Kacamata

AKU BENCI KACAMATA.

dan keluargaku benci kalau aku mengatakannya dengan keras. Bagaimana tidak? Kacamata adalah benda yang telah menyekolahkanku dan membuat perutku selalu sejahtera. Dia seperti berhala di rumah yang telah menjadi toko kacamata ini. Ahya rumah kami kebetulan berada di tempat dimana sepanjang jalan isinya para pedagang.

“Ah, kalian lagi. Ayo masuk, kemarin baru saja frame kacamata terbaru datang” sapa ibuku ramah pada tiga remaja perempuan yang memasuki toko kami dengan penuh semangat.

Aku memperhatikan ketiga remaja perempuan itu dari kejauhan sambil memegang erat gagang sapu. Ketiganya terlihat sangat stylish dengan kacamatanya. Yang satu berambut panjang dan digerai, yang kedua rambutnya dikuncir kuda, dan yang ketiga rambutnya pendek. Wajah mereka tampak bingung memilah kacamata yang mereka inginkan, padahal tak perlu bingung seperti itu jika memang butuh. Tak bisa kupungkiri, belakangan ini kacamata ‘naik tahta’ menjadi aksesori fashion, bukan lagi hanya menjadi sekadar alat bantu melihat. Walau begitu, aku tetap benci kacamata.

“Uda selesai nyapunya? Ada pelanggan tuh ya senyum dong. Gimana sih?” kata pria yang baru saja melaluiku dan menghampiri ibuku. Ya kenalkan pria itu adalah….

“kyaa…kak fakhri….” respon salah satu perempuan pelanggan kami, si rambut panjang yang digerai. Sepintas wajahnya memerah saat melihat Fakhri, abangku yang merupakan anak pertama dan mungkin akan menuruni usaha kacamata keluarga kami. “Ha-hari…ini kacamata kak Fakhri cocok banget”

“ah masa? Aku kan nggak pernah ganti kacamata” kata Kak Fakhri dengan senyum ramahnya.

“eh iya yah? Hahaha salah deh kalo gitu” sahut si rambut panjang yang kemungkinan menyukai abangku itu. Mereka pun tertawa bersama.

Ibuku pergi meninggalkan ketiga pelanggan kami itu pada Kak Fakhri dan masuk ke dalam rumah. Dia sepintas melihat jam dan tersenyum senang. Ibuku berhenti di hadapanku dan memegang kedua bahuku, “Yu, kamu bisa nyapu tanpa kacamata gitu? Nanti nggak bersih loh”

Aku hanya menghela nafasku, menghentikan aktivitas menyapuku, dan mengambil kacamataku yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ini ironi, aku membenci kacamata tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini sama seperti orang yang sakit, mereka membenci obat tapi membutuhkannya, seperti sebuah ketergantungan dan aku benci itu. Aku mengelap kacamataku perlahan sambil mendengar sayup-sayup suara pelanggan lain yang datang.

***

Namaku Fakhri, anak pertama dari empat bersaudara. Kalian sudah melihat Ayu, adik perempuanku yang sedang menyapu di sana, wajahnya selalu tak bisa ramah ketika pelanggan kami datang. Dua adikku yang lain sedang bersekolah dan aku berharap mereka cepat pulang untuk membantuku mengatasi ketiga pelanggan muda kami yang terlalu lama memilih dan berujung pada tidak membeli. Itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Bagaimana pun orang yang telah sampai di toko kami haruslah menukarkan uangnya dengan kacamata kami.

Seorang bapak dengan anaknya berhenti sejenak di depan toko kami, tapi mereka berdiri agak jauh dari toko kami. Dari raut wajahnya terlihat sekali dia sedang berpikir. Terlihat tangan kanan Bapak itu menggandeng anak laki-lakinya yang sedang memeluk kotak mainan robot baru dan tangan kirinya memegang plastik belanjaan yang entah apa isinya. Penampilannya sederhana, tapi aku tahu, dia akan menjadi pelanggan yang akan melayangkan uang ke toko kami.

“Boleh dilihat dulu saja, Pak. Atau mungkin mau dicoba juga nggak apa. Bapak perlu kacamata yang seperti apa?” kataku melengkungkan senyuman ramahku.

Bapak itu mendekat ke meja etalase kacamata kami. Dia melihat-lihat tanpa banyak bicara. Salah satu perempuan pelanggan muda yang tadi menyapaku mulai berbicara lagi dan menanyakan apakah kacamata yang dipakainya sesuai dengan dirinya atau tidak.

“Iya cocok kok. Itu juga bagus” kataku sambil membalas senyuman singkat. Aku kembali memperhatikan bapak yang dari tadi masih melihat kacamata dalam diam. Aku tidak boleh kehilangan fokus pada bapak yang berpotensi membeli kacamata ini. Aku mulai tidak sabar dan mengambil sembarang kacamata.

“Bagaimana dengan yang ini, pak? Bapak butuh kacamata untuk siapa?” tanyaku dengan ramah. Bapak itu akhirnya menoleh ke arahku dan mulai melihat kacamata yang kugenggam.

“Kak Fakhri, aku cocok dengan kacamata yang ini, nggak?” kata salah satu perempuan yang dari tadi berusaha mengambil alih perhatianku.

“Yang ini ada warna biru nggak? Kalo nggak ada, aku nggak jadi beli deh” kata teman perempuannya yang berambut pendek.

Aku tidak bisa fokus kalau begini caranya. Aku menoleh ke belakang, melihat Ayu yang sedang memasukkan sampah dari pengkinya ke tong sampah. Aku memberinya kode untuk membantuku, mengatasi perempuan-perempuan ini selagi aku fokus pada si bapak yang berpotensi beli ini. Ayu hanya melewatiku, membawa sampahnya keluar toko. Benar-benar adik yang menyebalkan.

“AH! GALEH! LIDYA!!” teriakku gembira melihat kedua adik kembarku yang telah pulang. Bantuan itu selalu datang pada orang yang membutuhkan, ya aku percaya itu.

“kyaaa si kembar pulang yah!!” seru pelanggan perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Dia yang dari tadi diam, kini melihat si kembar dengan penuh semangat. Sepertinya dia menyukai anak-anak.

“Kakak yang kemarin yah?! Beli kacamata lagi kan?” kata Lidya dengan senyum lebar.

Bagus Lidya, kau memang adikku, kau pintar sekali.

“Ah, kakak nggak tau mau beli apa nggak. Masih liat-liat nih hehehe” jawab si rambut panjang digerai.

Seperti yang kuduga, memang dia tidak ingin membelinya. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Aku tampan dan aku tahu itu.

“Nggak apa-apa, kak! Galeh tahu! Kakak-kakak cantik semua ini kesini untuk menemui Galeh yang ganteng ini kan?” kata Galeh bertolak pinggang. Kemudian si rambut kuncir kuda menghampiri Galeh dan mencubit pipinya gemas.

“Dasar si Galeh ini. Bisa-bisanya berkata seperti itu” gumamku gregetan.

“Bukannya itu mirip sepertimu, kak” sahut Ayu pergi melewatiku begitu saja.

***

Tik….Tok….

Sebentar lagi menunjukkan jam 3 Sore, tetapi belum satu pun pelanggan yang membeli kacamata kami. Aku membaca buku catatan keuangan kami dan mengadahkan kepalaku ke atas, melihat kak Fakhri yang masih membujuk bapak pelanggan kami. Dari dalam kaca etalase, aku dapat melihat Galeh, kakak kembarku masih bermain dengan kakak-kakak itu. Harusnya dia letakkan tas sekolahnya dulu ke dalam, baru lanjut menemani pelanggan.

Aku melihat Kak Ayu sedang menggonta-ganti channel televisi dengan bosan. Ya, selama ada kami, mana mungkin dia turun tangan. Permasalahannya sebentar lagi toko kami akan tutup dan pelanggan belum ada satu pun yang membeli kacamata kami. Aku memandang wajah pelanggan perempuan kami yang berambut pendek, wajahnya tampak bosan. Berbeda dengan dua yang lainnya. Aku tidak boleh kalah dari Kak Fakhri atau pun Galeh. Aku juga harus bisa mengajak pelanggan ini berbicara.

“Kakak…kakak bosan yah?” kataku yang kini telah berada di hadapannya.

“Iya. Habisnya dua temanku itu nggak selesai-selesai milih dari tadi” katanya.

“Hngg memangnya kakak nggak berniat membeli kacamata?” kataku begitu pelan dan hati-hati. Tapi aku harus tetap memperlihatkan wajah polosku.

“Hemm nggak tahu yah. Tadinya aku suka kacamata yang itu. Tapi nggak ada warna biru. Aku suka warna biru soalnya”

Yang benar saja. Kakak ini cuma cari alasan agar tidak membelinya. Kacamata formal seperti itu mana mungkin ada yang berwarna biru. Ah, mungkin saja ada suatu saat nanti. Aku menengok jam dinding toko telah menunjukkan angka tiga. Mataku dan mata Kak Ayu saling melirik. Seketika Kak Ayu berjalan menghampiri Kak Fakhri. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan. Toko kami akan tutup sebentar lagi dan hari ini haruslah ada pelanggan. Aku harus mencari cara.

TRING….

“Wah gantungan tas midorima! Lucu banget!”

“KAMU TAHU MIDORIMA?!!” teriak histeris kakak berambut pendek.

GOTCHA!

“Tahu doooong. Kuroko no basket kaaaan?? Ih kakak ini. Aku juga suka anime tauuu” pancingku.

“Ya ampuuun aku nggak nyangka malah nemuin fangirl di sini. Aku kemarin pengen banget nge-cosu midorma. Crossdressing gitu deh hahahaha, tapi aku masih nabung buat beli wignya. Wignya hijau sih” celoteh panjang kakak pelanggan berambut pendek.

“Kakak suka warna biru yah? Pasti punya wig biru kan?” tanyaku yang dibalasnya dengan anggukan semangat. “Kalau begitu, beli kacamata merah ini aja. Kakak bisa nge-cross jadi Rei loh. Kakak nonton free, nggak?”

Wajahnya terkejut memandangiku dan kacamata merah yang sedang kupegang.

***

Aku melihat Lidya di sana dengan kakak berambut pendek yang telah jatuh ke dalam perangkapnya. Kak Ayu yang mulai membantu Kak Fakhri, kemudian pergerakan cepat Lidya, dan angin sore yang menerpa rambutku, adalah tanda bahwa toko kami sebentar lagi tutup. Tidak ada waktu lagi, aku juga harus cepat beraksi.

“Aku beli kacamata merahnya!” kata kakak berambut pendek itu.

Lidya memberikan senyuman jenakanya padaku dari jauh. Dia berhasil. Dia duluan yang membuat pelanggan kami mengeluarkan uang. Kak Fakhri menyiapkan bon dan kacamata yang dibeli oleh kakak berambut pendek itu. Sementara Kak Ayu mulai berbicara dengan si Bapak yang dari tadi kebingungan memilih tapi belum mencoba kacamatanya sama sekali.

“Galeh lucu banget sih. Gimana rasanya jadi kakak kembar?” kata kakak rambut kuncir kuda.

“Rasanya….hemmm apa yah. Kami sebagai anak kembar selalu bersaing. Dan aku selalu saja kalah” kataku mulai membentuk wajah sedih.

“Loh kenapa? Kamu kan kakak. Lahir duluan sudah merupakan kemenangan, bukan?”

“Ah itu kan cuma lahir saja. Selama ini Lidya selalu terdepan. Itu lihat aja barusan, dia bisa bikin temen kakak beli kacamata. Sementara aku nggak bisa. Di rumah, cuma aku yang nggak berguna” kataku melihat raut wajah tak tega kakak rambut kuncir kuda. “Tuh liat, Kak Fakhri senyum-senyum sambil elus-elus Lidya. Memang Lidya yang paling bisa diandalkan”

Kakak perempuan kuncir kuda itu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompetnya. Aku berhasil.

***

Fakhri melihat jam dinding yang menunjukkan jam 4 Sore. Dia sudah tidak sabar menghadapi bapak yang berpotensi beli itu. Dia menyerahkannya pada Ayu. Fakhri menerima uang dari dua pelanggan perempuannya. Hanya tinggal satu perempuan yang belum membeli kacamatanya, si rambut panjang yang digerai, yang daritadi mencuri perhatiannya. Fakhri melihat si kembar yang masih asik berbicara dengan pelanggannya masing-masing. Dia pun mulai menatap serius pelanggan perempuan berambut panjang digerai.

“Apakah ini cocok untukku?” kata perempuan itu yang telah mencoba banyak kacamata.

“Apapun yang kamu pakai itu cocok dan cantik. Sekarang saatnya tetapkan pilihan yah” kata Fakhri menggenggam tangan perempuan itu dengan tatapan mata yang tajam nan serius.

“a–aku beli yang ini” katanya.

Ketiga remaja perempuan itu pulang dengan membawa kacamata dari toko kami. Si kembar sedang bermain dengan anak si Bapak yang tak kunjung menetapkan pilihannya. Fakhri masih menghitung uang dengan senang, sementara Ayu masih menatap bapak dengan rasa yang ditahannya. Tunggu sampai….

“Coba saja yang ini pak! Yang ini tidak bikin bapak terlihat tua dan harganya murah harganya! MURAH PAK MURAH! SAYA CUMA AMBIL UNTUNG SEDIKIT, BAPAK TEGA SEKALI MINTA MURAH LEBIH DARI INI” teriak Ayu sambil menghentakkan tangannya di meja sontak membuat beberapa pejalan kaki terdiam dan melihat ke arah toko kacamata kami.

Bapak tersebut melihat ke sekeliling dimana semua orang memandangnya termasuk si pemilik toko yang berada di depan toko kami dan pelanggannya. Suasana hening seketika.

“Papa emang pelit. Buruan beli biar kita cepet pulang, pa”

Bapak itu tertawa ringan sambil mengeluarkan uangnya perlahan dan mengambil kacamata itu dengan perasaan tidak enak. Fakhri tersenyum memberikan bungkusan kacamata pada bapak itu, “Terima kasih telah membeli kacamata kami dan jangan kapok datang kesini lagi”

Bapak itu mengambil bungkusannya dengan cepat dan bergumam pelan, “Senyuman laki-laki tadi itu mengerikan”.

Fakhri, Ayu, dan Si kembar menutup toko bersama. Setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Aku tahu itu. Aku bisa mendengar suaranya.

“AKU DAPAT SATU PELANGGAN!” teriak si kembar bersamaan.

“Akhirnya berakhir juga hari ini. Sesuai perjanjian~~” kata Ayu.

“Nah jadi?” sahut Fakhri.

“Ya, ya, ya. Liburan jaga toko selama sebulan buat Ayu, game untuk Galeh, komik untuk Lidya, dan uang jajan tambahan sebesar 50% untuk Fakhri” jelasku panjang lebar.

Raut wajah mereka berempat begitu gembira dan mereka berlari ke ruangan yang lain meninggalkanku. Ya, tak apa. Setidaknya hari ini aku bisa tidur siang, merawat kecantikanku agar awet muda, dan toko kacamata tetap berjalan dengan adanya pembeli tiap harinya.

SELESAI

Author’s note: hari kedua dalam rangka #NulisRandom2015 hohohoho. Hari ini aku minta kata benda sama si Galeh buat bikin cerita ini, dan kata yang dia kasih adalah “kacamata”. Alur dan sudut pandangnya ngasal aja, nggak mikir lama yang penting ngetik aja. Endingnya juga rada nggak jelas gitu yah? Yaudalahyah. Bahkan sebenernya ini cerita apaan sih? Hahaha demi menyembuhkan diri dari writer’s block. Special thanks buat KeCe yang nama-namanya aku pakai di sini hahahaha. Ohya untuk #NulisRandom2015 hari pertamanya ada di sini yah

Iklan

[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI