Reuni Sania

Suara tawa memenuhi ruangan pesta sederhana temu kangen kawan lama. Mata mereka tertuju pada satu layar besar yang mempertontonkan dokumentasi kenangan masa sekolah mereka. Mereka begitu menikmatinya, dan membahasnya hingga muncul sebuah foto yang membuat mereka semua hening.

***

“SANIAAAAA!!!” teriak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain bekel.

Sania berlari kegirangan setelah mengacaukan permainan bekel mereka. Siapa yang tidak tahu Sania, anak super bandel yang tidak pernah ada yang berani melawannya karena dia anak guru. Mudah bagi Sania untuk memutarbalikan fakta, mengadu pada ibunya. Dan selayaknya guru, dia akan member hukuman pada siapa yang telah menyakiti murid lainnya, terlebih murid tersebut adalah anaknya sendiri.

Semua murid berharap akan tiba dimana ada hari pembalasan untuk Sania. Hingga hari itu tiba. Hari dimana Sania membuat Rayya menangis. Rayya, si tuan putri sekolah, cantik, pintar, dan baik hati. Semua orang menyayangi Rayya, berbanding terbalik dengan Sania.

“Mulai hari ini, kita semua, satu angkatan cuekin Sania! Nggak ada yang boleh ngobrol sama dia. Kalau ada yang ngobrol, kita semua memusuhi dia juga, setuju?!” kata ketua kelas di depan kelas yang direspon positif oleh satu kelas. Tentu saja pertemuan itu tanpa Sania, dia telah pulang duluan dengan Ibunya.

“Tapi aku kan sebangku dengan Sania” sahut Tia merasa tidak enak hati. Tentu semua mata tertuju padanya hari itu.

“Hmm yaa pokoknya seperlunya saja, Tia. Yang lain bantu Tia, biar nggak banyak terjadi obrolan antara Tia dan Sania, oke?! Biar Sania tahu rasa!” ketua kelas mengakhiri kata-katanya dan pergi bermain sepak bola bersama murid laki-laki lainnya. Entah bagaimana semua murid laki-laki itu bisa kehabisan tingkat kesabarannya jika semua berhubungan dengan Rayya, si tuan putri sekolah.

Sejak saat itu, Tia hanya memberi respon seadanya pada percakapan Sania. Respon iya, tidak, diam mengangguk dan lain sebagainya. Ketika Sania mulai bercerita tentang apa yang telah dia lakukan, semua orang menarik Tia ke suatu tempat mengajaknya bermain tanpa Sania tentunya.

Sania mengambil bola yang dimainkan anak laki-laki di lapangan dan mulai berlari. Tidak ada lagi yang mengejarnya untuk mendapatkan bola. Sania melempar bola itu ke lapangan merasa bosan dan bersemangat untuk mengacaukan permainan bekel sekumpulan anak perempuan di salah satu lorong kelas. Permainan kacau, tetapi yang tersisa hanya Sania di sana. Semua perempuan telah pergi ke tempat lain, menganggap Sania telah tiada. Entah bagaimana kejadian itu terjadi sangat lama hingga menjadi sebuah kebiasaan, sampai kelulusan tiba.

Kabar angin sampai ke telinga masing-masing murid bahwa Sania dimasukkan ke sebuah padepokan oleh Ibunya agar menjadi anak yang baik dan tidak bandel lagi seperti dulu. Semua hanya tertawa dan menjalani kehidupan sekolah yang baru, tentunya dengan teman-teman baru.

***

New chat room

Tia: Reuni yang diadain sekolah? Pasti boring, mending jalan aje yuk kemana gitu. Kan reuni juga, yang ikut bisa hubungin gue sekarang. Mari kabur dari reuni.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ayo dah.

Vera: Eh, parah lo semua. Nanti sepi loh. Gue kesana deh.

Wandi: Katanya ada Sania loh. Kan emaknya yang bikin reunian ini kan.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ver, lo wakilin kita yak. Palingan itu reuni 20 orang nggak nyampe.

***

Lima hari setelah acara reuni, Vera berlari tergopoh-gopoh ke rumah Tia dan memaksanya ke rumah Sania. Kabar angin berhembus dengan cepat, Vera mengabarkan bahwa semua orang harus ke rumah Sania hari itu juga dan dia akan memberitahukan alasannya jika semua sudah berkumpul di sana. Semua orang tanpa terkecuali harus datang kesana hari ini, terutama Tia yang wajib datang.

“Gila apa? Kenapa gue yang diwajibin sih? Oke gue tahu, gue salah, gue yang bikin semua orang pada nggak dateng ke reuni. Tapi bu Siska uda nggak ada hak buat ngehukum gue atau apa. Kita bukan murid dia lagi” panjang lebar Tia menolak ajakan Vera.

“Kali ini aja. Lo bakalan nyesel kalo nggak ke rumah Sania hari ini. Gue jamin, nggak akan ada apa-apaan yang penting lo dateng. Gue habis dari sana dan keburu janji sama bu Siska buat bawa lo kesana” panjang lebar Vera dengan wajah memohon.

Tia menyetujui permintaan Vera dan pergi bersama ke rumah Sania. Berjarak dua rumah dari rumah Sania, Tia sudah merasakan suasana yang aneh. Beberapa orang berdatangan ke sana. Vera masuk ke dalam rumah Sania lebih dulu, sementara Tia berhenti di ambang pintu dengan penuh keraguan.

“Tiaaaaaaa!!!” teriak bu Siska sambil menangis. Tia menghampiri bu Siska dengan cepat dan melihat Vera yang duduk tidak jauh darinya. “Makasih sudah kesini, Tia. Kenapa kemarin tidak datang ke reuni?”

“Saya ada urusan, bu” singkat Tia penuh kebingungan melihat bu Siska yang menangis penuh histeris.

“Sania, naaak. Sania kesana. Sania ingin ketemu kamu, karena katanya, nak Tia adalah satu-satunya teman Sania. Huhuh….Sania nggak punya teman di padepokan, naaak” ujar bu Siska yang air matanya mengalir semakin deras.

Tia ikut menangis dan memalingkan wajahnya ke sebuah ruang keluarga yang besar, terlihat disana tumpukan kain yang menutupi tubuh seseorang yang berbaring di sana. Tia dan Vera bertukar pandang dan pergi ke ruangan tersebut, memandangi tubuh yang ditutupi kain tanpa terkecuali.

“Itu Sania, naaak. Sania sakit dari kemarin. Tapi dia tetap bela-belain datang ke reuni untuk bertemu Tia dan teman-teman!!” seru bu Siska yang ditenangi oleh beberapa ibu yang berada di sekelilingnya.

“Eee gue ngerasa bersalah sama Sania. Kemarin di reunian, nggak ada yang sadar ada dia, gue juga. Kebiasaan sama…kelakuan kita setahun terakhir. Gue baru ngeh pas gue ke kamar mandi, gue kira dia…dia…setan” cerita Vera yang membuat Tia sedikit terkejut. “Soalnya dia pucat banget, putih gitu. Makanya gue kaget”

Vera memukul-mukul mulutnya, dia lupa kalau saat ini sedang dalam keadaan duka. Tia dan Vera hanya diam duduk di dekat sana. Tak ada satu pun dari mereka yang berani untuk membuka kain yang menutupi wajah Sania di sana. Setelah cukup lama, mereka pun pergi meninggalkan rumah Sania. Di perjalanan pulang, Tia memikirkan bagaimana bisa Sania menganggapnya sebagai satu-satunya teman baginya. Mungkin Tia adalah satu-satunya orang yang merespon Sania lebih banyak dibanding anak-anak yang lain, tetapi itu semua hanya karena dia adalah teman sebangku Sania. Hanya itu.

***

Semua orang terdiam memandangi foto Sania di sana. Beberapa orang memilih untuk menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya. Bukan hanya karena sikap mereka pada Sania yang terpantul disana, melainkan karena mengetahui bagaimana cara Sania meninggal.

 

Beberapa orang bilang, Sania belum meninggal karena hanya ibunya saja yang mengatakannya. Tidak ada pemeriksaan dokter atau apa pun di sana. Pemandian dan semuanya diurus oleh bu Siska seorang. Orang-orang hanya membantu pemakaman ketika mengetahui kabar Sania telah tiada. Tanpa sengaja, orang-orang mengubur Sania dalam keadaan hidup.

SELESAI

Author’s Note: #NulisRandom2015 hari ke 6. Hari ini ada reuni SD yang nggak bisa gue datangin karena gue sakit. Dan kalau bengong, nginget reuni itu inget “Sania”. Yup, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Tentunya dengan polesan sana-sini. Dalam cerita ini, gue adalah Tia. Saat ini gue cuma bisa mendoakan “sania” aja ketika gue mengingatnya. Missed satu hari nulis, kemarin gue bener-bener dalam keadaan kritis. Semoga besok sudah sehat ^^ terima kasih sudah membaca.

List #NulisRandom2015:

Day 1: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Day 2: Kacamata (fiksi)

Day 3: Hadiah Dari Kucing (non fiksi)

Day 4: Dalam Lift (fiksi)

Iklan