[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI

Iklan

[Nusantaranger] Sleeping Beauty-ku

SLEEPING BEAUTY-KU/RAJANxNAYAxGEMA/PG-15/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Nusantaranger, Ci Stefani, Sandekala, Pandita, Gema. (hampir semuanye)

Author by: Soraciel21 | Puti Ayu Amatullah

Disclaimer: Semua nama tokoh di dalam fanfic ini diambil dari http://comic.nusantaranger.com/ saya tidak memilikinya hoohoho. Hanya ceritanya saja~

Author’s note: Hai, saya Puti Ayu Amatullah. Ini fanfiction nusantaranger pertama saya untuk merayakan tamatnya nusantaranger pada tanggal 31 Desember 2014 pada pukul 12.00 WIB. Kebetulan fanfiction ini dibuat di tanggal yang sama setelah sholat subuh jadi mohon maaf kekurangannya :”( nusantaranger merupakan komik super-sentai Indonesia. Kalian bisa langsung klik link di atas untuk baca ceritanya dan bersiaplah menjadi Jagawana hehehe. Happy Reading!

1332314_20140604065533

              Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Aku seperti tidur panjang di balik jeruji besi dan melihat diriku berjalan sendiri  di luar sana, bebas tanpa kendaliku.

            “Hey, kau! Siapa kau?! Kembali ke sini dan keluarkan aku! KEMBALIKAN TUBUHKU!!”

***

          Mata Rajan terbuka dengan bulir-bulir keringat mengalir di wajahnya. Pintolee menatapnya heran. Pintolee dengan sigap mengusap wajah Rajan dengan tangannya.

          “Ada apa, sayang? Kau tampak lelah” kata Pintolee dengan nada lembutnya. Pintolee memperhatikan mata Rajan yang kosong dan tidak merespon apa-apa.

            Rajan melepaskan tangan Pintolee dan berdiri dari tempatnya tidur. Dia pergi meninggalkan pintolee yang masih duduk dan menatap punggungnya. Sudah 2 hari, Rajan terbangun dengan keringat yang tidak biasa. Dia seperti bermimpi buruk dan mudah saja bagi Pintolee menyadari itu. Hanya Rajan yang ada di matanya.

           “Sejak pertarungan terakhir, sayangku Rajan menjadi aneh” Pintolee mengadukan keadaan Rajan pada Garaka dan Prana. Dia khawatir Rajan tidak akan bisa ikut bertarung melawan musuh abadi mereka, ksatria nusantara.

            “Itu hanya perasanmu saja, Pintolee. Dalam hal ini janganlah kau terlalu membawa perasaan. Kita tidak membutuhkannya!” tegas Garaka yang mulai muak dengan segala curahan hati Pintolee tentang kekasihnya.

            Berbeda dari Garaka. Prana terdiam sesaat dan menatap Pintolee penuh makna. “Aku merasakan aura Rajan mulai melemah”

            Pintolee dan Garaka terkejut mendengar apa yang dikatakan Prana. Dia bukanlah orang yang sepatutnya memiliki rasa kepedulian. Mereka sadar bahwa ada yang salah dengan Rajan.

***

            Perkarangan rumah Stefani yang luas, sudah menjadi tempat yang nyaman untuk para ksatria berkumpul. Wajah Naya tampak begitu murung. Dia hanya berjalan-jalan santai sambil memikirkan pertarungan terakhir yang terus menerus mengusiknya. Naya berhenti sejenak melihat Rangga dan Rena dari kejauhan.

        “Sleeping beauty itu cerita lemah! Dia tidak bisa melawan kutukannya sendiri. Itu namanya tidak ada usaha. Jika tidak ada ciuman dari pangeran, maka dia akan tidur selamanya” panjang lebar Rena yang membuat Naya sedikit terkejut mendengarnya. Anak itu tidak pernah berbicara sebanyak itu selama ini. Tidak, jika lawan bicaranya bukan Rangga.

         “Loh, itu yang dinamakan takdir, Rena! Hahaha” tanggap Rangga enteng. “Wajarlah kalau perempuan cantik…” Rangga menunjuk Rena dengan jempolnya, “berjodoh dengan pangeran tampan!” Rangga mengarahkan jempolnya ke dada yang dibusungkannya. “Hahahahaha”

       “Huh, apasih!” kesal Rena menanggapi Rangga yang masih tertawa. Rena melihat Naya yang memperhatikannya dari kejauhan. Dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Rangga.

      “Hey, Rena! Maaf aku bercanda! Renaaa!” seru Rangga yang ingin mengejar Rena tetapi terhenti oleh keberadaan Naya yang berada di belakangnya. Rangga mengerti mengapa Rena tiba-tiba pergi, selain karena candaannya mungkin karena Naya. “Euuh maafkan Rena yah. Dia tidak bermaks…”

      “Tidak apa. Memang ini semua salahku. Lebih baik kau susul Rena.” Naya menundukkan kepalanya. Rangga dapat merasakan rasa bersalah yang terukir di wajah Naya. Rangga mengusap pundak Naya sekilas dan pergi mengejar Rena.

         Naya memandang gelang kana nusantaranya dengan perasaan risau. Dia berjalan menuju laboratorium Stefani. Terlihat Stefani sibuk mengutak-atik mesin dan komputernya, hingga menyadari keberadaan Naya yang dari tadi berdiri tak jauh darinya.

        “Ah, Naya, kau rupanya. Hmm bagaimana keadaanmu? Sejak pertarungan kemarin itu, aku takut kau akan mati ditangan Rajan” kata Stefani memperhatikan raut wajah Naya yang berubah tiap kali dia menyebut nama Rajan. “Aku sedang menyelidikinya dan semoga dugaanku salah, tanpa sengaja kau memberikan energimu pada Rajan”

          Mata Naya membulat. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Stefani. Naya menutup kedua matanya, mengingat kembali pertarungan terakhir yang membuatnya dan teman-temannya hampir mati

**^0^**

           Naya tidak akan pernah melupakan hari itu dimana sandekala mengerahkan segala kekuatan. Tak hanya asura tetapi juga ribuan celuluk siap menghabiskan energi para ksatria nusantara sebelum para sandekala menghabiskan nyawa mereka. Rimba mengomandokan para ksatria untuk fokus melawan sandekala, yang mengendalikan asura dan celuluk yang jumlahnya tak ada habis-habisnya. Tanpa sengaja Naya berhadapan dengan Rajan.

         “Orang yang menyakiti orang lain, tidak akan kuampuni!” Naya mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia berlari dan akan menyerang Rajan dari depan.

         Rajan melebarkan senyumannya. Dalam satu gerakan cepat, Rajan menangkap tangan Naya dan menghentikan serangannya. Mata mereka pun bertemu. Naya melihat bayangannya memantul di mata Rajan, semakin lama semakin dalam, hingga dia melihat wajah Gema yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu. Seolah-olah mata Rajan memisahkan sebuah dimensi antara dirinya dan Gema. Rajan mendekatkan tubuhnya pada Naya, seolah-olah dia memeluk Naya.

      “Naya” bisik Rajan. Naya membeku, lidahnya kelu, tubuhnya lemas. Dia tahu betul itu suara Gema yang bergaung di telinganya. Dia tidak akan mungkin membunuh Gema. Perlahan tubuh Naya melemah, dia tak sanggup berdiri jika bukan tangan Rajan yang menopangnya saat ini. Rajan menyeringai dan mengangkat tangannya yang bebas untuk menyerang punggung Naya.

      “Bodoh!” gumam Rena seraya menyerang Rajan hingga membuatnya terpental jauh. Naya bertekuk lutut, tubuhnya begitu lemas. Rena menatap Naya yang tampak tak berdaya. Rena menatap kedua tangannya, sesuatu yang aneh. Dia juga merasakan energinya melemah. “Tidak ada waktu lagi! Aku akan membunuh si muka jelek itu!”

          “JANGAAN!”

         Naya melompat dan menarik Rena sebelum dia pergi untuk menyerang Rajan. Mereka berdua terseret di tanah. Rena kesal dan melepaskan tangan Naya dari dirinya. Tangan itu begitu lemah hingga mudah saja terhempas di udara.

         “Kau sudah gila?! KAU LEMAH!!” hardik Rena.

        Dari kejauhan, Stefani menyadari energi para ksatria terjadi sebuah keanehan. Jika mereka tidak menyatukan perasaan mereka, maka energi mereka akan semakin berkurang. Rimba, Rangga, dan Oji pun telah diserang dari berbagai arah. Stefani mulai menyiapkan teleportasi terakhir agar para ksatria nusantara mundur dari pertarungan.

         “RIMBA! CEPAT MUN…” Stefani terkejut melihat asura, celuluk, dan sandekala yang tiba-tiba saja menghilang. “Apa yang terjadi?”

**^0^**

            “Ingatlah, cakra pandita yang ada pada kalian itu saling melengkapi. Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kalian, maka yang lainnya juga akan merasakan dampaknya. Kalian saling terikat” jelas Stefani memperhatikan wajah muram Naya. Stefani berjalan mendekati Naya kemudian memegangi pundaknya. “Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, kumohon tetaplah hidup”

            “Ste, jika aku membunuh Rajan, apakah itu artinya aku membunuh Gema?” tanya Naya dengan mata tajam.

       Stefani melepaskan tangannya dari pundak Naya. Dia hanya diam dan tidak memberikan jawaban pada pertanyaan Naya. Stefani berjalan menuju mesin-mesin laboratoriumnya.

            “Ste, tolong jawab aku! Aku melihat Gema di sana.” suara Naya bergetar. Dia tidak sanggup membayangkan wajah Gema yang terpantul jelas di balik mata yang kejam itu. “Tubuh itu milik Gema, Ste! Jika aku membunuhnya, apa yang terjadi pada Gema?”

            Stefani tetap diam kemudian membalikkan tubuhnya memandang Naya yang masih menunggu jawabannya. Naya terlihat menahan air matanya. Tampilannya memang tomboy, tapi siapa yang tahu Naya memiliki hati yang begitu lembut. Dia menoleh sebentar pada mesin yang dinyalakannya untuk memanggil Pandita. Naya terkejut melihat Pandita yang muncul di hadapannya.

            “Pandita, apakah aku harus membunuh Rajan? Apakah Gema sudah tidak ada? Kemana Gema pergi?” tanya Naya beruntun. Matanya mulai berair, pandangannya sedikit kabur untuk memandang pandita. Semua pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam dirinya.

            “Dia tertidur” jawab Pandita.

***

            Rajan mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari yang menyilaukan.

         “Kuning” gumamnya. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengannya, terutama sejak matanya bertemu tatap dengan ksatria kuning. Masih dalam ingatan, ada seseorang yang lain, pemilik tubuhnya, hendak memberontak keluar dari dirinya saat itu. Sebuah sinar yang menyilaukan merasuki tubuhnya, rasanya hangat kemudian perlahan terasa panas seperti sinar matahari dan terasa energi yang begitu besar masuk ke dalam dirinya hingga tubuhnya ingin meledak.

         Dalam pikirannya, hari itu dia harus membunuh ksatria kuning sebelum tubuhnya tak sanggup menerima energi aneh yang masuk terus menerus ke dalam dirinya. Entah bagaimana tubuhnya tak terkendali.

            “Bocah sialan!” seru Rajan kesal menyadari bahwa dia berbagi tubuh dengan orang lain.

       Percuma Rajan berbicara pada dirinya sendiri saat ini. Hanya dalam mimpi, dia dapat melihat bocah itu berteriak meminta dikeluarkan. Gema akan bangun saat dirinya tidur, tetapi pertarungan terakhir merupakan sebuah ganjalan. Gema bangun atas kehendaknya sendiri, dengan Rajan yang mengambil kendali penuh tubuhnya. Rajan tidak menyangka, keadaan menjadi begitu merepotkan.

          Ular berjalan melingkari tubuh Pintolee yang sedari tadi diam memperhatikan Rajan dari kejauhan. Kepalanya sedikit mendongak, menatap Rajan yang duduk di atas atap. Gentiri berjalan menghampirinya dan ikut melihat orang yang sedang menjadi topik diskusi sandekala belakangan ini.

   “Dia terlihat frustrasi” singkat Gentiri melirik Pintolee yang membalas lirikan matanya sekilas. “Kau merasakannya juga kan? Ketika ksatria hitam menyerang Rajan, aku merasakan gelombang energi yang aneh pada diriku juga”

       “Aku tak akan lupa itu. Rajan sayangku, memukul kepalanya sendiri dengan sangat keras. Aku tak pernah melihat dia begitu kesakitan” Pintolee masih melihat Rajan dengan tatapan prihatin. Dia mengusap ularnya yang entah bagaimana ularnya mengerti perasaannya.

            “Tapi dia tidak bisa begitu terus. Kita tidak mungkin menunggu dia untuk menyerang ksatria nusantara” jelas Gentiri yang pergi meninggalkan Pintolee.

            Gentiri berjalan perlahan ke tempat dimana dia biasa bereksperimen membuat asura-asura baru. Langkah kakinya berhenti melihat teman-temannya berkumpul secara diam-diam. Dia memasuki ruangan dengan santai, tetapi teman-temannya serentak berhenti bicara. Gentiri tahu, ada yang dibicarakan tanpa sepengetahuannya.

            “Ada apa? Teruskan saja obrolan kalian” kata Gentiri tersenyum seperti biasanya.

            “Masuklah, dan tutup pintu itu” kata Garaka melihat keberadaan Gentiri yang tidak bisa dia hindari.

            “Jadi, ada apa ini?” tanya Gentiri.

            “Kita akan membunuh Rajan!” seru Basu.

             “Pelankan sedikit suaramu itu!” Garaka memukul Basu dengan cepat. Dia bisa melihat ekspresi kaget Gentiri.

           “Dengan kata lain, membunuh bocah sialan yang masih hidup di dalam tubuh Rajan” jelas Garaka menatap teman-temannya. “Bocah itu merepotkan! Rajan terlalu lama tidur di dalam tubuh itu! Wajar saja jika bocah itu masih bisa berontak!”

              “Apakah pintolee tahu hal ini?” respon Gentiri.

             “Siapa yang peduli dengan izinnya? Tujuan kita membangkitkan Rajan bukan untuk melanjutkan kisah cinta mereka!” sinis Vunjagu menanggapi pertanyaan Gentiri.

           “Jika Rajan mati, apakah dia tidak mempengaruhi keadaan kita? Aku yakin kalian juga merasakan energi aneh yang merasuki Rajan dan mempengaruhi kita. Kalau tidak berpengaruh, buat apa kita mundur kemarin?” panjang lebar Gentiri. Dia tidak mengkhawatirkan Rajan, sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri.

       “Jika yang kau maksud adalah kekuatan kita untuk bertarung, maka itu tidak akan menjadi masalah selama masih ada aku” kata Prana.

      Mudah saja Prana berkata seperti itu, dia merupakan tangan kanan kelana, sementara dirinya dan lima temannya hanyalah hasil renkarnasi yang mendapatkan cakra kelana dari terusan pendahulu. Jika Rajan dapat dibunuh, maka dirinya suatu saat nanti juga akan dibunuh bila dia tidak berguna lagi, pikir Gentiri. Sejenak Gentiri memiliki egonya untuk tetap bertahan hidup tanpa mempedulikan tujuan awalnya berada di sini. Gentiri hanya diam dan melihat ketiga temannya yang lain menganggukkan kepala mereka pelan.

        “Yaa lagipula jumlah mereka lebih sedikit disbanding kita” kata Basu enteng.

***

          Rangga dan Rena berjalan memasuki laboratorium Stefani. Wajah mereka sedikit terkejut melihat yang lainnya berkumpul di sana, termasuk pandita yang telah berdiri di antara mereka. Mereka tahu bahwa ada hal serius yang akan dibicarakan. Mereka telah berkumpul, berdiri melingkar. Rena melirik Naya yang berdiri dengan kepala tertunduk sambil memegang lengan kirinya. Sadar diperhatikan, Naya menoleh untuk melihat Rena yang dengan cepat telah mengalihkan pandangannya.

          “Jadi mengenai Rajan…”

       “Biar aku yang membunuhnya” Rena memotong pembicaraan Stefani membuat semuanya memperhatikan Rena.

            “Rena, tenangkan dirimu” kata Oji

    “Ksatria hitam, tujuan kita adalah menyeimbangkan siklus energi marcapada bersama kelana. Bukan memusnahkan mereka” jelas Pandita yang membuat keheningan sesaat di laboratorium itu. Rena tertegun dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Apa yang terjadi pada kelana, dapat aku rasakan. Begitu juga sebaliknya”

      “Tidak memusnahkan. Tapi hanya menghentikan” gumam Rimba memikirkan kalimat Pandita. “Tetapi bukankah selama ini cara menghentikan mereka adalah menghancurkan mereka? Terutama para pengikut kelana?”

            “Iya kau benar. Permasalahannya adalah temanku, Gema masih tertidur di dalam tubuh Rajan” kata Naya.

            “Itu artinya jika kita membunuhnya, maka temanmu akan…”

            “Mati” Naya memotong kalimat Oji. Raut wajahnya kosong memikirkan nasib Gema.

            “Eee kalo dia tidur, berarti ada cara membangunkannya kan? Ouou atau mungkin dengan satu kecupan gitu?” timpal Rangga berusaha mencairkan suasana kaku. “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

            Piiip….piiip…

            Stefani membalikkan tubuhnya dan melihat komputernya mendeteksi sinyal sandekala menyerang penduduk. Para ksatria telah menyiapkan ancang-ancang untuk berubah. Stefani menganggukan kepalanya dengan pasti,

            “BERUBAH!” teriak lima ksatria.

        Stefani menekan sebuah tombol. Para ksatria yang telah berubah ke ranger mode pun diteleportasikan ke tempat sandekala berada. Sesaat mereka tiba di tempat sandekala berada, Rena dan Oji dapat merasakan asura yang kini telah menghadangnya. Asura ciptaan Gentiri yang merupakan perwujudan dari manusia.

            “Hati-hati! Mereka bukan asura biasa. Mereka manusia” kata Oji memperingatkan teman-temannya.

          Gentiri tertawa dari kejauhan. Rena dengan cepat terbang menyerang Gentiri. Rimba dapat melihat Garaka, Basu, Rajan, dan Pintolee yang kemudian menyebar ke berbagai arah. Rangga dan Oji menangani asura-asura yang menghadang mereka. Rimba dan Naya berlari mengejar sandekala. Entah apa yang telah direncanakan sandekala kali ini.

            “Kita akan berpencar. Aku yang akan menangani Rajan” kata Rimba pada Naya.

            “Tidak. Aku bertanggungjawab untuk semua ini. Aku yang akan menghadapinya” kata Naya bersikukuh.

            “Jangan gegabah, ksatria kuning!”

            Ular pintolee menyerang Naya secara tiba-tiba, membuatnya terpental jauh. Rimba yang hendak menolong pun terhenti dengan serangan Garaka dan Basu bersamaan. Rangga datang menolong Naya dan menangani pintolee. Naya berlari mengejar Rajan. Entah apa yang dipikirannya. Dia hanya merasa dapat membangunkan Gema dan menyelamatkannya. Tetapi di sisi lain, dia tidak ingin mengecewakan ksatria lainnya dan tetap memegang janjinya pada Stefani untuk tetap hidup.

            “Puti, yakinlah pada dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Lindungi apa yang kamu cintai. Aku akan melindungimu” bisik ganendra harimau yang tiba-tiba bergema di hati Naya.

          Naya semakin menghentakkan pijakan kakinya dan mempercepat larinya. Naya menemukan Rajan yang sedari tadi berdiri menunggunya. Tempat yang tidak asing bagi Naya, gedung dimana dia dan Gema melihat sunset yang indah. Rajan tersenyum licik dan berjalan perlahan mendekati Naya.

            “Kau belum takut rupanya dengan seranganku, huh?” tanya Rajan retoris.

           Sebelumnya, Rajan telah berjanji pada teman-temannya dan kelana, bahwa dialah yang akan menghabisi Naya sebagai tanda menebus kesalahannya. Tentu saja teman-temannya itu menyetujuinya kecuali Pintolee yang merasa Rajan tidak akan mampu menanganinya seorang diri. Pintolee bertekad bahwa dia yang akan menyerang ksatria kuning lebih dahulu. Sesuai rencana, Rajan harus mati ditangan ksatria kuning. Dengan begitu, sandekala bisa mengambil energi ksatria kuning yang mungkin saja akan diserap tanpa sengaja oleh Rajan seperti pertarungan kemarin.

***

            Sinar matahari masuk ke sela-sela jeruji besi, tempat dimana aku berada. Aku mengangkat tanganku persis di depan wajahku, menutupi sinar matahari yang menyilaukan. Aku seperti bangun di pagi hari, padahal biasanya aku terbangun di tempat yang gelap dan tentunya masih di balik jeruji besi.

                “Aku ingin melihat sunset”

            Naya? Aku mendengar suara Naya. Aku berdiri dari tempatku berbaring dan dengan cepat memegang erat jeruji besi. Berusaha melihat keluar. Ini tidak biasa. Aku tidak melihat orang itu di mana pun. Hanya sinar matahari yang menyilaukan.

            “NAYA!!” panggilku dengan keras. Aku yakin aku mendengar suara Naya tadi.

***

                      UGH!

          Tubuh Naya terhempas dan punggungnya menabrak tembok. Telinga Naya berdengung, dia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Rajan tertawa licik dan berlari untuk menyerang Naya lagi. Naya berpikir keras, dia tidak yakin untuk membunuh Rajan yang artinya membunuh Gema sekaligus.

         “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

         Naya berdiri dari tempatnya. Meneguhkan hatinya dan melihat Rajan yang sedang berlari ke arahnya. Dengan satu gerakan cepat. Naya menangkap wajah Rajan dengan kedua tangannya. Tubuh Rajan berhenti, tiba-tiba tangannya kaku tidak bisa melancarkan serangannya. Mata mereka sekali lagi beradu. Tatapan mereka begitu dalam hingga Rajan dapat melihat mata Naya dibalik topengnya. Naya melihat dirinya terpantul jelas di mata Rajan. Semakin lama semakin dalam, wajah mereka kian dekat. Naya dapat melihat Gema yang berada di dalam mata itu. Dahi dan hidung mereka bertemu. Kedua tangan Rajan masih terbuka lebar dan bergetar, berusaha menggerakkannya. Bibir mereka bertemu sepintas. Wajah Rajan seperti terbakar. Naya melepaskan dirinya dari Rajan. Tubuhnya lemas. Energinya lagi-lagi terserap pada Rajan.

***

            “NAYA! NAYA! NAYAAA!!” hanya itu teriakku di balik jeruji besi.

            Aku tidak bisa melihat apa-apa selain sinar matahari berwarna putih dan kuning. Sinar matahari yang hangat merasuki tubuhku dan semakin lama semakin terasa panas. Kedua tanganku mengeluarkan hawa panas yang sangat dahsyat hingga jeruji besi yang kupegang perlahan meleleh.

            Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Yang kutahu, ini semua milikku!

***

            “Energi apa ini? Apakah Rajan sudah mati? Mereka benar. Aku merasa semakin kuat” gumam Gentiri yang kemudian membalas serangan Rena.

            Di tempat lain, Garaka dan Basu menyeringai. Mereka melancarkan serangan balik pada Rimba. Sementara Pintolee merasa resah, dia pergi mencari Rajan. Rangga masih mengejar Pintolee dengan menembakan peluru pistolnya pada Pintolee.

                AAAAAAAARGGH!!

            Pintolee menemukan Rajan yang berteriak kesakitan. Kali ini tubuh Rajan bergetar, seperti tertahan oleh sesuatu. Tidak jauh dari sana, Pintolee melihat Naya yang telah tergeletak di tanah, berusaha bangkit dari posisinya. Rangga menembak Pintolee tepat mengenai tangan kanannya. Pintolee lengah hingga membuatnya terjatuh tepat di samping Rajan yang mengerang kesakitan. Rangga berlari menghampiri Naya, membantunya berdiri. Rangga dapat merasakan energinya melemah.

            “Ini tidak bagus! Energi kalian melemah! Aku akan mengembalikan kalian!” seru Stefani sambil memantau apa yang terjadi dengan Rajan.

            Mata Pintolee terbelalak melihat wajah Rajan yang perlahan berubah. Dia tidak mengenali lagi kekasihnya itu. Rangga membawa Naya pergi dari tempat itu. Pintolee hendak menyentuh tubuh Rajan tetapi terhenti oleh Garaka dan Basu.

            “Dia akan segera meledak! Lebih baik kita pergi dan membawa energi yang kita rasakan ini ke markas!” seru Basu menarik tangan Pintolee.

            “Jadi…kalian sudah tahu kalau dia akan mati?” tanya Pintolee dengan tatapan tidak mengerti.

          “Rumit menjelaskannya. Rajan telah berkorban untuk kita. Ditambah entitas energi Rajan, Kelana akan senang dengan hasil curian energi ini” jelas Garaka yang mengomandokan Basu untuk menyeret Pintolee menjauh dari Rajan.

            “Kalian membunuhnya?” tanya Pintolee tanpa ada jawaban dari kedua temannya.

***

            Naya membuka matanya. Dia melihat selang-selang yang terhubung dengan tubuhnya. Apa yang terjadi pada Gema, hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berbicara. Dia melihat wajah Stefani yang tersenyum senang. Rangga dan Rena juga berada di sana.

            “Baguslah kau tetap hidup. Aku yakin kau menepati janjimu. Aku akan memanggil Rimba dan George” kata Stefani yang pergi meninggalkan Naya bersama Rangga dan Rena.

            Naya mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Rena. Dia merasa semakin bersalah. Bibir Naya bergumam maaf tetapi tidak ada suara yang keluar di sana. Rena menggenggam tangan Naya dengan lembut. Dia mulai mempedulikan keadaan Naya.

            Di tempat lain, hembusan angin senja membukakan sepasang mata yang dari tadi tertidur. Dia terbangun dan memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Dia mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari terbenam yang hangat. Matanya belum terbuka sepenuhnya dan mulai beradaptasi hingga menyadari tempat dia berada, gedung yang merupakan spot paling keren untuk melihat,

            “Sunset” gumam Gema tersenyum pelan. “Naya”

SELESAI

Strange Dream

“Adakah suatu alasan yang menelatarbelakangi nama panggung kalian saat ini?” Tanya seorang wartawan.

“Tentu saja ada” jawab anggota alice nine serentak seraya melempar senyum.

***

34512_415521804339_680809339_4676655_6255335_n

Setelah wawancara, akhirnya semua kegiatan untuk hari ini berakhir. Para anggota Alice Nine menghela nafas panjang menyambut hari esok dimana mereka libur dari segala kegiatan. Saga menghela nafas sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Hiroto yang mengikutinya pun langsung melompat dengan riang melepas kelelahan dari jadwal yang padat.

“Pon, sadarlah…kasur ini bisa roboh. Kembali ke kamarmu” keluh Saga.

“Ah, sudahlah! kita nikmati hari ini tanpa tidur. Mumpung besok libur!!!” girang hiroto yang masih lompat-lompat di kasurnya.

“Yo!” tora masuk sambil membawa beberapa minuman soda.

“Kami juga ikut” kata Nao yang datang bersama shou membawa perlengkapan tidur.

“Haa…bakal menjadi malam yang panjang” kata saga menutupi wajahnya dengan bantal.

***

                “Hey, Naoli!! Kau memang cocok dengan nama itu!” kata seorang nenek.

“Naoli?? Apa itu??” Tanya anak lelaki berusia sekitar 4 tahun.

“Naoli artinya cantik. Bahasa batak itu. Masa kau tak mengerti? Hayoo…ikut nenek ke medan”

“Oto-san? Oka-san?? Dimana mereka?” rengek anak kecil itu bingung.

“Bahasa apa itu? Nenek tidak mengerti. Pasti Naoli bingung kan? Nenek sebenernya orang batak tapi karena sudah terbiasa di Jakarta ini, nenek jadi kehilangan khas nenek. Hayoo gabung sama temen-temenmu” kata nenek itu menggandeng anak lelaki berusia 4 tahun itu.

“Naoli? Namaku bukan naoli” kata anak lelaki itu.

“Hai, Nao!” kata seorang anak lelaki berbaju biru yang seusianya. Dengan senyum jenaka dia memberikan tangannya untuk berkenalan.

“Namaku bukan Naoli. Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Aku mau mama dan papa. Huaaa..” kata anak yang sudah diberi nama naoli.

“Ya, sesuka nenek itu lah. Aku diberi nama Tora olehnya. Katanya kelak, aku akan setampan orang yang di idolakan nenek itu” kata anak berbaju biru itu sambil menunjuk poster di salah satu sudut dinding.

“Te..oto..er..ara..Tora. Es..usu. su…deidi..di..eroro…Sudiro.. Tora Sudiro” eja Naoli.

“Padahal aku pasti lebih tampan dari lelaki itu” kata Tora sambil melipat tangannya.

“Hey, kalian berdua. Ikut main dengan kami yuk” Ajak seorang anak laki-laki dengan kaos bertuliskan I LOVE SUPONO

“Supono?” terka tora dengan alis terangkat sebelah.

“Pon. Kata nenek itu. Dia baik sekali memberikan aku nama” kata pon dengan memperlihatkan kaosnya yang bertuliskan I LOVE SUPONO. “Kenalkan yang disana itu Shoundoro dan Sagar. Mereka juga sama seperti kita. Mulai sekarang kita berteman”

Naoli yang bingung dengan semua situasi ini pun akhirnya ikut bermain bersama Tora, Pon, Shoundoro dan Sagar. Selama bermain, Naoli mulai melupakan kesedihannya akan mencari mama dan papanya. Siapa nenek itu? Mengapa dirinya diberi nama Naoli? Naoli pun bertanya pada 4 teman barunya itu tentang pemberian nama. Sagar bercerita bahwa suami sang nenek bernama Sagar sirajaguguk, saat masih kecil wajahnya imut seperti dirinya. Sehingga dia diberi nama Sagar. Sementara Shoundoro becerita tentang makanan shoun bihun buatan sang nenek yang diberikan padanya saat menangis mencari mama dan papanya. Sejak saat itu sang nenek memberikan nama shoundoro padanya.

“Asal-asalan sekali si nenek itu yah” kata Tora.

“Eh, tapi Nao bingung kenapa kita ada disini??” Tanya Naoli.

“Umm…pon denger kata nenek itu, orang tua kita sedang asik liburan makanya kita dititipkan” kata Pon.

“Huaaa…mama..papaa” rengek shoun.

Rengekan Shoun membuat yang lainnya pun ikut menangis. Menyuarakan keberadaan papa dan mama mereka. Sang nenek pun datang membawa makanan dan sebuah buku dongeng. Kelima anak itu pun akhirnya mulai berhenti menangis dan melahap makanan mereka. Ternyata menangis adalah suatu kegiatan yang membuat mereka mengeluarkan energi cukup banyak.

“Nenek membawa suatu magic nih. Suatu perjalanan waktu yang ajaib bagaikan mimpi. Alice in wonderland” kata sang Nenek menunjukkan buku dongengnya.

Sentak kelima anak laki-laki itu pun akhirnya benar-benar diam dan tenang. Mata mereka yang bulat tertuju pada buku dongeng yang dibawa sang nenek. Larut dalam cerita yang penuh imajinasi bagaikan masuk dalam mimpi, akhirnya kelima anak itu pun tertidur bak terhipnotis sebuah cerita dongeng.

“Kalian berlima datanglah kesini lagi yah. Nenek tunggu kalian disini. Atau mungkin banyak wanita lain yang akan menunggu kalian disini”

****

Pagi yang sunyi dengan langit berwarna putih cerah. Sinar matahari mulai menyapa dunia dan mengetuk sebuah jendela yang tampaknya suram. Jendela itu adalah jendela kamar dimana para anggota alice nine berada. 5 laki-laki tidur dengan sembarangan dalam 1 kamar yang tadinya terlihat luas kini terlihat sempit.

Dari arah pintu kamar, terlihat tora tertidur di sofa dengan pulasnya. Wajahnya merah menandakan Ia terlalu banyak minum. Sama halnya lelaki dengan rambut blonde yang tertidur tak jauh darinya, Saga. Mereka berdua tertidur terlalu puas disbanding lainnya. Dengan kacang dan snack-snack ringan yang berada di sekitar kaki mereka. Di atas kasur, tampak Hiroto menguasai bidang luas kasur. Kaki Hiroto pun menimpa sebuah guling yang empuk. Guling itu tidak lain dan tidak bukan ialah Shou dengan lilitan selimut menempati bidang terkecil kasur. Di sisi lain Hiroto, tampak Nao yang tidur meringkuk menyesuaikan diri dengan sisa kasur yang ada.

“Aaaaa’…” sendawa Tora bak macan mulai membangunkan Saga.

Saga terbangun sesaat dan mulai tidur lagi dengan lengan menutupi mata. Sinar matahari kini berhasil masuk melalui sela-sela tirai jendela. Sinar matahari itu pun menyapa mata Nao. Nao yang mulai terganggu tidurnya itu pun mulai terbangun dan memposisikan diri dalam keadaan duduk.

“Mimpi yang aneh” gumam Nao mengucek matanya.

“Kau juga?” Tanya seseorang.

Nao mencari sumber suara yang bertanya padanya. Ternyata suara itu berasal dari Shou dibalik selimutnya. Shou mencoba memposisikan dirinya dalam keadaan duduk. Namun tubuhnya terhimpit oleh kaki Hiroto. Nao yang melihat itu pun langsung mengangkat kaki Hiroto dan membuat Hiroto terganggu dari tidurnya.

“Uhmm…apaan sih” gumam hiroto masih dalam keadaan mata tertutup.

Shou pun akhirnya berhasil duduk. Nao memperhatikan shou yang mulai berusaha menampakkan dirinya dibalik lilitan selimut yang dibuatnya sendiri.

“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Nao pada shou yang pada akhirnya berhasil keluar dari lilitan selimutnya.

“Mimpi tentang aku, hmm maksudku kita berlima masih kecil. Aneh, kita berkata dalam bahasa lain. Seperti bukan di Jepang. Aku memakan makanan seperti ramen tapi bukan ramen” jelas Shou.

“Aku juga. Apakah kita berlima bermimpi sama?” Tanya Nao.

Shou mengangkat kedua bahunya. Saga ngesot menuju kasur untuk mengikuti pembicaraan Shou dan Nao. Tampak sekali bahwa Saga begitu lemas. Tora pun terbangun dan langsung menuju toilet.

“Aku dan tora juga bermimpi sama seperti kalian berdua” sambung Saga.

Shou dan Nao saling tatap heran. Mereka pun berada dalam keheningan sesaat. Tora keluar dari toilet sambil membenarkan celananya.

“Barusan aku berpikir, sepertinya ada suatu negara yang harus kita kunjungi. Negara dengan bahasa seperti itu. Bahasa apa itu?” kata Tora kepada 3 temannya yang telah terbangun.

Mereka berempat pun saling menatap. Memikirkan apakah mimpi mereka adalah suatu tanda perintah atau hanya mimpi biasa yang lewat begitu saja. Namun mimpi yang memasuki mereka berempat secara bersamaan itu adalah hal yang teraneh. Beberapa menit mereka memikirkan tentang kesamaan mimpi. Mereka berempat pun menatap kea rah yang sama, yaitu ke arah Hiroto yang masih tertidur pulas.

“Menurutmu pon bermimpi yang sama dengan kita?” Tanya Shou.

Shou, Saga, Tora dan Nao pun mulai memandangi Hiroto yang masih tertidur pulas dan bertukar pandang sesekali.

“Hey, pon! Kau sedang bermimpi apa?” Tanya Tora.

“I Love Supono” gumam Hiroto dalam keadaan setengah sadar.

Legenda Sagakuriang dan Mapon Kundang

Alice Nine

Hiroto atau yang biasa disebut Pon mengisi waktu luangnya dengan mengutak-atik sebuah laptop. Ia senyum-senyum dan asik sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya. Tanpa disadari oleh Pon, Nao sudah berada dibelakangnya.

“Uwaaah…tiba-tiba saja” Kata Pon yang terkejut mengetahui Nao berada di belakangnya.

“Sedang apa, pon?” Tanya Nao

“Kau tidak liat? Sedang browsing. Hohoho…lihat ini. FF mengenai kita. Mereka membuat versi yaoi pula” kata Pon dengan semangat.

“Yaoi? Apakah ada tentang aku?” Tanya Nao.

“Umm….daritadi aku hanya menemukan cerita yaoi mengenai Tora dan Saga, Saga dan Shou, bahkan lihat ini…ini aku dan Shou” Kata Pon.

Nao hanya merengutkan dahinya. Ada beberapa pemikiran yang melintas di pikirannya. “Ah, kau membacanya?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya. Hohoho…aku tidak bisa membayangkannya” kata Pon.

“Aku pinjam” kata Nao yang langsung mengambil alih laptop. “Sebaiknya cari yang lain. Seperti legenda gitu. Nah…ini”

****

Cerita dimulai dari alkisah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Shoumbi.  Dayang Shoumbi memiliki kecantikan abadi, yang membuat wajahnya tak pernah tua. Semua orang mengagumi kecantikan Dayang Shoumbi namun hati Dayang Shoumbi hanya dimiliki satu orang yaitu,Si Toramang. Si Toramang yang merupakan jelmaan macan liar itu pun menikahi Dayang Shoumbi. Mereka memadu kasih dan akhirnya memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Sagakuriang. Seiring berjalannya waktu, Sagakuriang tumbuh menjadi sosok lelaki yang tampan. Sementara wajah Dayang Shoumbi, ibunya tidak pernah tua. Bahkan semakin cantik. Kecantikan Dayang Shoumbi membuat Sagakuriang terpesona dan jatuh hati pada ibunya sendiri.

Suatu hari Si Toramang yang menjelma menjadi macan, mengajak Sagakuriang berburu di hutan.

“Mengapa ayahku adalah seekor macan bisa menikahi Dayang Shoumbi yang begitu cantiknya??” Tanya Sagakuriang dalam hati. “Rasanya Aku lebih pantas menjadi pendamping Dayang Shoumbi”. Sagakuriang berjalan sambil memikirkan cintanya terhadap Dayang Shoumbi. Ia merasa macan pemburu jelmaan yang merupakan ayahnya sendiri tidaklah pantas mendampingi Dayang Shoumbi.

Di tengah hutan yang begitu gelap, Sagakuriang dan toramang jelmaan macan mulai berburu untuk memenuhi makan malam mereka.

“Disini kita akan mulai berburu, nak” kata Toramang dalam jelmaan macan. “Sekarang praktikan apa yang telah ayah ajarkan padamu, nak”

Sagakuriang mengeluarkan golok asahan kebanggaannya. Dengan mata tajam, dia mulai membunuh ayahnya sendiri. Sagakuriang tidak terkendali, Ia menghabisi ayahnya demi mendapatkan cinta Dayang Shoumbi. Setelah sang ayah, tora mati. Sagakuriang mulai menyadari perbuatannya. Dia mulai memegangi kepalanya dan pergi keluar hutan berlari pulang dengan tangan dan golok yang berlumuran darah.

“Sagakuriang? Itu kau?” Tanya Dayang Shoumbi yang terkejut melihat Sagakuriang yang pulang dengan cepat.

Sagakuriang berjalan memasuki ruangan dan mulai melihat wajah Dayang Shoumbi yang membuatnya terpesona.

“Dimana tora? Mengapa tanganmu penuh darah??” Tanya Dayang Shoumbi memegangi pundak Saga yang berbidang. Kulitnya yang putih kontras dengan darah segar yang menyelimuti tangan kanannya.

Sagakuriang yang benar-benar jatuh hati pada Dayang Shoumbi hanya diam dan tersenyum pada pujaan hatinya yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Tangan kiri Sagakuriang mengelus rambut Dayang Shoumbi dengan lembut.

“Aku terluka. Ayah menyuruhku pulang dan dia berburu sendiri” kata Sagakuriang.

“Benarkah? Kalau begitu, mari ku obati lukamu” kata Dayang Shoumbi.

Dayang Shoumbi membersihkan tangan kanan Sagakuriang yang penuh darah. Dayang Shoumbi melihat luka-luka Sagakuriang yang dikarenakan beberapa gigitan binatang buas. Dayang Shoumbi begitu mencemaskan luka sagakuriang, Ia pun membalut luka sagakuriang dengan hati-hati. Sagakuriang yang duduk dalam diam hanya memperhatikan kecantikan Dayang Shoumbi. Hatinya semakin berdegup kencang melihat raut wajah Dayang Shoumbi yang sedang membalut lukanya.

“Aku cinta padamu, Dayang Shoumbi” kata Sagakuriang yang meluncur begitu saja.

Dayang Shoumbi yang terkejut pun mulai menghentikan membalut luka Sagakuriang. Dia pun memandangi Sagakuriang yang tersenyum jenaka terhadapnya.

“Sudah mulai larut. Aku akan mencari tora” kata Dayang Shoumbi yang menghiraukan pernyataan Sagakuriang.

“Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku” kata Sagakuriang yang memegangi tangan Dayang Shoumbi. Mencegah Dayang Shoumbi untuk mencari ayahnya ke hutan. “Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

“Kau gila. Ayahmu belum pulang. Aku harus mencarinya. Aku begitu mencemaskannya” kata Dayang Shoumbi yang melepaskan tangan Sagakuriang dan pergi mencari Tora jelmaan macan, suami terkasihnya.

Sagakuriang yang masih tersenyum hanya berkata “Aku gila karenamu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi berlari menuju hutan. Begitu cintanya, Ia terhadap suaminya. Sampailah di tengah hutan. Ia menemukan jejak-jejak darah. Dayang Shoumbi pun mengikutinya dan betapa terkejutnya dia menemukan Toramang, suaminya dalam bentuk tubuh manusia terkapar penuh darah. Dayang shoumbi menangis dan memeluk suaminya itu. Di bibir tora, Dayang Shoumbi menemukan potongan baju Sagakuriang. Ia menduga bahwa luka pada tangan Sagakuriang adalah hasil dari gigitan Tora. Dayang Shoumbi yang terpukul mengetahui bahwa Sagakurianglah yang membunuh Tora pun mulai menguburkan suami terkasihnya seorang diri. Setelah itu, Dayang Shoumbi pulang dengan penuh amarah.

“Sudah pulang kau rupanya, calon istriku” kata Sagakuriang menyambut Dayang Shoumbi dan hendak memeluknya.

Dayang Shoumbi menampar pipi putih Sagakuriang. “Pembunuh! Aku tidak mau hidup bersama anak pembunuh sepertimu”

“Tunggu sebentar, Nao. Tragis sekali cerita ini” kata Pon yang mulai ikut mengikuti alur cerita.

“Kau membacanya?” Tanya Nao yang hendak menutup jendela browsing.

“Umm…lanjutkan saja. Aku ingin melihat endingnya” kata Pon yang mulai mengikutinya.

Sagakuriang yang tidak mempedulikan kata-kata Dayang Shoumbi pun langsung memeluk paksa Dayang Shoumbi. “Macan itu tidak pantas mendampingi mu. Karena aku lah yang pantas mendampingimu. Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi yang berusaha melepaskan pelukan Sagakuriang namun tidak bisa hanya pasrah dan memukul punggung Sagakuriang. “Kau gila. Buktikan kalau kau memang mencintaiku. Buktikan bahwa kau memang pantas menjadi pendampingku”

Sagakuriang mulai melepaskan pelukannya pada Dayang Shoumbi. “Apapun itu asalkan demi kau menjadi istriku, aku akan melakukannya”

Dayang Shoumbi yang menyetujuinya pun meminta Sagakuriang untuk membuat perahu dan telaga dalam waktu semalam. Sagakuriang yang menyetujuinya pun langsung pergi keluar rumah. Sebelum Sagakuriang meninggalkan rumahnya, dia pun berjanji bahwa Dayang Shoumbi akan segera menjadi miliknya.

Tubuh Dayang Shoumbi bergetar dengan segala hal yang terjadi pun hanya bisa berharap bahwa anaknya tidak akan bisa menyelesaikan perintahnya dalam semalam. Dengan bantuan para Iblis, Sagakuriang dengan cepat mengerjakan perintah Dayang Shoumbi. Dayang Shoumbi yang mengetahui hal itu pun mulai cemas. Dia pun memohon kepada Tuhan agar matahari segera datang. Dayang Shoumbi menyerahkan dirinya sebagai sebuah ganti bila permohonannya terkabul.

Ketika itu, fajar pun mulai merekah di ufuk timur. Melihat itu, Sagakuriang panik dengan pekerjaannya yang belum selesai tepat waktu. Sagakuriang yang marah besar hendak mengejar Dayang Shoumbi dan memperlihatkan bukti cintanya. Namun Dayang Shoumbi tiba-tiba menghilang. Membuat Sagakuriang benar-benar kesal dan hendak menendang perahu yang sudah capek dibuatnya.

“Et, et…haiaaah…mana tadi ceritanya?? Haa…bentar lagi selesai tuh” kata Nao.

“Maaf, kepencet. Coba cari kata perahu” kata Pon yang tidak sengaja menekan exit pada jendela browsing. Ia pun mengutak-atik mencari cerita legenda itu lagi dengan keyword ‘perahu’. “Okeh, lanjut lagi ini dia”.

“Stop! Jangan ditendang. Aku akan membelinya” Kata seseorang pria yang sepertinya adalah saudagar kaya raya.

“Siapa kau?” Tanya Sagakuriang yang mulai jengkel.

“Kenalkan, Aku Mapon Kundang” kata pria itu dengan dandanan pakaian ala Sumatra barat. “Aku merantau dari Sumatra. Setelah kaya raya, aku akan balik kesana. Tapi perahuku rusak. Sepertinya perahu buatanmu bagus dan berkelas”

Sagakuriang yang baru pertama kali melihat seorang pria dengan dandanan Sumatra itu pun menyetujui perahunya dibeli. Dengan duit hasil jual perahu, Sagakuriang pergi mencari Dayang Shoumbi, cinta terkasihnya.

Sementara itu, Mapon Kundang menggunakan perahu Sagakuriang dan pergi berlayar ke kampung halamannya. Bersama awak kapal dan istrinya. Mapon kundang menjelajahi laut. Dari Bandung tempat Sagakuriang berada, hingga sampai di Sumatra Barat. Akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Mapon Kundang.

“Ibu Nao!! Mapon kundang telah pulang” kata beberapa orang yang menghampiri seorang Ibu yang rindu akan anaknya, Mapon kundang.

“Mapon!! Syukurlah kau pulang. Ibu rindu padamu” kata ibu Mapon kundang yang memeluk Mapon kundang melepas rindunya.

“Cih, siapa kamu! Aku tak pernah punya ibu miskin seperti kamu. Kau salah orang” kata Mapon Kundang yang pergi meninggalkan ibu tua itu.

“Ya, tuhan bila Ia memang benar anakku, aku sumpahi Ia menjadi……”

Piiip…piiip….Low batteray…piip…

“Yaaah….mati. Sial!! Aku lupa nyolokin chargernya!!!” kata Pon histeris.

Only You

ONLY YOU/EUNHAE/PG-15/GENDERSWITCH/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Donghae, Eunhyuk (yeoja), Hangeng dan Henry

Eunhae

*Donghae PoV*

Hai, namaku Donghae. Ya, tanpa ku perkenalkan diri pun kalian sudah tahu siapa aku. Hehe bukannya sombong, di sekolah ini tidak ada yang tidak mengenalku. Mau bukti? Saat ku berjalan, semua mata tertuju padaku terutama mata para yeoja itu dan yang ku lakukan hanya satu yaitu memberikan senyuman mautku yang mempesona ini.

 

“Annyeong, Donghae-a!!” sapa beberapa yeoja yang tersipu menatapku. Seperti biasa, untuk membahagiakan mereka, ku berikan senyum tipisku yang lembut. “Kyaa…Donghae sshi menatapku!!” sahut seru beberapa yeoja lain yang ku jumpai di lorong sekolah terpanjang—tempat favoritku menikmati waktu luangku di sekolah karena lorong ini adalah lorong ter-ramai.

Aku berjalan santai dan semakin memperlambat langkahku. Ku masukan kedua tanganku ke dalam kantong celana dan sesekali bersiul santai sambil mengumbar senyum terbaikku. Dari kejauhan, seorang yeoja dengan handphonenya menarik perhatianku. Ia berjalan santai tidak menatapku. Apa? Tidak menatapku?! Ini tidak boleh terjadi. Aku menatap yeoja itu yang semakin mendekat ke arahku. Dahiku mengerut, melihat yeoja itu yang tidak kunjung menatapku. Apakah handphonenya itu lebih menarik dibanding aku? Aku menggelengkan kepalaku.

“Mianhae” kata yeoja itu—tersadar aku menghalangi jalannya namun tetap pada pendiriannya, Ia tidak menatapku.

Ia bergeser ke kiri dan aku pun ikut bergeser ke kiri. Yeoja itu menarik nafas pelan namun tidak kunjung menatapku, Ia bergeser ke kanan dan aku pun ikut bergeser ke kanan. Aku menghalanginya jalan agar Ia melihatku dan menyapaku seperti para yeoja lainnya. Jangan salah paham, aku hanya berusaha adil. Aku tidak akan membiarkan satu yeoja pun tidak mendapatkan senyumanku—yang biasanya membahagiakan mereka.

“Apa?” tanya yeoja itu mendongakkan kepalanya, menatapku.

Akhirnya Ia menatapku. Aku mulai merekahkan ujung – ujung bibirku dan memperlihatkan senyuman terbaikku padanya. Yeoja itu mengatupkan mulutnya dan mulai mengangguk pelan. Akhirnya dia mengerti maksudku. Ayo, sapa aku! Kau ingin menyapaku, bukan?

Yeoja itu menepuk pundakku dan pergi meninggalkan ku begitu saja. Ia berjalan santai sambil menatap handphonenya lagi tanpa mempedulikan aku. Apa – apaan yeoja ini?! Tidak bisa dibiarkan. Namja setampan aku dianggurkan begitu saja, huh?! Dasar.

Aku menarik pundaknya hingga Ia menghentikan langkahnya dan menatapku santai. “Kau tahu siapa aku,huh? Aku Lee Donghae”

“Oh. Mau kenalan? Bilang dari tadi dong. Panggil saja aku Eunhyuk” yeoja itu langsung meraih tanganku dan menjabatnya. Ia memberikan senyuman ramahnya sambil memperlihatkan gusi giginya.

Aku tercengang mendapati perlakuan yeoja ini. Tanpa basa – basi, Ia menepuk pundakku lagi dan pergi meninggalkanku sambil menatap handphonenya lagi. Aku menatap tanganku kemudian menatap punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari pandanganku. “Eunhyuk” gumamku

***

“Bwahahahahaha” tawa Hangeng hyung dan Henry membahana di telingaku. Mereka tampak senang mendapati diriku yang populer ini diperlakukan seperti itu oleh seorang yeoja yang memandangku dengan tatapan biasa. Atau mungkin tidak memandangku.

“Artinya teorimu yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun yeoja yang tak mengenalmu itu salah” ujar Hangeng hyung di sela – sela gelak tawanya.

Mendengar itu dahiku mengernyit dan bibirku mengulum maju—tidak terima, berbeda dengan Henry yang tertawa semakin keras. Inilah kami, tiga namja tampan yang populer di sekolah ini. Aku dan Henry belajar banyak dari Hangeng hyung bagaimana caranya memperlakukan yeoja dengan baik.

Henry mengadahkan tangannya di depan wajahku. Ia tersenyum penuh kemenangan hingga aku pasrah mengeluarkan beberapa lembar uang yang ada di kantong celanaku. “Tunggu! Kau pikir, yeoja yang bernama Eunhyuk itu mengenalmu, huh?! Dia itu yeoja yang tidak peduli dengan sekitarnya kecuali dunianya”

Henry mendengus, mendengar ucapanku. Ia melirik Hangeng hyung sekilas dan Ia pun mengangguk—mengerti maksudku. “Aku terima tantanganmu”

*Donghae PoV end*

 

***

Seperti biasanya, Donghae berjalan santai di lorong favoritnya sambil memperhatikan para yeoja yang menatap kagum padanya. Di saat yang sama, mata Donghae tertuju pada yeoja yang menjadi perhatiannya belakangan ini. Seperti biasanya pula, Ia berjalan menatap handphonenya tanpa melihatnya.

Donghae menghela nafasnya dan tetap berjalan lurus sambil memperhatikan Eunhyuk yang berjalan ke arahnya. Dugaan Donghae tepat, Eunhyuk berjalan melaluinya begitu saja tanpa meliriknya. Donghae menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang—menatap punggung Eunhyuk yang semakin menjauh. Ia melihat Henry yang berjalan ke arahnya. Donghae bertaruh, Eunhyuk juga tidak akan mengenali Henry.

“Eunhyuk-aa” sapa Henry mengulum senyum sambil melirk Donghae di balik kepala Eunhyuk.

Donghae mendengus dan mulai merekahkan senyum kemenangan saat Eunhyuk berhenti di hadapan Henry tanpa memandangnya. Donghae bersiul pelan, Ia tahu Henry tidak akan menang darinya.

“Ah, Henry sshi. Annyeong!” sapa Eunhyuk yang langsung melipat handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya. Ia membungkukkan diri sesaat di hadapan Henry, layaknya para yeoja lain yang memuja Henry.

Henry semakin melancarkan senyuman mautnya sambil menatap geli wajah Donghae yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ah, tidak ku sangka. Kau mengenalku yah”

“Tentu! Siapa yang tidak mengenalmu? Kenapa Henry berkata seperti itu?” tanya Eunhyuk tidak mengerti. Kata – kata Eunhyuk membuat Donghae makin tercengang.

“Ah, anii. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar – benar mengenaliku. Repot juga kan kalau aku ingin berbicara denganmu tapi kau tidak mengenaliku” jelas Henry yang berhasil membuat Eunhyuk tersipu.

Donghae mengacak – acak rambutnya—tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari kejauhan, Henry mengajak Eunhyuk untuk berbincang – bincang ringan sambil lalu meninggalkan lorong—tempat Donghae berdiri memperhatikan.

Hangeng muncul tiba – tiba di balik punggung Donghae. Ia mulai merangkul pundak Donghae dan meletakkan dagunya di atas bahu Donghae. “Bagaimana? Ternyata kemajuan Henry lebih pesat dibanding dirimu. Tidak ku sangka, Henry yang terhitung murid baruku itu bisa mengalahkanmu, yang merupakan murid handalku”

“Itu hanya kebetulan!” seru Donghae yang masih memandang kepergian Henry dan Eunhyuk yang mulai luput dari pandangannya.

“Kebetulan? Lucu juga. Kebetulan yang menarik yah? Kenapa hanya dia, yeoja yang tidak memandangmu?” bisik Hangeng di telinga Donghae. Hangeng menepuk pundak Donghae dan pergi meninggalkan Donghae secara perlahan.

Mata Donghae membulat, menelan tiap kalimat Hangeng—gurunya itu. Deru nafas Hangeng masih terasa di sela – sela telinga Donghae hingga Ia benar – benar mengecam kata – kata Hangeng. “Kenapa hanya dia?” gumam Donghae sangsi.

***

Setiap hari Donghae rajin berjalan di lorong favoritnya. Ia baru menyadari bahwa Eunhyuk juga suka berjalan di lorong ini. Donghae mengerutkan alisnya, ini semua hanya kebetulan, pikirnya. Tidak hanya Eunhyuk yang suka berjalan di lorong ini. Ada banyak siswa yang melalui lorong ini setiap harinya walau lorong ini bukanlah lorong satu – satunya yang ada di sekolahnya.

“Kau lihat itu? Itu yang namanya Lee Donghae. Orang yang paling gigih, yang pernah ku kenal” jelas Hangeng memperhatikan Donghae dari kejauhan.

Henry mengangguk setuju dengan Hangeng. Dari jejeran jendela lorong, Henry dan Hangeng dapat dengan jelas memperhatikan gerak – gerik Donghae menyusuri lorong favoritnya itu. Hangeng mengangkat kedua tangannya dan mulai menyenderkan punggungnya ke pohon yang memayunginya.

“Film yang menarik. Kau dapat berapa? Sepertinya untung banyak” kata Hangeng melirik Henry penuh makna. Henry hanya tersenyum seraya menepuk saku seragam sekolahnya.

Karena Eunhyuk, Donghae melupakan senyum tipis mautnya yang biasanya Ia tebar pada para yeoja yang mengharapkannya. Beberapa yeoja menyapa Donghae namun Donghae hanya diam sambil terus menerus memperhatikan satu yeoja yang makin mendekat ke arahnya. Donghae baru menyadari bahwa lorong favoritnya itu terlalu padat dan ramai hingga Ia harus memfokuskan matanya pada Eunhyuk agar yeoja itu tidak luput dari pandangannya.

BRUK!!

“Donghae-aa!!”, “Donghae oppa!!” , “Donghae sshi!!”, “Gwenchanayo?!!” seru beruntun beberapa yeoja yang terkejut mendapati Donghae terjatuh. Mereka heboh membantu Donghae yang hanya terjatuh ringan.

Donghae bangkit dengan bantuan para yeoja itu. Ia mengangguk – anggukan kepalanya—mengucap terima kasih pada mereka. Bisa – bisanya Donghae tersandung dan terjatuh di lorong favoritnya, di lorong—tempatnya menebar pesona. Dan itu semua hanya karena satu yeoja, yaitu Eunhyuk.

Donghae mengadahkan kepalanya kemudian menyapu pandangannya ke segala arah, mencari sosok Eunhyuk. Yeoja rambut pirang dan pendek itu telah berjalan menjauhi Donghae. Tak disangka, yeoja itu berjalan santai tanpa mempedulikan Donghae yang terjatuh disana. Donghae yang terjatuh pun tidak dapat mengalihkan pandangan Eunhyuk dari handphonenya.

Keesokan harinya, Donghae telah membulatkan tekad. Donghae akan membuat Eunhyuk memandangnya hingga hanya dia yang ada di matanya bukan handphonenya. Donghae berdiri di ujung lorong, menghirup nafas dalam – dalam. Eunhyuk, hanya nama itu yang ada di otaknya sekarang. Donghae mulai berjalan santai seperti biasanya. Ia melirik beberapa yeoja yang tersenyum dan menyapanya. Kali ini Ia hanya mengangguk pelan—memberi respon pada para yeoja itu. Donghae memilih untuk tidak menebar senyumnya agar Ia fokus dengan sosok yang dicarinya.

Deg…Deg…dada Donghae berdegup kencang saat melihat sosok yang dicarinya telah Ia kunci di matanya. Donghae melangkahkan kakinya hati – hati, mengikuti irama tabuhan hatinya. Eunhyuk dengan handphonenya semakin mendekat ke arahnya, hati Donghae pun semakin bertabuh hingga kakinya tidak sabar untuk berjalan cepat. Eunhyuk berjalan melewati Donghae tanpa memandangnya bahkan meliriknya seperti biasanya. Donghae menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang kemudian dalam satu gerakan cepat Ia menarik lengan Eunhyuk dan meraih handphone Eunhyuk.

Eunhyuk yang terkejut pun langsung menerkam tangan Donghae yang mengambil handphonenya. Donghae mengangkat tangannya yang memegang handphone Eunhyuk setinggi – tingginya hingga Eunhyuk tidak dapat meraihnya.

“Masih tidak mau menatap ku juga?!” gertak Donghae memperhatikan mata Eunhyuk yang masih berusaha meraih handphonenya. “Ternyata memang hanya handphone ini yang ada di matamu? Baiklah”

“Jangan dibuka!!” pinta Eunhyuk memberontak.

Donghae tidak menuruti kata – kata Eunhyuk. Ia penasaran dengan dunia Eunhyuk yang selama ini berada di dalam handphonenya—yang telah membuat mata Eunhyuk tidak menatapnya. Donghae memegang kepala Eunhyuk, menghentikan yeoja itu untuk berontak. “Aku tidak mau menurutimu. Aku tidak menebar pesona senyumku belakangan ini hanya karena kamu yang ada di mataku. Aku tersandung dan terjatuh di lorong ini juga karena kamu. Karena hanya kamu yang ada di mataku. Tapi kenapa kamu tidak pernah mau menatapku?”

Eunhyuk menghentikan pemberontakannya. Ia makin membuang mukanya, tidak ingin menatap wajah namja yang ada di hadapannya kini. Donghae menggelengkan kepalanya dan mendesis heran. Bahkan sampai di detik terakhir pun, yeoja yang ada di hadapannya ini masih tidak mau memandang wajahnya. Donghae melirik handphone lipat Eunhyuk yang ada di genggamannya. Ia membuka handphone itu dan terkejut mendapati apa yang dilihatnya.

“Kau bilang, aku tidak pernah menatapmu? Selama ini di lorong ini, aku selalu memandangmu. Hanya kamu, dunia yang ada di handphoneku dan hanya kamu yang ada di mataku” jelas Eunhyuk merunduk—tidak ingin menatap Donghae.

Donghae tersenyum senang melihat semua foto – fotonya yang ada di handphone Eunhyuk. Ia meraih dagu runcing Eunhyuk dan menyuruhnya untuk menatapnya namun Eunhyuk malah menutup matanya—masih tidak ingin menatapnya. “Kau selama ini memandangku melalui handphne? Eunhyukkie, sekarang hanya ada aku di hadapanmu. Tataplah aku”

“Nggak mau. Aku malu” ceplos Eunhyuk masih bertahan dengan mata yang tertutup. Eunhyuk tidak tahu semerah apa wajahnya yang masih disentuh Donghae. Bibirnya terlalu jujur hari itu.

Eunhyuk dapat mendengar desisan tawa yang ditahan Donghae. Eunhyuk mengerutkan alisnya, semakin tidak ingin membuka matanya. Ia ingin cepat – cepat melepaskan diri dari Donghae namun ternyata tubuhnya terkunci oleh tubuh Donghae dan dinding lorong yang baru Ia sadari telah menjepitnya. Hati Eunhyuk bedegup semakin kencang, membuatnya ingin memberontak dari kuncian Donghae. “Ya! Apa yang akan kau laku—–“

Eunhyuk membuka matanya dengan cepat. Ia memandang mata Donghae yang berada tepat di depan matanya. Hidung Eunhyuk dan Donghae saling beradu. Donghae dengan beraninya mencium bibirnya di lorong yang masih ramai dengan murid – murid yang berlalu lalang. Donghae menatap mata bulat Eunhyuk yang terkejut memandangnya. Donghae melepaskan bibirnya dari bibir Eunhyuk namun Ia masih memandang mata Eunhyuk yang terbuka lebar memandanginya.

“Apa aku harus menciummu seperti ini dulu, baru kau memandangku?” goda Donghae mulai merekahkan senyum tipis mautnya. Ia menarik kepala Eunhyuk ke dadanya dan mulai memeluknya. “Kau malu kan? Biar aku yang menutupi wajahmu dengan tubuhku. Apa sekarang aku harus mengatakan kata itu?”

“Tidak perlu. Aku sudah mendengar kata itu dari hatimu” ujar Eunhyuk dalam pelukan Donghae. Eunhyuk tersenyum pelan, mendengar kata cinta dari tabuhan hati Donghae yang sama berdebarnya dengan hatinya. Donghae tersenyum dan semakin menenggelamkan kepala Eunhyuk ke dalam pelukannya.

_THE END_

Oh, My!!

Author’s note: Fiksi ini didedikasikan untuk band yang mewarnai masa remajaku, yaitu My Chemical Romance, juga untuk Corina, sahabatku yang sangat menyukai band ini dan teman gilaku untuk band ini. Putri is me, Karina is Corina.

MCR1

When I was a young boy, my father took me into the city………..

Matahari bersinar menyambut pagi. Sekarang giliran Putri menyambut pagi dengan menyetel musik My Chemical Romance sekencang – kencangnya. Ia berdendang dengan semangat dan menyanyikan lagu Welcome to the black parade dengan sepenuh hati. Begitu semangatnya Ia beringsut ke kamar mandi sambil berdendang. Hari ini adalah hari pertama masuk SMA. Hari yang istimewa baginya.

“We’ll carry on! We’ll carry on!” dendang Putri mengancingkan seragamnya.

“Put! Putriiiiii!” teriak seseorang menggedor – gedor pintu kamar Putri.

Putri beranjak mengecilkan suara radio-tape miliknya. Ia bergegas mengambil sesuatu yang bisa dipakainya untuk menggantikan rok yang belum dipakainya.

“Bisa tolong dimatikan untuk hari ini? Aku mohon! Aku bosan untuk mendengar lagu yang sering kau setel tiap harinya!” keluh seorang laki – laki dibalik pintu dengan nada lembut. “Kau pakai sarung?”

“Iya, aku belum pakai rok! Memangnya segitu membosankannya kah lagu My Chemical Romance di telinga Kak Rifqi?” tanya Putri dengan nada kesal.

“Sekarang iya. Apakah hal ini harus menjadi ritualmu tiap pagi? Itu mengganggu sekali. Aku telah kehilangan menit – menit yang seharusnya aku masih tertidur hingga akhirnya aku berada disini untuk memohon padamu!” gerutu Rifqi dengan nada kesal yang ditahan.

“Kalau begitu, mengapa kakak masih berada disini?” tanya Putri dengan nada sedikit sewot.

“Aaaaaargh! Ini semua karena suara Gerrard Way yang menggangguku tidur! Dan Kau! Kau malah menambah volume suaranya hingga aku terbangun! Dan…..Dan…. Pengganggu!” kata Rifqi dengan nada marah namun tertahan sedikit.

“Aku bukan pengganggu! Dan suara Gerrard itu tidak jelek! Terserah! Nikmati hari – hari tidurmu!” gerutu Putri yang sambil lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya.

Dari luar pintu kamar Putri, terdengar suara volume radio-tape terdengar semakin mengeras.

“Adik yang keras kepala. Terserah!” kata Rifqi dengan sangat kesal.

“Tenang yah, Gerrard! Aku akan tetap mengidolakan dirimu, grup bandmu, suaramu dan lagu – lagumu. Meski lagumu sudah tidak tren lagi sekarang, aku akan tetap menumbuhkan semangat My Chemical Romance untukmu” kata Putri memandang poster My Chemical Romance dan mengecup gambar Gerrard Way dengan hati – hati.

Putri segera mengenakan rok abu – abunya untuk yang pertama kalinya. Ia bercermin dan menampilkan senyuman menawannya. Ia pun berbalik dan merogoh tas ranselnya. Ia pun keluar dari kamarnya dengan semangat.

Putri menuruni tangga dengan penuh semangat yang menggebu – gebu dan mulai mendendangkan lagu Teenagers nya My Chemical Romance.

“They’re gonna clean up your looks with all the lies in the books to make a citizen out of you” dendang Putri sambil duduk di kursi meja makan dan mengambil selapis roti yang telah dihidangkan.

“Tuh kan, Ma! Mengganggu sekali tahu, nggak?!” sela Rifqi menghentikan Putri bernyanyi.

Putri diam dan menatap kakaknya dengan rasa kesal. Ia mulai melahap rotinya sambil menatap kakaknya dengan tatapan jengkel.

“Putri, lain kali suara My Chemical Romance-nya pelan – pelan, yah? Selain kakakmu, para tetangga juga ikut terganggu. Pagi – pagi sudah dihidangin lagu – lagu spesialmu” kata Mama Putri dengan lembut.

“Tapi itu sudah Putri kecilkan kok!” protes Putri.

“Tapi itu masih keras, sayang!” kata Mama Putri.

“Mama we all go to hell! Mama we all go to hell! I’m writting this letter and wishing you well. Mama we all go to hell” senandung Putri sambil menyium telapak tangan mamanya dan bergegas meninggalkan rumah.

“Tuh kan!” kata Rifqi pada sang Mama

“Memangnya tadi dia nyanyi apa, Qi?” tanya Mama.

“Apalagi? Lagu My Chemical Romance” kata Rifqi tak acuh.

Putri keluar rumah dengan semangat rok abu – abu serta semangat My Chemical Romance miliknya. Dia bergerak – gerak riang untuk menyambut pagi yang menyenangkan baginya. Di kejauhan, Putri melihat Karina sahabatnya.

“Gimana kabar lo? Semangat untuk hari ini?” tanya Putri dengan semangat.

“I’m not okay! I’m not okay! I’m not okaaaay!” senandung Karina.

“Ah, bisa aja lo!” kata Putri yang ikut bernyanyi lagu My Chemical Romance yang berjudul I’m not okay.

Sepanjang jalan, Putri dan Karina bernyanyi lagu My Chemical Romance dengan semangat. Setelah lelah, mereka berhenti dan ngobrol mengenai My Chemical Romance. Tiada habisnya topik pembicaraan tentang My Chemical Romance mereka bicarakan. Putri dan Karina sudah lama bersahabat. Dari mereka SD hingga kini. Selera mereka hampir sama karena sudah bertahun – tahun bersama – sama.

Sesampainya di sekolah baru mereka. Sekolah dengan seragam putih abu-abu penghuninya. Mereka masuk dengan perasaan yang tidak sabar. Suatu kerumunan anak – anak baru menyita perhatian mereka. Mereka pun berlari untuk melihat apa yang sedang ‘dikerumunkan’.

“Ada apa sih?” tanya Putri ke salah seorang dari kerumunan.

“Pembagian kelas” kata orang itu yang sambil lalu pergi dari kerumunan.

“Aaah, tidak!” jerit Karina dengan penuh kekagetan.

“Kita tidak sekelas?” tanya Putri memandang Karina yang begitu lesuhnya. “Yah, nggak apa – apa sih. Berarti ini sudah yang ketiga kalinya kita tidak sekelas sejak SD”

“Well when you go. Don’t ever think I’ll make you try to stay” senandung Karina mulai menyanyikan lagu I Don’t love you.

“And maybe when you get back! I’ll be off to find another way” senandung Putri melanjutkat nyanyian Karina. “Beneran nggak sekelas yah? Sedih gue!”

“Becanda kali gue, Put!” kata Karina. “Kita sekelas lagi. Bosen gue! Hehehe”

Putri langsung meraih tangan Karina dan lompat – lompat kegirangan. Karina juga menyambutnya dengan lompat – lompat bersama Putri.

“I Don’t love you! Like I loved you yesterday!” Kata Putri menggunakan lirik My Chemical Romance dengan ekspresi kesal telah di usili Karina.

Sepasang mata memperhatikan Putri dan Karina dari kejauhan. Putri dan Karina yang tidak menyadarinya hanya melompat – lompat kegirangan dan berjalan memasuki koridor untuk mencari kelas mereka. Sepasang mata yang memperhatikan Putri dan Karina itu mulai berjalan mengikuti Putri dan Karina dari belakang.

“Welcome to the black parade!” kata Karina menunjukkan kelas yang mereka tempati.

“Yeah, we’ll carry on! We’ll carry on!” senandung Putri memasuki kelas bersama Karina.

Mereka duduk di sebuah kursi kedua dari papan tulis. Mereka meletakkan tas mereka di atas meja dan menyanyikan lagu My Chemical Romance penuh semangat sampai lupa dengan sekitar.

“Hey, hey! Sepertinya kalian berdua sedang menjadi pusat perhatian” kata seorang laki – laki yang duduk di depan mereka.

“Oh, My!” kaget mereka. Mereka berdua melihat sekitar dan kemudian saling menatap. “Chemical Romance!”

“Gue perhatiin lo berdua dari tempat papan pengumuman sampai sini, nyanyi lagu MCR mulu. Lo berdua suka MCR ya? Gue juga! Kenalin gue Bayu. Lo?” kata laki – laki yang dari tadi mengikuti Putri dan Karina.

“Gue Putri dan dia Karina” kata Putri.

“Gue Karina dan dia Putri” kata Karina.

Mereka berdua berdiri dan meraih salah satu tangan Bayu. Putri memegang tangan kanan Bayu dan Karina memegang tangan kiri Bayu. Bayu yang heran hanya menatap kedua teman barunya dengan tatapan tercengang.

“Salam em-si-ar (MCR) dari kami!” kata Putri dan Karina serentak lalu mengguncangkan tangan Bayu ke atas dan ke bawah.

Lalu mereka berdua melepaskan tangan Bayu dan duduk kembali. Bayu pun memutar kursinya dan duduk berhadapan dengan kedua teman barunya.

“Kalian nggak malu dengan tingkah kalian?” tanya Bayu blak – blakan.

“What’s the worst that I can say?” kata Putri mulai bernyanyi.

“Things are better if I stay” kata Karina melanjutkan.

“So long and good night! So long and good night” kata Bayu yang ikut melanjutkan.

Putri dan Karina berhenti bernyanyi dan tertawa bersama Bayu.

“Oh, My! Oh, My!” kata Putri geleng – geleng kepala.

“Chemical Romance!” kata Bayu mulai terbiasa dengan kedua teman barunya.

Putri dan Karina tertawa lagi yang diikut sertakan Bayu. Kini sekelilingnya mulai melihat mereka bertiga tertawa dengan akrabnya.

“Lo bisa aja! Udah mulai ikut – ikutan kami!” kata Karina dengan tawa kecil

“Bener!  Bener! Itu ungkapan kekagetan kami” jelas Putri.

“Memangnya lo kaget kenapa, Put?” tanya Bayu.

“Suara lo merdu banget!” kata Putri.

“Iya, lembut gitu” kata Karina yang mengangguk setuju.

“Makasih, ya! Suara kalian nggak buruk kok” kata Bayu. “Gue ini vokalis band. Jadi wajar aja kalo suara gue bagus”

“Ha? Yang bener?!” kaget Putri dan Karina. “Oh, My!”

“Chemical Romance!” sambung Bayu.

Sejak saat itu, Bayu mulai menceritakan kisah hidupnya, bandnya dan My Chemical Romance. Dia menceritakan bahwa dia sangat menyukai MCR karena album lagunya yang terkonsep. Setiap albumnya memiliki suatu tema dan lagu – lagunya berkesinambungan dengan tema tersebut. Begitu juga liriknya. Dibuatnya Putri dan Karina kagum akan cerita Bayu. Mereka pun makin akrab apalagi soal MCR.

“Wah, gue nggak nyangka! Lo mirip dong sama Gerrard!” kata Karina.

“Mirip?” tanya Bayu tersipu.

“Ah, iya! Gerrard tinggal sama neneknya. Lo juga!” kata Putri tercengang.

“Ah, masa sih? Kalo suaranya mirip nggak?” kata Bayu dengan kepercayaan tinggi.

Mulailah Putri yang bercerita mengenai kisah hidup Gerrard Way yang merupakan sang vokalis yang paling dia kagumi dan sukai. Putri menceritakannya begitu menggebu – gebu hingga Karina ikut serta dalam cerita Putri. Bayu pun semakin semangat untuk mendengarnya. Mereka bertiga asik dengan obrolan mereka hingga tidak terusik dengan keadaan sekitar. Lalu saat seorang guru masuk ke dalam ke kelas, barulah obrolan mereka berakhir. Dan Bayu menyadari bahwa kini dia telah duduk dengan seseorang yang dari tadi berdiam diri. Mungkin karena dia merasa telah di acuhkan keberadaannya oleh Bayu, Putri dan Karina.

Hari – hari telah berjalan dengan ceria dan semangat. Tanpa Putri dan Karina sadari, mereka telah jatuh hati pada Bayu. Bayu yang memiliki suara lembut nan indah, tampan dan menyukai MCR itu mulai populer di sekolah. Apalagi dia semakin aktif di berbagai acara sekolah. Setiap acara sekolah, Bayu pasti bernyanyi solo di atas panggung dan menyanyikan lagu MCR dengan sepenuh hatinya. Dan hal itu membuat Putri dan Karina begitu jatuh hati pada Bayu.

“Oh, My! Dialah sosok Gerrard yang gue inginkan. Suaranya, ketampanannya, keahliannya dalam bermusik dan kisah hidupnya yang begitu mirip. Tenang, Gerrard! Gue nggak akan melupakan cinta gue terhadap lo!” kata Putri mengelus poster MCR nya yang terpasang di balik pintu.

Putri menuruni tangga dengan tenang dan berkhayal akan Bayu yang menyanyikan lagu MCR hanya untuknya.

“Hey, kenapa? Senyum – senyum sendiri! Belakangan ini tumben nggak melakukan ritual mengganggumu itu? Dan aku juga nggak mendengar kamu bernyanyi – nyanyi lagu kesayanganmu itu?” tanya Rifqi.

“Jangan goda adikmu, Qi!” kata sang Papa.

“Iya. Giliran dia anteng – anteng saja, kamu malah yang bikin dia nggak anteng” kata sang Mama.

Putri tidak menanggapinya. Dia pun beranjak dari kursinya dan mencium telapak tangan kedua orang tuanya. Putri pergi sekolah dengan tenang. Semangat yang dulu begitu menggebu – gebu kini berwarna merah muda. Begitu lembut dan tenang. Tidak ada satu pun tetesan keringat jatuh dari keningnya kini. Semua energi begitu tersimpan dan tidak terbuang untuk semangat yang menggebu – gebu. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Kini hatinya yang bernyanyi sepanjang jalan hingga bertemu dengan Karina.

Mereka hanya saling menyapa dan menanyakan tugas. Selebihnya mereka memilih untuk diam dan bernyanyi lagu cinta dalam hati mereka. Otak mereka telah disibukkan dengan khayalan tingkat tinggi. Menyama – nyamakan Bayu dengan sosok idaman mereka, Gerrard Way. Walaupun mirip, tapi Bayu bukanlah Gerrard Way. Dari segi wajah pun tidak mirip sama sekali. Putri dan Karina berjalan menuju sekolah dalam diam. Dan mereka tidak sadar akan hal itu. Mereka asik dalam dunia mereka sendiri.

Sesampainya di kelas, mereka dipertemukan dengan Bayu yang sedang menjadi pusat kelas. Bayu sedang memegang gitar dan bernyanyi lagu MCR yang berjudul disenchanted.

Suara gitar yang dipetik begitu terasa lembut dalam angan Putri dan Karina. Benar – benar persis seperti dalam lagu. Putri pun merasa sedang menyetel lagu MCR di kamarnya. Tiba – tiba saja permainan gitar berhenti dan Bayu juga berhenti bernyanyi.

“Hey, kalian berdua! Ikut nyanyi sama gue, yuk!” ajak Bayu kepada Putri dan Karina yang dari tadi berdiri di ambang pintu.

Putri dan Karina langsung berlari menuju meja mereka. Meletakkan tas ransel mereka dan ikut bernyanyi bersama Bayu dan anak – anak lainnya.

“Lagu MCR mulu! Sekali – sekali nggak nyanyi itu kek!” kata seseorang.

“Memangnya kenapa, Fik?” tanya Putri dan Karina serentak.

“Sekarang kan lagi ngetren lagu Gaza, kenapa nggak coba nyanyi itu? Kan gitarnya lebih asikkan itu daripada lagu disenchanted” kata Fikri.

“Iya, sih. Usul anak – anak juga gitu. Gue bawa lagu Gaza juga kok” tanya Bayu.

“Boleh tuh. Lagipula kan lebih seger gitu ngeliat lo nyanyi lagu baru!” kata Fikri.

Nada gitar Bayu mulai dipetik layaknya petikan gitar Michael Heart menyanyikan lagu we will not go down (GAZA).

Putri dan Karina yang rada jengkel pun akhirnya ikut bernyanyi walaupun mereka tidak begitu hafal liriknya. Namun pada akhirnya Putri pergi keluar kelas. Karina yang melihat itu pun mengikuti Putri.

“Bete” kata Putri.

“Iya” kata Karina. “Put, gue pengen cerita sesuatu. Udah lama pengen gue cerita tapi rahasia yah?”

“Kok lo sama kaya gue sih, Rin? Gue juga pengen cerita suatu rahasia nih. Mungkin lebih tepatnya kayak curhat gitu” kata Putri.

“Yah, bisa dibilang curhat juga sih. Gue punya suatu rencana” kata Karina.

“Gue juga. Rencana gue, nanti malem pas acara ultah sekolah nih, gue bakal…..”

“Nembak Bayu” kata Karina.

“Kok lo tahu rencana gue?” tanya Putri

“Itu rencana gue! Lo tuh parah banget ya! Pokoknya gue duluan!”

“Kok gitu? Gue yang duluan yang bakal nembak dia! Rencana ini udah lama gue rencanain!” protes Putri.

“Gue juga! Oke, oke! Gimana kalo kita nembak dia bersama – sama? Jawaban ada di tangan dia? Lebih adil dan nggak nusuk dari belakang!” kata Karina.

“Oke. Deal!” kata Putri mengakhiri.

Diam – diam seseorang mendengar pembicaraan Putri dan Karina.

Malam acara telah tiba. Putri diam – diam menyelinap untuk mendahului Karina. Putri mencari Bayu. Putri menemukan Bayu sedang asyik duduk bersama seorang wanita.

“Oh, My!!” kata Putri terkejut. Betapa sakitnya hati Putri melihat kejadian itu.

“Nape, Put?” tanya Fikri yang tiba – tiba berada di samping Putri.

“Itu ceweknya Bayu?” tanya Putri.

“Mungkin iya, mungkin juga nggak. Habis gue bingung yang mana sebenarnya ceweknya Bayu. Hari ini lain, besok juga lain” kata Fikri.

Putri pun langsung pergi mendatangi Bayu yang sedang asik dengan senior.

“Put, lo mau dahuluin gue ya?” tanya Karina yang berlari mengejar Putri.

Sang senior beranjak pergi dan Bayu melihat Putri dan Karina sedang menghampirinya. Bayu melemparkan senyum pada kedua temannya itu.

“Lo curang! Lo nggak boleh mendahului gitu dong, put!” protes Karina.

“Calm down, ladies! Gue tahu kalian berdua mau menyatakan cinta ke gue. Gue bingung harus milih yang mana? Biar kalian nggak berantem, gue mau kok jadi cowok kalian berdua” kata Bayu dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.

“Oh, My!!” kata Karina tidak percaya.

“Disenchanted! (mengecewakan)” kata Putri.

“I don’t love you! Like I loved you yesterday!” kata Putri dan Karina menampar Bayu serentak. Putri di pipi kanan dan Karina di pipi kiri.

“Cause the hardest part of this is leaving you” senandung Fikri di atas panggung. Dia menjentikkan jarinya di atas piano menyanyikan lagu MCR yang berjudul Cancer. Putri dan Karina memang sedang sakit hati kini. Namun kejadian ini hampir membuat persahabatan Putri dan Karina hancur karena cinta. Mereka pun menemukan sesuatu yang menarik sekarang. Fikri yang begitu lihai menyanyikan lagu Cancer-nya My Chemical Romance.

“Oh, My!!!” seru mereka berdua melupakan yang terjadi dan menatap kagum pada Fikri. Mungkin ini yang dinamakan cinta baru telah datang.

Between Moon and Sun

BETWEEN MOON AND SUN/KYUMIN/PG-13/SHONEN AI/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: KyuMin (Kyuhyun-Sungmin), YunJae (Yunho-Jaejoong), Leeteuk dan Donghae

Author by: Soraciel

Disclaimer: Semua nama tokoh di fanfic ini diambil dari member Super Junior dan DBSK. KyuSun dan SungMoon adalah nama ciptaan saya. Dilarang menuliskannya tanpa seizin saya. Terima kasih.

 680094221

~Tiap malam, bulan ditemani bintang yang bermain di sekelilingnya. Bintang selalu datang dengan beragam cerita menghibur bulan. Kali ini, bintang bercerita bahwa ada sesuatu yang tuhan ciptakan untuk bulan dan bulan tidak akan pernah dipertemukan dengan sesuatu itu. Sesuatu itu adalah matahari.Sosok yang mendambakan bulan dan memancarkan sinarnya untuk dipantulkan bulan di malam hari.Bulan yang mengetahui itu, selalu mencintai matahari tanpa melihat matahari.

“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”~

***

“Hah….aku mimpi itu lagi! Kali ini sangat jelas, hyung!! Aku yakin peramal itu berkata benar. Aku adalah sang rembulan yang merindukan matahari. Dan beberapa hari lagi, aku akan bersatu dengan matahari” ujarku yang terbangun dari mimpiku.Keringat mengucur dari dahiku dan tanganku bergetar memegangi tangan Jaejoong hyung agar dia mempercayaiku.

“Kau percaya bahwa kau adalah roh bulan yang berenkarnasi?Itu hanya ramalan.Ma…mana ada kehidupan masa lalu” kata Jaejoong hyung—yang merupakan kakak kesayanganku.

“Aku percaya, hyung. Belakangan ini terasa sangat jelas. Apalagi sejak tubuhku ditato, aku merasakan sinar matahari makin hangat. Ya, mungkin ini petunjuknya. Matahari mulai mendekatiku dan aku akan berusaha mencari yeoja mana yang merupakan renkarnasi matahari” kataku dalam tubuh gemetar.

“Hentikan, Minnie! Aku tidak ingin kau sakit hati karena bergaul dengan yeoja, lalu kau dipanggil yeoja lagi. Kau sudah sejauh ini.Lihat tatomu!!”Jaejoong hyung menunjuk pada pinggangku.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

Mataku terbelalak mendengar perkataan Jaejoong hyung yang langsung menutup bibirnya. Tubuhku berhenti bergetar. Rasanya sesak dalam dadaku.Hening menguasai kamar Jaejoong hyung. “A….aku yakin dia seorang yeoja” getirku gugup.

Jaejoong hyung memelukku hingga aku merasa santai. Jaejoong hyung menyuruhku kembali ke kamarku. Aku selalu merepotkan Jaejoong hyung setiap mimpi ini datang. Dan setiap itu pula lah tubuhku bergetar dan dadaku terasa sesak. Aku kembali ke kamarku dan tidak bisa tidur. Sinar bulan memasuki kamar ku dengan hangat hingga terasa merasuki tubuhku. Aku menatap bulan dengan bibirku yang mengerucut sambil merasakan kehadiran roh bulan yang ber-renkarnasi dalam tubuhku.Aku menutup mataku perlahan dan merasakan suara Jae hyung yang berdengung di telingaku “Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?”

***

 “Antarkan aku sampai ke dalam kelas” kataku manja sambil mengerucutkan bibirku yang tipis nan mungil. Beginilah tiap harinya, Jaejoong hyung mengantarkan ku menuju kelas, yang sebenarnya Ia ingin menebar pesona pada para yeoja tetapi aku senang. Seperti biasanya, Jaejoong hyung hanya mengantarkanku sampai tepi lorong.

“Tidak mau.Aku juga ingin ke kelas ku” kata Jaejoong hyung mengerucutkan bibir merahnya yang menggoda—membalas tantanganku.

“Argh, sial!! Aku kalah lagi!! Kenapa bibir kerucut hyung bisa lebih seksi dariku!!” gerutuku kesal.

Jaejoong hyung tertawa dan pergi memunggungiku menuju kelasnya. Aku memandang punggungnya yang makin menjauh dengan bibir yang masih mengerucut. Terlihat dari punggungnya yang bidang, usahanya agar tidak terlihat cantik lebih keras dibanding diriku.

“Kyaaa…Sungmin-sshi!! Bolehkah kami memegang bibirmu?!” , “Kyaa…manis banget kalau kayak gitu” , “Sungmin oppa lebih manis kok dari Jaejoong oppa. Kyaa” teriak para yeoja beruntun mengelilingiku. Aku hanya tersenyum manis dan memperlakukan mereka dengan baik dan nyaman seperti biasanya. Inilah yang biasa ku lakukan demi mencari sosok matahariku yang selalu muncul dibenakku dan membuat hatiku tidak karuan.

Setelah melayani para yeoja itu, Aku berjalan menuju kelasku. Suatu hal yang menyenangkan melewati lorong sekolah dengan dimanjakan tarian sinar matahari dari jejeran jendela. Aku senyum-senyum sendiri merasakan sinar matahari merasuki tubuhku. Aku tidak sabar memperlihatkan tatoku pada teman-teman. Agar mereka mengakui aku macho sebagai namja.

Sesampainya di kelas, aku berkumpul dengan lingkaran para namja. Semua teman-teman namja di kelasku berkumpul untuk ngobrol berbagai hal. Kecuali satu orang, Si angkuh Kyuhyun. Dia selau diam dan berjalan angkuh dengan tatapan matanya yang tajam. Hanya dia, satu-satunya orang yang membenciku. Terlihat dari tatapan matanya yang seperti ingin membunuhku. Sejak saat itu, aku tidak ingin berdekatan dengan dia.

“Hebat kan?Sudah ku duga” kataku memperlihatkan pinggang ku.

“Uwoo!Daebak, Sungmin-sshi!” kata Donghae. “Aaa, Kyuhyun-sshi! Lihat tato Sungmi…”

Kyuhyun berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan kelas. Aku yang melihat hal itu merasakan sekali kebencian Kyuhyun padaku. Dia membenciku begitu saja.

“Waeyo?Apa sebegitu bencinya dia pada namja cantik?” terka Donghae enteng.

Aku menatap Kyuhyun yang pergi meninggalkan kelas sambil mengerucutkan bibirku yang mungil. Aku berdiri dari tempat dudukku dan mencari tahu kemana Kyuhyun pergi. Selama ini aku tidak pernah bertanya padanya mengapa dia begitu benci padaku. Aku pergi keluar kelas dan melangkah di sepanjang lorong. Aku tersenyum melihat sinar matahari—yang ku sukaimasuk melalui sela – sela jendela, seolah–olah sinarnya mengikuti kemanapun aku melangkah.

“Nah, gini dong!Ini Kyusun yang aku kenal!!”

“Kyusun?” terka ku sambil menghentikan langkah kakiku. Aku melihat Leeteuk hyung sedang tertawa bersama Kyuhyun. Tertawa?Apa ini? Si angkuh Kyuhyun itu ternyata bisa tertawa seperti itu juga. Aku merasakan sinar matahari makin memanas di kulitku yang lembut hingga membuat darahku mengalir deras dan sampai di hatiku yang mulai berdebar. Kenapa? Apa yang terjadi dengan hatiku? Apakah ini sebuah petunjuk bahwa Kyuhyun adalah matahariku? Tidak, tidak, tidak!! Lee Sungmin, kamu ini masih normal dan tidak mungkin matahari adalah seorang namja. Aku menggelengkan kepalaku—menepis semua asumsi yang ada di benakku.

“Kau kenapa, Sungmoon? Kok geleng – geleng kepala gitu?” tegur Leeteuk hyung yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku.

“Heeh?! Sungmoon?!” spontan ku. Aku terkejut saat melihat Leeteuk hyung dan Kyuhyun yang sudah ada di hadapanku. Aku menelan ludah dan menatap Leeteuk hyung—menunggu respon.

“Ahahaha kau seperti tidak kenal aku saja, Sungminnie! Aku kan suka asal menyebut nama orang. Hahaha tapi Sungmoon itu cocok untuk namja lembut sepertimu, seperti bulan (moon) yang lembut” jelas Leeteuk hyung yang membuatku tercengang. “Dan ini Kyusun.Hahaha ternyata aku memang pintar merangkai kata yah? Kyuhyun itu emang bener–bener kayak matahari (sun) deh. Ah, kalian berdua cocok yah! Moon and Sun. Hahaha”

“Jangan seenaknya bicara!” gertak Kyuhyun mengguncang–guncangkan tubuh Leeteuk hyung yang makin tertawa nyaring.

Mataku membulat mendengar ucapan Leeteuk hyung walaupun itu hanya sebuah gurauan. Aku terdiam menatap Kyuhyun yang masih memukul–mukul Leeteuk dengan segala canda tawa. Aku terlalu mengambil hati kata–kata Leeteuk hyung.“Bagaimana bila mataharimu itu seorang namja?” kata–kata Jae hyung menghantuiku. Aku pun menutup telinga, sinar matahari mulai terasa memanas di kulitku membuat tubuhku bergetar dan mulai mengerang kesakitan hingga membuat kedua namja sekitarku itu menatapku heran. Leeteuk hyung menepuk–nepuk punggungku cemas namun Kyuhyun hanya diam dan pergi meninggalkan kami berdua perlahan.

***

“Sudah ku bilang, jangan dekat – dekat dengan si Kyuhyun itu! Sudah tahu dia begitu membencimu! Kau tahu kan rumor Kyuhyun yang bisa mengutuk orang, huh?! Mungkin saja dia mengutukmu atau apalah tapi kau malah aissh …. Kau yakin ingin istirahat disini?! Kau benar tidak apa–apa?!” ujar Jae hyung beruntun memegangi kedua bahuku.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis pada kakakku yang begitu mencemaskanku. Leeteuk hyung mengajak Jaejoong hyung untuk berbicara secara pribadi. Ia tahu Jae hyung begitu membenci Kyuhyun, berbeda dengan dirinya yang dekat dengan Kyuhyun. Aku menyenderkan punggungku pada pohon—tempatku duduk.“Sungmoon?Kyusun?” gumamku lemah. Ada apa denganku? Otak dan hatiku tidak sejalan. Hatiku berdegup seolah – olah memberitahukan aku bahwa Kyuhyun adalah matahari namun otakku begitu menekan kepalaku—menyadarkan aku bahwa aku adalah namja normal. Tidak mungkin aku menyukai seorang namja.

***

~Bintang yang bertaburan di sekeliling bulan layaknya prajurit yang senantiasa menjaga bulan. Demi menjaga bulan, bintang menyerap sinar matahari sehingga bintang bersinar lebih terang.Hanya bintang yang tahu, dimana letak matahari dan seberapa jauh matahari dari bulan. Bintang tidak ingin bulan sepertinya, bintang tidak ingin bulan seterang bintang seperti saat ini~

***

“Sudah ku bilang, jauhi dia!! Aku tidak ingin Minnie-ku menjadi sepertiku! Menjalani cinta sesama jenis itu tidak mudah. Itu cinta terlarang, kau tahu itu!!” gertak seorang namja sambil memijat – mijat dahinya.

“Aku sudah berusaha mengikuti apa yang kau bilang.Sungmin itu berbeda denganmu! Kau menjalani cinta sesama jenis karena dirimu sendiri. Sementara aku dan Sungminhanya menerima takdir kami sebagai…”

“Cukup!! Tidak ada roh, tidak ada renkarnasi! Yang ada sekarang hanyalah kesadaranmu bahwa kau adalah seorang namja dan sebagai namja normal, kau harusnya mencintai seorang yeoja!!” gertak Jaejoong tidak dapat menahan dirinya lagi.“Terserah kau. Aku sudah memperingatimu! Aku akan mengubah Minnie-ku menjadi namja sejati agar dia tidak sepertiku. Aku akan menjaganya agar jauh darimu”

***

“Jae hyung?Eng…” gumamku membuka mataku. Aku menatap matahari yang menyapaku dari sela–sela dedaunan yang memayungiku. Aku terbangun dari mimpi–mimpi anehku lagi namun kali ini makin jelas dan aku tidak ingin mempercayainya lagi. Aku melihat sekitarku, sepertinya Jaejoong hyung telah kembali ke kelasnya hingga hanya ada aku sendiri disini. Aku mulai menyipitkan mataku melihat punggung bidang seorang namja yang tampak bercahaya. Hari itu memang terik sehingga aku tidak dapat memastikan punggung siapa itu. Dari arahnya berjalan, Ia memasuki ruang astronomi. “Kyusun?” terka ku yang akhirnya diam–diam mengikuti Kyuhyun. Aku memasuki ruang astronomi dan mendapati Kyuhyun yang sedang tersenyum menatap teropong bintangnya.

“Ternyata kau disitu, bulan” kata Kyuhyun sambil melancarkan senyuman mautnya.

Aku tertegun. Pipiku mulai memerah dan dadaku berdebar. Apakah roh bulan yang berada dalam tubuhku sedang tersipu malu? Atau aku yang sebenarnya malu? Kakiku bergetar dan tak bisa berkata-kata. Kyuhyun yang sadar ada yang memperhatikannya kini menoleh ke arahku dan terkejut.

“K..Kyu…Kyusun? A…apakah benar kau adalah mataha….”

Kyuhyun memelukku dalam satu gerakan cepat. Ia tidak membiarkan aku berbicara. Ia semakin merengkuhkan pelukannya padaku hingga erat. Mengapa tubuhku tidak menolak? Jantungku berpacu cepat, mengalirkan darah ke seluruh tubuh hingga tubuhku memanas dan dadaku terasa sesak. Otakku menekan kepalaku hingga terasa sakit dan mengucurkan bulir–bulir keringat dingin yang keluar dari dahiku. Aku merasa dingin dan panas secara bersamaan hingga membuatku ingin muntah. Aku namja tapi namja ini adalah matahari, lalu aku harus bagaimana?

“Maafkan aku. Aku sudah tidak tahan lagi.Aku sudah melanggar janji Jaejoong hyung” gumam Kyuhyun di telingaku. “Chagiya, aku tidak suka kau menato tubuhmu”

“Ah…apa? Cha…Chagi?” getirku dengan tubuh yang semakin bergetar.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dariku, memegang erat pundakku sambil menatapku tajam namun lembut. Aku memandangnya dengan wajah tak mengerti kemudian membuang mukaku dari tatapannya, tidak sanggup menatap mata tajamnya itu.

“Tanpa ku jelaskan, kau pasti sudah tahu kan aku ini siapa dan ada hubungan apa aku denganmu?” tanya Kyuhyun lembut membuat mataku melebar dan menelan ludahku. “Sudah lama aku ingin memelukmu. Aku merindukanmu. Saranghaeyo, bulanku.Bolehkah aku menciummu?”

***

~“Tuhan, pertemukan aku sekali saja padanya. Aku ingin memberikannya cinta juga”

Bulan menyadari sinar matahari yang terpancar padanya semakin terang.Bulan merasakan kehadiran matahari yang kian dekat. Bulan percaya saat itu, dia akan bertemu dengan sosok dambaannya, sang matahari. Semakin lama, semakin panas sinar matahari yang terpantul pada bulan.Tanpa sepengetahuan bintang dan atas izin tuhan, bulan dan matahari bertemu. Bulan dan matahari pun menyatu bagaikan sepasang kekasih yang saling memeluk~

***

“Mwo?!Ash….mataku sakit” kata Yunho setelah melihat langit.

“Wae, Wae? Ada apa dengan matamu?” tanya Jaejoong panik. “Apa seseorang melukaimu?”

“Ambil ini, lihatlah ke langit. Tapi jangan lama – lama melihatnya” Yunho memberikan kacamata hitamnya pada Jaejoong—kekasih terlarangnya sambil mengucek matanya yang perih.

“Tidak mungkin!Gerhana matahari. Ash…Minnie” kata Jaejoong yang segera melepas kacamata hitamnya dan berlari menuju ruang astronomi. “Aku gagal! Aku gagal!”

Jaejoong membuka pintu ruang astronomi secara kasar. Ia terkejut mendapati ku yang sedang menangis dalam pelukan Kyuhyun. Aku melihat kehadiran Jaejoong hyung yang sedang memandangku tercengang. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari ku dan membiarkan ku untuk menghampiri kakakku. Kyuhyun membungkukan diri—tanda hormatnya sekaligus meminta maaf pada Jaejoong hyung.Aku memukul Jaejoong hyung hingga terjatuh kemudian memeluknya erat.

“Jadi selama ini kau sudah tahu semuanya?Mengapa kau merahasiakannya?” gumam ku di telinga Jaejoong hyung. Aku kesal sekaligus sedih memikirkan penderitaannya. Jae hyung menjauhkan ku dari Kyuhyun, membentuk ku menjadi namja sejati agar aku tidak sepertinya.Hanya karena diriku, Jae hyung dapat berbuat sejauh itu. Jae hyung terlalu menyayangiku. Di sela–sela telingaku, aku mendengar suara Jae hyung yang menggumamkan kata maaf terus menerus.Aku dapat merasakan kerapuhannya dari tubuh besar yang ku peluk saat ini.

***

~Do’a bulan terkabul, bulan bertemu dengan matahari setiap gerhana matahari. Bintang selalu membawa cerita untuk bulan agar melupakan peristiwa gerhana matahari sehingga peristiwa gerhana matahari selalu terjadi dalam jangka waktu yang lama.Olehkarenanya di antara bulan dan matahari, ada bintang yang tahu segalanya. Ada bintang yang selalu menemani dan menjaga bulan~

***

“Aku dan Kyuhyun telah memutuskan bahwa kami akan berpisah dan bertemu lagi di renkarnasi berikutnya. Kami berharap saat itu, kami terlahir kembali dengan jenis kelamin yang berbeda hingga cinta ini tidak terlarang lagi. Hingga saat itu tiba, aku harap Jae hyung tetap menjadi bintang yang selalu menjagaku” jelas ku panjang lebar. Ini memang keputusan berat namun aku dan Kyuhyun menghargai usaha Jaejoong hyung selama ini.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi demi aku. Selama ini aku selalu mengatur hidupmu, sekarang aku memberikan kebebasan untukmu dan mungkin a…a… akuakan merelakan hubunganmu dengan Kyuhyun” ujar Jae hyung melepaskan diri dari pelukanku perlahan kemudian merangkul dan mengusap bahuku.

Kyuhyun menghampiriku yang terduduk di lantai bersama Jaejoong hyung. Ia mengusap pipiku hingga sampai di bibirku dan mulai melancarkan senyum evilnya, “Bagaimana ini, Sungmoon? Aku ingin normal tapi roh matahari yang ada dalam diriku ingin memilikimu seutuhnya dalam konteks yang berbeda. Kau mengerti? Hehe”

Aku dan Jaejoong sama–sama terkejut. Jaejoong melototi Kyuhyun sementara aku tersenyum pasrah menatap matahariku yang suka menggoda itu.

SELESAI

Ps: Fanfiction ini pernah diikutkan ke dalam lomba FF, dipublish di maorurin.wordpress.com dan di notes facebook saya. Fanfiction ini murni MILIK SAYA. NO COPYCAT