Strange Dream

“Adakah suatu alasan yang menelatarbelakangi nama panggung kalian saat ini?” Tanya seorang wartawan.

“Tentu saja ada” jawab anggota alice nine serentak seraya melempar senyum.

***

34512_415521804339_680809339_4676655_6255335_n

Setelah wawancara, akhirnya semua kegiatan untuk hari ini berakhir. Para anggota Alice Nine menghela nafas panjang menyambut hari esok dimana mereka libur dari segala kegiatan. Saga menghela nafas sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Hiroto yang mengikutinya pun langsung melompat dengan riang melepas kelelahan dari jadwal yang padat.

“Pon, sadarlah…kasur ini bisa roboh. Kembali ke kamarmu” keluh Saga.

“Ah, sudahlah! kita nikmati hari ini tanpa tidur. Mumpung besok libur!!!” girang hiroto yang masih lompat-lompat di kasurnya.

“Yo!” tora masuk sambil membawa beberapa minuman soda.

“Kami juga ikut” kata Nao yang datang bersama shou membawa perlengkapan tidur.

“Haa…bakal menjadi malam yang panjang” kata saga menutupi wajahnya dengan bantal.

***

                “Hey, Naoli!! Kau memang cocok dengan nama itu!” kata seorang nenek.

“Naoli?? Apa itu??” Tanya anak lelaki berusia sekitar 4 tahun.

“Naoli artinya cantik. Bahasa batak itu. Masa kau tak mengerti? Hayoo…ikut nenek ke medan”

“Oto-san? Oka-san?? Dimana mereka?” rengek anak kecil itu bingung.

“Bahasa apa itu? Nenek tidak mengerti. Pasti Naoli bingung kan? Nenek sebenernya orang batak tapi karena sudah terbiasa di Jakarta ini, nenek jadi kehilangan khas nenek. Hayoo gabung sama temen-temenmu” kata nenek itu menggandeng anak lelaki berusia 4 tahun itu.

“Naoli? Namaku bukan naoli” kata anak lelaki itu.

“Hai, Nao!” kata seorang anak lelaki berbaju biru yang seusianya. Dengan senyum jenaka dia memberikan tangannya untuk berkenalan.

“Namaku bukan Naoli. Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Aku mau mama dan papa. Huaaa..” kata anak yang sudah diberi nama naoli.

“Ya, sesuka nenek itu lah. Aku diberi nama Tora olehnya. Katanya kelak, aku akan setampan orang yang di idolakan nenek itu” kata anak berbaju biru itu sambil menunjuk poster di salah satu sudut dinding.

“Te..oto..er..ara..Tora. Es..usu. su…deidi..di..eroro…Sudiro.. Tora Sudiro” eja Naoli.

“Padahal aku pasti lebih tampan dari lelaki itu” kata Tora sambil melipat tangannya.

“Hey, kalian berdua. Ikut main dengan kami yuk” Ajak seorang anak laki-laki dengan kaos bertuliskan I LOVE SUPONO

“Supono?” terka tora dengan alis terangkat sebelah.

“Pon. Kata nenek itu. Dia baik sekali memberikan aku nama” kata pon dengan memperlihatkan kaosnya yang bertuliskan I LOVE SUPONO. “Kenalkan yang disana itu Shoundoro dan Sagar. Mereka juga sama seperti kita. Mulai sekarang kita berteman”

Naoli yang bingung dengan semua situasi ini pun akhirnya ikut bermain bersama Tora, Pon, Shoundoro dan Sagar. Selama bermain, Naoli mulai melupakan kesedihannya akan mencari mama dan papanya. Siapa nenek itu? Mengapa dirinya diberi nama Naoli? Naoli pun bertanya pada 4 teman barunya itu tentang pemberian nama. Sagar bercerita bahwa suami sang nenek bernama Sagar sirajaguguk, saat masih kecil wajahnya imut seperti dirinya. Sehingga dia diberi nama Sagar. Sementara Shoundoro becerita tentang makanan shoun bihun buatan sang nenek yang diberikan padanya saat menangis mencari mama dan papanya. Sejak saat itu sang nenek memberikan nama shoundoro padanya.

“Asal-asalan sekali si nenek itu yah” kata Tora.

“Eh, tapi Nao bingung kenapa kita ada disini??” Tanya Naoli.

“Umm…pon denger kata nenek itu, orang tua kita sedang asik liburan makanya kita dititipkan” kata Pon.

“Huaaa…mama..papaa” rengek shoun.

Rengekan Shoun membuat yang lainnya pun ikut menangis. Menyuarakan keberadaan papa dan mama mereka. Sang nenek pun datang membawa makanan dan sebuah buku dongeng. Kelima anak itu pun akhirnya mulai berhenti menangis dan melahap makanan mereka. Ternyata menangis adalah suatu kegiatan yang membuat mereka mengeluarkan energi cukup banyak.

“Nenek membawa suatu magic nih. Suatu perjalanan waktu yang ajaib bagaikan mimpi. Alice in wonderland” kata sang Nenek menunjukkan buku dongengnya.

Sentak kelima anak laki-laki itu pun akhirnya benar-benar diam dan tenang. Mata mereka yang bulat tertuju pada buku dongeng yang dibawa sang nenek. Larut dalam cerita yang penuh imajinasi bagaikan masuk dalam mimpi, akhirnya kelima anak itu pun tertidur bak terhipnotis sebuah cerita dongeng.

“Kalian berlima datanglah kesini lagi yah. Nenek tunggu kalian disini. Atau mungkin banyak wanita lain yang akan menunggu kalian disini”

****

Pagi yang sunyi dengan langit berwarna putih cerah. Sinar matahari mulai menyapa dunia dan mengetuk sebuah jendela yang tampaknya suram. Jendela itu adalah jendela kamar dimana para anggota alice nine berada. 5 laki-laki tidur dengan sembarangan dalam 1 kamar yang tadinya terlihat luas kini terlihat sempit.

Dari arah pintu kamar, terlihat tora tertidur di sofa dengan pulasnya. Wajahnya merah menandakan Ia terlalu banyak minum. Sama halnya lelaki dengan rambut blonde yang tertidur tak jauh darinya, Saga. Mereka berdua tertidur terlalu puas disbanding lainnya. Dengan kacang dan snack-snack ringan yang berada di sekitar kaki mereka. Di atas kasur, tampak Hiroto menguasai bidang luas kasur. Kaki Hiroto pun menimpa sebuah guling yang empuk. Guling itu tidak lain dan tidak bukan ialah Shou dengan lilitan selimut menempati bidang terkecil kasur. Di sisi lain Hiroto, tampak Nao yang tidur meringkuk menyesuaikan diri dengan sisa kasur yang ada.

“Aaaaa’…” sendawa Tora bak macan mulai membangunkan Saga.

Saga terbangun sesaat dan mulai tidur lagi dengan lengan menutupi mata. Sinar matahari kini berhasil masuk melalui sela-sela tirai jendela. Sinar matahari itu pun menyapa mata Nao. Nao yang mulai terganggu tidurnya itu pun mulai terbangun dan memposisikan diri dalam keadaan duduk.

“Mimpi yang aneh” gumam Nao mengucek matanya.

“Kau juga?” Tanya seseorang.

Nao mencari sumber suara yang bertanya padanya. Ternyata suara itu berasal dari Shou dibalik selimutnya. Shou mencoba memposisikan dirinya dalam keadaan duduk. Namun tubuhnya terhimpit oleh kaki Hiroto. Nao yang melihat itu pun langsung mengangkat kaki Hiroto dan membuat Hiroto terganggu dari tidurnya.

“Uhmm…apaan sih” gumam hiroto masih dalam keadaan mata tertutup.

Shou pun akhirnya berhasil duduk. Nao memperhatikan shou yang mulai berusaha menampakkan dirinya dibalik lilitan selimut yang dibuatnya sendiri.

“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Nao pada shou yang pada akhirnya berhasil keluar dari lilitan selimutnya.

“Mimpi tentang aku, hmm maksudku kita berlima masih kecil. Aneh, kita berkata dalam bahasa lain. Seperti bukan di Jepang. Aku memakan makanan seperti ramen tapi bukan ramen” jelas Shou.

“Aku juga. Apakah kita berlima bermimpi sama?” Tanya Nao.

Shou mengangkat kedua bahunya. Saga ngesot menuju kasur untuk mengikuti pembicaraan Shou dan Nao. Tampak sekali bahwa Saga begitu lemas. Tora pun terbangun dan langsung menuju toilet.

“Aku dan tora juga bermimpi sama seperti kalian berdua” sambung Saga.

Shou dan Nao saling tatap heran. Mereka pun berada dalam keheningan sesaat. Tora keluar dari toilet sambil membenarkan celananya.

“Barusan aku berpikir, sepertinya ada suatu negara yang harus kita kunjungi. Negara dengan bahasa seperti itu. Bahasa apa itu?” kata Tora kepada 3 temannya yang telah terbangun.

Mereka berempat pun saling menatap. Memikirkan apakah mimpi mereka adalah suatu tanda perintah atau hanya mimpi biasa yang lewat begitu saja. Namun mimpi yang memasuki mereka berempat secara bersamaan itu adalah hal yang teraneh. Beberapa menit mereka memikirkan tentang kesamaan mimpi. Mereka berempat pun menatap kea rah yang sama, yaitu ke arah Hiroto yang masih tertidur pulas.

“Menurutmu pon bermimpi yang sama dengan kita?” Tanya Shou.

Shou, Saga, Tora dan Nao pun mulai memandangi Hiroto yang masih tertidur pulas dan bertukar pandang sesekali.

“Hey, pon! Kau sedang bermimpi apa?” Tanya Tora.

“I Love Supono” gumam Hiroto dalam keadaan setengah sadar.

Iklan

Legenda Sagakuriang dan Mapon Kundang

Alice Nine

Hiroto atau yang biasa disebut Pon mengisi waktu luangnya dengan mengutak-atik sebuah laptop. Ia senyum-senyum dan asik sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya. Tanpa disadari oleh Pon, Nao sudah berada dibelakangnya.

“Uwaaah…tiba-tiba saja” Kata Pon yang terkejut mengetahui Nao berada di belakangnya.

“Sedang apa, pon?” Tanya Nao

“Kau tidak liat? Sedang browsing. Hohoho…lihat ini. FF mengenai kita. Mereka membuat versi yaoi pula” kata Pon dengan semangat.

“Yaoi? Apakah ada tentang aku?” Tanya Nao.

“Umm….daritadi aku hanya menemukan cerita yaoi mengenai Tora dan Saga, Saga dan Shou, bahkan lihat ini…ini aku dan Shou” Kata Pon.

Nao hanya merengutkan dahinya. Ada beberapa pemikiran yang melintas di pikirannya. “Ah, kau membacanya?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya. Hohoho…aku tidak bisa membayangkannya” kata Pon.

“Aku pinjam” kata Nao yang langsung mengambil alih laptop. “Sebaiknya cari yang lain. Seperti legenda gitu. Nah…ini”

****

Cerita dimulai dari alkisah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Shoumbi.  Dayang Shoumbi memiliki kecantikan abadi, yang membuat wajahnya tak pernah tua. Semua orang mengagumi kecantikan Dayang Shoumbi namun hati Dayang Shoumbi hanya dimiliki satu orang yaitu,Si Toramang. Si Toramang yang merupakan jelmaan macan liar itu pun menikahi Dayang Shoumbi. Mereka memadu kasih dan akhirnya memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Sagakuriang. Seiring berjalannya waktu, Sagakuriang tumbuh menjadi sosok lelaki yang tampan. Sementara wajah Dayang Shoumbi, ibunya tidak pernah tua. Bahkan semakin cantik. Kecantikan Dayang Shoumbi membuat Sagakuriang terpesona dan jatuh hati pada ibunya sendiri.

Suatu hari Si Toramang yang menjelma menjadi macan, mengajak Sagakuriang berburu di hutan.

“Mengapa ayahku adalah seekor macan bisa menikahi Dayang Shoumbi yang begitu cantiknya??” Tanya Sagakuriang dalam hati. “Rasanya Aku lebih pantas menjadi pendamping Dayang Shoumbi”. Sagakuriang berjalan sambil memikirkan cintanya terhadap Dayang Shoumbi. Ia merasa macan pemburu jelmaan yang merupakan ayahnya sendiri tidaklah pantas mendampingi Dayang Shoumbi.

Di tengah hutan yang begitu gelap, Sagakuriang dan toramang jelmaan macan mulai berburu untuk memenuhi makan malam mereka.

“Disini kita akan mulai berburu, nak” kata Toramang dalam jelmaan macan. “Sekarang praktikan apa yang telah ayah ajarkan padamu, nak”

Sagakuriang mengeluarkan golok asahan kebanggaannya. Dengan mata tajam, dia mulai membunuh ayahnya sendiri. Sagakuriang tidak terkendali, Ia menghabisi ayahnya demi mendapatkan cinta Dayang Shoumbi. Setelah sang ayah, tora mati. Sagakuriang mulai menyadari perbuatannya. Dia mulai memegangi kepalanya dan pergi keluar hutan berlari pulang dengan tangan dan golok yang berlumuran darah.

“Sagakuriang? Itu kau?” Tanya Dayang Shoumbi yang terkejut melihat Sagakuriang yang pulang dengan cepat.

Sagakuriang berjalan memasuki ruangan dan mulai melihat wajah Dayang Shoumbi yang membuatnya terpesona.

“Dimana tora? Mengapa tanganmu penuh darah??” Tanya Dayang Shoumbi memegangi pundak Saga yang berbidang. Kulitnya yang putih kontras dengan darah segar yang menyelimuti tangan kanannya.

Sagakuriang yang benar-benar jatuh hati pada Dayang Shoumbi hanya diam dan tersenyum pada pujaan hatinya yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Tangan kiri Sagakuriang mengelus rambut Dayang Shoumbi dengan lembut.

“Aku terluka. Ayah menyuruhku pulang dan dia berburu sendiri” kata Sagakuriang.

“Benarkah? Kalau begitu, mari ku obati lukamu” kata Dayang Shoumbi.

Dayang Shoumbi membersihkan tangan kanan Sagakuriang yang penuh darah. Dayang Shoumbi melihat luka-luka Sagakuriang yang dikarenakan beberapa gigitan binatang buas. Dayang Shoumbi begitu mencemaskan luka sagakuriang, Ia pun membalut luka sagakuriang dengan hati-hati. Sagakuriang yang duduk dalam diam hanya memperhatikan kecantikan Dayang Shoumbi. Hatinya semakin berdegup kencang melihat raut wajah Dayang Shoumbi yang sedang membalut lukanya.

“Aku cinta padamu, Dayang Shoumbi” kata Sagakuriang yang meluncur begitu saja.

Dayang Shoumbi yang terkejut pun mulai menghentikan membalut luka Sagakuriang. Dia pun memandangi Sagakuriang yang tersenyum jenaka terhadapnya.

“Sudah mulai larut. Aku akan mencari tora” kata Dayang Shoumbi yang menghiraukan pernyataan Sagakuriang.

“Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku” kata Sagakuriang yang memegangi tangan Dayang Shoumbi. Mencegah Dayang Shoumbi untuk mencari ayahnya ke hutan. “Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

“Kau gila. Ayahmu belum pulang. Aku harus mencarinya. Aku begitu mencemaskannya” kata Dayang Shoumbi yang melepaskan tangan Sagakuriang dan pergi mencari Tora jelmaan macan, suami terkasihnya.

Sagakuriang yang masih tersenyum hanya berkata “Aku gila karenamu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi berlari menuju hutan. Begitu cintanya, Ia terhadap suaminya. Sampailah di tengah hutan. Ia menemukan jejak-jejak darah. Dayang Shoumbi pun mengikutinya dan betapa terkejutnya dia menemukan Toramang, suaminya dalam bentuk tubuh manusia terkapar penuh darah. Dayang shoumbi menangis dan memeluk suaminya itu. Di bibir tora, Dayang Shoumbi menemukan potongan baju Sagakuriang. Ia menduga bahwa luka pada tangan Sagakuriang adalah hasil dari gigitan Tora. Dayang Shoumbi yang terpukul mengetahui bahwa Sagakurianglah yang membunuh Tora pun mulai menguburkan suami terkasihnya seorang diri. Setelah itu, Dayang Shoumbi pulang dengan penuh amarah.

“Sudah pulang kau rupanya, calon istriku” kata Sagakuriang menyambut Dayang Shoumbi dan hendak memeluknya.

Dayang Shoumbi menampar pipi putih Sagakuriang. “Pembunuh! Aku tidak mau hidup bersama anak pembunuh sepertimu”

“Tunggu sebentar, Nao. Tragis sekali cerita ini” kata Pon yang mulai ikut mengikuti alur cerita.

“Kau membacanya?” Tanya Nao yang hendak menutup jendela browsing.

“Umm…lanjutkan saja. Aku ingin melihat endingnya” kata Pon yang mulai mengikutinya.

Sagakuriang yang tidak mempedulikan kata-kata Dayang Shoumbi pun langsung memeluk paksa Dayang Shoumbi. “Macan itu tidak pantas mendampingi mu. Karena aku lah yang pantas mendampingimu. Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi yang berusaha melepaskan pelukan Sagakuriang namun tidak bisa hanya pasrah dan memukul punggung Sagakuriang. “Kau gila. Buktikan kalau kau memang mencintaiku. Buktikan bahwa kau memang pantas menjadi pendampingku”

Sagakuriang mulai melepaskan pelukannya pada Dayang Shoumbi. “Apapun itu asalkan demi kau menjadi istriku, aku akan melakukannya”

Dayang Shoumbi yang menyetujuinya pun meminta Sagakuriang untuk membuat perahu dan telaga dalam waktu semalam. Sagakuriang yang menyetujuinya pun langsung pergi keluar rumah. Sebelum Sagakuriang meninggalkan rumahnya, dia pun berjanji bahwa Dayang Shoumbi akan segera menjadi miliknya.

Tubuh Dayang Shoumbi bergetar dengan segala hal yang terjadi pun hanya bisa berharap bahwa anaknya tidak akan bisa menyelesaikan perintahnya dalam semalam. Dengan bantuan para Iblis, Sagakuriang dengan cepat mengerjakan perintah Dayang Shoumbi. Dayang Shoumbi yang mengetahui hal itu pun mulai cemas. Dia pun memohon kepada Tuhan agar matahari segera datang. Dayang Shoumbi menyerahkan dirinya sebagai sebuah ganti bila permohonannya terkabul.

Ketika itu, fajar pun mulai merekah di ufuk timur. Melihat itu, Sagakuriang panik dengan pekerjaannya yang belum selesai tepat waktu. Sagakuriang yang marah besar hendak mengejar Dayang Shoumbi dan memperlihatkan bukti cintanya. Namun Dayang Shoumbi tiba-tiba menghilang. Membuat Sagakuriang benar-benar kesal dan hendak menendang perahu yang sudah capek dibuatnya.

“Et, et…haiaaah…mana tadi ceritanya?? Haa…bentar lagi selesai tuh” kata Nao.

“Maaf, kepencet. Coba cari kata perahu” kata Pon yang tidak sengaja menekan exit pada jendela browsing. Ia pun mengutak-atik mencari cerita legenda itu lagi dengan keyword ‘perahu’. “Okeh, lanjut lagi ini dia”.

“Stop! Jangan ditendang. Aku akan membelinya” Kata seseorang pria yang sepertinya adalah saudagar kaya raya.

“Siapa kau?” Tanya Sagakuriang yang mulai jengkel.

“Kenalkan, Aku Mapon Kundang” kata pria itu dengan dandanan pakaian ala Sumatra barat. “Aku merantau dari Sumatra. Setelah kaya raya, aku akan balik kesana. Tapi perahuku rusak. Sepertinya perahu buatanmu bagus dan berkelas”

Sagakuriang yang baru pertama kali melihat seorang pria dengan dandanan Sumatra itu pun menyetujui perahunya dibeli. Dengan duit hasil jual perahu, Sagakuriang pergi mencari Dayang Shoumbi, cinta terkasihnya.

Sementara itu, Mapon Kundang menggunakan perahu Sagakuriang dan pergi berlayar ke kampung halamannya. Bersama awak kapal dan istrinya. Mapon kundang menjelajahi laut. Dari Bandung tempat Sagakuriang berada, hingga sampai di Sumatra Barat. Akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Mapon Kundang.

“Ibu Nao!! Mapon kundang telah pulang” kata beberapa orang yang menghampiri seorang Ibu yang rindu akan anaknya, Mapon kundang.

“Mapon!! Syukurlah kau pulang. Ibu rindu padamu” kata ibu Mapon kundang yang memeluk Mapon kundang melepas rindunya.

“Cih, siapa kamu! Aku tak pernah punya ibu miskin seperti kamu. Kau salah orang” kata Mapon Kundang yang pergi meninggalkan ibu tua itu.

“Ya, tuhan bila Ia memang benar anakku, aku sumpahi Ia menjadi……”

Piiip…piiip….Low batteray…piip…

“Yaaah….mati. Sial!! Aku lupa nyolokin chargernya!!!” kata Pon histeris.