimana kejadian itu terjadi sangat lama hingga menjadi sebuah kebiasaan, sampai kelulusan tiba.

Kabar angin sampai ke telinga masing-masing murid bahwa Sania dimasukkan ke sebuah padepokan oleh Ibunya agar menjadi anak yang baik dan tidak bandel lagi seperti dulu. Semua hanya tertawa dan menjalani kehidupan sekolah yang baru, tentunya dengan teman-teman baru.

***

New chat room

Tia: Reuni yang diadain sekolah? Pasti boring, mending jalan aje yuk kemana gitu. Kan reuni juga, yang ikut bisa hubungin gue sekarang. Mari kabur dari reuni.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ayo dah.

Vera: Eh, parah lo semua. Nanti sepi loh. Gue kesana deh.

Wandi: Katanya ada Sania loh. Kan emaknya yang bikin reunian ini kan.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ver, lo wakilin kita yak. Palingan itu reuni 20 orang nggak nyampe.

***

Lima hari setelah acara reuni, Vera berlari tergopoh-gopoh ke rumah Tia dan memaksanya ke rumah Sania. Kabar angin berhembus dengan cepat, Vera mengabarkan bahwa semua orang harus ke rumah Sania hari itu juga dan dia akan memberitahukan alasannya jika semua sudah berkumpul di sana. Semua orang tanpa terkecuali harus datang kesana hari ini, terutama Tia yang wajib datang.

“Gila apa? Kenapa gue yang diwajibin sih? Oke gue tahu, gue salah, gue yang bikin semua orang pada nggak dateng ke reuni. Tapi bu Siska uda nggak ada hak buat ngehukum gue atau apa. Kita bukan murid dia lagi” panjang lebar Tia menolak ajakan Vera.

“Kali ini aja. Lo bakalan nyesel kalo nggak ke rumah Sania hari ini. Gue jamin, nggak akan ada apa-apaan yang penting lo dateng. Gue habis dari sana dan keburu janji sama bu Siska buat bawa lo kesana” panjang lebar Vera dengan wajah memohon.

Tia menyetujui permintaan Vera dan pergi bersama ke rumah Sania. Berjarak dua rumah dari rumah Sania, Tia sudah merasakan suasana yang aneh. Beberapa orang berdatangan ke sana. Vera masuk ke dalam rumah Sania lebih dulu, sementara Tia berhenti di ambang pintu dengan penuh keraguan.

“Tiaaaaaaa!!!” teriak bu Siska sambil menangis. Tia menghampiri bu Siska dengan cepat dan melihat Vera yang duduk tidak jauh darinya. “Makasih sudah kesini, Tia. Kenapa kemarin tidak datang ke reuni?”

“Saya ada urusan, bu” singkat Tia penuh kebingungan melihat bu Siska yang menangis penuh histeris.

“Sania, naaak. Sania kesana. Sania ingin ketemu kamu, karena katanya, nak Tia adalah satu-satunya teman Sania. Huhuh….Sania nggak punya teman di padepokan, naaak” ujar bu Siska yang air matanya mengalir semakin deras.

Tia ikut menangis dan memalingkan wajahnya ke sebuah ruang keluarga yang besar, terlihat disana tumpukan kain yang menutupi tubuh seseorang yang berbaring di sana. Tia dan Vera bertukar pandang dan pergi ke ruangan tersebut, memandangi tubuh yang ditutupi kain tanpa terkecuali.

“Itu Sania, naaak. Sania sakit dari kemarin. Tapi dia tetap bela-belain datang ke reuni untuk bertemu Tia dan teman-teman!!” seru bu Siska yang ditenangi oleh beberapa ibu yang berada di sekelilingnya.

“Eee gue ngerasa bersalah sama Sania. Kemarin di reunian, nggak ada yang sadar ada dia, gue juga. Kebiasaan sama…kelakuan kita setahun terakhir. Gue baru ngeh pas gue ke kamar mandi, gue kira dia…dia…setan” cerita Vera yang membuat Tia sedikit terkejut. “Soalnya dia pucat banget, putih gitu. Makanya gue kaget”

Vera memukul-mukul mulutnya, dia lupa kalau saat ini sedang dalam keadaan duka. Tia dan Vera hanya diam duduk di dekat sana. Tak ada satu pun dari mereka yang berani untuk membuka kain yang menutupi wajah Sania di sana. Setelah cukup lama, mereka pun pergi meninggalkan rumah Sania. Di perjalanan pulang, Tia memikirkan bagaimana bisa Sania menganggapnya sebagai satu-satunya teman baginya. Mungkin Tia adalah satu-satunya orang yang merespon Sania lebih banyak dibanding anak-anak yang lain, tetapi itu semua hanya karena dia adalah teman sebangku Sania. Hanya itu.

***

Semua orang terdiam memandangi foto Sania di sana. Beberapa orang memilih untuk menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya. Bukan hanya karena sikap mereka pada Sania yang terpantul disana, melainkan karena mengetahui bagaimana cara Sania meninggal.

 

Beberapa orang bilang, Sania belum meninggal karena hanya ibunya saja yang mengatakannya. Tidak ada pemeriksaan dokter atau apa pun di sana. Pemandian dan semuanya diurus oleh bu Siska seorang. Orang-orang hanya membantu pemakaman ketika mengetahui kabar Sania telah tiada. Tanpa sengaja, orang-orang mengubur Sania dalam keadaan hidup.

SELESAI

Author’s Note: #NulisRandom2015 hari ke 6. Hari ini ada reuni SD yang nggak bisa gue datangin karena gue sakit. Dan kalau bengong, nginget reuni itu inget “Sania”. Yup, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Tentunya dengan polesan sana-sini. Dalam cerita ini, gue adalah Tia. Saat ini gue cuma bisa mendoakan “sania” aja ketika gue mengingatnya. Missed satu hari nulis, kemarin gue bener-bener dalam keadaan kritis. Semoga besok sudah sehat ^^ terima kasih sudah membaca.

List #NulisRandom2015:

Day 1: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Day 2: Kacamata (fiksi)

Day 3: Hadiah Dari Kucing (non fiksi)

Day 4: Dalam Lift (fiksi)

Iklan

Kacamata

AKU BENCI KACAMATA.

dan keluargaku benci kalau aku mengatakannya dengan keras. Bagaimana tidak? Kacamata adalah benda yang telah menyekolahkanku dan membuat perutku selalu sejahtera. Dia seperti berhala di rumah yang telah menjadi toko kacamata ini. Ahya rumah kami kebetulan berada di tempat dimana sepanjang jalan isinya para pedagang.

“Ah, kalian lagi. Ayo masuk, kemarin baru saja frame kacamata terbaru datang” sapa ibuku ramah pada tiga remaja perempuan yang memasuki toko kami dengan penuh semangat.

Aku memperhatikan ketiga remaja perempuan itu dari kejauhan sambil memegang erat gagang sapu. Ketiganya terlihat sangat stylish dengan kacamatanya. Yang satu berambut panjang dan digerai, yang kedua rambutnya dikuncir kuda, dan yang ketiga rambutnya pendek. Wajah mereka tampak bingung memilah kacamata yang mereka inginkan, padahal tak perlu bingung seperti itu jika memang butuh. Tak bisa kupungkiri, belakangan ini kacamata ‘naik tahta’ menjadi aksesori fashion, bukan lagi hanya menjadi sekadar alat bantu melihat. Walau begitu, aku tetap benci kacamata.

“Uda selesai nyapunya? Ada pelanggan tuh ya senyum dong. Gimana sih?” kata pria yang baru saja melaluiku dan menghampiri ibuku. Ya kenalkan pria itu adalah….

“kyaa…kak fakhri….” respon salah satu perempuan pelanggan kami, si rambut panjang yang digerai. Sepintas wajahnya memerah saat melihat Fakhri, abangku yang merupakan anak pertama dan mungkin akan menuruni usaha kacamata keluarga kami. “Ha-hari…ini kacamata kak Fakhri cocok banget”

“ah masa? Aku kan nggak pernah ganti kacamata” kata Kak Fakhri dengan senyum ramahnya.

“eh iya yah? Hahaha salah deh kalo gitu” sahut si rambut panjang yang kemungkinan menyukai abangku itu. Mereka pun tertawa bersama.

Ibuku pergi meninggalkan ketiga pelanggan kami itu pada Kak Fakhri dan masuk ke dalam rumah. Dia sepintas melihat jam dan tersenyum senang. Ibuku berhenti di hadapanku dan memegang kedua bahuku, “Yu, kamu bisa nyapu tanpa kacamata gitu? Nanti nggak bersih loh”

Aku hanya menghela nafasku, menghentikan aktivitas menyapuku, dan mengambil kacamataku yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ini ironi, aku membenci kacamata tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini sama seperti orang yang sakit, mereka membenci obat tapi membutuhkannya, seperti sebuah ketergantungan dan aku benci itu. Aku mengelap kacamataku perlahan sambil mendengar sayup-sayup suara pelanggan lain yang datang.

***

Namaku Fakhri, anak pertama dari empat bersaudara. Kalian sudah melihat Ayu, adik perempuanku yang sedang menyapu di sana, wajahnya selalu tak bisa ramah ketika pelanggan kami datang. Dua adikku yang lain sedang bersekolah dan aku berharap mereka cepat pulang untuk membantuku mengatasi ketiga pelanggan muda kami yang terlalu lama memilih dan berujung pada tidak membeli. Itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Bagaimana pun orang yang telah sampai di toko kami haruslah menukarkan uangnya dengan kacamata kami.

Seorang bapak dengan anaknya berhenti sejenak di depan toko kami, tapi mereka berdiri agak jauh dari toko kami. Dari raut wajahnya terlihat sekali dia sedang berpikir. Terlihat tangan kanan Bapak itu menggandeng anak laki-lakinya yang sedang memeluk kotak mainan robot baru dan tangan kirinya memegang plastik belanjaan yang entah apa isinya. Penampilannya sederhana, tapi aku tahu, dia akan menjadi pelanggan yang akan melayangkan uang ke toko kami.

“Boleh dilihat dulu saja, Pak. Atau mungkin mau dicoba juga nggak apa. Bapak perlu kacamata yang seperti apa?” kataku melengkungkan senyuman ramahku.

Bapak itu mendekat ke meja etalase kacamata kami. Dia melihat-lihat tanpa banyak bicara. Salah satu perempuan pelanggan muda yang tadi menyapaku mulai berbicara lagi dan menanyakan apakah kacamata yang dipakainya sesuai dengan dirinya atau tidak.

“Iya cocok kok. Itu juga bagus” kataku sambil membalas senyuman singkat. Aku kembali memperhatikan bapak yang dari tadi masih melihat kacamata dalam diam. Aku tidak boleh kehilangan fokus pada bapak yang berpotensi membeli kacamata ini. Aku mulai tidak sabar dan mengambil sembarang kacamata.

“Bagaimana dengan yang ini, pak? Bapak butuh kacamata untuk siapa?” tanyaku dengan ramah. Bapak itu akhirnya menoleh ke arahku dan mulai melihat kacamata yang kugenggam.

“Kak Fakhri, aku cocok dengan kacamata yang ini, nggak?” kata salah satu perempuan yang dari tadi berusaha mengambil alih perhatianku.

“Yang ini ada warna biru nggak? Kalo nggak ada, aku nggak jadi beli deh” kata teman perempuannya yang berambut pendek.

Aku tidak bisa fokus kalau begini caranya. Aku menoleh ke belakang, melihat Ayu yang sedang memasukkan sampah dari pengkinya ke tong sampah. Aku memberinya kode untuk membantuku, mengatasi perempuan-perempuan ini selagi aku fokus pada si bapak yang berpotensi beli ini. Ayu hanya melewatiku, membawa sampahnya keluar toko. Benar-benar adik yang menyebalkan.

“AH! GALEH! LIDYA!!” teriakku gembira melihat kedua adik kembarku yang telah pulang. Bantuan itu selalu datang pada orang yang membutuhkan, ya aku percaya itu.

“kyaaa si kembar pulang yah!!” seru pelanggan perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Dia yang dari tadi diam, kini melihat si kembar dengan penuh semangat. Sepertinya dia menyukai anak-anak.

“Kakak yang kemarin yah?! Beli kacamata lagi kan?” kata Lidya dengan senyum lebar.

Bagus Lidya, kau memang adikku, kau pintar sekali.

“Ah, kakak nggak tau mau beli apa nggak. Masih liat-liat nih hehehe” jawab si rambut panjang digerai.

Seperti yang kuduga, memang dia tidak ingin membelinya. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Aku tampan dan aku tahu itu.

“Nggak apa-apa, kak! Galeh tahu! Kakak-kakak cantik semua ini kesini untuk menemui Galeh yang ganteng ini kan?” kata Galeh bertolak pinggang. Kemudian si rambut kuncir kuda menghampiri Galeh dan mencubit pipinya gemas.

“Dasar si Galeh ini. Bisa-bisanya berkata seperti itu” gumamku gregetan.

“Bukannya itu mirip sepertimu, kak” sahut Ayu pergi melewatiku begitu saja.

***

Tik….Tok….

Sebentar lagi menunjukkan jam 3 Sore, tetapi belum satu pun pelanggan yang membeli kacamata kami. Aku membaca buku catatan keuangan kami dan mengadahkan kepalaku ke atas, melihat kak Fakhri yang masih membujuk bapak pelanggan kami. Dari dalam kaca etalase, aku dapat melihat Galeh, kakak kembarku masih bermain dengan kakak-kakak itu. Harusnya dia letakkan tas sekolahnya dulu ke dalam, baru lanjut menemani pelanggan.

Aku melihat Kak Ayu sedang menggonta-ganti channel televisi dengan bosan. Ya, selama ada kami, mana mungkin dia turun tangan. Permasalahannya sebentar lagi toko kami akan tutup dan pelanggan belum ada satu pun yang membeli kacamata kami. Aku memandang wajah pelanggan perempuan kami yang berambut pendek, wajahnya tampak bosan. Berbeda dengan dua yang lainnya. Aku tidak boleh kalah dari Kak Fakhri atau pun Galeh. Aku juga harus bisa mengajak pelanggan ini berbicara.

“Kakak…kakak bosan yah?” kataku yang kini telah berada di hadapannya.

“Iya. Habisnya dua temanku itu nggak selesai-selesai milih dari tadi” katanya.

“Hngg memangnya kakak nggak berniat membeli kacamata?” kataku begitu pelan dan hati-hati. Tapi aku harus tetap memperlihatkan wajah polosku.

“Hemm nggak tahu yah. Tadinya aku suka kacamata yang itu. Tapi nggak ada warna biru. Aku suka warna biru soalnya”

Yang benar saja. Kakak ini cuma cari alasan agar tidak membelinya. Kacamata formal seperti itu mana mungkin ada yang berwarna biru. Ah, mungkin saja ada suatu saat nanti. Aku menengok jam dinding toko telah menunjukkan angka tiga. Mataku dan mata Kak Ayu saling melirik. Seketika Kak Ayu berjalan menghampiri Kak Fakhri. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan. Toko kami akan tutup sebentar lagi dan hari ini haruslah ada pelanggan. Aku harus mencari cara.

TRING….

“Wah gantungan tas midorima! Lucu banget!”

“KAMU TAHU MIDORIMA?!!” teriak histeris kakak berambut pendek.

GOTCHA!

“Tahu doooong. Kuroko no basket kaaaan?? Ih kakak ini. Aku juga suka anime tauuu” pancingku.

“Ya ampuuun aku nggak nyangka malah nemuin fangirl di sini. Aku kemarin pengen banget nge-cosu midorma. Crossdressing gitu deh hahahaha, tapi aku masih nabung buat beli wignya. Wignya hijau sih” celoteh panjang kakak pelanggan berambut pendek.

“Kakak suka warna biru yah? Pasti punya wig biru kan?” tanyaku yang dibalasnya dengan anggukan semangat. “Kalau begitu, beli kacamata merah ini aja. Kakak bisa nge-cross jadi Rei loh. Kakak nonton free, nggak?”

Wajahnya terkejut memandangiku dan kacamata merah yang sedang kupegang.

***

Aku melihat Lidya di sana dengan kakak berambut pendek yang telah jatuh ke dalam perangkapnya. Kak Ayu yang mulai membantu Kak Fakhri, kemudian pergerakan cepat Lidya, dan angin sore yang menerpa rambutku, adalah tanda bahwa toko kami sebentar lagi tutup. Tidak ada waktu lagi, aku juga harus cepat beraksi.

“Aku beli kacamata merahnya!” kata kakak berambut pendek itu.

Lidya memberikan senyuman jenakanya padaku dari jauh. Dia berhasil. Dia duluan yang membuat pelanggan kami mengeluarkan uang. Kak Fakhri menyiapkan bon dan kacamata yang dibeli oleh kakak berambut pendek itu. Sementara Kak Ayu mulai berbicara dengan si Bapak yang dari tadi kebingungan memilih tapi belum mencoba kacamatanya sama sekali.

“Galeh lucu banget sih. Gimana rasanya jadi kakak kembar?” kata kakak rambut kuncir kuda.

“Rasanya….hemmm apa yah. Kami sebagai anak kembar selalu bersaing. Dan aku selalu saja kalah” kataku mulai membentuk wajah sedih.

“Loh kenapa? Kamu kan kakak. Lahir duluan sudah merupakan kemenangan, bukan?”

“Ah itu kan cuma lahir saja. Selama ini Lidya selalu terdepan. Itu lihat aja barusan, dia bisa bikin temen kakak beli kacamata. Sementara aku nggak bisa. Di rumah, cuma aku yang nggak berguna” kataku melihat raut wajah tak tega kakak rambut kuncir kuda. “Tuh liat, Kak Fakhri senyum-senyum sambil elus-elus Lidya. Memang Lidya yang paling bisa diandalkan”

Kakak perempuan kuncir kuda itu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompetnya. Aku berhasil.

***

Fakhri melihat jam dinding yang menunjukkan jam 4 Sore. Dia sudah tidak sabar menghadapi bapak yang berpotensi beli itu. Dia menyerahkannya pada Ayu. Fakhri menerima uang dari dua pelanggan perempuannya. Hanya tinggal satu perempuan yang belum membeli kacamatanya, si rambut panjang yang digerai, yang daritadi mencuri perhatiannya. Fakhri melihat si kembar yang masih asik berbicara dengan pelanggannya masing-masing. Dia pun mulai menatap serius pelanggan perempuan berambut panjang digerai.

“Apakah ini cocok untukku?” kata perempuan itu yang telah mencoba banyak kacamata.

“Apapun yang kamu pakai itu cocok dan cantik. Sekarang saatnya tetapkan pilihan yah” kata Fakhri menggenggam tangan perempuan itu dengan tatapan mata yang tajam nan serius.

“a–aku beli yang ini” katanya.

Ketiga remaja perempuan itu pulang dengan membawa kacamata dari toko kami. Si kembar sedang bermain dengan anak si Bapak yang tak kunjung menetapkan pilihannya. Fakhri masih menghitung uang dengan senang, sementara Ayu masih menatap bapak dengan rasa yang ditahannya. Tunggu sampai….

“Coba saja yang ini pak! Yang ini tidak bikin bapak terlihat tua dan harganya murah harganya! MURAH PAK MURAH! SAYA CUMA AMBIL UNTUNG SEDIKIT, BAPAK TEGA SEKALI MINTA MURAH LEBIH DARI INI” teriak Ayu sambil menghentakkan tangannya di meja sontak membuat beberapa pejalan kaki terdiam dan melihat ke arah toko kacamata kami.

Bapak tersebut melihat ke sekeliling dimana semua orang memandangnya termasuk si pemilik toko yang berada di depan toko kami dan pelanggannya. Suasana hening seketika.

“Papa emang pelit. Buruan beli biar kita cepet pulang, pa”

Bapak itu tertawa ringan sambil mengeluarkan uangnya perlahan dan mengambil kacamata itu dengan perasaan tidak enak. Fakhri tersenyum memberikan bungkusan kacamata pada bapak itu, “Terima kasih telah membeli kacamata kami dan jangan kapok datang kesini lagi”

Bapak itu mengambil bungkusannya dengan cepat dan bergumam pelan, “Senyuman laki-laki tadi itu mengerikan”.

Fakhri, Ayu, dan Si kembar menutup toko bersama. Setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Aku tahu itu. Aku bisa mendengar suaranya.

“AKU DAPAT SATU PELANGGAN!” teriak si kembar bersamaan.

“Akhirnya berakhir juga hari ini. Sesuai perjanjian~~” kata Ayu.

“Nah jadi?” sahut Fakhri.

“Ya, ya, ya. Liburan jaga toko selama sebulan buat Ayu, game untuk Galeh, komik untuk Lidya, dan uang jajan tambahan sebesar 50% untuk Fakhri” jelasku panjang lebar.

Raut wajah mereka berempat begitu gembira dan mereka berlari ke ruangan yang lain meninggalkanku. Ya, tak apa. Setidaknya hari ini aku bisa tidur siang, merawat kecantikanku agar awet muda, dan toko kacamata tetap berjalan dengan adanya pembeli tiap harinya.

SELESAI

Author’s note: hari kedua dalam rangka #NulisRandom2015 hohohoho. Hari ini aku minta kata benda sama si Galeh buat bikin cerita ini, dan kata yang dia kasih adalah “kacamata”. Alur dan sudut pandangnya ngasal aja, nggak mikir lama yang penting ngetik aja. Endingnya juga rada nggak jelas gitu yah? Yaudalahyah. Bahkan sebenernya ini cerita apaan sih? Hahaha demi menyembuhkan diri dari writer’s block. Special thanks buat KeCe yang nama-namanya aku pakai di sini hahahaha. Ohya untuk #NulisRandom2015 hari pertamanya ada di sini yah