[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI

Iklan

[Nusantaranger] Sleeping Beauty-ku

SLEEPING BEAUTY-KU/RAJANxNAYAxGEMA/PG-15/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Nusantaranger, Ci Stefani, Sandekala, Pandita, Gema. (hampir semuanye)

Author by: Soraciel21 | Puti Ayu Amatullah

Disclaimer: Semua nama tokoh di dalam fanfic ini diambil dari http://comic.nusantaranger.com/ saya tidak memilikinya hoohoho. Hanya ceritanya saja~

Author’s note: Hai, saya Puti Ayu Amatullah. Ini fanfiction nusantaranger pertama saya untuk merayakan tamatnya nusantaranger pada tanggal 31 Desember 2014 pada pukul 12.00 WIB. Kebetulan fanfiction ini dibuat di tanggal yang sama setelah sholat subuh jadi mohon maaf kekurangannya :”( nusantaranger merupakan komik super-sentai Indonesia. Kalian bisa langsung klik link di atas untuk baca ceritanya dan bersiaplah menjadi Jagawana hehehe. Happy Reading!

1332314_20140604065533

              Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Aku seperti tidur panjang di balik jeruji besi dan melihat diriku berjalan sendiri  di luar sana, bebas tanpa kendaliku.

            “Hey, kau! Siapa kau?! Kembali ke sini dan keluarkan aku! KEMBALIKAN TUBUHKU!!”

***

          Mata Rajan terbuka dengan bulir-bulir keringat mengalir di wajahnya. Pintolee menatapnya heran. Pintolee dengan sigap mengusap wajah Rajan dengan tangannya.

          “Ada apa, sayang? Kau tampak lelah” kata Pintolee dengan nada lembutnya. Pintolee memperhatikan mata Rajan yang kosong dan tidak merespon apa-apa.

            Rajan melepaskan tangan Pintolee dan berdiri dari tempatnya tidur. Dia pergi meninggalkan pintolee yang masih duduk dan menatap punggungnya. Sudah 2 hari, Rajan terbangun dengan keringat yang tidak biasa. Dia seperti bermimpi buruk dan mudah saja bagi Pintolee menyadari itu. Hanya Rajan yang ada di matanya.

           “Sejak pertarungan terakhir, sayangku Rajan menjadi aneh” Pintolee mengadukan keadaan Rajan pada Garaka dan Prana. Dia khawatir Rajan tidak akan bisa ikut bertarung melawan musuh abadi mereka, ksatria nusantara.

            “Itu hanya perasanmu saja, Pintolee. Dalam hal ini janganlah kau terlalu membawa perasaan. Kita tidak membutuhkannya!” tegas Garaka yang mulai muak dengan segala curahan hati Pintolee tentang kekasihnya.

            Berbeda dari Garaka. Prana terdiam sesaat dan menatap Pintolee penuh makna. “Aku merasakan aura Rajan mulai melemah”

            Pintolee dan Garaka terkejut mendengar apa yang dikatakan Prana. Dia bukanlah orang yang sepatutnya memiliki rasa kepedulian. Mereka sadar bahwa ada yang salah dengan Rajan.

***

            Perkarangan rumah Stefani yang luas, sudah menjadi tempat yang nyaman untuk para ksatria berkumpul. Wajah Naya tampak begitu murung. Dia hanya berjalan-jalan santai sambil memikirkan pertarungan terakhir yang terus menerus mengusiknya. Naya berhenti sejenak melihat Rangga dan Rena dari kejauhan.

        “Sleeping beauty itu cerita lemah! Dia tidak bisa melawan kutukannya sendiri. Itu namanya tidak ada usaha. Jika tidak ada ciuman dari pangeran, maka dia akan tidur selamanya” panjang lebar Rena yang membuat Naya sedikit terkejut mendengarnya. Anak itu tidak pernah berbicara sebanyak itu selama ini. Tidak, jika lawan bicaranya bukan Rangga.

         “Loh, itu yang dinamakan takdir, Rena! Hahaha” tanggap Rangga enteng. “Wajarlah kalau perempuan cantik…” Rangga menunjuk Rena dengan jempolnya, “berjodoh dengan pangeran tampan!” Rangga mengarahkan jempolnya ke dada yang dibusungkannya. “Hahahahaha”

       “Huh, apasih!” kesal Rena menanggapi Rangga yang masih tertawa. Rena melihat Naya yang memperhatikannya dari kejauhan. Dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Rangga.

      “Hey, Rena! Maaf aku bercanda! Renaaa!” seru Rangga yang ingin mengejar Rena tetapi terhenti oleh keberadaan Naya yang berada di belakangnya. Rangga mengerti mengapa Rena tiba-tiba pergi, selain karena candaannya mungkin karena Naya. “Euuh maafkan Rena yah. Dia tidak bermaks…”

      “Tidak apa. Memang ini semua salahku. Lebih baik kau susul Rena.” Naya menundukkan kepalanya. Rangga dapat merasakan rasa bersalah yang terukir di wajah Naya. Rangga mengusap pundak Naya sekilas dan pergi mengejar Rena.

         Naya memandang gelang kana nusantaranya dengan perasaan risau. Dia berjalan menuju laboratorium Stefani. Terlihat Stefani sibuk mengutak-atik mesin dan komputernya, hingga menyadari keberadaan Naya yang dari tadi berdiri tak jauh darinya.

        “Ah, Naya, kau rupanya. Hmm bagaimana keadaanmu? Sejak pertarungan kemarin itu, aku takut kau akan mati ditangan Rajan” kata Stefani memperhatikan raut wajah Naya yang berubah tiap kali dia menyebut nama Rajan. “Aku sedang menyelidikinya dan semoga dugaanku salah, tanpa sengaja kau memberikan energimu pada Rajan”

          Mata Naya membulat. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Stefani. Naya menutup kedua matanya, mengingat kembali pertarungan terakhir yang membuatnya dan teman-temannya hampir mati

**^0^**

           Naya tidak akan pernah melupakan hari itu dimana sandekala mengerahkan segala kekuatan. Tak hanya asura tetapi juga ribuan celuluk siap menghabiskan energi para ksatria nusantara sebelum para sandekala menghabiskan nyawa mereka. Rimba mengomandokan para ksatria untuk fokus melawan sandekala, yang mengendalikan asura dan celuluk yang jumlahnya tak ada habis-habisnya. Tanpa sengaja Naya berhadapan dengan Rajan.

         “Orang yang menyakiti orang lain, tidak akan kuampuni!” Naya mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia berlari dan akan menyerang Rajan dari depan.

         Rajan melebarkan senyumannya. Dalam satu gerakan cepat, Rajan menangkap tangan Naya dan menghentikan serangannya. Mata mereka pun bertemu. Naya melihat bayangannya memantul di mata Rajan, semakin lama semakin dalam, hingga dia melihat wajah Gema yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu. Seolah-olah mata Rajan memisahkan sebuah dimensi antara dirinya dan Gema. Rajan mendekatkan tubuhnya pada Naya, seolah-olah dia memeluk Naya.

      “Naya” bisik Rajan. Naya membeku, lidahnya kelu, tubuhnya lemas. Dia tahu betul itu suara Gema yang bergaung di telinganya. Dia tidak akan mungkin membunuh Gema. Perlahan tubuh Naya melemah, dia tak sanggup berdiri jika bukan tangan Rajan yang menopangnya saat ini. Rajan menyeringai dan mengangkat tangannya yang bebas untuk menyerang punggung Naya.

      “Bodoh!” gumam Rena seraya menyerang Rajan hingga membuatnya terpental jauh. Naya bertekuk lutut, tubuhnya begitu lemas. Rena menatap Naya yang tampak tak berdaya. Rena menatap kedua tangannya, sesuatu yang aneh. Dia juga merasakan energinya melemah. “Tidak ada waktu lagi! Aku akan membunuh si muka jelek itu!”

          “JANGAAN!”

         Naya melompat dan menarik Rena sebelum dia pergi untuk menyerang Rajan. Mereka berdua terseret di tanah. Rena kesal dan melepaskan tangan Naya dari dirinya. Tangan itu begitu lemah hingga mudah saja terhempas di udara.

         “Kau sudah gila?! KAU LEMAH!!” hardik Rena.

        Dari kejauhan, Stefani menyadari energi para ksatria terjadi sebuah keanehan. Jika mereka tidak menyatukan perasaan mereka, maka energi mereka akan semakin berkurang. Rimba, Rangga, dan Oji pun telah diserang dari berbagai arah. Stefani mulai menyiapkan teleportasi terakhir agar para ksatria nusantara mundur dari pertarungan.

         “RIMBA! CEPAT MUN…” Stefani terkejut melihat asura, celuluk, dan sandekala yang tiba-tiba saja menghilang. “Apa yang terjadi?”

**^0^**

            “Ingatlah, cakra pandita yang ada pada kalian itu saling melengkapi. Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kalian, maka yang lainnya juga akan merasakan dampaknya. Kalian saling terikat” jelas Stefani memperhatikan wajah muram Naya. Stefani berjalan mendekati Naya kemudian memegangi pundaknya. “Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, kumohon tetaplah hidup”

            “Ste, jika aku membunuh Rajan, apakah itu artinya aku membunuh Gema?” tanya Naya dengan mata tajam.

       Stefani melepaskan tangannya dari pundak Naya. Dia hanya diam dan tidak memberikan jawaban pada pertanyaan Naya. Stefani berjalan menuju mesin-mesin laboratoriumnya.

            “Ste, tolong jawab aku! Aku melihat Gema di sana.” suara Naya bergetar. Dia tidak sanggup membayangkan wajah Gema yang terpantul jelas di balik mata yang kejam itu. “Tubuh itu milik Gema, Ste! Jika aku membunuhnya, apa yang terjadi pada Gema?”

            Stefani tetap diam kemudian membalikkan tubuhnya memandang Naya yang masih menunggu jawabannya. Naya terlihat menahan air matanya. Tampilannya memang tomboy, tapi siapa yang tahu Naya memiliki hati yang begitu lembut. Dia menoleh sebentar pada mesin yang dinyalakannya untuk memanggil Pandita. Naya terkejut melihat Pandita yang muncul di hadapannya.

            “Pandita, apakah aku harus membunuh Rajan? Apakah Gema sudah tidak ada? Kemana Gema pergi?” tanya Naya beruntun. Matanya mulai berair, pandangannya sedikit kabur untuk memandang pandita. Semua pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam dirinya.

            “Dia tertidur” jawab Pandita.

***

            Rajan mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari yang menyilaukan.

         “Kuning” gumamnya. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengannya, terutama sejak matanya bertemu tatap dengan ksatria kuning. Masih dalam ingatan, ada seseorang yang lain, pemilik tubuhnya, hendak memberontak keluar dari dirinya saat itu. Sebuah sinar yang menyilaukan merasuki tubuhnya, rasanya hangat kemudian perlahan terasa panas seperti sinar matahari dan terasa energi yang begitu besar masuk ke dalam dirinya hingga tubuhnya ingin meledak.

         Dalam pikirannya, hari itu dia harus membunuh ksatria kuning sebelum tubuhnya tak sanggup menerima energi aneh yang masuk terus menerus ke dalam dirinya. Entah bagaimana tubuhnya tak terkendali.

            “Bocah sialan!” seru Rajan kesal menyadari bahwa dia berbagi tubuh dengan orang lain.

       Percuma Rajan berbicara pada dirinya sendiri saat ini. Hanya dalam mimpi, dia dapat melihat bocah itu berteriak meminta dikeluarkan. Gema akan bangun saat dirinya tidur, tetapi pertarungan terakhir merupakan sebuah ganjalan. Gema bangun atas kehendaknya sendiri, dengan Rajan yang mengambil kendali penuh tubuhnya. Rajan tidak menyangka, keadaan menjadi begitu merepotkan.

          Ular berjalan melingkari tubuh Pintolee yang sedari tadi diam memperhatikan Rajan dari kejauhan. Kepalanya sedikit mendongak, menatap Rajan yang duduk di atas atap. Gentiri berjalan menghampirinya dan ikut melihat orang yang sedang menjadi topik diskusi sandekala belakangan ini.

   “Dia terlihat frustrasi” singkat Gentiri melirik Pintolee yang membalas lirikan matanya sekilas. “Kau merasakannya juga kan? Ketika ksatria hitam menyerang Rajan, aku merasakan gelombang energi yang aneh pada diriku juga”

       “Aku tak akan lupa itu. Rajan sayangku, memukul kepalanya sendiri dengan sangat keras. Aku tak pernah melihat dia begitu kesakitan” Pintolee masih melihat Rajan dengan tatapan prihatin. Dia mengusap ularnya yang entah bagaimana ularnya mengerti perasaannya.

            “Tapi dia tidak bisa begitu terus. Kita tidak mungkin menunggu dia untuk menyerang ksatria nusantara” jelas Gentiri yang pergi meninggalkan Pintolee.

            Gentiri berjalan perlahan ke tempat dimana dia biasa bereksperimen membuat asura-asura baru. Langkah kakinya berhenti melihat teman-temannya berkumpul secara diam-diam. Dia memasuki ruangan dengan santai, tetapi teman-temannya serentak berhenti bicara. Gentiri tahu, ada yang dibicarakan tanpa sepengetahuannya.

            “Ada apa? Teruskan saja obrolan kalian” kata Gentiri tersenyum seperti biasanya.

            “Masuklah, dan tutup pintu itu” kata Garaka melihat keberadaan Gentiri yang tidak bisa dia hindari.

            “Jadi, ada apa ini?” tanya Gentiri.

            “Kita akan membunuh Rajan!” seru Basu.

             “Pelankan sedikit suaramu itu!” Garaka memukul Basu dengan cepat. Dia bisa melihat ekspresi kaget Gentiri.

           “Dengan kata lain, membunuh bocah sialan yang masih hidup di dalam tubuh Rajan” jelas Garaka menatap teman-temannya. “Bocah itu merepotkan! Rajan terlalu lama tidur di dalam tubuh itu! Wajar saja jika bocah itu masih bisa berontak!”

              “Apakah pintolee tahu hal ini?” respon Gentiri.

             “Siapa yang peduli dengan izinnya? Tujuan kita membangkitkan Rajan bukan untuk melanjutkan kisah cinta mereka!” sinis Vunjagu menanggapi pertanyaan Gentiri.

           “Jika Rajan mati, apakah dia tidak mempengaruhi keadaan kita? Aku yakin kalian juga merasakan energi aneh yang merasuki Rajan dan mempengaruhi kita. Kalau tidak berpengaruh, buat apa kita mundur kemarin?” panjang lebar Gentiri. Dia tidak mengkhawatirkan Rajan, sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri.

       “Jika yang kau maksud adalah kekuatan kita untuk bertarung, maka itu tidak akan menjadi masalah selama masih ada aku” kata Prana.

      Mudah saja Prana berkata seperti itu, dia merupakan tangan kanan kelana, sementara dirinya dan lima temannya hanyalah hasil renkarnasi yang mendapatkan cakra kelana dari terusan pendahulu. Jika Rajan dapat dibunuh, maka dirinya suatu saat nanti juga akan dibunuh bila dia tidak berguna lagi, pikir Gentiri. Sejenak Gentiri memiliki egonya untuk tetap bertahan hidup tanpa mempedulikan tujuan awalnya berada di sini. Gentiri hanya diam dan melihat ketiga temannya yang lain menganggukkan kepala mereka pelan.

        “Yaa lagipula jumlah mereka lebih sedikit disbanding kita” kata Basu enteng.

***

          Rangga dan Rena berjalan memasuki laboratorium Stefani. Wajah mereka sedikit terkejut melihat yang lainnya berkumpul di sana, termasuk pandita yang telah berdiri di antara mereka. Mereka tahu bahwa ada hal serius yang akan dibicarakan. Mereka telah berkumpul, berdiri melingkar. Rena melirik Naya yang berdiri dengan kepala tertunduk sambil memegang lengan kirinya. Sadar diperhatikan, Naya menoleh untuk melihat Rena yang dengan cepat telah mengalihkan pandangannya.

          “Jadi mengenai Rajan…”

       “Biar aku yang membunuhnya” Rena memotong pembicaraan Stefani membuat semuanya memperhatikan Rena.

            “Rena, tenangkan dirimu” kata Oji

    “Ksatria hitam, tujuan kita adalah menyeimbangkan siklus energi marcapada bersama kelana. Bukan memusnahkan mereka” jelas Pandita yang membuat keheningan sesaat di laboratorium itu. Rena tertegun dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Apa yang terjadi pada kelana, dapat aku rasakan. Begitu juga sebaliknya”

      “Tidak memusnahkan. Tapi hanya menghentikan” gumam Rimba memikirkan kalimat Pandita. “Tetapi bukankah selama ini cara menghentikan mereka adalah menghancurkan mereka? Terutama para pengikut kelana?”

            “Iya kau benar. Permasalahannya adalah temanku, Gema masih tertidur di dalam tubuh Rajan” kata Naya.

            “Itu artinya jika kita membunuhnya, maka temanmu akan…”

            “Mati” Naya memotong kalimat Oji. Raut wajahnya kosong memikirkan nasib Gema.

            “Eee kalo dia tidur, berarti ada cara membangunkannya kan? Ouou atau mungkin dengan satu kecupan gitu?” timpal Rangga berusaha mencairkan suasana kaku. “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

            Piiip….piiip…

            Stefani membalikkan tubuhnya dan melihat komputernya mendeteksi sinyal sandekala menyerang penduduk. Para ksatria telah menyiapkan ancang-ancang untuk berubah. Stefani menganggukan kepalanya dengan pasti,

            “BERUBAH!” teriak lima ksatria.

        Stefani menekan sebuah tombol. Para ksatria yang telah berubah ke ranger mode pun diteleportasikan ke tempat sandekala berada. Sesaat mereka tiba di tempat sandekala berada, Rena dan Oji dapat merasakan asura yang kini telah menghadangnya. Asura ciptaan Gentiri yang merupakan perwujudan dari manusia.

            “Hati-hati! Mereka bukan asura biasa. Mereka manusia” kata Oji memperingatkan teman-temannya.

          Gentiri tertawa dari kejauhan. Rena dengan cepat terbang menyerang Gentiri. Rimba dapat melihat Garaka, Basu, Rajan, dan Pintolee yang kemudian menyebar ke berbagai arah. Rangga dan Oji menangani asura-asura yang menghadang mereka. Rimba dan Naya berlari mengejar sandekala. Entah apa yang telah direncanakan sandekala kali ini.

            “Kita akan berpencar. Aku yang akan menangani Rajan” kata Rimba pada Naya.

            “Tidak. Aku bertanggungjawab untuk semua ini. Aku yang akan menghadapinya” kata Naya bersikukuh.

            “Jangan gegabah, ksatria kuning!”

            Ular pintolee menyerang Naya secara tiba-tiba, membuatnya terpental jauh. Rimba yang hendak menolong pun terhenti dengan serangan Garaka dan Basu bersamaan. Rangga datang menolong Naya dan menangani pintolee. Naya berlari mengejar Rajan. Entah apa yang dipikirannya. Dia hanya merasa dapat membangunkan Gema dan menyelamatkannya. Tetapi di sisi lain, dia tidak ingin mengecewakan ksatria lainnya dan tetap memegang janjinya pada Stefani untuk tetap hidup.

            “Puti, yakinlah pada dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Lindungi apa yang kamu cintai. Aku akan melindungimu” bisik ganendra harimau yang tiba-tiba bergema di hati Naya.

          Naya semakin menghentakkan pijakan kakinya dan mempercepat larinya. Naya menemukan Rajan yang sedari tadi berdiri menunggunya. Tempat yang tidak asing bagi Naya, gedung dimana dia dan Gema melihat sunset yang indah. Rajan tersenyum licik dan berjalan perlahan mendekati Naya.

            “Kau belum takut rupanya dengan seranganku, huh?” tanya Rajan retoris.

           Sebelumnya, Rajan telah berjanji pada teman-temannya dan kelana, bahwa dialah yang akan menghabisi Naya sebagai tanda menebus kesalahannya. Tentu saja teman-temannya itu menyetujuinya kecuali Pintolee yang merasa Rajan tidak akan mampu menanganinya seorang diri. Pintolee bertekad bahwa dia yang akan menyerang ksatria kuning lebih dahulu. Sesuai rencana, Rajan harus mati ditangan ksatria kuning. Dengan begitu, sandekala bisa mengambil energi ksatria kuning yang mungkin saja akan diserap tanpa sengaja oleh Rajan seperti pertarungan kemarin.

***

            Sinar matahari masuk ke sela-sela jeruji besi, tempat dimana aku berada. Aku mengangkat tanganku persis di depan wajahku, menutupi sinar matahari yang menyilaukan. Aku seperti bangun di pagi hari, padahal biasanya aku terbangun di tempat yang gelap dan tentunya masih di balik jeruji besi.

                “Aku ingin melihat sunset”

            Naya? Aku mendengar suara Naya. Aku berdiri dari tempatku berbaring dan dengan cepat memegang erat jeruji besi. Berusaha melihat keluar. Ini tidak biasa. Aku tidak melihat orang itu di mana pun. Hanya sinar matahari yang menyilaukan.

            “NAYA!!” panggilku dengan keras. Aku yakin aku mendengar suara Naya tadi.

***

                      UGH!

          Tubuh Naya terhempas dan punggungnya menabrak tembok. Telinga Naya berdengung, dia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Rajan tertawa licik dan berlari untuk menyerang Naya lagi. Naya berpikir keras, dia tidak yakin untuk membunuh Rajan yang artinya membunuh Gema sekaligus.

         “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

         Naya berdiri dari tempatnya. Meneguhkan hatinya dan melihat Rajan yang sedang berlari ke arahnya. Dengan satu gerakan cepat. Naya menangkap wajah Rajan dengan kedua tangannya. Tubuh Rajan berhenti, tiba-tiba tangannya kaku tidak bisa melancarkan serangannya. Mata mereka sekali lagi beradu. Tatapan mereka begitu dalam hingga Rajan dapat melihat mata Naya dibalik topengnya. Naya melihat dirinya terpantul jelas di mata Rajan. Semakin lama semakin dalam, wajah mereka kian dekat. Naya dapat melihat Gema yang berada di dalam mata itu. Dahi dan hidung mereka bertemu. Kedua tangan Rajan masih terbuka lebar dan bergetar, berusaha menggerakkannya. Bibir mereka bertemu sepintas. Wajah Rajan seperti terbakar. Naya melepaskan dirinya dari Rajan. Tubuhnya lemas. Energinya lagi-lagi terserap pada Rajan.

***

            “NAYA! NAYA! NAYAAA!!” hanya itu teriakku di balik jeruji besi.

            Aku tidak bisa melihat apa-apa selain sinar matahari berwarna putih dan kuning. Sinar matahari yang hangat merasuki tubuhku dan semakin lama semakin terasa panas. Kedua tanganku mengeluarkan hawa panas yang sangat dahsyat hingga jeruji besi yang kupegang perlahan meleleh.

            Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Yang kutahu, ini semua milikku!

***

            “Energi apa ini? Apakah Rajan sudah mati? Mereka benar. Aku merasa semakin kuat” gumam Gentiri yang kemudian membalas serangan Rena.

            Di tempat lain, Garaka dan Basu menyeringai. Mereka melancarkan serangan balik pada Rimba. Sementara Pintolee merasa resah, dia pergi mencari Rajan. Rangga masih mengejar Pintolee dengan menembakan peluru pistolnya pada Pintolee.

                AAAAAAAARGGH!!

            Pintolee menemukan Rajan yang berteriak kesakitan. Kali ini tubuh Rajan bergetar, seperti tertahan oleh sesuatu. Tidak jauh dari sana, Pintolee melihat Naya yang telah tergeletak di tanah, berusaha bangkit dari posisinya. Rangga menembak Pintolee tepat mengenai tangan kanannya. Pintolee lengah hingga membuatnya terjatuh tepat di samping Rajan yang mengerang kesakitan. Rangga berlari menghampiri Naya, membantunya berdiri. Rangga dapat merasakan energinya melemah.

            “Ini tidak bagus! Energi kalian melemah! Aku akan mengembalikan kalian!” seru Stefani sambil memantau apa yang terjadi dengan Rajan.

            Mata Pintolee terbelalak melihat wajah Rajan yang perlahan berubah. Dia tidak mengenali lagi kekasihnya itu. Rangga membawa Naya pergi dari tempat itu. Pintolee hendak menyentuh tubuh Rajan tetapi terhenti oleh Garaka dan Basu.

            “Dia akan segera meledak! Lebih baik kita pergi dan membawa energi yang kita rasakan ini ke markas!” seru Basu menarik tangan Pintolee.

            “Jadi…kalian sudah tahu kalau dia akan mati?” tanya Pintolee dengan tatapan tidak mengerti.

          “Rumit menjelaskannya. Rajan telah berkorban untuk kita. Ditambah entitas energi Rajan, Kelana akan senang dengan hasil curian energi ini” jelas Garaka yang mengomandokan Basu untuk menyeret Pintolee menjauh dari Rajan.

            “Kalian membunuhnya?” tanya Pintolee tanpa ada jawaban dari kedua temannya.

***

            Naya membuka matanya. Dia melihat selang-selang yang terhubung dengan tubuhnya. Apa yang terjadi pada Gema, hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berbicara. Dia melihat wajah Stefani yang tersenyum senang. Rangga dan Rena juga berada di sana.

            “Baguslah kau tetap hidup. Aku yakin kau menepati janjimu. Aku akan memanggil Rimba dan George” kata Stefani yang pergi meninggalkan Naya bersama Rangga dan Rena.

            Naya mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Rena. Dia merasa semakin bersalah. Bibir Naya bergumam maaf tetapi tidak ada suara yang keluar di sana. Rena menggenggam tangan Naya dengan lembut. Dia mulai mempedulikan keadaan Naya.

            Di tempat lain, hembusan angin senja membukakan sepasang mata yang dari tadi tertidur. Dia terbangun dan memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Dia mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari terbenam yang hangat. Matanya belum terbuka sepenuhnya dan mulai beradaptasi hingga menyadari tempat dia berada, gedung yang merupakan spot paling keren untuk melihat,

            “Sunset” gumam Gema tersenyum pelan. “Naya”

SELESAI

Between Moon and Sun

BETWEEN MOON AND SUN/KYUMIN/PG-13/SHONEN AI/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: KyuMin (Kyuhyun-Sungmin), YunJae (Yunho-Jaejoong), Leeteuk dan Donghae

Author by: Soraciel

Disclaimer: Semua nama tokoh di fanfic ini diambil dari member Super Junior dan DBSK. KyuSun dan SungMoon adalah nama ciptaan saya. Dilarang menuliskannya tanpa seizin saya. Terima kasih.

 680094221

~Tiap malam, bulan ditemani bintang yang bermain di sekelilingnya. Bintang selalu datang dengan beragam cerita menghibur bulan. Kali ini, bintang bercerita bahwa ada sesuatu yang tuhan ciptakan untuk bulan dan bulan tidak akan pernah dipertemukan dengan sesuatu itu. Sesuatu itu adalah matahari.Sosok yang mendambakan bulan dan memancarkan sinarnya untuk dipantulkan bulan di malam hari.Bulan yang mengetahui itu, selalu mencintai matahari tanpa melihat matahari.

“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”~

***

“Hah….aku mimpi itu lagi! Kali ini sangat jelas, hyung!! Aku yakin peramal itu berkata benar. Aku adalah sang rembulan yang merindukan matahari. Dan beberapa hari lagi, aku akan bersatu dengan matahari” ujarku yang terbangun dari mimpiku.Keringat mengucur dari dahiku dan tanganku bergetar memegangi tangan Jaejoong hyung agar dia mempercayaiku.

“Kau percaya bahwa kau adalah roh bulan yang berenkarnasi?Itu hanya ramalan.Ma…mana ada kehidupan masa lalu” kata Jaejoong hyung—yang merupakan kakak kesayanganku.

“Aku percaya, hyung. Belakangan ini terasa sangat jelas. Apalagi sejak tubuhku ditato, aku merasakan sinar matahari makin hangat. Ya, mungkin ini petunjuknya. Matahari mulai mendekatiku dan aku akan berusaha mencari yeoja mana yang merupakan renkarnasi matahari” kataku dalam tubuh gemetar.

“Hentikan, Minnie! Aku tidak ingin kau sakit hati karena bergaul dengan yeoja, lalu kau dipanggil yeoja lagi. Kau sudah sejauh ini.Lihat tatomu!!”Jaejoong hyung menunjuk pada pinggangku.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

Mataku terbelalak mendengar perkataan Jaejoong hyung yang langsung menutup bibirnya. Tubuhku berhenti bergetar. Rasanya sesak dalam dadaku.Hening menguasai kamar Jaejoong hyung. “A….aku yakin dia seorang yeoja” getirku gugup.

Jaejoong hyung memelukku hingga aku merasa santai. Jaejoong hyung menyuruhku kembali ke kamarku. Aku selalu merepotkan Jaejoong hyung setiap mimpi ini datang. Dan setiap itu pula lah tubuhku bergetar dan dadaku terasa sesak. Aku kembali ke kamarku dan tidak bisa tidur. Sinar bulan memasuki kamar ku dengan hangat hingga terasa merasuki tubuhku. Aku menatap bulan dengan bibirku yang mengerucut sambil merasakan kehadiran roh bulan yang ber-renkarnasi dalam tubuhku.Aku menutup mataku perlahan dan merasakan suara Jae hyung yang berdengung di telingaku “Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

***

 “Antarkan aku sampai ke dalam kelas” kataku manja sambil mengerucutkan bibirku yang tipis nan mungil. Beginilah tiap harinya, Jaejoong hyung mengantarkan ku menuju kelas, yang sebenarnya Ia ingin menebar pesona pada para yeoja tetapi aku senang. Seperti biasanya, Jaejoong hyung hanya mengantarkanku sampai tepi lorong.

“Tidak mau.Aku juga ingin ke kelas ku” kata Jaejoong hyung mengerucutkan bibir merahnya yang menggoda—membalas tantanganku.

“Argh, sial!! Aku kalah lagi!! Kenapa bibir kerucut hyung bisa lebih seksi dariku!!” gerutuku kesal.

Jaejoong hyung tertawa dan pergi memunggungiku menuju kelasnya. Aku memandang punggungnya yang makin menjauh dengan bibir yang masih mengerucut. Terlihat dari punggungnya yang bidang, usahanya agar tidak terlihat cantik lebih keras dibanding diriku.

“Kyaaa…Sungmin-sshi!! Bolehkah kami memegang bibirmu?!” , “Kyaa…manis banget kalau kayak gitu” , “Sungmin oppa lebih manis kok dari Jaejoong oppa. Kyaa” teriak para yeoja beruntun mengelilingiku. Aku hanya tersenyum manis dan memperlakukan mereka dengan baik dan nyaman seperti biasanya. Inilah yang biasa ku lakukan demi mencari sosok matahariku yang selalu muncul dibenakku dan membuat hatiku tidak karuan.

Setelah melayani para yeoja itu, Aku berjalan menuju kelasku. Suatu hal yang menyenangkan melewati lorong sekolah dengan dimanjakan tarian sinar matahari dari jejeran jendela. Aku senyum-senyum sendiri merasakan sinar matahari merasuki tubuhku. Aku tidak sabar memperlihatkan tatoku pada teman-teman. Agar mereka mengakui aku macho sebagai namja.

Sesampainya di kelas, aku berkumpul dengan lingkaran para namja. Semua teman-teman namja di kelasku berkumpul untuk ngobrol berbagai hal. Kecuali satu orang, Si angkuh Kyuhyun. Dia selau diam dan berjalan angkuh dengan tatapan matanya yang tajam. Hanya dia, satu-satunya orang yang membenciku. Terlihat dari tatapan matanya yang seperti ingin membunuhku. Sejak saat itu, aku tidak ingin berdekatan dengan dia.

“Hebat kan?Sudah ku duga” kataku memperlihatkan pinggang ku.

“Uwoo!Daebak, Sungmin-sshi!” kata Donghae. “Aaa, Kyuhyun-sshi! Lihat tato Sungmi…”

Kyuhyun berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan kelas. Aku yang melihat hal itu merasakan sekali kebencian Kyuhyun padaku. Dia membenciku begitu saja.

“Waeyo?Apa sebegitu bencinya dia pada namja cantik?” terka Donghae enteng.

Aku menatap Kyuhyun yang pergi meninggalkan kelas sambil mengerucutkan bibirku yang mungil. Aku berdiri dari tempat dudukku dan mencari tahu kemana Kyuhyun pergi. Selama ini aku tidak pernah bertanya padanya mengapa dia begitu benci padaku. Aku pergi keluar kelas dan melangkah di sepanjang lorong. Aku tersenyum melihat sinar matahari—yang ku sukaimasuk melalui sela – sela jendela, seolah–olah sinarnya mengikuti kemanapun aku melangkah.

“Nah, gini dong!Ini Kyusun yang aku kenal!!”

“Kyusun?” terka ku sambil menghentikan langkah kakiku. Aku melihat Leeteuk hyung sedang tertawa bersama Kyuhyun. Tertawa?Apa ini? Si angkuh Kyuhyun itu ternyata bisa tertawa seperti itu juga. Aku merasakan sinar matahari makin memanas di kulitku yang lembut hingga membuat darahku mengalir deras dan sampai di hatiku yang mulai berdebar. Kenapa? Apa yang terjadi dengan hatiku? Apakah ini sebuah petunjuk bahwa Kyuhyun adalah matahariku? Tidak, tidak, tidak!! Lee Sungmin, kamu ini masih normal dan tidak mungkin matahari adalah seorang namja. Aku menggelengkan kepalaku—menepis semua asumsi yang ada di benakku.

“Kau kenapa, Sungmoon? Kok geleng – geleng kepala gitu?” tegur Leeteuk hyung yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku.

“Heeh?! Sungmoon?!” spontan ku. Aku terkejut saat melihat Leeteuk hyung dan Kyuhyun yang sudah ada di hadapanku. Aku menelan ludah dan menatap Leeteuk hyung—menunggu respon.

“Ahahaha kau seperti tidak kenal aku saja, Sungminnie! Aku kan suka asal menyebut nama orang. Hahaha tapi Sungmoon itu cocok untuk namja lembut sepertimu, seperti bulan (moon) yang lembut” jelas Leeteuk hyung yang membuatku tercengang. “Dan ini Kyusun.Hahaha ternyata aku memang pintar merangkai kata yah? Kyuhyun itu emang bener–bener kayak matahari (sun) deh. Ah, kalian berdua cocok yah! Moon and Sun. Hahaha”

“Jangan seenaknya bicara!” gertak Kyuhyun mengguncang–guncangkan tubuh Leeteuk hyung yang makin tertawa nyaring.

Mataku membulat mendengar ucapan Leeteuk hyung walaupun itu hanya sebuah gurauan. Aku terdiam menatap Kyuhyun yang masih memukul–mukul Leeteuk dengan segala canda tawa. Aku terlalu mengambil hati kata–kata Leeteuk hyung.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?” kata–kata Jae hyung menghantuiku. Aku pun menutup telinga, sinar matahari mulai terasa memanas di kulitku membuat tubuhku bergetar dan mulai mengerang kesakitan hingga membuat kedua namja sekitarku itu menatapku heran. Leeteuk hyung menepuk–nepuk punggungku cemas namun Kyuhyun hanya diam dan pergi meninggalkan kami berdua perlahan.

***

“Sudah ku bilang, jangan dekat – dekat dengan si Kyuhyun itu! Sudah tahu dia begitu membencimu! Kau tahu kan rumor Kyuhyun yang bisa mengutuk orang, huh?! Mungkin saja dia mengutukmu atau apalah tapi kau malah aissh …. Kau yakin ingin istirahat disini?! Kau benar tidak apa–apa?!” ujar Jae hyung beruntun memegangi kedua bahuku.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis pada kakakku yang begitu mencemaskanku. Leeteuk hyung mengajak Jaejoong hyung untuk berbicara secara pribadi. Ia tahu Jae hyung begitu membenci Kyuhyun, berbeda dengan dirinya yang dekat dengan Kyuhyun. Aku menyenderkan punggungku pada pohon—tempatku duduk.“Sungmoon?Kyusun?” gumamku lemah. Ada apa denganku? Otak dan hatiku tidak sejalan. Hatiku berdegup seolah – olah memberitahukan aku bahwa Kyuhyun adalah matahari namun otakku begitu menekan kepalaku—menyadarkan aku bahwa aku adalah namja normal. Tidak mungkin aku menyukai seorang namja.

***

~Bintang yang bertaburan di sekeliling bulan layaknya prajurit yang senantiasa menjaga bulan. Demi menjaga bulan, bintang menyerap sinar matahari sehingga bintang bersinar lebih terang.Hanya bintang yang tahu, dimana letak matahari dan seberapa jauh matahari dari bulan. Bintang tidak ingin bulan sepertinya, bintang tidak ingin bulan seterang bintang seperti saat ini~

***

“Sudah ku bilang, jauhi dia!! Aku tidak ingin Minnie-ku menjadi sepertiku! Menjalani cinta sesama jenis itu tidak mudah. Itu cinta terlarang, kau tahu itu!!” gertak seorang namja sambil memijat – mijat dahinya.

“Aku sudah berusaha mengikuti apa yang kau bilang.Sungmin itu berbeda denganmu! Kau menjalani cinta sesama jenis karena dirimu sendiri. Sementara aku dan Sungminhanya menerima takdir kami sebagai…”

“Cukup!! Tidak ada roh, tidak ada renkarnasi! Yang ada sekarang hanyalah kesadaranmu bahwa kau adalah seorang namja dan sebagai namja normal, kau harusnya mencintai seorang yeoja!!” gertak Jaejoong tidak dapat menahan dirinya lagi.“Terserah kau. Aku sudah memperingatimu! Aku akan mengubah Minnie-ku menjadi namja sejati agar dia tidak sepertiku. Aku akan menjaganya agar jauh darimu”

***

“Jae hyung?Eng…” gumamku membuka mataku. Aku menatap matahari yang menyapaku dari sela–sela dedaunan yang memayungiku. Aku terbangun dari mimpi–mimpi anehku lagi namun kali ini makin jelas dan aku tidak ingin mempercayainya lagi. Aku melihat sekitarku, sepertinya Jaejoong hyung telah kembali ke kelasnya hingga hanya ada aku sendiri disini. Aku mulai menyipitkan mataku melihat punggung bidang seorang namja yang tampak bercahaya. Hari itu memang terik sehingga aku tidak dapat memastikan punggung siapa itu. Dari arahnya berjalan, Ia memasuki ruang astronomi. “Kyusun?” terka ku yang akhirnya diam–diam mengikuti Kyuhyun. Aku memasuki ruang astronomi dan mendapati Kyuhyun yang sedang tersenyum menatap teropong bintangnya.

“Ternyata kau disitu, bulan” kata Kyuhyun sambil melancarkan senyuman mautnya.

Aku tertegun. Pipiku mulai memerah dan dadaku berdebar. Apakah roh bulan yang berada dalam tubuhku sedang tersipu malu? Atau aku yang sebenarnya malu? Kakiku bergetar dan tak bisa berkata-kata. Kyuhyun yang sadar ada yang memperhatikannya kini menoleh ke arahku dan terkejut.

“K..Kyu…Kyusun? A…apakah benar kau adalah mataha….”

Kyuhyun memelukku dalam satu gerakan cepat. Ia tidak membiarkan aku berbicara. Ia semakin merengkuhkan pelukannya padaku hingga erat. Mengapa tubuhku tidak menolak? Jantungku berpacu cepat, mengalirkan darah ke seluruh tubuh hingga tubuhku memanas dan dadaku terasa sesak. Otakku menekan kepalaku hingga terasa sakit dan mengucurkan bulir–bulir keringat dingin yang keluar dari dahiku. Aku merasa dingin dan panas secara bersamaan hingga membuatku ingin muntah. Aku namja tapi namja ini adalah matahari, lalu aku harus bagaimana?

“Maafkan aku. Aku sudah tidak tahan lagi.Aku sudah melanggar janji Jaejoong hyung” gumam Kyuhyun di telingaku. “Chagiya, aku tidak suka kau menato tubuhmu”

“Ah…apa? Cha…Chagi?” getirku dengan tubuh yang semakin bergetar.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dariku, memegang erat pundakku sambil menatapku tajam namun lembut. Aku memandangnya dengan wajah tak mengerti kemudian membuang mukaku dari tatapannya, tidak sanggup menatap mata tajamnya itu.

“Tanpa ku jelaskan, kau pasti sudah tahu kan aku ini siapa dan ada hubungan apa aku denganmu?” tanya Kyuhyun lembut membuat mataku melebar dan menelan ludahku. “Sudah lama aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Saranghaeyo, bulanku.Bolehkah aku menciummu?”

***

~“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”

Bulan menyadari sinar matahari yang terpancar padanya semakin terang.Bulan merasakan kehadiran matahari yang kian dekat. Bulan percaya saat itu, dia akan bertemu dengan sosok dambaannya, sang matahari. Semakin lama, semakin panas sinar matahari yang terpantul pada bulan.Tanpa sepengetahuan bintang dan atas izin tuhan, bulan dan matahari bertemu. Bulan dan matahari pun menyatu bagaikan sepasang kekasih yang saling memeluk~

***

“Mwo?!Ash….mataku sakit” kata Yunho setelah melihat langit.

“Wae, Wae? Ada apa dengan matamu?” tanya Jaejoong panik. “Apa seseorang melukaimu?”

“Ambil ini, lihatlah ke langit. Tapi jangan lama – lama melihatnya” Yunho memberikan kacamata hitamnya pada Jaejoong—kekasih terlarangnya sambil mengucek matanya yang perih.

“Tidak mungkin!Gerhana matahari. Ash…Minnie” kata Jaejoong yang segera melepas kacamata hitamnya dan berlari menuju ruang astronomi. “Aku gagal! Aku gagal!”

Jaejoong membuka pintu ruang astronomi secara kasar. Ia terkejut mendapati ku yang sedang menangis dalam pelukan Kyuhyun. Aku melihat kehadiran Jaejoong hyung yang sedang memandangku tercengang. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari ku dan membiarkan ku untuk menghampiri kakakku. Kyuhyun membungkukan diri—tanda hormatnya sekaligus meminta maaf pada Jaejoong hyung.Aku memukul Jaejoong hyung hingga terjatuh kemudian memeluknya erat.

“Jadi selama ini kau sudah tahu semuanya?Mengapa kau merahasiakannya?” gumam ku di telinga Jaejoong hyung. Aku kesal sekaligus sedih memikirkan penderitaannya. Jae hyung menjauhkan ku dari Kyuhyun, membentuk ku menjadi namja sejati agar aku tidak sepertinya.Hanya karena diriku, Jae hyung dapat berbuat sejauh itu. Jae hyung terlalu menyayangiku. Di sela–sela telingaku, aku mendengar suara Jae hyung yang menggumamkan kata maaf terus menerus.Aku dapat merasakan kerapuhannya dari tubuh besar yang ku peluk saat ini.

***

~Do’a bulan terkabul, bulan bertemu dengan matahari setiap gerhana matahari. Bintang selalu membawa cerita untuk bulan agar melupakan peristiwa gerhana matahari sehingga peristiwa gerhana matahari selalu terjadi dalam jangka waktu yang lama.Olehkarenanya di antara bulan dan matahari, ada bintang yang tahu segalanya. Ada bintang yang selalu menemani dan menjaga bulan~

***

“Aku dan Kyuhyun telah memutuskan bahwa kami akan berpisah dan bertemu lagi di renkarnasi berikutnya. Kami berharap saat itu, kami terlahir kembali dengan jenis kelamin yang berbeda hingga cinta ini tidak terlarang lagi. Hingga saat itu tiba, aku harap Jae hyung tetap menjadi bintang yang selalu menjagaku” jelas ku panjang lebar. Ini memang keputusan berat namun aku dan Kyuhyun menghargai usaha Jaejoong hyung selama ini.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi demi aku. Selama ini aku selalu mengatur hidupmu, sekarang aku memberikan kebebasan untukmu dan mungkin a…a… akuakan merelakan hubunganmu dengan Kyuhyun” ujar Jae hyung melepaskan diri dari pelukanku perlahan kemudian merangkul dan mengusap bahuku.

Kyuhyun menghampiriku yang terduduk di lantai bersama Jaejoong hyung. Ia mengusap pipiku hingga sampai di bibirku dan mulai melancarkan senyum evilnya, “Bagaimana ini, Sungmoon? Aku ingin normal tapi roh matahari yang ada dalam diriku ingin memilikimu seutuhnya dalam konteks yang berbeda. Kau mengerti? Hehe”

Aku dan Jaejoong sama–sama terkejut. Jaejoong melototi Kyuhyun sementara aku tersenyum pasrah menatap matahariku yang suka menggoda itu.

SELESAI

Ps: Fanfiction ini pernah diikutkan ke dalam lomba FF, dipublish di maorurin.wordpress.com dan di notes facebook saya. Fanfiction ini murni MILIK SAYA. NO COPYCAT