Dalam Lift

“ANJRIT! GUE BAKAL BUNUH LU HARI INI!” kesal seorang laki-laki yang sempat membanting smartphone-nya ke sudut lift.

Laki-laki tersebut mengacak-acak rambutnya gusar, kemudian menyenderkan punggungnya ke dinding lift. Penampilan laki-laki tersebut terlihat normal seperti anak muda pada umumnya. Dia mengenakan kaos hitam polos, celana jeans biru, dan sepatu sneakers berwarna merah. Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya mengerutkan alisnya memandang laki-laki muda tersebut. Penampilannya tentu berbeda jauh dari anak laki-laki tersebut. Pria tersebut menggunakan kemeja biru polos, celana bahan, sepatu pantofel hitam, jam tangan, dan kacamata minus.

“Memangnya siapa yang ingin kau bunuh itu, Dek?” kata pria tersebut dengan santai. Dia hanya mengadahkan kepalanya menghadap kumpulan lubang kecil yang berada di atas tombol-tombol angka lift. Dia berharap suara pertolongan keluar dari speaker tersebut.

Sudah hampir setengah jam dia terjebak di dalam lift bersama anak muda yang tidak dikenalnya. Yang dilakukannya hanya duduk tenang dan diam, sementara anak muda yang duduk di sudut kanan lift asyik memainkan game di smartphone-nya beberapa waktu yang lalu sebelum dia melempar smartphone nya ke sudut lift yang lain.

“Saya ingin membunuh Rudal” jawab anak muda memandang lurus ke pintu lift yang masih tertutup.

“Rudal? Hahaha…ah game yah” pria tersebut sedikit tertawa dan ikut memandangi pintu lift kemudian memandangi speaker lagi.

“Bukan, pak. Rudal itu nama teman saya. Rudi Handal namanya. Disingkat Rudal” anak muda tersebut memandang sepatu merahnya dan mulai menggerakkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri secara berlawanan.

Pria paru baya sedikit mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak. Dia sedikit terkejut dengan pernyataan anak muda itu. Tapi apa yang bisa dipercaya dari ucapan anak muda ini di situasi seperti ini, situasi dimana imajinasi pintu lift terbuka mulai menguasai otak.

“Hahaha namanya lucu yah. Rudi Handal. Diharapkan untuk menjadi anak yang dihandalkan yah?” enteng Pria paru baya tanpa memikirkan apa yang dia katakan. Yang dipikirannya saat ini adalah berapa lama dia masih bisa bertahan. Kepalanya mulai terasa pusing, mungkin dikarenakan oksigen yang berada di dalam lift itu semakin menipis.

“Kalau memang dia bisa dihandalkan, harusnya dia mengirimi pesan menanyakan keberadaan saya, pak. Bukannya malah mengirimi invite-an game” anak muda itu mulai mengambil smartphone-nya menggunakan kakinya.

“LOH?! HAPEMU ADA SINYAL?!! KENAPA NGGAK HUBUNGI ORANG BUAT MENOLONG KITA?!!” pria tersebut berteriak memandang kesal anak muda yang kini memandangnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Nggak ada sinyal, pak! Itu juga saya kaget sekalinya ada sinyal kenapa yang masuk malah chat dari Rudal yang isinya kampret! Makanya saya bilang saya ingin bunuh dia!” kata anak muda itu dengan nada penuh kejengkelan.

“Yayaya…bunuh saja dia. Bunuh Rudal itu. Siapa namanya, Rudi Handal itu”

Keheningan kembali meliputi kedua laki-laki tersebut. Terdengar suara pernapasan pria yang tidak teratur. Anak muda menolehkan wajahnya ke pria yang berada di samping kirinya. Terlihat keringat yang bercucuran di wajah pria itu.

TING

Pintu lift terbuka, sontak mereka berdua berdiri dengan penuh semangat dan keluar dari lift. Dua orang petugas langsung mendekati lift dan memeriksa keadaan lift dengan cepat. Seorang perempuan meminta maaf pada pria paru baya yang sedang mengelap keringatnya. Pria mengeluarkan semua keluhannya pada saat itu juga, sementara anak muda pergi meninggalkan kejadian. Tanpa ada kata, pertemuan kedua orang asing tersebut berakhir hari itu.

***

Tiga hari kemudian,

-HEADLINE-

Laki-laki berusia 18 tahun berinisial RH tewas dibunuh temannya. Motif pembunuhan diduga karena rasa kesal invite-an game.

SELESAI

Author’s Note: Hari ke empat #NulisRandom2015 diisi dengan fiksi tentunya. Besok akan kembali ke nonfiksi di blog yang satunya lagi –> langitayu.blogspot.com ohiya berikut list #NulisRandom2015 :
Hari pertama: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Hari Kedua: Kacamata (fiksi)

Hari Ketiga: Hadiah Dari Kucing (nonfiksi)

Iklan

Kacamata

AKU BENCI KACAMATA.

dan keluargaku benci kalau aku mengatakannya dengan keras. Bagaimana tidak? Kacamata adalah benda yang telah menyekolahkanku dan membuat perutku selalu sejahtera. Dia seperti berhala di rumah yang telah menjadi toko kacamata ini. Ahya rumah kami kebetulan berada di tempat dimana sepanjang jalan isinya para pedagang.

“Ah, kalian lagi. Ayo masuk, kemarin baru saja frame kacamata terbaru datang” sapa ibuku ramah pada tiga remaja perempuan yang memasuki toko kami dengan penuh semangat.

Aku memperhatikan ketiga remaja perempuan itu dari kejauhan sambil memegang erat gagang sapu. Ketiganya terlihat sangat stylish dengan kacamatanya. Yang satu berambut panjang dan digerai, yang kedua rambutnya dikuncir kuda, dan yang ketiga rambutnya pendek. Wajah mereka tampak bingung memilah kacamata yang mereka inginkan, padahal tak perlu bingung seperti itu jika memang butuh. Tak bisa kupungkiri, belakangan ini kacamata ‘naik tahta’ menjadi aksesori fashion, bukan lagi hanya menjadi sekadar alat bantu melihat. Walau begitu, aku tetap benci kacamata.

“Uda selesai nyapunya? Ada pelanggan tuh ya senyum dong. Gimana sih?” kata pria yang baru saja melaluiku dan menghampiri ibuku. Ya kenalkan pria itu adalah….

“kyaa…kak fakhri….” respon salah satu perempuan pelanggan kami, si rambut panjang yang digerai. Sepintas wajahnya memerah saat melihat Fakhri, abangku yang merupakan anak pertama dan mungkin akan menuruni usaha kacamata keluarga kami. “Ha-hari…ini kacamata kak Fakhri cocok banget”

“ah masa? Aku kan nggak pernah ganti kacamata” kata Kak Fakhri dengan senyum ramahnya.

“eh iya yah? Hahaha salah deh kalo gitu” sahut si rambut panjang yang kemungkinan menyukai abangku itu. Mereka pun tertawa bersama.

Ibuku pergi meninggalkan ketiga pelanggan kami itu pada Kak Fakhri dan masuk ke dalam rumah. Dia sepintas melihat jam dan tersenyum senang. Ibuku berhenti di hadapanku dan memegang kedua bahuku, “Yu, kamu bisa nyapu tanpa kacamata gitu? Nanti nggak bersih loh”

Aku hanya menghela nafasku, menghentikan aktivitas menyapuku, dan mengambil kacamataku yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ini ironi, aku membenci kacamata tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini sama seperti orang yang sakit, mereka membenci obat tapi membutuhkannya, seperti sebuah ketergantungan dan aku benci itu. Aku mengelap kacamataku perlahan sambil mendengar sayup-sayup suara pelanggan lain yang datang.

***

Namaku Fakhri, anak pertama dari empat bersaudara. Kalian sudah melihat Ayu, adik perempuanku yang sedang menyapu di sana, wajahnya selalu tak bisa ramah ketika pelanggan kami datang. Dua adikku yang lain sedang bersekolah dan aku berharap mereka cepat pulang untuk membantuku mengatasi ketiga pelanggan muda kami yang terlalu lama memilih dan berujung pada tidak membeli. Itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Bagaimana pun orang yang telah sampai di toko kami haruslah menukarkan uangnya dengan kacamata kami.

Seorang bapak dengan anaknya berhenti sejenak di depan toko kami, tapi mereka berdiri agak jauh dari toko kami. Dari raut wajahnya terlihat sekali dia sedang berpikir. Terlihat tangan kanan Bapak itu menggandeng anak laki-lakinya yang sedang memeluk kotak mainan robot baru dan tangan kirinya memegang plastik belanjaan yang entah apa isinya. Penampilannya sederhana, tapi aku tahu, dia akan menjadi pelanggan yang akan melayangkan uang ke toko kami.

“Boleh dilihat dulu saja, Pak. Atau mungkin mau dicoba juga nggak apa. Bapak perlu kacamata yang seperti apa?” kataku melengkungkan senyuman ramahku.

Bapak itu mendekat ke meja etalase kacamata kami. Dia melihat-lihat tanpa banyak bicara. Salah satu perempuan pelanggan muda yang tadi menyapaku mulai berbicara lagi dan menanyakan apakah kacamata yang dipakainya sesuai dengan dirinya atau tidak.

“Iya cocok kok. Itu juga bagus” kataku sambil membalas senyuman singkat. Aku kembali memperhatikan bapak yang dari tadi masih melihat kacamata dalam diam. Aku tidak boleh kehilangan fokus pada bapak yang berpotensi membeli kacamata ini. Aku mulai tidak sabar dan mengambil sembarang kacamata.

“Bagaimana dengan yang ini, pak? Bapak butuh kacamata untuk siapa?” tanyaku dengan ramah. Bapak itu akhirnya menoleh ke arahku dan mulai melihat kacamata yang kugenggam.

“Kak Fakhri, aku cocok dengan kacamata yang ini, nggak?” kata salah satu perempuan yang dari tadi berusaha mengambil alih perhatianku.

“Yang ini ada warna biru nggak? Kalo nggak ada, aku nggak jadi beli deh” kata teman perempuannya yang berambut pendek.

Aku tidak bisa fokus kalau begini caranya. Aku menoleh ke belakang, melihat Ayu yang sedang memasukkan sampah dari pengkinya ke tong sampah. Aku memberinya kode untuk membantuku, mengatasi perempuan-perempuan ini selagi aku fokus pada si bapak yang berpotensi beli ini. Ayu hanya melewatiku, membawa sampahnya keluar toko. Benar-benar adik yang menyebalkan.

“AH! GALEH! LIDYA!!” teriakku gembira melihat kedua adik kembarku yang telah pulang. Bantuan itu selalu datang pada orang yang membutuhkan, ya aku percaya itu.

“kyaaa si kembar pulang yah!!” seru pelanggan perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Dia yang dari tadi diam, kini melihat si kembar dengan penuh semangat. Sepertinya dia menyukai anak-anak.

“Kakak yang kemarin yah?! Beli kacamata lagi kan?” kata Lidya dengan senyum lebar.

Bagus Lidya, kau memang adikku, kau pintar sekali.

“Ah, kakak nggak tau mau beli apa nggak. Masih liat-liat nih hehehe” jawab si rambut panjang digerai.

Seperti yang kuduga, memang dia tidak ingin membelinya. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Aku tampan dan aku tahu itu.

“Nggak apa-apa, kak! Galeh tahu! Kakak-kakak cantik semua ini kesini untuk menemui Galeh yang ganteng ini kan?” kata Galeh bertolak pinggang. Kemudian si rambut kuncir kuda menghampiri Galeh dan mencubit pipinya gemas.

“Dasar si Galeh ini. Bisa-bisanya berkata seperti itu” gumamku gregetan.

“Bukannya itu mirip sepertimu, kak” sahut Ayu pergi melewatiku begitu saja.

***

Tik….Tok….

Sebentar lagi menunjukkan jam 3 Sore, tetapi belum satu pun pelanggan yang membeli kacamata kami. Aku membaca buku catatan keuangan kami dan mengadahkan kepalaku ke atas, melihat kak Fakhri yang masih membujuk bapak pelanggan kami. Dari dalam kaca etalase, aku dapat melihat Galeh, kakak kembarku masih bermain dengan kakak-kakak itu. Harusnya dia letakkan tas sekolahnya dulu ke dalam, baru lanjut menemani pelanggan.

Aku melihat Kak Ayu sedang menggonta-ganti channel televisi dengan bosan. Ya, selama ada kami, mana mungkin dia turun tangan. Permasalahannya sebentar lagi toko kami akan tutup dan pelanggan belum ada satu pun yang membeli kacamata kami. Aku memandang wajah pelanggan perempuan kami yang berambut pendek, wajahnya tampak bosan. Berbeda dengan dua yang lainnya. Aku tidak boleh kalah dari Kak Fakhri atau pun Galeh. Aku juga harus bisa mengajak pelanggan ini berbicara.

“Kakak…kakak bosan yah?” kataku yang kini telah berada di hadapannya.

“Iya. Habisnya dua temanku itu nggak selesai-selesai milih dari tadi” katanya.

“Hngg memangnya kakak nggak berniat membeli kacamata?” kataku begitu pelan dan hati-hati. Tapi aku harus tetap memperlihatkan wajah polosku.

“Hemm nggak tahu yah. Tadinya aku suka kacamata yang itu. Tapi nggak ada warna biru. Aku suka warna biru soalnya”

Yang benar saja. Kakak ini cuma cari alasan agar tidak membelinya. Kacamata formal seperti itu mana mungkin ada yang berwarna biru. Ah, mungkin saja ada suatu saat nanti. Aku menengok jam dinding toko telah menunjukkan angka tiga. Mataku dan mata Kak Ayu saling melirik. Seketika Kak Ayu berjalan menghampiri Kak Fakhri. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan. Toko kami akan tutup sebentar lagi dan hari ini haruslah ada pelanggan. Aku harus mencari cara.

TRING….

“Wah gantungan tas midorima! Lucu banget!”

“KAMU TAHU MIDORIMA?!!” teriak histeris kakak berambut pendek.

GOTCHA!

“Tahu doooong. Kuroko no basket kaaaan?? Ih kakak ini. Aku juga suka anime tauuu” pancingku.

“Ya ampuuun aku nggak nyangka malah nemuin fangirl di sini. Aku kemarin pengen banget nge-cosu midorma. Crossdressing gitu deh hahahaha, tapi aku masih nabung buat beli wignya. Wignya hijau sih” celoteh panjang kakak pelanggan berambut pendek.

“Kakak suka warna biru yah? Pasti punya wig biru kan?” tanyaku yang dibalasnya dengan anggukan semangat. “Kalau begitu, beli kacamata merah ini aja. Kakak bisa nge-cross jadi Rei loh. Kakak nonton free, nggak?”

Wajahnya terkejut memandangiku dan kacamata merah yang sedang kupegang.

***

Aku melihat Lidya di sana dengan kakak berambut pendek yang telah jatuh ke dalam perangkapnya. Kak Ayu yang mulai membantu Kak Fakhri, kemudian pergerakan cepat Lidya, dan angin sore yang menerpa rambutku, adalah tanda bahwa toko kami sebentar lagi tutup. Tidak ada waktu lagi, aku juga harus cepat beraksi.

“Aku beli kacamata merahnya!” kata kakak berambut pendek itu.

Lidya memberikan senyuman jenakanya padaku dari jauh. Dia berhasil. Dia duluan yang membuat pelanggan kami mengeluarkan uang. Kak Fakhri menyiapkan bon dan kacamata yang dibeli oleh kakak berambut pendek itu. Sementara Kak Ayu mulai berbicara dengan si Bapak yang dari tadi kebingungan memilih tapi belum mencoba kacamatanya sama sekali.

“Galeh lucu banget sih. Gimana rasanya jadi kakak kembar?” kata kakak rambut kuncir kuda.

“Rasanya….hemmm apa yah. Kami sebagai anak kembar selalu bersaing. Dan aku selalu saja kalah” kataku mulai membentuk wajah sedih.

“Loh kenapa? Kamu kan kakak. Lahir duluan sudah merupakan kemenangan, bukan?”

“Ah itu kan cuma lahir saja. Selama ini Lidya selalu terdepan. Itu lihat aja barusan, dia bisa bikin temen kakak beli kacamata. Sementara aku nggak bisa. Di rumah, cuma aku yang nggak berguna” kataku melihat raut wajah tak tega kakak rambut kuncir kuda. “Tuh liat, Kak Fakhri senyum-senyum sambil elus-elus Lidya. Memang Lidya yang paling bisa diandalkan”

Kakak perempuan kuncir kuda itu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompetnya. Aku berhasil.

***

Fakhri melihat jam dinding yang menunjukkan jam 4 Sore. Dia sudah tidak sabar menghadapi bapak yang berpotensi beli itu. Dia menyerahkannya pada Ayu. Fakhri menerima uang dari dua pelanggan perempuannya. Hanya tinggal satu perempuan yang belum membeli kacamatanya, si rambut panjang yang digerai, yang daritadi mencuri perhatiannya. Fakhri melihat si kembar yang masih asik berbicara dengan pelanggannya masing-masing. Dia pun mulai menatap serius pelanggan perempuan berambut panjang digerai.

“Apakah ini cocok untukku?” kata perempuan itu yang telah mencoba banyak kacamata.

“Apapun yang kamu pakai itu cocok dan cantik. Sekarang saatnya tetapkan pilihan yah” kata Fakhri menggenggam tangan perempuan itu dengan tatapan mata yang tajam nan serius.

“a–aku beli yang ini” katanya.

Ketiga remaja perempuan itu pulang dengan membawa kacamata dari toko kami. Si kembar sedang bermain dengan anak si Bapak yang tak kunjung menetapkan pilihannya. Fakhri masih menghitung uang dengan senang, sementara Ayu masih menatap bapak dengan rasa yang ditahannya. Tunggu sampai….

“Coba saja yang ini pak! Yang ini tidak bikin bapak terlihat tua dan harganya murah harganya! MURAH PAK MURAH! SAYA CUMA AMBIL UNTUNG SEDIKIT, BAPAK TEGA SEKALI MINTA MURAH LEBIH DARI INI” teriak Ayu sambil menghentakkan tangannya di meja sontak membuat beberapa pejalan kaki terdiam dan melihat ke arah toko kacamata kami.

Bapak tersebut melihat ke sekeliling dimana semua orang memandangnya termasuk si pemilik toko yang berada di depan toko kami dan pelanggannya. Suasana hening seketika.

“Papa emang pelit. Buruan beli biar kita cepet pulang, pa”

Bapak itu tertawa ringan sambil mengeluarkan uangnya perlahan dan mengambil kacamata itu dengan perasaan tidak enak. Fakhri tersenyum memberikan bungkusan kacamata pada bapak itu, “Terima kasih telah membeli kacamata kami dan jangan kapok datang kesini lagi”

Bapak itu mengambil bungkusannya dengan cepat dan bergumam pelan, “Senyuman laki-laki tadi itu mengerikan”.

Fakhri, Ayu, dan Si kembar menutup toko bersama. Setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Aku tahu itu. Aku bisa mendengar suaranya.

“AKU DAPAT SATU PELANGGAN!” teriak si kembar bersamaan.

“Akhirnya berakhir juga hari ini. Sesuai perjanjian~~” kata Ayu.

“Nah jadi?” sahut Fakhri.

“Ya, ya, ya. Liburan jaga toko selama sebulan buat Ayu, game untuk Galeh, komik untuk Lidya, dan uang jajan tambahan sebesar 50% untuk Fakhri” jelasku panjang lebar.

Raut wajah mereka berempat begitu gembira dan mereka berlari ke ruangan yang lain meninggalkanku. Ya, tak apa. Setidaknya hari ini aku bisa tidur siang, merawat kecantikanku agar awet muda, dan toko kacamata tetap berjalan dengan adanya pembeli tiap harinya.

SELESAI

Author’s note: hari kedua dalam rangka #NulisRandom2015 hohohoho. Hari ini aku minta kata benda sama si Galeh buat bikin cerita ini, dan kata yang dia kasih adalah “kacamata”. Alur dan sudut pandangnya ngasal aja, nggak mikir lama yang penting ngetik aja. Endingnya juga rada nggak jelas gitu yah? Yaudalahyah. Bahkan sebenernya ini cerita apaan sih? Hahaha demi menyembuhkan diri dari writer’s block. Special thanks buat KeCe yang nama-namanya aku pakai di sini hahahaha. Ohya untuk #NulisRandom2015 hari pertamanya ada di sini yah

[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI

Lilin Terakhir

~Manusia diciptakan untuk mempercayai indra penglihatannya dibandingkan keempat indra lainnya. Itulah mengapa manusia takut pada sesuatu yang tidak terlihat. Tuhan, masa depan, kematian, dan hal yang tidak terlihat lainnya~

***

lilin

            FHUUUUU…

Lilin ke 25 telah mati dan seperempat kegelapan mulai menyelimuti ruangan tari yang luas dan kosong itu. Kamu melebarkan matamu untuk memastikan Fandy, temanmu itu berjalan ke arahmu dan ketiga temanmu. Kamu memainkan jemarimu, menggigit bibir bawahmu perlahan, menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa Kamu tidak sendirian. Terlihat di samping kananmu Rima yang menyenderkan kepalanya di bahu Tendi, kekasihnya, dan Ali yang dari tadi merunduk di samping kirimu. Fandy yang merangkak ke arahmu itu, akhirnya duduk di hadapanmu, membuat posisi duduk lingkaran menjadi sempurna.

“Haaa…mulai berasa gelapnya dan atmosfirnya. Gue percaya setan itu ada dan mungkin mereka sedang berada di sekitar kita.” Kata Fandy dengan sedikit berbisik. Membuat keheningan semakin terasa.

Kamu dan keempat temanmu saat ini sedang duduk melingkar di tengah ruangan tari penuh cermin yang gelap dan hanya disinari 100 lilin yang mengelilingi. Lingkaran yang Kamu dan temanmu buat dari posisi duduk, cukup jauh dari 20 lilin yang merupakan lingkaran pertama yang mengelilingi dirimu dan temanmu. Setiap orang wajib membagi cerita horror yang mereka punya, dan setiap selesai menceritakannya, orang itu harus meniup satu lilin. Dari awal hanya Kamu yang menentang ide Fandy ini, walau semua ini dilakukan demi “Team Building” kelompok. Baca lebih lanjut

Mau Kemana?

Tidak kemana-mana. Hanya disini, Andre berdiri dalam diam sambil melihat sebuah kertas berarti di tangannya. Ia menghela nafasnya dan mulai merekahkan senyumannya. Sesekali Ia menatap punggung gadis pujaan hatinya yang sedang mengangkat sebuah almamater berwarna kuning. Almamater berwarna kuning itu tampak berkilauan di bawah sinar matahari yang menyinarinya. Terukir senyum kebanggaan di bibir sang gadis. Matanya tak sedikit pun pindah dari almamater itu.

Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang. Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya. Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

~***~

            “Aku sih udah pasti teknik industri UI”

“Hmm aku apa yah? Yang pasti tujuanku itu UGM!”

Andre memejamkan matanya sambil mengemut lebih dalam es krim yang ada di tangannya. Ini masih pagi, di hadapan papan nilai angkatannya, telinga Andre harus dicambuk oleh topik pembicaraan ‘tujuan perguruan tinggi’. Ia menghela nafas panjangnya sambil menatap kepergian dua perempuan yang baru saja melewatinya.

Beberapa bulan lagi ujian nasional, yang Andre lakukan setiap hari hanyalah berdiri di hadapan papan nilai yang terpajang megah sambil menikmati makanan pokoknya, yaitu es krim. Andre menatap namanya yang tak pernah berpindah dari angka 190 dari 200 anak di angkatannya. Kemudian matanya berpindah pada sebuah nama yang nasibnya sama sepertinya. Nama yang tetap berhenti di tempat dan tak berpindah dari peringkatnya.

“Cocok dengan julukannya sebagai ‘forever number one’, Ana Larasati selalu berada di atas yah!” ujar sosok pria yang tiba-tiba berada di samping Andre dan merangkulkan tangannya pada pundak Andre.

“R.S.J!!” kejut Andre menatap pria yang berada di sampingnya.Pria gila yang tenar dengan inisial rumah sakit jiwa itu kini menyeringai padanya dan ikut menatap papan nilai. “RezaSatria Jaya. Haa selalu datang dengan penuh kejutan”

Reza hanya tertawa menanggapi teguran temannya itu.Ia menatap peringkat 200 yang menyantumkan namanya itu. Reza mendesis kegirangan kemudian menepuk pundak Andre dengan dengan semangat.“Kau lihat itu?Sesuai target, aku berada di peringkat 200. Hahaha”

“Kau gila! Kau ini pintar, tetapi mengapa kau malah mempermainkan peringkatmu! Kalau kau mau, kau bisa berada di peringkat satu!” seru Andre menatap heran pada Reza yang masih tertawa senang.

“Nah itu kau tahu! Hahaha aku bisa mencapai apa yang aku mau. Entah itu peringkat paling atas atau pun yang paling rendah.Aku berhasil menguji diriku sendiri dan pergi ke peringkat yang aku mau.Sekarang giliranmu, mau kemana?” jelas Reza penuh semangat.

Andre menelan ludahnya dan mulai menatap papan nilai kembali.Si jenius gila Reza Satria Jaya memang satu-satunya teman atau mungkin siswa di sekolahnya, yang tak pernah dapat pahami jalan pikirnya.Semua guru sudah tahu tingginya IQ Reza dan perilaku gila Reza yang tidak dapat diprediksi. Oleh karenanya, semua guru telah memberikan kebebasan pada Reza untuk melakukan apa pun yang Ia inginkan selama itu tidak melanggar peraturan.

“Ingatkan aku, minggu depan namaku di peringkat 50 yah. Hahahaha aku cukup puas dengan respon orang-orang dengan peringkat 200-ku itu. Tuh pujaan hatimu tetap berada di peringkat nomor satu! Kau tidak mau mengejarnya?Hehehe” ujar Reza menyeringai pada Andre sambil menepuk pundak Andre lagi.Ia melepaskan rangkulannya dari temannya itu dan hendak beranjak dari tempatnya. “Kejarlah!Dia masih tetap disana, tak ke mana-mana dari peringkatnya itu.Banyak pria yang mengincarnya juga loh. Hehehe”

Reza pergi meninggalkan Andre yang kini telah menghabiskan sebatang es krim yang merupakan sarapan paginya.Hati Andre berdegup sangat kencang menanggapi kata-kata reza.Ia pun mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari mengitari lapangan sekolah demi menghilangkan debaran hatinya itu. Sudah dua tahun hingga saat ini, hatinya tak pernah berubah, tetap pada Ana Larasati, si ‘forever number one’.

Bel sekolah berbunyi, Andre berhenti berlari.Ia menghela nafas panjangnya, memikirkan mau ke mana Ia setelah lulus nanti? Atau mungkin dirinya tidak lulus SMA? Semua kemungkinan muncul di benaknya, hingga membuat Ia berjalan tak tentu.

“Mau ke mana?”

Andre menolehkan kepalanya, mencari sumber suara yang menanyakan pertanyaan yang dibencinya mulai hari ini.Ia menemukan sumber suara itu. Suara seorang pria yang mengejar Ana.Andre memperhatikan punggung Ana yang sangat berkilauan dan kian jauh dari matanya.Hatinya mulai berdebar lagi, tetapi kali ini berhenti begitu saja ketika pria lainnya datang dan berjalan mengiringi Ana. Hingga Ia tidak perlu berlari lagi untuk menghilangkan debaran hatinya. Gadis pujaan hatinya itu terlalu berkilauan.Cantik dan pintar adalah paket spesial yang dimiliki Ana untuk menarik perhatian para pria.Tidak hanya menarik untuk dijadikan sebagai kekasih, tetapi juga sebagai calon istri.

***

            Andre memasuki kelas dan memandang kursi Ana yang penuh dengan beberapa temannya. Seiring dengan lamanya perasaan Andre pada Ana, Ia baru menyadari bahwa selama itu pula Ia sekelas dengan Ana. Selama itu pula lah Andre tak melakukan apa pun pada perasaannya, hanya memandang punggung Ana dari jauh dan memandang kakinya sendiri sebagai bentuk rendah dirinya.

Andre merundukkan kepalanya, menatap kakinya yang berjalan menuju kursinya.Ia melihat kaki lain yang duduk di kursinya dan mulai menatap wajah orang yang menduduki kursinya.

“Yo!” sapa Reza sambil menyeringai pada Andre yang masih menatapnya aneh. Reza mengetuk kursi di sebelahnya, memberi isyarat pada temannya itu untuk segera duduk.

Andre memutar bola matanya dan mulai duduk di sebelah Reza.Ia mencari sosok teman sebangkunya yang sudah duduk di tempat lain. Andre teringat akan hak kebebasan yang dimiliki Reza di sekolahnya. “Jadi ada angin apaan nih milih kelasku?”

“Hahahaha hanya ingin memata-matai cara belajarmu” canda Reza memandang meja Ana yang ramai dengan teman-teman yang sedang asik menanyakan pelajaran. “Atau mungkin cara belajar pujaan hatimu itu. Hehehe”

Andre mengulum bibirnya, tidak suka Reza mengusik masalah hatinya.Ia pun mulai menatap Ana lagi. Kini keramaian kelas terpusat pada kursi Ana.Hanya Andre dan Reza yang tetap duduk di tempat.Reza menatap Ana sambil menyeringai, mengeluarkan senyum jenakanya, senyum jahilnya.

“Kau tidak ikut ke tempat Ana?Semua orang saat ini sedang berlari dan kau hanya diam di tempat.Memangnya kau tidak mau ke mana-mana?” lontar Reza tersenyum menatap keramaian di kursi Ana. Ia tahu orang yang berada di sebelahnya sedang menatapnya dengan wajah aneh sekaligus heran seperti biasanya.

“Ana, kau mau melanjutkan ke mana nanti?” tanya salah seorang dari keramaian yang mengelilingi kursi Ana.

“Tujuanku ITB” jawab Ana tegas.

Suara Ana begitu nyaring hingga Andre dan Reza yang duduk di kursi paling belakang pun dapat mendengar jawaban Ana. Andre melirik Reza yang masih tersenyum santai, senyuman khas Reza yang tidak disukainya itu.Andre mulai memegangi kepalanya, merasa bahwa hanya dirinya lah yang belum mempunyai tujuan. Gadis pujaan hatinya ingin menjadi mahasiswi ITB, sementara Ia masih tidak tahu akan lulus dari sekolahnya atau tidak. Andre mulai memukul-mukul kepalanya. Mengapa Ia harus menyukai gadis yang tingkatannya begitu tinggi? Mengapa rasa sukanya tidak hilang sejak kelas satu saat Ia mengenal Ana? Menyukai seseorang yang sangat berbeda dengannya, membuat hati Andre sakit.

“Apakah selama ini aku gila?Kenapa aku baru sadar sekarang? Haruskah aku ke rumah sakit jiwa?” tanya Andre retoris. Ia mulai memandang seseorang yang berada di sampingnya. “Aku tahu, aku tidak akan bisa mengejarnya menjadi mahasiswa ITB, setidaknya beberapa bulan menjelang kelulusan, aku ingin dia melihat aku ada.Jadi, bantulah aku, R.S.J!”

Reza tercengang mendapati temannya berkata seperti itu. Setiap hari Ia sudah sering mendengar Andre berbicara tentang Ana, tetapi baru kali inilah Ia mendengar Andre memutuskan sesuatu. “Hahahaha sudah tidak tahan yah memandangi punggungnya terus? Aku hanya membantu seorang pemburu, seorang pria yang benar-benar teguh akan keputusannya. Jadi, kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?”

Andre menelan ludahnya dan mengangguk.Reza hanya menyeringai, memberikan senyuman khasnya, senyuman jahilnya. Tiba-tiba Andre mendapati firasat buruk akan dirinya ditangan si jenius gila yang tak pernah dapat dipahami jalan pikirnya, Reza Satria Jaya.

***

            “Katanya ingin membantuku! Tapi ini mau ke mana?” tanya Andre mengikuti Reza yang berjalan di depannya. Andre melihat Reza menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruangan yang tidak disukainya. “Perpustakaan? Kau kan tahu, aku tidak suka bau keusangan itu! Aku alergi perpustakaan! Harusnya kau mengajakku ke tempat Ana dan …”

Reza meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Ia mendesis untuk menghentikan ocehan temannya itu. Andre pun menghela nafasnya dan mulai mengeluarkan sebuah masker berwarna hitam, kacamata hitam dan sebungkus permen rasa es krim. Setelah menggunakan masker dan kacamata hitamnya, Andre pun mengangguk sebagai tanda Ia sudah siap memasuki perpustakaan.

Reza menuju kursi favoritnya di perpustakaan.Kursi dengan pemandangan jendela yang menghadap ke lapangan.Andre duduk di tempat itu sambil menunggu Reza yang pergi mencari buku untuknya.Ia mulai membuka bungkusan permen rasa es krimnya perlahan. Bau debu, bau keusangan, bau buku mulai menusuk hidung Andre saat Ia membuka maskernya untuk memasukan permen rasa es krim ke dalam mulutnya.Sesekali rasa mual muncul di perutnya hingga membuatnya menghela nafas berulang-ulang.

Andre mengenakan maskernya lagi, mengunyah permen rasa es krim sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.Ia melihat punggung wanita yang tak asing lagi di matanya, punggung Ana. Ia melihat Ana mengangkat buku yang begitu banyak hingga Ia terjatuh.Andre terkejut dan ingin sekali membantu Ana berdiri dan membawakan buku-bukunya.

“Ingin membantunya berdiri yah?Ana bisa berdiri dengan kakinya sendiri.Tidak sepertimu, hanya bisa menatap kaki semu yang kau miliki itu” ujar Reza.

Andre terkejut dengan keberadaan Reza yang kini telah duduk di hadapannya.Keterkejutannya pun bertambah dengan buku-buku yang sudah menumpuk di mejanya.Andre mulai mengambil satu buku, penasaran dengan buku-buku yang dibawa temannya itu.Reza tertawa kecil, menyeringai dengan senyuman khasnya melihat wajah aneh Andre yang terkejut melihat buku-buku yang dibawanya.

“Kau kira, aku akan memberimu buku tips menaklukkan wanita yah? Hahahaha” lontar Reza bersamaan dengan senyuman khas yang tidak disukai Andre itu.“Belajar lah, Ndre!Ujian nasional sebentar lagi.Tak peduli mau ke mana dirimu nanti yang penting adalah usahamu dulu. Kalau sudah usaha, kau akan tahu kemampuanmu untuk target indahmu. Dan pasti kau akan bertanya, apa hubungan belajar untuk UN dengan Ana? Hahaha kau akan tahu setelah kau melakukan apa yang ku perintahkan”

Andre hanya berdecak kesal menanggapi ucapan Reza.Ia tahu bahwa temannya itu gila dan Ia masih saja mau berurusan dengan temannya itu. Reza memandang sepuluh bungkusan permen rasa es krim yang telah menjadi tumpukan sampah di atas mejanya.Ia mulai tersenyum penuh makna, “Oke, akan ku buat menarik. Minggu depan aku akan menepati janjiku untuk berada di peringkat 50. Kalau kau berhasil menggagalkan janjiku, aku akan memberimu es krim. Bila gagal, kau yang akan membelikannya untukku”

***

            Andre memukul-mukul papan nilai kesal, melihat namanya bertengger di peringkat 150.Di belakang Andre, Reza tertawa sambil mengemut es krim dengan nikmatnya. Sesuai janjinya, nama Reza berada di peringkat 50. Andre masih merasa kesal sekaligus senang dengan peringkatnya itu, Ia belum pernah merasakan gejolak seperti ini. Sebuah gejolak yang membuat hati melambung tinggi namun ada rasa perih ketidakpuasan disana.

“Taklukan matematika lebih dahulu, baru kau bisa taklukan wanita.Hahaha” canda Reza di sela-sela kekesalan Andre yang masih saja memandang papan nilai.Reza melihat Ana berada disana, berada tidak jauh dari tempatnya dan Andre berada.Reza hanya tersenyum sambil mengemut es krimnya.Ia memilih untuk tidak memberi tahu Andre dan membiarkan temannya itu larut dalam perasaannya saat ini.

Hari-hari berlalu, Andre tidak pernah mengetahui soal-soal yang Reza berikan bukanlah soal persiapan UN, melainkan soal persiapan masuk perguruan tinggi.Ia sangat senang melihat Andre menderita karena soal-soal itu. Hampir setiap hari, di perpustakaan dan meja yang sama, Andre dan Reza belajar bersama. Di tangan Reza, Andre mulai merubah dirinya.Di dalam perpustakaan, Andre sudah tidak mengenakan kacamata hitamnya lagi tapi tetap dengan masker berwarna hitamnya dan sebungkus permen rasa es krim yang menemaninya. Perlahan namun pasti, Andre mulai beradaptasi dengan bau ilmu pengetahuan yang dulu Ia anggap sebagai bau keusangan.

Reza berhasil mengalihkan perhatian Andre terhadap Ana. Kini hanya pelajaran dan masa depan lah yang Andre bicarakan hingga tanpa disadarinya peringkat 20 telah dicapai. Andre memandang namanya sambil tersenyum puas walaupun tetap Reza yang menikmati es krim dari uangnya.

“Uhuk…uhuk…jadi sekarang mau ke mana?” tanya Reza yang pada akhirnya membuang sisa es krim yang dimakannya. Setiap minggu mendapatkan es krim gratis itu ternyata membuatnya menderita juga.Dari belakang, Reza melihat kepala Andre yang mendongak ke atas. Baru kali ini lah, Andre menatap namanya dengan cara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

“Aku ingin ke sana!” seru Andre menunjuk peringkat angka satu di papan nilai itu.

“Woah! Jadi target kita minggu depan adalah nomor satu nih? Baiklah.Tapi kali ini, aku tidak ingin es krim lagi” kata Reza kagum dengan kemajuan temannya itu.

“Ah, sombong sekali kau! Minggu depan kau yang akan membelikan aku es krim! Dobel yah!” seru Andre menanggapi teman gilanya itu. Andre memandang lekat-lekat nama gadis pujaan hatinya itu, Ana Larasati. “Tapi bagaimana bisa aku melampaui Ana?”

“Bisa kok.Selama kau ini adalah seorang pria.Bersyukurlah kita dianugerahi syaraf otak yang lebih banyak dari wanita.Jadi, malu kan kalau sudah ada potensi tetapi tidak bisa digali” jelas Reza sambil menyeringaikan senyuman khasnya, senyum jahilnya.

Bunyi bel sekolah membuat Andre dan Reza meninggalkan papan nilai yang terpajang megah itu.Dari kejauhan Ana memperhatikan Andre dan Reza dengan tatapan perih.Ia pun mulai berjalan di belakang Andre dan Reza sambil memandang punggung dua pria yang kini kian jauh dari pandangannya.

Hari-hari berlalu dengan peringkat 2 yang diraih Andre selama tiga minggu berturut-turut.Peringkat 1 masih dipegang Ana, sementara Reza kembali dengan kegilaannya untuk mempermainkan peringkatnya.Semua guru berdecak kagum dengan kemajuan pesat Andre menjelang UN.

“Kalau begini caranya, kau bisa masuk universitas mana pun yang kamu inginkan, Ndre.Hebat, nak. Bapak salut denganmu” ujar seorang Pak Guru mengelus kepala Andre, sambil lalu pergi meninggalkan Andre di lorong kelas, tempat papan nilai terpajang.

Andre tersenyum melepas kepergian sang guru dan kembali mengalihkan matanya pada papan nilai yang berada di hadapannya. Tanpa disadarinya, Ana berdiri di sampingnya dengan mata seperti Andre.Mata yang terfokus pada namanya di papan nilai itu.

“Baru kali ini aku memperhatikan papan nilai hanya karena mu” kata Ana memecahkan keheningan.

Andre menolehkan kepalanya ke sumber suara.Ia terkejut melihat Ana yang berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Andre dapat memandang wajah Ana dengan jarak sedekat ini.Mata tegas, bibir mungil dengan hidung yang tak terlalu mancung dan rambut panjang yang terurai Ana, membuat hati Andre berdegup sangat kencang.Ana benar-benar cantik dan Andre pun makin ingin memiliki gadis pujaannya ini.Andre menghirup nafasnya dalam-dalam, terhirup aroma tubuh Ana yang membuat otaknya tidak bisa berpikir.Ia benar-benar ingin segera berlari untuk mengurangi rasa debaran hatinya yang kian memuncak.

“Harusnya aku tidak boleh merasa puas yah?Julukan itu malah menjatuhkan diriku sendiri. Lihatlah, nilai kita sama. Aku berada di peringkat satu itu hanya karena secara absen, namaku berada di atas namamu.Seandainya tidak seperti itu, mungkin kau sudah berada di peringkat satu meninggalkan aku” jelas Ana sambil menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan kesal pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan meninggalkanmu kok. Namaku akan selalu berada di dekatmu, nggak peduli siapa yang akan menjadi nomor satu. Aku selalu memimpikan ini, memimpikan namaku dan namamu berdekatan seperti suatu hal yang tak terpisahkan” jelas Andre tanpa disadarinya.

Mata Ana terbelalak mendengar apa yang diucapkan Andre. Kini Ia memandang wajah Andre dengan wajah tercengang. Andre memandang wajah terkejut Ana, membuat Ia tersadar dengan apa yang Ia katakan. Andre menggaruk-garuk kepalanya walau tak ada yang gatal.

“Ma…maafkan aku, Na!Pokoknya tetaplah jadi Ana biasanya.Ana yang ingin jadi mahasiswi ITB, Ana yang selalu berada di peringkat nomor satu, oke?” kata Andre gugup.

“O…oke” jawab Ana masih dalam keadaan kaget.

Andre berlari meninggalkan Ana yang masih terkejut.Ia pun berhenti perlahan sambil berteriak, “Anaaaa, ingat yah! Aku akan menjadi calon suami yang pantas untukmu! Janji padaku, jadi mahasiswi ITB yaah! Jangan pikirkan nama pria lain selain namaku!!!”

Wajah Ana memerah saat mendengar teriakan Andre yang kini telah hilang dari pandangannya.“Cieeeee” sorak sorai orang-orang di sekitar Ana yang mendengar teriakan Andre mulai terdengar dari berbagai arah.Andre mungkin sudah ketularan kegilaan Reza. Sekarang yang Ia lakukan adalah berlari kencang agar debaran hatinya cepat berhenti seiring tenaga yang Ia keluarkan.

~***~

            Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang.Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya.Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

“Ana, bagaimana?Sudah siap belum?Jangan dilihat terus itu jakun!” kata Andre yang mulai melipat dan memasukkan kertas yang dipegangnya ke dalam kantong almamater berwarna biru yang dikenakannya.

Ana menolehkan kepalanya pada Andre sambil tersenyum manis. Iapun akhirnya mengenakan almamater kuning dengan lambang makara Universitas Indonesia yang dari tadi dipegangnya. “Hahaha ku kira, kau masih membaca surat dari Reza”

Andre hanya tertawa kecil menghampiri pujaan hatinya itu atau mungkin calon istrinya itu.Ia mulai mengalungkan tangannya ke pingggang Ana dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Ana. Begitu pula Ana yang menyambut pelukan Andre dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Andre.

“Calon mempelai pria, lambang almamater ITB-nya ketutupan itu!” seru sang fotografer pre-wedding.

“Lambang kampusku itu harus kelihatan yah, Ndre!Ini lambang kampusmu aja aku perlihatkan” kata Ana merapihkan almamater miliknya yang dikenakan oleh Andre, calon suaminya.

“Iya-iya.Hahaha karena aku menang suit tadi, foto kali ini kita katakan UI yah” ujar Andre tersenyum memperhatikan calon istrinya itu.

“Iya deh.Foto pre-wed besok teriaknya ITB yah” balas Ana tidak mau kalah.

Setelah selesai merapihkan almamater ITB yang dikenakan Andre, mereka pun kembali ke posisi semula. Posisi saling merangkul dan mengangkat papan bertuliskan nama pasangan mereka. Fotografer pun mulai memberikan aba-aba, 1…2…3

“UI !!!” seru Andre dan Ana serentak memperlihatkan senyuman gigi mereka pada kamera.

~Yo! Konnichiwa! Hahaha kaget kan aku bisa bahasa Jepang? Padahal kemarin aku bilang, aku berada di Inggris.Pokoknya sekarang aku sedang ada di Jepang untuk risetku. Hehehe mungkin aku akan berpindah ke negara lain lagi kali yah? Hahaha sengaja lewat surat biar berasa dekat gitu. Hohoho selamat yah, Ndre! Habis lulusan langsung nikah.Asiiik yang ngelamar pake jakun UI. Kau lebih gila dari ku, Ndre! Kau menggilai Ana. Kalau sempat, aku akan datang ke pernikahan kalian. Salam hangat dari ku. Konnichiwa!! Hahaha

R.S.J~

            Sudah beberapa tahun lamanya, sejak kelulusan SMA, Andre berpisah dengan dua orang yang berarti untuknya.Walau begitu, janji itu tetap ditepati.Ana menepati janjinya untuk menjadi mahasiswi ITB.Sementara Reza dengan target dan kegilaannya, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Inggris.Melihat dua orang yang berarti untuk Andre sudah sukses, dia sendiri mau ke mana?Tidak ke mana-mana, hanya ke hati Ana.

SELESAI

Rahmah dan Dhani

Di sebuah mushola kecil yang terletak di halaman belakang rumah Pak Haji, aku duduk termenung dan sedih. Aku terus menerus melihat wajah seorang gadis polos yang tidur tersenyum. Bukan sekedar tidur, dia tidur untuk selamanya. Dari kejauhan terdengar alunan nada mobil ambulance. Rupanya Pak Haji telah datang bersama petugas ambulance untuk membawa gadis innocence ini pergi. Aku memegang tangannya yang dingin sama seperti udara malam ini. Rasanya air mata ini tak tertahan lagi. Air mata adalah hal yang menunjukkan suatu kelemahan hati. Aku tak mau terlihat lemah di saat seperti ini.

Pak Haji melepaskan tanganku dari gadis innocence itu dan membawanya pergi bersama petugas ambulance. Kerutan wajah Pak Haji menunjukkan lintasan kesedihan pada wajahnya. Aku hanya mengikuti Pak Haji dan petugas ambulance dari belakang. Aku berjalan sambil memegangi papan clipboard milik gadis innocence itu dan hanya ini benda kenanganku dengannya. Aku membuka lembar demi lembar kertas dan mengingatkan akan kenangan kami selama Ramadhan. Ini bukan kisah Romeo dan Juliet, ini kisahku dan adikku, Rahmah. Walaupun dia bukan adik kandungku, tapi aku sangat menyayanginya.

***

            DUAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!

Semua warga keluar dari masjid dengan wajah yang sangat, sangat, sangaaaat kesal. Ini untuk yang ketiga kalinya suara petasan itu muncul dari arah atas pohon. Para warga keluar bersama Pak Haji yang sedang menjadi imam tarawih mereka. “Hey, Dhani! Turun dari atas pohon itu! Dasar anak kurang ajar!” kata seseorang dari kerumunan.

“Emang aku kurang di ajar! Habis, nggak sekolah sih!”, kata lelaki yang duduk di atas pohon dengan tas selempang yang melingkar di tubuhnya. Semua orang memanggilnya dengan sebutan nama Dhani. Dia mengambil sebuah buku tulis dari tasnya dan mencatat sesuatu. “Eksperimen nomor 10, ternyata kesabaran manusia hanya memiliki batas 3 kali. Kata orang, manusia memiliki kesabaran yang terbatas. Tapi, kesabaran yang terbatas itu hanya 3 kali”.

“Kurang ajar kamu, ya! Ngapain kamu nulis–nulis hal seperti itu! Yang salah kamu, kok! Mengganggu kami sholat!”, kata beberapa orang dari kerumunan.

Aku menatap mereka semua yang mencaci diriku. Salah satu dari mereka, ada Pak Haji yang dari tadi hanya diam dan menatapku tajam. Mungkin aku bisa menuliskan di bukuku, bahwa tidak semua orang memiliki batas kesabaran 3 kali. Aku belum yakin melihat tulisanku tentang tidak semua orang memiliki batas kesabaran 3 kali. Saat itu, aku melihat seorang gadis yang tampaknya berusia lebih muda dariku. Dia berdiri di samping kanan Pak Haji. Dia memeluk papan clipboard dan tersenyum kepadaku. Orang yang aneh?

“Turun, nak! Bapak sudah memberi kesempatan kamu 3 kali. Kamu sudah puas, kan?”, kata Pak Haji yang berpakaian serba putih.

Kesimpulanku, katanya puasa itu melatih kesabaran. Tapi kenapa para warga tak bisa melatih kesabaran? Kalau begitu tak perlu puasa untuk melatih kesabaran. Dan juga katanya, puasa itu harus menahan amarah kita. Tapi kenapa para warga tetap mengeluarkan amarah mereka dengan cacian terhadap ku? Berarti puasa itu tak ada gunanya. Eksperimen nomor 10 selesai.

Saat semua orang memulai untuk menyelesaikan beberapa rakaat dalam sholat tarawih, aku turun dari pohon. Karena eksperimenku sudah cukup, saatnya aku pulang untuk beristirahat. Beberapa saat kemudian, Pak Haji pulang dengan membawa gadis berjilbab yang tersenyum padaku sambil memeluk papan clipboard. Oh ya, aku belum memberi tahu pada kalian semua, bahwa sebenarnya aku ini anak angkat Pak Haji yang hidup sebatang kara. Entah kenapa, Beliau memperbolehkan aku melakukan eksperimenku untuk menuju jalan Allah.

Lagi-lagi gadis itu memeluk papan clipboard dengan wajah tersenyum. Saat aku bertanya pada Pak Haji, Beliau menjawab bahwa gadis itu bernama Rahmah, dan dia lah yang akan mengakhiri eksperimenku. Dengan begitu, aku bisa langsung menuju jalan Allah. Tidak bisa! Aku merasa Bapak alias Pak Haji itu menginginkan aku mendapatkan bantuan dari orang lain. Aku tak mau dibantu orang lain untuk memuaskan keingintahuanku terhadap tujuan manusia pada Allah. Apalagi dengan gadis yang umurnya 2 tahun lebih muda dariku. Aku kan malu! Sebenarnya apa sih hubungan si Rahmah ini dengan Bapak angkatku? Bapak bilang, Rahmah adalah anak angkatnya. Berarti aku akan tersingkir dong? Tidak bisa, pokoknya aku nggak akan pernah mau menemukan jawaban keingintahuanku dari orang lain.

Pak Haji meninggalkan aku berdua dengannya di ruang tamu. Aku kesal dengannya. Jadi, aku biarkan saja dia yang bicara lebih dulu untuk mencairkan suasana. Lima menit kami habiskan waktu di ruang tamu dengan keheningan dan senyumannya itu. Aku muak dengan keheningan ini. Aku benci keheningan. “Kenapa tak mau bicara? Oh, ya! aku tahu! Menurut eksperimen ku nomor 3, wanita itu suka bergosip. Jadi, mentang-mentang bulan puasa … kau berusaha agar tidak banyak bicara yang cenderung ke arah menggosip. Benar, kan?”

Gadis yang bernama Rahmah itu langsung menulis sesuatu di papan clipboarnya yang terdapat kertas-kertas yang terjepit. Lalu dia menunjukkan tulisannya padaku, ~KENAPA KAKAK JUGA TAK MAU BICARA? APA KAKAK TERMASUK ORANG YANG SUKA MENGGOSIP? RAHMAH MENYIMPULKAN INI, KARENA KAKAK LANGSUNG MENUDUH RAHMAH TUKANG GOSIP~

“Aku bukan tukang gosip! Lagipula apa alasanmu menggunakan papan clipboard untuk berkomunikasi? Maka dari itu, aku menyimpulkan kau itu adalah orang yang munafik. Yang berpuasa untuk tidak bergosip hanya selama Ramadhan”

Kemudian, Rahmah menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi. Kali ini dia menuliskan ~MEMANGNYA KAKAK TAHU APA ARTINYA MUNAFIK?~

Aku terkejut melihat tulisannya itu. Aku menelan ludah karena tak sanggup untuk menjawab. Kenapa? Kenapa pertanyaanku mudah dipatahkan olehnya dalam waktu singkat? Padahal semua tetangga menjulukiku sebagai si pintar bicara. Karena aku bisa membuat pertanyaan yang membuat tenggorokan orang tercekik dan tak bisa menjawab. Aku benar-benar tidak tahu apa artinya? Aku hanya tahu kata itu dari sinetron saja. Ayolah, Dhani! Pikirkan baik-baik untuk membalikan pertanyaannya itu!. “Apa alasan mu memanggilku, kakak? Hah! Sok akrab!”

Rahmah menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi. Kenapa dia tak mau bicara padaku? Biasanya hanya orang berilmu yang tak mau banyak bicara padaku. Apa jangan- jangan dia lebih berilmu dibanding diriku? Tidak mungkin! Dia hanya gadis kecil. Saat itu, Rahmah membalikkan papannya dan tulisannya berbunyi ~RAHMAH MEMANGGIL KAK DHANI DENGAN SEBUATAN KAKAK, KARENA KITA BERDUA SAMASAMA ANAK ANGKAT. KALAU KAKAK TAK BISA MENJAWAB PERTANYAAN RAHMAH, KAKAK TAK PERLU MEMBUAT PERTANYAAN YANG SUDAH KAKAK KETAHUI JAWABANNYA~.

Aku semakin gugup melihat tulisan dan senyumannya itu. Mungkin anak ini adalah orang gila. Tak mungkin dia masih bisa tersenyum pada diriku ini. Tiba-tiba saja, senyuman yang membuat aku gugup itu memudar dari wajahnya. Dia menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi, lagi dan lagi. Membuatku heran, kenapa dia masih tak mau membuka suaranya? Membuatku ingin tahu. Membuat aku ingin tahu? Aku jadi ingin membuat halaman tentang dirinya di buku eksperimenku. Setelah selesai menulis, seperti yang lalu, dia memperlihatkannya. Kali ini tulisannya berbunyi ~MAAFKAN RAHMAH YA, KAK! RAHMAH TAK BERMAKSUD MEMBUAT KAKAK GUGUP tunggu? Dari mana dia tahu aku gugup? Lalu aku meneruskan membacanya SUDAH TAK PERLU KAKAK PIKIRKAN LAGI. SEKARANG RAHMAH INGIN PERGI KE KAMAR YANG AKAN RAHMAH TEMPATI. MALAM SUDAH LARUT, RAHMAH INGIN TIDUR. SELAMAT MALAM~ saat itu, dia bangkit dari kursinya. Aku jadi merasa tak enak. Saat dia ingin pergi, aku mencegahnya agar tidak meninggalkanku di ruang tamu. Karena aku tahu, dia ingin membuatku menjadi agak santai dan nyaman. “Kenapa kamu berpuasa?”, tanyaku spontan.

Dia terhenti dan menuliskan sesuatu lagi. Lalu memperlihatkan tulisannya itu padaku. ~KARENA RAHMAH INGIN MENDAPATKAN CINTA ALLAH~. Cinta Allah? Dia pasti berbohong! Menurut eksperimenku nomor 1, para warga di sini berpuasa hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah. Jawabannya berbeda dengan para warga yang banyak aku tanyakan. “Kenapa kau mengharapkan cinta Allah? Menurut pengamatanku terhadap anak-anak cewek seusiamu itu, mereka lebih mementingkan cowok dari apapun bahkan otaknya pun berisi cowok. Intinya lebih mengharapkan cinta dari manusia lain”

Dia menulis sesuatu lagi. Yang sudah biasa kulihat bila aku berbicara dengannya. ~RAHMAH TAK MAU DAN TAK AKAN PERNAH MENGHARAPKAN KASIH SAYANG MAUPUN CINTA YANG BERSIFAT SEMENTARA. RAHMAH HANYA INGIN MENDAPATKAN CINTA YANG ABADI. DAN CINTA MAUPUN KASIH SAYANG YANG ABADI ITU DATANG DARI ALLAH~ Aku terkejut mendengar hal itu. Mungkin saat dia menuliskan segala sesuatu di papan clipboard yang dia gunakan untuk berkomunikasi padaku, tak ada suara yang terdengar oleh telingaku. Tapi tulisannya itu bagaikan suara yang sampai ke hatiku. Suara yang tak terdengar tapi menggetarkan hati. Membuat keingintahuanku menciut. Dia memiliki jawaban yang berbeda dengan manusia lain yang pernah kutanyakan, kecuali Pak Haji dan dia.

Aku heran, kenapa dia tak mau mengharapkan kasih sayang maupun cinta dari manusia lain? Allah menciptakan manusia di bumi untuk mencintai sesama manusia bahkan sesama mahkluk lain di bumi ini. Aku semakin ingin membuat eksperimen tentang dirinya. Dia langsung pergi dengan cepat. Dia tahu, aku akan bertanya lagi padanya. Benar-benar orang yang berbeda. Aku jadi tertarik untuk mengetahui dirinya lebih banyak.

Saat sahur, entah apa yang menggerakkan badanku untuk ikut serta sahur. Di minggu pertama Ramadhan, ini lah pertama kalinya aku berniat sekali untuk berpuasa. Sudah 6 hari aku tak berpuasa. Mungkin karena kata-kata Rahmah tentang cinta Allah. Aku jadi ingin berlomba-lomba dengan semua orang di dunia ini untuk mendapatkan cinta-NYA. Lagipula berlomba-lomba dalam kebaikan itu kan baik.

Pak Haji terkagum-kagum melihat diriku yang sedang menyantap sahur. Mungkin ini saatnya aku menghentikan eksperimenku. Dan memulai untuk merasakan puasa yang dibilang oleh anak muda di gang sebelah sebagai trend Ramadhan. Di meja makan, kami bertiga menyantap sahur dalam keheningan. Rasanya, aku ingin mengambil persediaan petasanku dan menghidupkannya di tengah meja makan. Aku benci keheningan.

Suatu hari, aku mulai bosan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Mungkin benar menurut ekperimenku nomor 5, puasa adalah ibadah terberat yang pernah di jalani oleh para warga. Tiba-tiba saja, Rahmah meminta izin padaku untuk membersihkan kamarku yang super jorok itu. Bahkan Pak Haji bilang, kandang ayam masih lebih bersih daripada kamarku. Rahmah beralasan, dia ingin memberi sebagian keimanan untuk aku dengan kamar yang bersih. Apa maksudnya itu? Apa itu maksud dari kebersihan sebagian dari iman? Setelah dia selesai, aku penasaran apa yang telah dia perbuat terhadap kamarku itu. Aku terkejut melihat kamarku.

Dimana poster-poster band luar negeri kesukaanku? Padahal poster itu susah payah aku dapatkan! Jangan-jangan dibuang di tong sampah! Tidaaaaaaaaak! Sekarang di dinding kamarku, hanya ada poster-poster tata cara sholat, poster untuk mengenali huruf Tajwid dalam Al-Qur’an dengan benar. Dan slogan-slogan yang dibuat sendiri oleh Rahmah. Slogan-slogan itu benar-benar mengerikan. Slogan-slogan itu berisi tentang hari kiamat bila aku tak mentaati semua perintah Allah. Aku benar-benar takut. Yang paling aku kesal adalah saat ku ingin melepaskan slogan-slogan itu dari dinding kamar, ternyata slogan itu tak bisa dilepas. Di bawah slogan, ada tulisan kecil berupa notebook yang bertuliskan bahwa hanya Rahmah saja yang bisa melepaskan slogan-slogan itu.

Aaaaah! Aku jadi takut sendiri melihat dinding-dinding kamar yang dulunya kusukai, saat masih ada posternya. Mungkin slogan itu tak bisa dibilang slogan. Karena banyak sekali. Satu hal lagi yang bikin aku kesal. Lemari kecil untuk menyimpan kasetku, berubah dan berisi buku-buku tentang ilmu agama mengenai Tauhid, Fiqih, kaidah-kaidah dalam Islam, kisah-kisah para Rasul Allah dan lain-lain. Seharusnya lemari kecil itu adalah tempat penyimpanan kaset-kaset yang aku sukai! Sekarang ada dimana kaset-kasetku itu? Aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari Rahmah. Apa ini maksudnya memberi sebagian keimanan untukku dengan kamar yang bersih?

Saat aku menemukannya, dia sedang menyiram tanaman dengan wajah tersenyum di bawah sinar matahari. Dia menoleh dan melihat aku berjalan ke arahnya dengan penuh amarah. Dia tersenyum melihat aku yang datang padanya. Sebelum aku mulai memarahinya, dia memperlihatkan papan clipboardnya. ~MENURUT EKSPERIMEN NOMOR 10, BATAS KESABARAN MANUSIA HANYA 3 KALI. TAPI MENURUT RAHMAH, BATAS KESABARAN KAKAK HANYA 1 KALI~. Aku terkejut melihat tulisan di papan clipboardnya itu. Kalimat itu ada di buku eksperimenku. Tidak sopan melihat buku orang. Memang sih itu bukan buku diari, tapi…tapi…uuuuhh! Aku sebal dengannya. Tapi aku malah malu sendiri. Ternyata aku lebih buruk daripada para warga yang aku jadikan bahan eksperimen.

Kemudian Rahmah menuliskan hal yang lain di papan clipboardnya yang bertuliskan ~YANG SABAR YA, KAK! UNTUK MENJALANI PUASA INI. MAAF RAHMAH TELAH MEMBACA BUKU EKSPERIMEN KAKAK. TAPI BUKU ITU HANYA BERDASARKAN PEMIKIRAN KAKAK SAJA KAN? ISI BUKU ITU LUCU SEKALI~. Setelah aku membaca tulisan itu, aku melihat Rahmah yang menutupi bibirnya dengan papan clipboardnya. Mungkin dia tertawa? Haaaa…dia memang orang aneh tapi hanya dia yang bisa membuat rasa ingin tahuku semakin menciut dan kadang meningkat. Mungkin ini saatnya bereksperimen dengan berbagi ilmu bersama orang lain.

Hari-hari Ramadhan kulewati bersama Pak Haji dan Rahmah. Ya, aku mulai terbiasa dengannya. Teringat dengan buku eksperimen, aku benar-benar telah menyisikan halaman untuk eksperimenku terhadap Rahmah. Dia pasti berbohong mengenai dirinya yang tak pernah mengharapkan cinta dari manusia lain. Lihat saja! Aku akan buktikan pernyataannya itu salah. Aku akan mencari tahu, apa yang membuatnya istimewa selain diriku di mata Pak Haji.

Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, kenapa dia berkomunikasi menggunakan papan clipboard? Untuk menjawab pertanyaanku itu, langsung saja aku bertanya padanya. Dia hanya tersenyum padaku dan tidak menjawab. Sok jual mahal banget sih. Dasar wanita. Pak Haji berkata padaku, seorang wanita memang harus jual mahal. Karena mereka mempunyai perhiasan yang harus mereka jaga dari mata pria, yaitu aurat mereka. Oke, dugaan pertama untuk eksperimen nomor 1 bab Rahmah adalah kemungkinan dia jual mahal di depan semua orang. Mungkin dia ingin memperdengarkan suaranya hanya pada suaminya kelak.

Ternyata memang sangat membosankan untuk tinggal di rumah sendirian. Rahmah pergi ke tempat mobil perpustakaan keliling yang sedang berkunjung ke alun-alun, sementara Pak Haji mendapat tawaran berdakwah sana-sini. Dan aku hanya diam di rumah sambil memperhatikan  anak-anak lain berseragam sekolah putih  abu-abu. Iri? Jelas aku iri. Tapi ini lah resiko yang aku tanggung karena telah menolak tawaran Pak Haji untuk menyekolahkan aku. Daripada bosan dan berpikiran yang tidak-tidak, aku mampir ke pos gang sebelah dengan ditemani tas selempang kesayanganku. Ya, pos gang sebelah adalah tempatnya anak-anak bertingkah laku preman dan brandal. Pak Haji melarang aku untuk ke sana, tapi peraturan memang dibuat untuk dilanggar. Jadi, aku sering pergi ke sana untuk ngobrol. Terlihat disana, anak-anak yang sudah tidak sanggup untuk menjalani puasa. Istilah puasa bagi mereka adalah Trend Ramadhan.

“Hoy, Dhani! Jarang sekali hidung elu terlihat disini. Kita rindu ama elu!” sapa seorang lelaki yang lebih tua. Yang diduga sebagai bos di pos ini. Panggilannya BP (singkatan dari bos pos. Di baca : Bepe)

“Assalammu’alaikum, Bep!”

“Sudahlah. Jangan pakai kata sandi itu! Kata itu dikatakan saat ada orang – orang yang lewat di depan pos kita saja”, kata Bepe. Benar-benar orang bermuka dua. Di depan orang bersifat seperti kucing tapi kalau di belakang, bersifat seperti harimau. Pantas saja pos ini tak digusur oleh warga. Aneh, hanya Pak Haji dan aku yang mengetahui hal ini. Kata Pak Haji, selama mereka tak berbuat macam-macam, kita pun tidak akan berbuat apa-apa terhadap mereka.

“Ada seorang gadis….”

“Jadi elu mau konsultasi cinta?”, potong Bepe. Benar-benar tidak sopan.

“Bukan. Dia cuma tidak mau berbicara padaku, mungkin hanya di bulan ramadhan ini”, jelasku.

“Mungkin dia sedang melakukan puasa ngomong”, sahut salah seorang anak buah Bepe.

“puasa ngomong?”

“Anak Pak Haji kok nggak tahu hal itu sih? Kita sering melakukan hal itu sebagai taruhan, dan kita tahu itu dari seseorang yang tak mau bicara pada kita”, jawab Bepe.

“Oh, begitu! Terima kasih. Aku mau pulang dulu”

“Elu kaga’ mau minum dulu?”, tanya Bepe yang memegang botol yang terlihat seperti minuman beralkohol.

Minum? Benar-benar mereka menganggap bulan suci Ramadhan itu sebagai trend belaka. Sungguh menyebalkan. Bulan suci Allah dipermainkan seperti ini. Sabar, Dhani! Ingat eksperimen nomor 10-mu. Bagaimana ya cara menasihati mereka? Ya, Allah! Aku telah melihat kemunkaran. Tidak mungkin, aku menggunakan fisik untuk melawannya. Atau menggunakan kata-kata yang penuh amarah untuk melawannya. Semoga hatiku sanggup melawan kemunkaran itu. “Terima kasih atas tawarannya. Aku masih menjalankan trend Ramadhan. Maaf, ya! Aku nggak mau ketinggalan trend saat ini”, singkatku dan berbalik pergi meninggalkan mereka. Apa segitu cukup untuk melawan kemunkaran? Ah, yang penting aku harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.

BRUUUKK!!

Ah, sakit. Kurang ajar! Beraninya melawan dari belakang. Apa itu pria sejati? Memukul orang dari belakang. Rasanya aku ingin membalasnya! Sabar, sabar!. Aku melihat jam tanganku, jam menunjukkan angka setengah tiga. Tanggung sekali untuk membatalkan puasaku begitu saja. Aku yang masih terkapar di tanah, melihat ke arah mereka. Ternyata mereka sedang menertawakanku. Aku berdo’a di dalam hatiku “Hey, malaikat Atid! Kau lihat mereka kan? Rekam keburukkan mereka! Dan beritahukan kepada Allah untuk membukakan pintu hati mereka. Amin”. Aku bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Aku tidak lari. Karena kalau aku lari, aku benar-benar terlihat seperti seorang pengecut. Aku berjalan membalikkan tubuh tanpa menoleh ke arah mereka lagi. Aku berjalan santai dan tetap stay cool seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sepanjang perjalanan, aku mengambil buku eksperimen ku dan memulai menuangkan pemikiranku.

  • Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, dugaan kedua adalah dia sedang melakukan puasa ngomong selama Ramadhan. Eksperimen nomor 1 bab Rahmah berlanjut.
  • Eksperimen nomor 11, katanya sholat menghindarkan kita dari sifat keji dan munkar. Tapi kenapa masih ada aja orang yang bersifat seperti itu walaupun mereka sholat. Catatan khusus: itu terjadi bukan hanya pada Bepe and the gank. Apa kita tidak perlu sholat untuk menghindarkan diri kita dari sifat itu? Eksperimen nomor 11 berlanjut.

Saat melanjutkan perjalanan dengan pemikiran-pemikiranku dan buku eksperimen, aku melihat sosok gadis dengan jilbab putih dan senyuman yang sudah sering kulihat. Siapa? Tentu saja Rahmah. Aku melihatnya menghampiriku dengan senyumannya. Aku berhenti melangkah, tentu saja untuk menunggunya menghampiriku. Saat dia di hadapan aku, dia mulai menuliskan sesuatu di papan clipboard yang selalu dibawanya. Ya, aku sudah terbiasa melihat hal itu. Dia pun membalikkan papannya dan tulisan itu berbunyi ~KAK DHANI MASIH MENGGUNAKAN BUKU EKSPERIMEN ITU, YA? LEBIH BAIK KAKAK IKUT AKU KE SUATU TEMPAT YANG BISA MENJAWAB EKSPERIMEN PEMIKIRAN KAKAK ITU~. Aku hanya terdiam dan melihat wajahnya yang tersenyum padaku. “Dimana tempat itu?”

Rahmah menunjuk ke arah mobil perpustakaan keliling. Ah, aku mengerti maksudnya. Aku membaca? Aku malas sekali membaca. Aku lebih baik mendengarkan orang berceramah dibanding aku membaca. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku mau tahu tanggapannya terhadap jawabanku. Dan ternyata dia mulai menuliskan sesuatu lagi. ~PASTINYA KAKAK INGIN MEMUASKAN RASA KEINGINTAHUAN KAKAK TANPA BANTUAN ORANG LAIN KAN? SEKARANG SAATNYA MENCARI TAHU SENDIRI DENGAN MEMBACA~. Aku tercengang melihat tulisannya. Dia seperti pernah membaca isi hatiku. Memang itu prinsip aku, tapi masalahnya adalah membaca. Hal yang tak pernah aku lakukan. Rahmah memberiku isyarat untuk mengikutinya. Senyumannya itu yang membuat hatiku tergerak dan memasukkan buku eksperimenku, kemudian mengikutinya. Rahmah, kau nggak tahu kalau buku ini juga tentang kamu. Eksperimen nomor 2 bab Rahmah, kenapa dia selalu tersenyum? Dugaan pertama, senyuman itu membangun kesan ramah. Dugaan kedua, Rahmah ingin menambah pahalanya hanya dengan senyuman. Karena senyum adalah ibadah. Eksperimen nomor 2 bab rahmah selesai. Tentu saja, aku tak akan berhenti bereksperimen tentang mu, Rahmah.

Kami menghabiskan Ramadhan ini bertiga. Aku, Rahmah dan Pak Haji. 10 malam terakhir, kami bertiga menghabiskan waktu di mushola kecil Pak Haji untuk berikhtikaf. Kami begadang setiap malam ganjil untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Semoga saja kami bertiga mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Aku menyayangi Rahmah seperti adik kandung, seperti halnya Pak Haji menyayanginya seperti anak kandung. Kami benar-benar menyayanginya. Tapi Rahmah? Aku dan Pak Haji tak pernah mengusik tentang “kasih sayang fana”, itu di depannya. Karena eksperimenku tentangnya mulai terjawab sekarang.

  • Eksperimen 0 alias tidak bernomor (tujuan awal eksperimen) bab Rahmah, kenapa Rahmah tidak mengharapkan kasih sayang atau cinta dari manusia lain? Rahmah adalah anak yang di buang oleh orang tua yang tak mengharapkan kehadirannya. Mungkin itu alasannya untuk tidak mengharapkan cinta dari manusia.
  • Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, kenapa Rahmah berkomunikasi menggunakan papan clipboard? Karena selama ini dia bisu, sesuai informasi dari Pak Haji setelah sekian hari. Catatan khusus: bukankah seorang yang bisu itu berawal dari tuli? Tapi kenapa aku dan Pak Haji masih bisa berkomunikasi dengan Rahmah tanpa menggunakan bahasa isyarat? Berarti dia bisa mendengarkan kami kan? Jawabannya adalah pada umur 8 tahun, Rahmah di beri mukjizat oleh Allah. Mukjizat itu berupa pendengaran. Walaupun dapat mendengar, dia masih belum bisa mengeluarkan suaranya. Tapi dia bersyukur dapat mendengar. Mungkin karena itu Rahmah sangat menginginkan cinta abadi yang datangnya dari Allah. Mengejutkan bukan?

 

Belakangan ini, wajah Rahmah pucat. Aku benar-benar memperhatikannya semenjak aku membuat eksperimen tentang dirinya. Mungkin karena setelah begadang  malam-malam ganjil kemarin ini, wajahnya menjadi pucat. Pada malam ke 29, saat kami mengaji (Rahmah mengaji dalam hati), Rahmah terjatuh dari posisi duduknya. Mungkin dia ngantuk? Tentu saja. Aku rasanya ingin tidur. Aku dan Pak Haji hanya membiarkannya tidur. Kasihan bila dibangunkan. Aku melihatnya tidur. Cantik sekali. Rasanya aku ingin melindunginya dan menjaganya setiap saat. Aneh, dia tertidur sambil tersenyum.

Aduh, jadi nggak konsen ngaji nih! Waktu berlalu begitu cepat, tidak menyangka waktu sahur telah tiba. Aku dan Pak Haji pun beranjak dari mushola untuk menyiapkan hidangan sahur. Biasanya, Rahmah yang selalu menyediakannya untuk kami. Walaupun ada waktu giliran untuk menyediakan santapan sahur. Sementara Pak Haji pergi, aku iseng-iseng mengintip tulisan-tulisan pada kertas-kertas terjepit di papan clipboard. Aku membaca kertas pertama. Kalimat-kalimat yang tidak aku ketahui. Sampai pada kertas kelima, aku melihat kalimat pertama kali ketika aku ngobrol dengan Rahmah. Jadi terkenang pada minggu pertama bulan Ramadhan. Dimana aku belum pernah puasa sekali pun. Aku hanya tertawa membayangkannya. Sesekali aku memandangi wajah Rahmah yang tidur sambil tersenyum. Aku pun teringat pada Pak Haji yang sedang bertarung di dapur untuk menyediakan santapan sahur. Aku pun beranjak pergi meninggalkan Rahmah yang masih tertidur dan langsung menolong Pak Haji di dapur.

Sementara aku meletakkan makanan di meja makan, Pak Haji pergi ke mushola kecil di belakang halaman rumah untuk membangunkan Rahmah. Tiba-tiba saja Pak Haji kembali dan berkata bahwa Rahmah telah tiada. Aku hanya diam. Pak Haji pun menghubungi dokter. Apa itu maksudnya tiada adalah arwah Rahmah yang telah tiada?

***

Bau obat menghentikan bayangan terhadap kenanganku dengan Rahmah. Sekarang aku di sebuah kursi rumah sakit. Yang ada di tanganku hanya sebuah clipboard milik Rahmah. Tulisan di papan clipboard itu mengingatkan aku dengan percakapan kami saat pertama kali bertemu sampai percakapan kami selama sebulan Ramadhan. Aku melihat halaman terakhir lembaran kertas yang terjepit di papan clipboard. Tulisan itu berisi ~TERIMA KASIH ATAS KASIH SAYANG KAKAK DAN BAPAK. RAHMAH BISA MERASAKANNYA, KASIH SAYANG SEMENTARA DARI MANUSIA~. Dengan begini, aku tambah sedih membayangkan ketiadaannya. Dia datang dan pergi dari kehidupanku di bulan Ramadhan. Satu hal lagi, slogan di kamarku tak ada yang bisa melepaskannya kecuali Rahmah. Aaaaaahhhh! Tidaaaaaaaaaak! Tapi mungkin tulisan slogan-slogan itu akan menjadi kenangan darinya. Dan mungkin juga, Allah mengirimkan Rahmah dalam kehidupanku untuk menunjukan jalanku menuju Allah.

Aku terduduk sedih seraya bergumam, “Rahmah, bila kau memang sudah tiada, tapi kau akan selalu ada di hati kakak. Sama seperti bulan Ramadhan ini. Tidak menyangka, bulan Ramadhan ini menjadi sebuah pertemuan dan perpisahan kita. Mungkin Allah sangat menyayangi mu sampai dia mengambil mu dari kakak dan Bapak. Kakak berharap kau berhasil mendapatkan cinta abadi dari-NYA. Kakak juga nggak akan kalah dari mu, kakak akan berusaha mendapatkan cinta-NYA juga”.

Pak Haji menghampiri aku dengan raut muka yang sama denganku. Dia pun duduk di sampingku dan berkata, “Apa rasa keingintahuanmu sudah terpenuhi atau terjawab, nak?”. Mendengar itu, aku jadi tambah sedih. Teringat akan eksperimenku yang sudah terjawab semua. Aku tak bisa berkata-kata dan tak bisa menahan air mata ini. Aku hanya mengangguk dan tak berani menatap wajah Pak Haji. Tiba-tiba Pak Haji berbisik pada ku, “Allah menciptakan air mata tentu ada gunanya kan?”. Setelah berkata seperti itu, Pak Haji berdiri dan menutupi diriku yang duduk di kursi. Sungguh, baru pertama kalinya aku memperlihatkan kelemahan hati pada orang lain selain Allah. Pak Haji sungguh baik telah berdiri membelakangiku, pura – pura tidak tahu apa yang aku lakukan.

 

~Rahmah, adikku yang mencintai Allah melebihi diriku. Aku akan mengingatmu dalam hati bukan dalam pikiran, aku akan mengenangmu dengan do’a bukan dengan air mata, aku akan merindukan suaramu yang terdengar di hatiku bukan di telingaku. Selamat jalan Rahmah adikku, selamat jalan bulan Ramadhan~.

Setelah menorehkan tulisanku pada papan clipboard Rahmah, aku pun mengusapkan air mata ini. Tentu awal yang berat bagiku. Suara gemuruh adzan shubuh sudah bergaung. Hari terakhir Ramadhan dan hari terakhir aku melihat Rahmah yang belum terselimuti tanah. Aku pun berdiri dan melihat wajah Pak Haji yang mengisyaratkanku untuk sholat. Sekilas aku melihat senyuman Rahmah di sampingku. Senyuman yang menggetarkanku dan senyuman yang selama ini menyiutkan rasa keingintahuanku. Di kejauhan sana  gema takbir berkumandang,

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR

WA LILLAH ILHAM….

Oh, My!!

Author’s note: Fiksi ini didedikasikan untuk band yang mewarnai masa remajaku, yaitu My Chemical Romance, juga untuk Corina, sahabatku yang sangat menyukai band ini dan teman gilaku untuk band ini. Putri is me, Karina is Corina.

MCR1

When I was a young boy, my father took me into the city………..

Matahari bersinar menyambut pagi. Sekarang giliran Putri menyambut pagi dengan menyetel musik My Chemical Romance sekencang – kencangnya. Ia berdendang dengan semangat dan menyanyikan lagu Welcome to the black parade dengan sepenuh hati. Begitu semangatnya Ia beringsut ke kamar mandi sambil berdendang. Hari ini adalah hari pertama masuk SMA. Hari yang istimewa baginya.

“We’ll carry on! We’ll carry on!” dendang Putri mengancingkan seragamnya.

“Put! Putriiiiii!” teriak seseorang menggedor – gedor pintu kamar Putri.

Putri beranjak mengecilkan suara radio-tape miliknya. Ia bergegas mengambil sesuatu yang bisa dipakainya untuk menggantikan rok yang belum dipakainya.

“Bisa tolong dimatikan untuk hari ini? Aku mohon! Aku bosan untuk mendengar lagu yang sering kau setel tiap harinya!” keluh seorang laki – laki dibalik pintu dengan nada lembut. “Kau pakai sarung?”

“Iya, aku belum pakai rok! Memangnya segitu membosankannya kah lagu My Chemical Romance di telinga Kak Rifqi?” tanya Putri dengan nada kesal.

“Sekarang iya. Apakah hal ini harus menjadi ritualmu tiap pagi? Itu mengganggu sekali. Aku telah kehilangan menit – menit yang seharusnya aku masih tertidur hingga akhirnya aku berada disini untuk memohon padamu!” gerutu Rifqi dengan nada kesal yang ditahan.

“Kalau begitu, mengapa kakak masih berada disini?” tanya Putri dengan nada sedikit sewot.

“Aaaaaargh! Ini semua karena suara Gerrard Way yang menggangguku tidur! Dan Kau! Kau malah menambah volume suaranya hingga aku terbangun! Dan…..Dan…. Pengganggu!” kata Rifqi dengan nada marah namun tertahan sedikit.

“Aku bukan pengganggu! Dan suara Gerrard itu tidak jelek! Terserah! Nikmati hari – hari tidurmu!” gerutu Putri yang sambil lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya.

Dari luar pintu kamar Putri, terdengar suara volume radio-tape terdengar semakin mengeras.

“Adik yang keras kepala. Terserah!” kata Rifqi dengan sangat kesal.

“Tenang yah, Gerrard! Aku akan tetap mengidolakan dirimu, grup bandmu, suaramu dan lagu – lagumu. Meski lagumu sudah tidak tren lagi sekarang, aku akan tetap menumbuhkan semangat My Chemical Romance untukmu” kata Putri memandang poster My Chemical Romance dan mengecup gambar Gerrard Way dengan hati – hati.

Putri segera mengenakan rok abu – abunya untuk yang pertama kalinya. Ia bercermin dan menampilkan senyuman menawannya. Ia pun berbalik dan merogoh tas ranselnya. Ia pun keluar dari kamarnya dengan semangat.

Putri menuruni tangga dengan penuh semangat yang menggebu – gebu dan mulai mendendangkan lagu Teenagers nya My Chemical Romance.

“They’re gonna clean up your looks with all the lies in the books to make a citizen out of you” dendang Putri sambil duduk di kursi meja makan dan mengambil selapis roti yang telah dihidangkan.

“Tuh kan, Ma! Mengganggu sekali tahu, nggak?!” sela Rifqi menghentikan Putri bernyanyi.

Putri diam dan menatap kakaknya dengan rasa kesal. Ia mulai melahap rotinya sambil menatap kakaknya dengan tatapan jengkel.

“Putri, lain kali suara My Chemical Romance-nya pelan – pelan, yah? Selain kakakmu, para tetangga juga ikut terganggu. Pagi – pagi sudah dihidangin lagu – lagu spesialmu” kata Mama Putri dengan lembut.

“Tapi itu sudah Putri kecilkan kok!” protes Putri.

“Tapi itu masih keras, sayang!” kata Mama Putri.

“Mama we all go to hell! Mama we all go to hell! I’m writting this letter and wishing you well. Mama we all go to hell” senandung Putri sambil menyium telapak tangan mamanya dan bergegas meninggalkan rumah.

“Tuh kan!” kata Rifqi pada sang Mama

“Memangnya tadi dia nyanyi apa, Qi?” tanya Mama.

“Apalagi? Lagu My Chemical Romance” kata Rifqi tak acuh.

Putri keluar rumah dengan semangat rok abu – abu serta semangat My Chemical Romance miliknya. Dia bergerak – gerak riang untuk menyambut pagi yang menyenangkan baginya. Di kejauhan, Putri melihat Karina sahabatnya.

“Gimana kabar lo? Semangat untuk hari ini?” tanya Putri dengan semangat.

“I’m not okay! I’m not okay! I’m not okaaaay!” senandung Karina.

“Ah, bisa aja lo!” kata Putri yang ikut bernyanyi lagu My Chemical Romance yang berjudul I’m not okay.

Sepanjang jalan, Putri dan Karina bernyanyi lagu My Chemical Romance dengan semangat. Setelah lelah, mereka berhenti dan ngobrol mengenai My Chemical Romance. Tiada habisnya topik pembicaraan tentang My Chemical Romance mereka bicarakan. Putri dan Karina sudah lama bersahabat. Dari mereka SD hingga kini. Selera mereka hampir sama karena sudah bertahun – tahun bersama – sama.

Sesampainya di sekolah baru mereka. Sekolah dengan seragam putih abu-abu penghuninya. Mereka masuk dengan perasaan yang tidak sabar. Suatu kerumunan anak – anak baru menyita perhatian mereka. Mereka pun berlari untuk melihat apa yang sedang ‘dikerumunkan’.

“Ada apa sih?” tanya Putri ke salah seorang dari kerumunan.

“Pembagian kelas” kata orang itu yang sambil lalu pergi dari kerumunan.

“Aaah, tidak!” jerit Karina dengan penuh kekagetan.

“Kita tidak sekelas?” tanya Putri memandang Karina yang begitu lesuhnya. “Yah, nggak apa – apa sih. Berarti ini sudah yang ketiga kalinya kita tidak sekelas sejak SD”

“Well when you go. Don’t ever think I’ll make you try to stay” senandung Karina mulai menyanyikan lagu I Don’t love you.

“And maybe when you get back! I’ll be off to find another way” senandung Putri melanjutkat nyanyian Karina. “Beneran nggak sekelas yah? Sedih gue!”

“Becanda kali gue, Put!” kata Karina. “Kita sekelas lagi. Bosen gue! Hehehe”

Putri langsung meraih tangan Karina dan lompat – lompat kegirangan. Karina juga menyambutnya dengan lompat – lompat bersama Putri.

“I Don’t love you! Like I loved you yesterday!” Kata Putri menggunakan lirik My Chemical Romance dengan ekspresi kesal telah di usili Karina.

Sepasang mata memperhatikan Putri dan Karina dari kejauhan. Putri dan Karina yang tidak menyadarinya hanya melompat – lompat kegirangan dan berjalan memasuki koridor untuk mencari kelas mereka. Sepasang mata yang memperhatikan Putri dan Karina itu mulai berjalan mengikuti Putri dan Karina dari belakang.

“Welcome to the black parade!” kata Karina menunjukkan kelas yang mereka tempati.

“Yeah, we’ll carry on! We’ll carry on!” senandung Putri memasuki kelas bersama Karina.

Mereka duduk di sebuah kursi kedua dari papan tulis. Mereka meletakkan tas mereka di atas meja dan menyanyikan lagu My Chemical Romance penuh semangat sampai lupa dengan sekitar.

“Hey, hey! Sepertinya kalian berdua sedang menjadi pusat perhatian” kata seorang laki – laki yang duduk di depan mereka.

“Oh, My!” kaget mereka. Mereka berdua melihat sekitar dan kemudian saling menatap. “Chemical Romance!”

“Gue perhatiin lo berdua dari tempat papan pengumuman sampai sini, nyanyi lagu MCR mulu. Lo berdua suka MCR ya? Gue juga! Kenalin gue Bayu. Lo?” kata laki – laki yang dari tadi mengikuti Putri dan Karina.

“Gue Putri dan dia Karina” kata Putri.

“Gue Karina dan dia Putri” kata Karina.

Mereka berdua berdiri dan meraih salah satu tangan Bayu. Putri memegang tangan kanan Bayu dan Karina memegang tangan kiri Bayu. Bayu yang heran hanya menatap kedua teman barunya dengan tatapan tercengang.

“Salam em-si-ar (MCR) dari kami!” kata Putri dan Karina serentak lalu mengguncangkan tangan Bayu ke atas dan ke bawah.

Lalu mereka berdua melepaskan tangan Bayu dan duduk kembali. Bayu pun memutar kursinya dan duduk berhadapan dengan kedua teman barunya.

“Kalian nggak malu dengan tingkah kalian?” tanya Bayu blak – blakan.

“What’s the worst that I can say?” kata Putri mulai bernyanyi.

“Things are better if I stay” kata Karina melanjutkan.

“So long and good night! So long and good night” kata Bayu yang ikut melanjutkan.

Putri dan Karina berhenti bernyanyi dan tertawa bersama Bayu.

“Oh, My! Oh, My!” kata Putri geleng – geleng kepala.

“Chemical Romance!” kata Bayu mulai terbiasa dengan kedua teman barunya.

Putri dan Karina tertawa lagi yang diikut sertakan Bayu. Kini sekelilingnya mulai melihat mereka bertiga tertawa dengan akrabnya.

“Lo bisa aja! Udah mulai ikut – ikutan kami!” kata Karina dengan tawa kecil

“Bener!  Bener! Itu ungkapan kekagetan kami” jelas Putri.

“Memangnya lo kaget kenapa, Put?” tanya Bayu.

“Suara lo merdu banget!” kata Putri.

“Iya, lembut gitu” kata Karina yang mengangguk setuju.

“Makasih, ya! Suara kalian nggak buruk kok” kata Bayu. “Gue ini vokalis band. Jadi wajar aja kalo suara gue bagus”

“Ha? Yang bener?!” kaget Putri dan Karina. “Oh, My!”

“Chemical Romance!” sambung Bayu.

Sejak saat itu, Bayu mulai menceritakan kisah hidupnya, bandnya dan My Chemical Romance. Dia menceritakan bahwa dia sangat menyukai MCR karena album lagunya yang terkonsep. Setiap albumnya memiliki suatu tema dan lagu – lagunya berkesinambungan dengan tema tersebut. Begitu juga liriknya. Dibuatnya Putri dan Karina kagum akan cerita Bayu. Mereka pun makin akrab apalagi soal MCR.

“Wah, gue nggak nyangka! Lo mirip dong sama Gerrard!” kata Karina.

“Mirip?” tanya Bayu tersipu.

“Ah, iya! Gerrard tinggal sama neneknya. Lo juga!” kata Putri tercengang.

“Ah, masa sih? Kalo suaranya mirip nggak?” kata Bayu dengan kepercayaan tinggi.

Mulailah Putri yang bercerita mengenai kisah hidup Gerrard Way yang merupakan sang vokalis yang paling dia kagumi dan sukai. Putri menceritakannya begitu menggebu – gebu hingga Karina ikut serta dalam cerita Putri. Bayu pun semakin semangat untuk mendengarnya. Mereka bertiga asik dengan obrolan mereka hingga tidak terusik dengan keadaan sekitar. Lalu saat seorang guru masuk ke dalam ke kelas, barulah obrolan mereka berakhir. Dan Bayu menyadari bahwa kini dia telah duduk dengan seseorang yang dari tadi berdiam diri. Mungkin karena dia merasa telah di acuhkan keberadaannya oleh Bayu, Putri dan Karina.

Hari – hari telah berjalan dengan ceria dan semangat. Tanpa Putri dan Karina sadari, mereka telah jatuh hati pada Bayu. Bayu yang memiliki suara lembut nan indah, tampan dan menyukai MCR itu mulai populer di sekolah. Apalagi dia semakin aktif di berbagai acara sekolah. Setiap acara sekolah, Bayu pasti bernyanyi solo di atas panggung dan menyanyikan lagu MCR dengan sepenuh hatinya. Dan hal itu membuat Putri dan Karina begitu jatuh hati pada Bayu.

“Oh, My! Dialah sosok Gerrard yang gue inginkan. Suaranya, ketampanannya, keahliannya dalam bermusik dan kisah hidupnya yang begitu mirip. Tenang, Gerrard! Gue nggak akan melupakan cinta gue terhadap lo!” kata Putri mengelus poster MCR nya yang terpasang di balik pintu.

Putri menuruni tangga dengan tenang dan berkhayal akan Bayu yang menyanyikan lagu MCR hanya untuknya.

“Hey, kenapa? Senyum – senyum sendiri! Belakangan ini tumben nggak melakukan ritual mengganggumu itu? Dan aku juga nggak mendengar kamu bernyanyi – nyanyi lagu kesayanganmu itu?” tanya Rifqi.

“Jangan goda adikmu, Qi!” kata sang Papa.

“Iya. Giliran dia anteng – anteng saja, kamu malah yang bikin dia nggak anteng” kata sang Mama.

Putri tidak menanggapinya. Dia pun beranjak dari kursinya dan mencium telapak tangan kedua orang tuanya. Putri pergi sekolah dengan tenang. Semangat yang dulu begitu menggebu – gebu kini berwarna merah muda. Begitu lembut dan tenang. Tidak ada satu pun tetesan keringat jatuh dari keningnya kini. Semua energi begitu tersimpan dan tidak terbuang untuk semangat yang menggebu – gebu. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kini hatinya yang bernyanyi sepanjang jalan hingga bertemu dengan Karina.

Mereka hanya saling menyapa dan menanyakan tugas. Selebihnya mereka memilih untuk diam dan bernyanyi lagu cinta dalam hati mereka. Otak mereka telah disibukkan dengan khayalan tingkat tinggi. Menyama – nyamakan Bayu dengan sosok idaman mereka, Gerrard Way. Walaupun mirip, tapi Bayu bukanlah Gerrard Way. Dari segi wajah pun tidak mirip sama sekali. Putri dan Karina berjalan menuju sekolah dalam diam. Dan mereka tidak sadar akan hal itu. Mereka asik dalam dunia mereka sendiri.

Sesampainya di kelas, mereka dipertemukan dengan Bayu yang sedang menjadi pusat kelas. Bayu sedang memegang gitar dan bernyanyi lagu MCR yang berjudul disenchanted.

Suara gitar yang dipetik begitu terasa lembut dalam angan Putri dan Karina. Benar – benar persis seperti dalam lagu. Putri pun merasa sedang menyetel lagu MCR di kamarnya. Tiba – tiba saja permainan gitar berhenti dan Bayu juga berhenti bernyanyi.

“Hey, kalian berdua! Ikut nyanyi sama gue, yuk!” ajak Bayu kepada Putri dan Karina yang dari tadi berdiri di ambang pintu.

Putri dan Karina langsung berlari menuju meja mereka. Meletakkan tas ransel mereka dan ikut bernyanyi bersama Bayu dan anak – anak lainnya.

“Lagu MCR mulu! Sekali – sekali nggak nyanyi itu kek!” kata seseorang.

“Memangnya kenapa, Fik?” tanya Putri dan Karina serentak.

“Sekarang kan lagi ngetren lagu Gaza, kenapa nggak coba nyanyi itu? Kan gitarnya lebih asikkan itu daripada lagu disenchanted” kata Fikri.

“Iya, sih. Usul anak – anak juga gitu. Gue bawa lagu Gaza juga kok” tanya Bayu.

“Boleh tuh. Lagipula kan lebih seger gitu ngeliat lo nyanyi lagu baru!” kata Fikri.

Nada gitar Bayu mulai dipetik layaknya petikan gitar Michael Heart menyanyikan lagu we will not go down (GAZA).

Putri dan Karina yang rada jengkel pun akhirnya ikut bernyanyi walaupun mereka tidak begitu hafal liriknya. Namun pada akhirnya Putri pergi keluar kelas. Karina yang melihat itu pun mengikuti Putri.

“Bete” kata Putri.

“Iya” kata Karina. “Put, gue pengen cerita sesuatu. Udah lama pengen gue cerita tapi rahasia yah?”

“Kok lo sama kaya gue sih, Rin? Gue juga pengen cerita suatu rahasia nih. Mungkin lebih tepatnya kayak curhat gitu” kata Putri.

“Yah, bisa dibilang curhat juga sih. Gue punya suatu rencana” kata Karina.

“Gue juga. Rencana gue, nanti malem pas acara ultah sekolah nih, gue bakal…..”

“Nembak Bayu” kata Karina.

“Kok lo tahu rencana gue?” tanya Putri

“Itu rencana gue! Lo tuh parah banget ya! Pokoknya gue duluan!”

“Kok gitu? Gue yang duluan yang bakal nembak dia! Rencana ini udah lama gue rencanain!” protes Putri.

“Gue juga! Oke, oke! Gimana kalo kita nembak dia bersama – sama? Jawaban ada di tangan dia? Lebih adil dan nggak nusuk dari belakang!” kata Karina.

“Oke. Deal!” kata Putri mengakhiri.

Diam – diam seseorang mendengar pembicaraan Putri dan Karina.

Malam acara telah tiba. Putri diam – diam menyelinap untuk mendahului Karina. Putri mencari Bayu. Putri menemukan Bayu sedang asyik duduk bersama seorang wanita.

“Oh, My!!” kata Putri terkejut. Betapa sakitnya hati Putri melihat kejadian itu.

“Nape, Put?” tanya Fikri yang tiba – tiba berada di samping Putri.

“Itu ceweknya Bayu?” tanya Putri.

“Mungkin iya, mungkin juga nggak. Habis gue bingung yang mana sebenarnya ceweknya Bayu. Hari ini lain, besok juga lain” kata Fikri.

Putri pun langsung pergi mendatangi Bayu yang sedang asik dengan senior.

“Put, lo mau dahuluin gue ya?” tanya Karina yang berlari mengejar Putri.

Sang senior beranjak pergi dan Bayu melihat Putri dan Karina sedang menghampirinya. Bayu melemparkan senyum pada kedua temannya itu.

“Lo curang! Lo nggak boleh mendahului gitu dong, put!” protes Karina.

“Calm down, ladies! Gue tahu kalian berdua mau menyatakan cinta ke gue. Gue bingung harus milih yang mana? Biar kalian nggak berantem, gue mau kok jadi cowok kalian berdua” kata Bayu dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.

“Oh, My!!” kata Karina tidak percaya.

“Disenchanted! (mengecewakan)” kata Putri.

“I don’t love you! Like I loved you yesterday!” kata Putri dan Karina menampar Bayu serentak. Putri di pipi kanan dan Karina di pipi kiri.

“Cause the hardest part of this is leaving you” senandung Fikri di atas panggung. Dia menjentikkan jarinya di atas piano menyanyikan lagu MCR yang berjudul Cancer. Putri dan Karina memang sedang sakit hati kini. Namun kejadian ini hampir membuat persahabatan Putri dan Karina hancur karena cinta. Mereka pun menemukan sesuatu yang menarik sekarang. Fikri yang begitu lihai menyanyikan lagu Cancer-nya My Chemical Romance.

“Oh, My!!!” seru mereka berdua melupakan yang terjadi dan menatap kagum pada Fikri. Mungkin ini yang dinamakan cinta baru telah datang.