Oh, My!!

Author’s note: Fiksi ini didedikasikan untuk band yang mewarnai masa remajaku, yaitu My Chemical Romance, juga untuk Corina, sahabatku yang sangat menyukai band ini dan teman gilaku untuk band ini. Putri is me, Karina is Corina.

MCR1

When I was a young boy, my father took me into the city………..

Matahari bersinar menyambut pagi. Sekarang giliran Putri menyambut pagi dengan menyetel musik My Chemical Romance sekencang – kencangnya. Ia berdendang dengan semangat dan menyanyikan lagu Welcome to the black parade dengan sepenuh hati. Begitu semangatnya Ia beringsut ke kamar mandi sambil berdendang. Hari ini adalah hari pertama masuk SMA. Hari yang istimewa baginya.

“We’ll carry on! We’ll carry on!” dendang Putri mengancingkan seragamnya.

“Put! Putriiiiii!” teriak seseorang menggedor – gedor pintu kamar Putri.

Putri beranjak mengecilkan suara radio-tape miliknya. Ia bergegas mengambil sesuatu yang bisa dipakainya untuk menggantikan rok yang belum dipakainya.

“Bisa tolong dimatikan untuk hari ini? Aku mohon! Aku bosan untuk mendengar lagu yang sering kau setel tiap harinya!” keluh seorang laki – laki dibalik pintu dengan nada lembut. “Kau pakai sarung?”

“Iya, aku belum pakai rok! Memangnya segitu membosankannya kah lagu My Chemical Romance di telinga Kak Rifqi?” tanya Putri dengan nada kesal.

“Sekarang iya. Apakah hal ini harus menjadi ritualmu tiap pagi? Itu mengganggu sekali. Aku telah kehilangan menit – menit yang seharusnya aku masih tertidur hingga akhirnya aku berada disini untuk memohon padamu!” gerutu Rifqi dengan nada kesal yang ditahan.

“Kalau begitu, mengapa kakak masih berada disini?” tanya Putri dengan nada sedikit sewot.

“Aaaaaargh! Ini semua karena suara Gerrard Way yang menggangguku tidur! Dan Kau! Kau malah menambah volume suaranya hingga aku terbangun! Dan…..Dan…. Pengganggu!” kata Rifqi dengan nada marah namun tertahan sedikit.

“Aku bukan pengganggu! Dan suara Gerrard itu tidak jelek! Terserah! Nikmati hari – hari tidurmu!” gerutu Putri yang sambil lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya.

Dari luar pintu kamar Putri, terdengar suara volume radio-tape terdengar semakin mengeras.

“Adik yang keras kepala. Terserah!” kata Rifqi dengan sangat kesal.

“Tenang yah, Gerrard! Aku akan tetap mengidolakan dirimu, grup bandmu, suaramu dan lagu – lagumu. Meski lagumu sudah tidak tren lagi sekarang, aku akan tetap menumbuhkan semangat My Chemical Romance untukmu” kata Putri memandang poster My Chemical Romance dan mengecup gambar Gerrard Way dengan hati – hati.

Putri segera mengenakan rok abu – abunya untuk yang pertama kalinya. Ia bercermin dan menampilkan senyuman menawannya. Ia pun berbalik dan merogoh tas ranselnya. Ia pun keluar dari kamarnya dengan semangat.

Putri menuruni tangga dengan penuh semangat yang menggebu – gebu dan mulai mendendangkan lagu Teenagers nya My Chemical Romance.

“They’re gonna clean up your looks with all the lies in the books to make a citizen out of you” dendang Putri sambil duduk di kursi meja makan dan mengambil selapis roti yang telah dihidangkan.

“Tuh kan, Ma! Mengganggu sekali tahu, nggak?!” sela Rifqi menghentikan Putri bernyanyi.

Putri diam dan menatap kakaknya dengan rasa kesal. Ia mulai melahap rotinya sambil menatap kakaknya dengan tatapan jengkel.

“Putri, lain kali suara My Chemical Romance-nya pelan – pelan, yah? Selain kakakmu, para tetangga juga ikut terganggu. Pagi – pagi sudah dihidangin lagu – lagu spesialmu” kata Mama Putri dengan lembut.

“Tapi itu sudah Putri kecilkan kok!” protes Putri.

“Tapi itu masih keras, sayang!” kata Mama Putri.

“Mama we all go to hell! Mama we all go to hell! I’m writting this letter and wishing you well. Mama we all go to hell” senandung Putri sambil menyium telapak tangan mamanya dan bergegas meninggalkan rumah.

“Tuh kan!” kata Rifqi pada sang Mama

“Memangnya tadi dia nyanyi apa, Qi?” tanya Mama.

“Apalagi? Lagu My Chemical Romance” kata Rifqi tak acuh.

Putri keluar rumah dengan semangat rok abu – abu serta semangat My Chemical Romance miliknya. Dia bergerak – gerak riang untuk menyambut pagi yang menyenangkan baginya. Di kejauhan, Putri melihat Karina sahabatnya.

“Gimana kabar lo? Semangat untuk hari ini?” tanya Putri dengan semangat.

“I’m not okay! I’m not okay! I’m not okaaaay!” senandung Karina.

“Ah, bisa aja lo!” kata Putri yang ikut bernyanyi lagu My Chemical Romance yang berjudul I’m not okay.

Sepanjang jalan, Putri dan Karina bernyanyi lagu My Chemical Romance dengan semangat. Setelah lelah, mereka berhenti dan ngobrol mengenai My Chemical Romance. Tiada habisnya topik pembicaraan tentang My Chemical Romance mereka bicarakan. Putri dan Karina sudah lama bersahabat. Dari mereka SD hingga kini. Selera mereka hampir sama karena sudah bertahun – tahun bersama – sama.

Sesampainya di sekolah baru mereka. Sekolah dengan seragam putih abu-abu penghuninya. Mereka masuk dengan perasaan yang tidak sabar. Suatu kerumunan anak – anak baru menyita perhatian mereka. Mereka pun berlari untuk melihat apa yang sedang ‘dikerumunkan’.

“Ada apa sih?” tanya Putri ke salah seorang dari kerumunan.

“Pembagian kelas” kata orang itu yang sambil lalu pergi dari kerumunan.

“Aaah, tidak!” jerit Karina dengan penuh kekagetan.

“Kita tidak sekelas?” tanya Putri memandang Karina yang begitu lesuhnya. “Yah, nggak apa – apa sih. Berarti ini sudah yang ketiga kalinya kita tidak sekelas sejak SD”

“Well when you go. Don’t ever think I’ll make you try to stay” senandung Karina mulai menyanyikan lagu I Don’t love you.

“And maybe when you get back! I’ll be off to find another way” senandung Putri melanjutkat nyanyian Karina. “Beneran nggak sekelas yah? Sedih gue!”

“Becanda kali gue, Put!” kata Karina. “Kita sekelas lagi. Bosen gue! Hehehe”

Putri langsung meraih tangan Karina dan lompat – lompat kegirangan. Karina juga menyambutnya dengan lompat – lompat bersama Putri.

“I Don’t love you! Like I loved you yesterday!” Kata Putri menggunakan lirik My Chemical Romance dengan ekspresi kesal telah di usili Karina.

Sepasang mata memperhatikan Putri dan Karina dari kejauhan. Putri dan Karina yang tidak menyadarinya hanya melompat – lompat kegirangan dan berjalan memasuki koridor untuk mencari kelas mereka. Sepasang mata yang memperhatikan Putri dan Karina itu mulai berjalan mengikuti Putri dan Karina dari belakang.

“Welcome to the black parade!” kata Karina menunjukkan kelas yang mereka tempati.

“Yeah, we’ll carry on! We’ll carry on!” senandung Putri memasuki kelas bersama Karina.

Mereka duduk di sebuah kursi kedua dari papan tulis. Mereka meletakkan tas mereka di atas meja dan menyanyikan lagu My Chemical Romance penuh semangat sampai lupa dengan sekitar.

“Hey, hey! Sepertinya kalian berdua sedang menjadi pusat perhatian” kata seorang laki – laki yang duduk di depan mereka.

“Oh, My!” kaget mereka. Mereka berdua melihat sekitar dan kemudian saling menatap. “Chemical Romance!”

“Gue perhatiin lo berdua dari tempat papan pengumuman sampai sini, nyanyi lagu MCR mulu. Lo berdua suka MCR ya? Gue juga! Kenalin gue Bayu. Lo?” kata laki – laki yang dari tadi mengikuti Putri dan Karina.

“Gue Putri dan dia Karina” kata Putri.

“Gue Karina dan dia Putri” kata Karina.

Mereka berdua berdiri dan meraih salah satu tangan Bayu. Putri memegang tangan kanan Bayu dan Karina memegang tangan kiri Bayu. Bayu yang heran hanya menatap kedua teman barunya dengan tatapan tercengang.

“Salam em-si-ar (MCR) dari kami!” kata Putri dan Karina serentak lalu mengguncangkan tangan Bayu ke atas dan ke bawah.

Lalu mereka berdua melepaskan tangan Bayu dan duduk kembali. Bayu pun memutar kursinya dan duduk berhadapan dengan kedua teman barunya.

“Kalian nggak malu dengan tingkah kalian?” tanya Bayu blak – blakan.

“What’s the worst that I can say?” kata Putri mulai bernyanyi.

“Things are better if I stay” kata Karina melanjutkan.

“So long and good night! So long and good night” kata Bayu yang ikut melanjutkan.

Putri dan Karina berhenti bernyanyi dan tertawa bersama Bayu.

“Oh, My! Oh, My!” kata Putri geleng – geleng kepala.

“Chemical Romance!” kata Bayu mulai terbiasa dengan kedua teman barunya.

Putri dan Karina tertawa lagi yang diikut sertakan Bayu. Kini sekelilingnya mulai melihat mereka bertiga tertawa dengan akrabnya.

“Lo bisa aja! Udah mulai ikut – ikutan kami!” kata Karina dengan tawa kecil

“Bener!  Bener! Itu ungkapan kekagetan kami” jelas Putri.

“Memangnya lo kaget kenapa, Put?” tanya Bayu.

“Suara lo merdu banget!” kata Putri.

“Iya, lembut gitu” kata Karina yang mengangguk setuju.

“Makasih, ya! Suara kalian nggak buruk kok” kata Bayu. “Gue ini vokalis band. Jadi wajar aja kalo suara gue bagus”

“Ha? Yang bener?!” kaget Putri dan Karina. “Oh, My!”

“Chemical Romance!” sambung Bayu.

Sejak saat itu, Bayu mulai menceritakan kisah hidupnya, bandnya dan My Chemical Romance. Dia menceritakan bahwa dia sangat menyukai MCR karena album lagunya yang terkonsep. Setiap albumnya memiliki suatu tema dan lagu – lagunya berkesinambungan dengan tema tersebut. Begitu juga liriknya. Dibuatnya Putri dan Karina kagum akan cerita Bayu. Mereka pun makin akrab apalagi soal MCR.

“Wah, gue nggak nyangka! Lo mirip dong sama Gerrard!” kata Karina.

“Mirip?” tanya Bayu tersipu.

“Ah, iya! Gerrard tinggal sama neneknya. Lo juga!” kata Putri tercengang.

“Ah, masa sih? Kalo suaranya mirip nggak?” kata Bayu dengan kepercayaan tinggi.

Mulailah Putri yang bercerita mengenai kisah hidup Gerrard Way yang merupakan sang vokalis yang paling dia kagumi dan sukai. Putri menceritakannya begitu menggebu – gebu hingga Karina ikut serta dalam cerita Putri. Bayu pun semakin semangat untuk mendengarnya. Mereka bertiga asik dengan obrolan mereka hingga tidak terusik dengan keadaan sekitar. Lalu saat seorang guru masuk ke dalam ke kelas, barulah obrolan mereka berakhir. Dan Bayu menyadari bahwa kini dia telah duduk dengan seseorang yang dari tadi berdiam diri. Mungkin karena dia merasa telah di acuhkan keberadaannya oleh Bayu, Putri dan Karina.

Hari – hari telah berjalan dengan ceria dan semangat. Tanpa Putri dan Karina sadari, mereka telah jatuh hati pada Bayu. Bayu yang memiliki suara lembut nan indah, tampan dan menyukai MCR itu mulai populer di sekolah. Apalagi dia semakin aktif di berbagai acara sekolah. Setiap acara sekolah, Bayu pasti bernyanyi solo di atas panggung dan menyanyikan lagu MCR dengan sepenuh hatinya. Dan hal itu membuat Putri dan Karina begitu jatuh hati pada Bayu.

“Oh, My! Dialah sosok Gerrard yang gue inginkan. Suaranya, ketampanannya, keahliannya dalam bermusik dan kisah hidupnya yang begitu mirip. Tenang, Gerrard! Gue nggak akan melupakan cinta gue terhadap lo!” kata Putri mengelus poster MCR nya yang terpasang di balik pintu.

Putri menuruni tangga dengan tenang dan berkhayal akan Bayu yang menyanyikan lagu MCR hanya untuknya.

“Hey, kenapa? Senyum – senyum sendiri! Belakangan ini tumben nggak melakukan ritual mengganggumu itu? Dan aku juga nggak mendengar kamu bernyanyi – nyanyi lagu kesayanganmu itu?” tanya Rifqi.

“Jangan goda adikmu, Qi!” kata sang Papa.

“Iya. Giliran dia anteng – anteng saja, kamu malah yang bikin dia nggak anteng” kata sang Mama.

Putri tidak menanggapinya. Dia pun beranjak dari kursinya dan mencium telapak tangan kedua orang tuanya. Putri pergi sekolah dengan tenang. Semangat yang dulu begitu menggebu – gebu kini berwarna merah muda. Begitu lembut dan tenang. Tidak ada satu pun tetesan keringat jatuh dari keningnya kini. Semua energi begitu tersimpan dan tidak terbuang untuk semangat yang menggebu – gebu. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kini hatinya yang bernyanyi sepanjang jalan hingga bertemu dengan Karina.

Mereka hanya saling menyapa dan menanyakan tugas. Selebihnya mereka memilih untuk diam dan bernyanyi lagu cinta dalam hati mereka. Otak mereka telah disibukkan dengan khayalan tingkat tinggi. Menyama – nyamakan Bayu dengan sosok idaman mereka, Gerrard Way. Walaupun mirip, tapi Bayu bukanlah Gerrard Way. Dari segi wajah pun tidak mirip sama sekali. Putri dan Karina berjalan menuju sekolah dalam diam. Dan mereka tidak sadar akan hal itu. Mereka asik dalam dunia mereka sendiri.

Sesampainya di kelas, mereka dipertemukan dengan Bayu yang sedang menjadi pusat kelas. Bayu sedang memegang gitar dan bernyanyi lagu MCR yang berjudul disenchanted.

Suara gitar yang dipetik begitu terasa lembut dalam angan Putri dan Karina. Benar – benar persis seperti dalam lagu. Putri pun merasa sedang menyetel lagu MCR di kamarnya. Tiba – tiba saja permainan gitar berhenti dan Bayu juga berhenti bernyanyi.

“Hey, kalian berdua! Ikut nyanyi sama gue, yuk!” ajak Bayu kepada Putri dan Karina yang dari tadi berdiri di ambang pintu.

Putri dan Karina langsung berlari menuju meja mereka. Meletakkan tas ransel mereka dan ikut bernyanyi bersama Bayu dan anak – anak lainnya.

“Lagu MCR mulu! Sekali – sekali nggak nyanyi itu kek!” kata seseorang.

“Memangnya kenapa, Fik?” tanya Putri dan Karina serentak.

“Sekarang kan lagi ngetren lagu Gaza, kenapa nggak coba nyanyi itu? Kan gitarnya lebih asikkan itu daripada lagu disenchanted” kata Fikri.

“Iya, sih. Usul anak – anak juga gitu. Gue bawa lagu Gaza juga kok” tanya Bayu.

“Boleh tuh. Lagipula kan lebih seger gitu ngeliat lo nyanyi lagu baru!” kata Fikri.

Nada gitar Bayu mulai dipetik layaknya petikan gitar Michael Heart menyanyikan lagu we will not go down (GAZA).

Putri dan Karina yang rada jengkel pun akhirnya ikut bernyanyi walaupun mereka tidak begitu hafal liriknya. Namun pada akhirnya Putri pergi keluar kelas. Karina yang melihat itu pun mengikuti Putri.

“Bete” kata Putri.

“Iya” kata Karina. “Put, gue pengen cerita sesuatu. Udah lama pengen gue cerita tapi rahasia yah?”

“Kok lo sama kaya gue sih, Rin? Gue juga pengen cerita suatu rahasia nih. Mungkin lebih tepatnya kayak curhat gitu” kata Putri.

“Yah, bisa dibilang curhat juga sih. Gue punya suatu rencana” kata Karina.

“Gue juga. Rencana gue, nanti malem pas acara ultah sekolah nih, gue bakal…..”

“Nembak Bayu” kata Karina.

“Kok lo tahu rencana gue?” tanya Putri

“Itu rencana gue! Lo tuh parah banget ya! Pokoknya gue duluan!”

“Kok gitu? Gue yang duluan yang bakal nembak dia! Rencana ini udah lama gue rencanain!” protes Putri.

“Gue juga! Oke, oke! Gimana kalo kita nembak dia bersama – sama? Jawaban ada di tangan dia? Lebih adil dan nggak nusuk dari belakang!” kata Karina.

“Oke. Deal!” kata Putri mengakhiri.

Diam – diam seseorang mendengar pembicaraan Putri dan Karina.

Malam acara telah tiba. Putri diam – diam menyelinap untuk mendahului Karina. Putri mencari Bayu. Putri menemukan Bayu sedang asyik duduk bersama seorang wanita.

“Oh, My!!” kata Putri terkejut. Betapa sakitnya hati Putri melihat kejadian itu.

“Nape, Put?” tanya Fikri yang tiba – tiba berada di samping Putri.

“Itu ceweknya Bayu?” tanya Putri.

“Mungkin iya, mungkin juga nggak. Habis gue bingung yang mana sebenarnya ceweknya Bayu. Hari ini lain, besok juga lain” kata Fikri.

Putri pun langsung pergi mendatangi Bayu yang sedang asik dengan senior.

“Put, lo mau dahuluin gue ya?” tanya Karina yang berlari mengejar Putri.

Sang senior beranjak pergi dan Bayu melihat Putri dan Karina sedang menghampirinya. Bayu melemparkan senyum pada kedua temannya itu.

“Lo curang! Lo nggak boleh mendahului gitu dong, put!” protes Karina.

“Calm down, ladies! Gue tahu kalian berdua mau menyatakan cinta ke gue. Gue bingung harus milih yang mana? Biar kalian nggak berantem, gue mau kok jadi cowok kalian berdua” kata Bayu dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.

“Oh, My!!” kata Karina tidak percaya.

“Disenchanted! (mengecewakan)” kata Putri.

“I don’t love you! Like I loved you yesterday!” kata Putri dan Karina menampar Bayu serentak. Putri di pipi kanan dan Karina di pipi kiri.

“Cause the hardest part of this is leaving you” senandung Fikri di atas panggung. Dia menjentikkan jarinya di atas piano menyanyikan lagu MCR yang berjudul Cancer. Putri dan Karina memang sedang sakit hati kini. Namun kejadian ini hampir membuat persahabatan Putri dan Karina hancur karena cinta. Mereka pun menemukan sesuatu yang menarik sekarang. Fikri yang begitu lihai menyanyikan lagu Cancer-nya My Chemical Romance.

“Oh, My!!!” seru mereka berdua melupakan yang terjadi dan menatap kagum pada Fikri. Mungkin ini yang dinamakan cinta baru telah datang.

Iklan