Reuni Sania

Suara tawa memenuhi ruangan pesta sederhana temu kangen kawan lama. Mata mereka tertuju pada satu layar besar yang mempertontonkan dokumentasi kenangan masa sekolah mereka. Mereka begitu menikmatinya, dan membahasnya hingga muncul sebuah foto yang membuat mereka semua hening.

***

“SANIAAAAA!!!” teriak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain bekel.

Sania berlari kegirangan setelah mengacaukan permainan bekel mereka. Siapa yang tidak tahu Sania, anak super bandel yang tidak pernah ada yang berani melawannya karena dia anak guru. Mudah bagi Sania untuk memutarbalikan fakta, mengadu pada ibunya. Dan selayaknya guru, dia akan member hukuman pada siapa yang telah menyakiti murid lainnya, terlebih murid tersebut adalah anaknya sendiri.

Semua murid berharap akan tiba dimana ada hari pembalasan untuk Sania. Hingga hari itu tiba. Hari dimana Sania membuat Rayya menangis. Rayya, si tuan putri sekolah, cantik, pintar, dan baik hati. Semua orang menyayangi Rayya, berbanding terbalik dengan Sania.

“Mulai hari ini, kita semua, satu angkatan cuekin Sania! Nggak ada yang boleh ngobrol sama dia. Kalau ada yang ngobrol, kita semua memusuhi dia juga, setuju?!” kata ketua kelas di depan kelas yang direspon positif oleh satu kelas. Tentu saja pertemuan itu tanpa Sania, dia telah pulang duluan dengan Ibunya.

“Tapi aku kan sebangku dengan Sania” sahut Tia merasa tidak enak hati. Tentu semua mata tertuju padanya hari itu.

“Hmm yaa pokoknya seperlunya saja, Tia. Yang lain bantu Tia, biar nggak banyak terjadi obrolan antara Tia dan Sania, oke?! Biar Sania tahu rasa!” ketua kelas mengakhiri kata-katanya dan pergi bermain sepak bola bersama murid laki-laki lainnya. Entah bagaimana semua murid laki-laki itu bisa kehabisan tingkat kesabarannya jika semua berhubungan dengan Rayya, si tuan putri sekolah.

Sejak saat itu, Tia hanya memberi respon seadanya pada percakapan Sania. Respon iya, tidak, diam mengangguk dan lain sebagainya. Ketika Sania mulai bercerita tentang apa yang telah dia lakukan, semua orang menarik Tia ke suatu tempat mengajaknya bermain tanpa Sania tentunya.

Sania mengambil bola yang dimainkan anak laki-laki di lapangan dan mulai berlari. Tidak ada lagi yang mengejarnya untuk mendapatkan bola. Sania melempar bola itu ke lapangan merasa bosan dan bersemangat untuk mengacaukan permainan bekel sekumpulan anak perempuan di salah satu lorong kelas. Permainan kacau, tetapi yang tersisa hanya Sania di sana. Semua perempuan telah pergi ke tempat lain, menganggap Sania telah tiada. Entah bagaimana kejadian itu terjadi sangat lama hingga menjadi sebuah kebiasaan, sampai kelulusan tiba.

Kabar angin sampai ke telinga masing-masing murid bahwa Sania dimasukkan ke sebuah padepokan oleh Ibunya agar menjadi anak yang baik dan tidak bandel lagi seperti dulu. Semua hanya tertawa dan menjalani kehidupan sekolah yang baru, tentunya dengan teman-teman baru.

***

New chat room

Tia: Reuni yang diadain sekolah? Pasti boring, mending jalan aje yuk kemana gitu. Kan reuni juga, yang ikut bisa hubungin gue sekarang. Mari kabur dari reuni.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ayo dah.

Vera: Eh, parah lo semua. Nanti sepi loh. Gue kesana deh.

Wandi: Katanya ada Sania loh. Kan emaknya yang bikin reunian ini kan.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ver, lo wakilin kita yak. Palingan itu reuni 20 orang nggak nyampe.

***

Lima hari setelah acara reuni, Vera berlari tergopoh-gopoh ke rumah Tia dan memaksanya ke rumah Sania. Kabar angin berhembus dengan cepat, Vera mengabarkan bahwa semua orang harus ke rumah Sania hari itu juga dan dia akan memberitahukan alasannya jika semua sudah berkumpul di sana. Semua orang tanpa terkecuali harus datang kesana hari ini, terutama Tia yang wajib datang.

“Gila apa? Kenapa gue yang diwajibin sih? Oke gue tahu, gue salah, gue yang bikin semua orang pada nggak dateng ke reuni. Tapi bu Siska uda nggak ada hak buat ngehukum gue atau apa. Kita bukan murid dia lagi” panjang lebar Tia menolak ajakan Vera.

“Kali ini aja. Lo bakalan nyesel kalo nggak ke rumah Sania hari ini. Gue jamin, nggak akan ada apa-apaan yang penting lo dateng. Gue habis dari sana dan keburu janji sama bu Siska buat bawa lo kesana” panjang lebar Vera dengan wajah memohon.

Tia menyetujui permintaan Vera dan pergi bersama ke rumah Sania. Berjarak dua rumah dari rumah Sania, Tia sudah merasakan suasana yang aneh. Beberapa orang berdatangan ke sana. Vera masuk ke dalam rumah Sania lebih dulu, sementara Tia berhenti di ambang pintu dengan penuh keraguan.

“Tiaaaaaaa!!!” teriak bu Siska sambil menangis. Tia menghampiri bu Siska dengan cepat dan melihat Vera yang duduk tidak jauh darinya. “Makasih sudah kesini, Tia. Kenapa kemarin tidak datang ke reuni?”

“Saya ada urusan, bu” singkat Tia penuh kebingungan melihat bu Siska yang menangis penuh histeris.

“Sania, naaak. Sania kesana. Sania ingin ketemu kamu, karena katanya, nak Tia adalah satu-satunya teman Sania. Huhuh….Sania nggak punya teman di padepokan, naaak” ujar bu Siska yang air matanya mengalir semakin deras.

Tia ikut menangis dan memalingkan wajahnya ke sebuah ruang keluarga yang besar, terlihat disana tumpukan kain yang menutupi tubuh seseorang yang berbaring di sana. Tia dan Vera bertukar pandang dan pergi ke ruangan tersebut, memandangi tubuh yang ditutupi kain tanpa terkecuali.

“Itu Sania, naaak. Sania sakit dari kemarin. Tapi dia tetap bela-belain datang ke reuni untuk bertemu Tia dan teman-teman!!” seru bu Siska yang ditenangi oleh beberapa ibu yang berada di sekelilingnya.

“Eee gue ngerasa bersalah sama Sania. Kemarin di reunian, nggak ada yang sadar ada dia, gue juga. Kebiasaan sama…kelakuan kita setahun terakhir. Gue baru ngeh pas gue ke kamar mandi, gue kira dia…dia…setan” cerita Vera yang membuat Tia sedikit terkejut. “Soalnya dia pucat banget, putih gitu. Makanya gue kaget”

Vera memukul-mukul mulutnya, dia lupa kalau saat ini sedang dalam keadaan duka. Tia dan Vera hanya diam duduk di dekat sana. Tak ada satu pun dari mereka yang berani untuk membuka kain yang menutupi wajah Sania di sana. Setelah cukup lama, mereka pun pergi meninggalkan rumah Sania. Di perjalanan pulang, Tia memikirkan bagaimana bisa Sania menganggapnya sebagai satu-satunya teman baginya. Mungkin Tia adalah satu-satunya orang yang merespon Sania lebih banyak dibanding anak-anak yang lain, tetapi itu semua hanya karena dia adalah teman sebangku Sania. Hanya itu.

***

Semua orang terdiam memandangi foto Sania di sana. Beberapa orang memilih untuk menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya. Bukan hanya karena sikap mereka pada Sania yang terpantul disana, melainkan karena mengetahui bagaimana cara Sania meninggal.

 

Beberapa orang bilang, Sania belum meninggal karena hanya ibunya saja yang mengatakannya. Tidak ada pemeriksaan dokter atau apa pun di sana. Pemandian dan semuanya diurus oleh bu Siska seorang. Orang-orang hanya membantu pemakaman ketika mengetahui kabar Sania telah tiada. Tanpa sengaja, orang-orang mengubur Sania dalam keadaan hidup.

SELESAI

Author’s Note: #NulisRandom2015 hari ke 6. Hari ini ada reuni SD yang nggak bisa gue datangin karena gue sakit. Dan kalau bengong, nginget reuni itu inget “Sania”. Yup, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Tentunya dengan polesan sana-sini. Dalam cerita ini, gue adalah Tia. Saat ini gue cuma bisa mendoakan “sania” aja ketika gue mengingatnya. Missed satu hari nulis, kemarin gue bener-bener dalam keadaan kritis. Semoga besok sudah sehat ^^ terima kasih sudah membaca.

List #NulisRandom2015:

Day 1: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Day 2: Kacamata (fiksi)

Day 3: Hadiah Dari Kucing (non fiksi)

Day 4: Dalam Lift (fiksi)

Iklan

Dalam Lift

“ANJRIT! GUE BAKAL BUNUH LU HARI INI!” kesal seorang laki-laki yang sempat membanting smartphone-nya ke sudut lift.

Laki-laki tersebut mengacak-acak rambutnya gusar, kemudian menyenderkan punggungnya ke dinding lift. Penampilan laki-laki tersebut terlihat normal seperti anak muda pada umumnya. Dia mengenakan kaos hitam polos, celana jeans biru, dan sepatu sneakers berwarna merah. Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya mengerutkan alisnya memandang laki-laki muda tersebut. Penampilannya tentu berbeda jauh dari anak laki-laki tersebut. Pria tersebut menggunakan kemeja biru polos, celana bahan, sepatu pantofel hitam, jam tangan, dan kacamata minus.

“Memangnya siapa yang ingin kau bunuh itu, Dek?” kata pria tersebut dengan santai. Dia hanya mengadahkan kepalanya menghadap kumpulan lubang kecil yang berada di atas tombol-tombol angka lift. Dia berharap suara pertolongan keluar dari speaker tersebut.

Sudah hampir setengah jam dia terjebak di dalam lift bersama anak muda yang tidak dikenalnya. Yang dilakukannya hanya duduk tenang dan diam, sementara anak muda yang duduk di sudut kanan lift asyik memainkan game di smartphone-nya beberapa waktu yang lalu sebelum dia melempar smartphone nya ke sudut lift yang lain.

“Saya ingin membunuh Rudal” jawab anak muda memandang lurus ke pintu lift yang masih tertutup.

“Rudal? Hahaha…ah game yah” pria tersebut sedikit tertawa dan ikut memandangi pintu lift kemudian memandangi speaker lagi.

“Bukan, pak. Rudal itu nama teman saya. Rudi Handal namanya. Disingkat Rudal” anak muda tersebut memandang sepatu merahnya dan mulai menggerakkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri secara berlawanan.

Pria paru baya sedikit mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak. Dia sedikit terkejut dengan pernyataan anak muda itu. Tapi apa yang bisa dipercaya dari ucapan anak muda ini di situasi seperti ini, situasi dimana imajinasi pintu lift terbuka mulai menguasai otak.

“Hahaha namanya lucu yah. Rudi Handal. Diharapkan untuk menjadi anak yang dihandalkan yah?” enteng Pria paru baya tanpa memikirkan apa yang dia katakan. Yang dipikirannya saat ini adalah berapa lama dia masih bisa bertahan. Kepalanya mulai terasa pusing, mungkin dikarenakan oksigen yang berada di dalam lift itu semakin menipis.

“Kalau memang dia bisa dihandalkan, harusnya dia mengirimi pesan menanyakan keberadaan saya, pak. Bukannya malah mengirimi invite-an game” anak muda itu mulai mengambil smartphone-nya menggunakan kakinya.

“LOH?! HAPEMU ADA SINYAL?!! KENAPA NGGAK HUBUNGI ORANG BUAT MENOLONG KITA?!!” pria tersebut berteriak memandang kesal anak muda yang kini memandangnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Nggak ada sinyal, pak! Itu juga saya kaget sekalinya ada sinyal kenapa yang masuk malah chat dari Rudal yang isinya kampret! Makanya saya bilang saya ingin bunuh dia!” kata anak muda itu dengan nada penuh kejengkelan.

“Yayaya…bunuh saja dia. Bunuh Rudal itu. Siapa namanya, Rudi Handal itu”

Keheningan kembali meliputi kedua laki-laki tersebut. Terdengar suara pernapasan pria yang tidak teratur. Anak muda menolehkan wajahnya ke pria yang berada di samping kirinya. Terlihat keringat yang bercucuran di wajah pria itu.

TING

Pintu lift terbuka, sontak mereka berdua berdiri dengan penuh semangat dan keluar dari lift. Dua orang petugas langsung mendekati lift dan memeriksa keadaan lift dengan cepat. Seorang perempuan meminta maaf pada pria paru baya yang sedang mengelap keringatnya. Pria mengeluarkan semua keluhannya pada saat itu juga, sementara anak muda pergi meninggalkan kejadian. Tanpa ada kata, pertemuan kedua orang asing tersebut berakhir hari itu.

***

Tiga hari kemudian,

-HEADLINE-

Laki-laki berusia 18 tahun berinisial RH tewas dibunuh temannya. Motif pembunuhan diduga karena rasa kesal invite-an game.

SELESAI

Author’s Note: Hari ke empat #NulisRandom2015 diisi dengan fiksi tentunya. Besok akan kembali ke nonfiksi di blog yang satunya lagi –> langitayu.blogspot.com ohiya berikut list #NulisRandom2015 :
Hari pertama: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Hari Kedua: Kacamata (fiksi)

Hari Ketiga: Hadiah Dari Kucing (nonfiksi)

Kacamata

AKU BENCI KACAMATA.

dan keluargaku benci kalau aku mengatakannya dengan keras. Bagaimana tidak? Kacamata adalah benda yang telah menyekolahkanku dan membuat perutku selalu sejahtera. Dia seperti berhala di rumah yang telah menjadi toko kacamata ini. Ahya rumah kami kebetulan berada di tempat dimana sepanjang jalan isinya para pedagang.

“Ah, kalian lagi. Ayo masuk, kemarin baru saja frame kacamata terbaru datang” sapa ibuku ramah pada tiga remaja perempuan yang memasuki toko kami dengan penuh semangat.

Aku memperhatikan ketiga remaja perempuan itu dari kejauhan sambil memegang erat gagang sapu. Ketiganya terlihat sangat stylish dengan kacamatanya. Yang satu berambut panjang dan digerai, yang kedua rambutnya dikuncir kuda, dan yang ketiga rambutnya pendek. Wajah mereka tampak bingung memilah kacamata yang mereka inginkan, padahal tak perlu bingung seperti itu jika memang butuh. Tak bisa kupungkiri, belakangan ini kacamata ‘naik tahta’ menjadi aksesori fashion, bukan lagi hanya menjadi sekadar alat bantu melihat. Walau begitu, aku tetap benci kacamata.

“Uda selesai nyapunya? Ada pelanggan tuh ya senyum dong. Gimana sih?” kata pria yang baru saja melaluiku dan menghampiri ibuku. Ya kenalkan pria itu adalah….

“kyaa…kak fakhri….” respon salah satu perempuan pelanggan kami, si rambut panjang yang digerai. Sepintas wajahnya memerah saat melihat Fakhri, abangku yang merupakan anak pertama dan mungkin akan menuruni usaha kacamata keluarga kami. “Ha-hari…ini kacamata kak Fakhri cocok banget”

“ah masa? Aku kan nggak pernah ganti kacamata” kata Kak Fakhri dengan senyum ramahnya.

“eh iya yah? Hahaha salah deh kalo gitu” sahut si rambut panjang yang kemungkinan menyukai abangku itu. Mereka pun tertawa bersama.

Ibuku pergi meninggalkan ketiga pelanggan kami itu pada Kak Fakhri dan masuk ke dalam rumah. Dia sepintas melihat jam dan tersenyum senang. Ibuku berhenti di hadapanku dan memegang kedua bahuku, “Yu, kamu bisa nyapu tanpa kacamata gitu? Nanti nggak bersih loh”

Aku hanya menghela nafasku, menghentikan aktivitas menyapuku, dan mengambil kacamataku yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ini ironi, aku membenci kacamata tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini sama seperti orang yang sakit, mereka membenci obat tapi membutuhkannya, seperti sebuah ketergantungan dan aku benci itu. Aku mengelap kacamataku perlahan sambil mendengar sayup-sayup suara pelanggan lain yang datang.

***

Namaku Fakhri, anak pertama dari empat bersaudara. Kalian sudah melihat Ayu, adik perempuanku yang sedang menyapu di sana, wajahnya selalu tak bisa ramah ketika pelanggan kami datang. Dua adikku yang lain sedang bersekolah dan aku berharap mereka cepat pulang untuk membantuku mengatasi ketiga pelanggan muda kami yang terlalu lama memilih dan berujung pada tidak membeli. Itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Bagaimana pun orang yang telah sampai di toko kami haruslah menukarkan uangnya dengan kacamata kami.

Seorang bapak dengan anaknya berhenti sejenak di depan toko kami, tapi mereka berdiri agak jauh dari toko kami. Dari raut wajahnya terlihat sekali dia sedang berpikir. Terlihat tangan kanan Bapak itu menggandeng anak laki-lakinya yang sedang memeluk kotak mainan robot baru dan tangan kirinya memegang plastik belanjaan yang entah apa isinya. Penampilannya sederhana, tapi aku tahu, dia akan menjadi pelanggan yang akan melayangkan uang ke toko kami.

“Boleh dilihat dulu saja, Pak. Atau mungkin mau dicoba juga nggak apa. Bapak perlu kacamata yang seperti apa?” kataku melengkungkan senyuman ramahku.

Bapak itu mendekat ke meja etalase kacamata kami. Dia melihat-lihat tanpa banyak bicara. Salah satu perempuan pelanggan muda yang tadi menyapaku mulai berbicara lagi dan menanyakan apakah kacamata yang dipakainya sesuai dengan dirinya atau tidak.

“Iya cocok kok. Itu juga bagus” kataku sambil membalas senyuman singkat. Aku kembali memperhatikan bapak yang dari tadi masih melihat kacamata dalam diam. Aku tidak boleh kehilangan fokus pada bapak yang berpotensi membeli kacamata ini. Aku mulai tidak sabar dan mengambil sembarang kacamata.

“Bagaimana dengan yang ini, pak? Bapak butuh kacamata untuk siapa?” tanyaku dengan ramah. Bapak itu akhirnya menoleh ke arahku dan mulai melihat kacamata yang kugenggam.

“Kak Fakhri, aku cocok dengan kacamata yang ini, nggak?” kata salah satu perempuan yang dari tadi berusaha mengambil alih perhatianku.

“Yang ini ada warna biru nggak? Kalo nggak ada, aku nggak jadi beli deh” kata teman perempuannya yang berambut pendek.

Aku tidak bisa fokus kalau begini caranya. Aku menoleh ke belakang, melihat Ayu yang sedang memasukkan sampah dari pengkinya ke tong sampah. Aku memberinya kode untuk membantuku, mengatasi perempuan-perempuan ini selagi aku fokus pada si bapak yang berpotensi beli ini. Ayu hanya melewatiku, membawa sampahnya keluar toko. Benar-benar adik yang menyebalkan.

“AH! GALEH! LIDYA!!” teriakku gembira melihat kedua adik kembarku yang telah pulang. Bantuan itu selalu datang pada orang yang membutuhkan, ya aku percaya itu.

“kyaaa si kembar pulang yah!!” seru pelanggan perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Dia yang dari tadi diam, kini melihat si kembar dengan penuh semangat. Sepertinya dia menyukai anak-anak.

“Kakak yang kemarin yah?! Beli kacamata lagi kan?” kata Lidya dengan senyum lebar.

Bagus Lidya, kau memang adikku, kau pintar sekali.

“Ah, kakak nggak tau mau beli apa nggak. Masih liat-liat nih hehehe” jawab si rambut panjang digerai.

Seperti yang kuduga, memang dia tidak ingin membelinya. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Aku tampan dan aku tahu itu.

“Nggak apa-apa, kak! Galeh tahu! Kakak-kakak cantik semua ini kesini untuk menemui Galeh yang ganteng ini kan?” kata Galeh bertolak pinggang. Kemudian si rambut kuncir kuda menghampiri Galeh dan mencubit pipinya gemas.

“Dasar si Galeh ini. Bisa-bisanya berkata seperti itu” gumamku gregetan.

“Bukannya itu mirip sepertimu, kak” sahut Ayu pergi melewatiku begitu saja.

***

Tik….Tok….

Sebentar lagi menunjukkan jam 3 Sore, tetapi belum satu pun pelanggan yang membeli kacamata kami. Aku membaca buku catatan keuangan kami dan mengadahkan kepalaku ke atas, melihat kak Fakhri yang masih membujuk bapak pelanggan kami. Dari dalam kaca etalase, aku dapat melihat Galeh, kakak kembarku masih bermain dengan kakak-kakak itu. Harusnya dia letakkan tas sekolahnya dulu ke dalam, baru lanjut menemani pelanggan.

Aku melihat Kak Ayu sedang menggonta-ganti channel televisi dengan bosan. Ya, selama ada kami, mana mungkin dia turun tangan. Permasalahannya sebentar lagi toko kami akan tutup dan pelanggan belum ada satu pun yang membeli kacamata kami. Aku memandang wajah pelanggan perempuan kami yang berambut pendek, wajahnya tampak bosan. Berbeda dengan dua yang lainnya. Aku tidak boleh kalah dari Kak Fakhri atau pun Galeh. Aku juga harus bisa mengajak pelanggan ini berbicara.

“Kakak…kakak bosan yah?” kataku yang kini telah berada di hadapannya.

“Iya. Habisnya dua temanku itu nggak selesai-selesai milih dari tadi” katanya.

“Hngg memangnya kakak nggak berniat membeli kacamata?” kataku begitu pelan dan hati-hati. Tapi aku harus tetap memperlihatkan wajah polosku.

“Hemm nggak tahu yah. Tadinya aku suka kacamata yang itu. Tapi nggak ada warna biru. Aku suka warna biru soalnya”

Yang benar saja. Kakak ini cuma cari alasan agar tidak membelinya. Kacamata formal seperti itu mana mungkin ada yang berwarna biru. Ah, mungkin saja ada suatu saat nanti. Aku menengok jam dinding toko telah menunjukkan angka tiga. Mataku dan mata Kak Ayu saling melirik. Seketika Kak Ayu berjalan menghampiri Kak Fakhri. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan. Toko kami akan tutup sebentar lagi dan hari ini haruslah ada pelanggan. Aku harus mencari cara.

TRING….

“Wah gantungan tas midorima! Lucu banget!”

“KAMU TAHU MIDORIMA?!!” teriak histeris kakak berambut pendek.

GOTCHA!

“Tahu doooong. Kuroko no basket kaaaan?? Ih kakak ini. Aku juga suka anime tauuu” pancingku.

“Ya ampuuun aku nggak nyangka malah nemuin fangirl di sini. Aku kemarin pengen banget nge-cosu midorma. Crossdressing gitu deh hahahaha, tapi aku masih nabung buat beli wignya. Wignya hijau sih” celoteh panjang kakak pelanggan berambut pendek.

“Kakak suka warna biru yah? Pasti punya wig biru kan?” tanyaku yang dibalasnya dengan anggukan semangat. “Kalau begitu, beli kacamata merah ini aja. Kakak bisa nge-cross jadi Rei loh. Kakak nonton free, nggak?”

Wajahnya terkejut memandangiku dan kacamata merah yang sedang kupegang.

***

Aku melihat Lidya di sana dengan kakak berambut pendek yang telah jatuh ke dalam perangkapnya. Kak Ayu yang mulai membantu Kak Fakhri, kemudian pergerakan cepat Lidya, dan angin sore yang menerpa rambutku, adalah tanda bahwa toko kami sebentar lagi tutup. Tidak ada waktu lagi, aku juga harus cepat beraksi.

“Aku beli kacamata merahnya!” kata kakak berambut pendek itu.

Lidya memberikan senyuman jenakanya padaku dari jauh. Dia berhasil. Dia duluan yang membuat pelanggan kami mengeluarkan uang. Kak Fakhri menyiapkan bon dan kacamata yang dibeli oleh kakak berambut pendek itu. Sementara Kak Ayu mulai berbicara dengan si Bapak yang dari tadi kebingungan memilih tapi belum mencoba kacamatanya sama sekali.

“Galeh lucu banget sih. Gimana rasanya jadi kakak kembar?” kata kakak rambut kuncir kuda.

“Rasanya….hemmm apa yah. Kami sebagai anak kembar selalu bersaing. Dan aku selalu saja kalah” kataku mulai membentuk wajah sedih.

“Loh kenapa? Kamu kan kakak. Lahir duluan sudah merupakan kemenangan, bukan?”

“Ah itu kan cuma lahir saja. Selama ini Lidya selalu terdepan. Itu lihat aja barusan, dia bisa bikin temen kakak beli kacamata. Sementara aku nggak bisa. Di rumah, cuma aku yang nggak berguna” kataku melihat raut wajah tak tega kakak rambut kuncir kuda. “Tuh liat, Kak Fakhri senyum-senyum sambil elus-elus Lidya. Memang Lidya yang paling bisa diandalkan”

Kakak perempuan kuncir kuda itu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompetnya. Aku berhasil.

***

Fakhri melihat jam dinding yang menunjukkan jam 4 Sore. Dia sudah tidak sabar menghadapi bapak yang berpotensi beli itu. Dia menyerahkannya pada Ayu. Fakhri menerima uang dari dua pelanggan perempuannya. Hanya tinggal satu perempuan yang belum membeli kacamatanya, si rambut panjang yang digerai, yang daritadi mencuri perhatiannya. Fakhri melihat si kembar yang masih asik berbicara dengan pelanggannya masing-masing. Dia pun mulai menatap serius pelanggan perempuan berambut panjang digerai.

“Apakah ini cocok untukku?” kata perempuan itu yang telah mencoba banyak kacamata.

“Apapun yang kamu pakai itu cocok dan cantik. Sekarang saatnya tetapkan pilihan yah” kata Fakhri menggenggam tangan perempuan itu dengan tatapan mata yang tajam nan serius.

“a–aku beli yang ini” katanya.

Ketiga remaja perempuan itu pulang dengan membawa kacamata dari toko kami. Si kembar sedang bermain dengan anak si Bapak yang tak kunjung menetapkan pilihannya. Fakhri masih menghitung uang dengan senang, sementara Ayu masih menatap bapak dengan rasa yang ditahannya. Tunggu sampai….

“Coba saja yang ini pak! Yang ini tidak bikin bapak terlihat tua dan harganya murah harganya! MURAH PAK MURAH! SAYA CUMA AMBIL UNTUNG SEDIKIT, BAPAK TEGA SEKALI MINTA MURAH LEBIH DARI INI” teriak Ayu sambil menghentakkan tangannya di meja sontak membuat beberapa pejalan kaki terdiam dan melihat ke arah toko kacamata kami.

Bapak tersebut melihat ke sekeliling dimana semua orang memandangnya termasuk si pemilik toko yang berada di depan toko kami dan pelanggannya. Suasana hening seketika.

“Papa emang pelit. Buruan beli biar kita cepet pulang, pa”

Bapak itu tertawa ringan sambil mengeluarkan uangnya perlahan dan mengambil kacamata itu dengan perasaan tidak enak. Fakhri tersenyum memberikan bungkusan kacamata pada bapak itu, “Terima kasih telah membeli kacamata kami dan jangan kapok datang kesini lagi”

Bapak itu mengambil bungkusannya dengan cepat dan bergumam pelan, “Senyuman laki-laki tadi itu mengerikan”.

Fakhri, Ayu, dan Si kembar menutup toko bersama. Setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Aku tahu itu. Aku bisa mendengar suaranya.

“AKU DAPAT SATU PELANGGAN!” teriak si kembar bersamaan.

“Akhirnya berakhir juga hari ini. Sesuai perjanjian~~” kata Ayu.

“Nah jadi?” sahut Fakhri.

“Ya, ya, ya. Liburan jaga toko selama sebulan buat Ayu, game untuk Galeh, komik untuk Lidya, dan uang jajan tambahan sebesar 50% untuk Fakhri” jelasku panjang lebar.

Raut wajah mereka berempat begitu gembira dan mereka berlari ke ruangan yang lain meninggalkanku. Ya, tak apa. Setidaknya hari ini aku bisa tidur siang, merawat kecantikanku agar awet muda, dan toko kacamata tetap berjalan dengan adanya pembeli tiap harinya.

SELESAI

Author’s note: hari kedua dalam rangka #NulisRandom2015 hohohoho. Hari ini aku minta kata benda sama si Galeh buat bikin cerita ini, dan kata yang dia kasih adalah “kacamata”. Alur dan sudut pandangnya ngasal aja, nggak mikir lama yang penting ngetik aja. Endingnya juga rada nggak jelas gitu yah? Yaudalahyah. Bahkan sebenernya ini cerita apaan sih? Hahaha demi menyembuhkan diri dari writer’s block. Special thanks buat KeCe yang nama-namanya aku pakai di sini hahahaha. Ohya untuk #NulisRandom2015 hari pertamanya ada di sini yah

[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI

Mencari Lailatul Qadar

Aku tak mau menunggu lagi. Pokoknya Ramadhan tahun ini, aku akan beribadah bersungguh-sungguh dan mendapatkan lailatul qadar. Aku menyesal tahun lalu melewatkannya dengan berbaring di rumah sakit. Pokoknya sekarang, jaga stamina dan aku benar-benar siap untuk menyambut ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadhan!!!!!!!!!!

“Is! Iswari turun! Kamu nggak makan sahur?”, teriak seorang wanita.

“Sebentar lagi!!”, sahut anak yang di panggil Iswari itu.

“Kamu sedang apa sih? Nanti keburu imsak!”, teriak wanita itu lagi.

Lalu terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Dia turun dengan membawa sebuah teropong. “Iswari sedang menyiapkan teropong untuk lailatul qadar nantinya, ma!” katanya mengelus – ngelus teropongnya.

“ya ampun, Is! Masih lama, kan? Kita aja baru seminggu menjalani puasa” kata ibu Iswari.

“iya. Yang penting Is’ sudah memperhitungkan saat 10 malam terakhir itu, Is’ nggak datang bulan! Pasti Iswari akan mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu!” kata Iswari dengan penuh semangat.

“yakin banget, sih?” kata seorang lelaki yang sedang mengambil nasi.

“ih, kak Amin mematahkan semangat ku aja! Pokoknya kita harus yakin dan bersungguh – sungguh untuk mendapatkannya!” kata Iswari yang mulai mengambil piring dan menaruh teropong pelan – pelan.

“jangan begitu, min! Adik mu itu sedang optimis. Lagipula apa hubungannya teropong dengan malam lailatul qadar, Is?” tanya seorang lelaki dengan kacamata dan bawaan bijaksana.

“teropong ini akan Is’ gunakan untuk mencari malam lailatul qadar” jawab Iswari dengan sangat riang.

“Iswari, malam lailatul qadar itu tak bisa di cari dengan teropong! Malam lailatul qadar hanya bisa kita sambut dan untuk mendapatkannya dengan berikhtikaf serta beribadah” jelas ayahnya Iswari.

“Iswari tahu! Yang penting Iswari ingin melakukan hal yang sudah Is’ jadwalkan!” kata Iswari.

“mungkin hal ini akan mengecewakanmu, Is! Minggu – minggu menjelang 10 malam terakhir ada mid test! Kau ingat? Jangan – jangan kau lupa?” tanya Amin

“hah? Oh iya! Kenapa Is’ bisa lupa, ya? Mungkin karena terlalu senang menyambut ramadhan” keluh Iswari.

Setelah menyantap sahur, Iswari pergi ke kamar dan menyambar beberapa buku. Iswari benar – benar kecewa. “kenapa? Kenapa harus ada mid test di tengah – tengah bulan ramadhan? Bagaimana dengan malam lailatul qadar ku? Padahal aku sudah menyusun rencana untuk mendapatkan malam yang di perebutkan oleh orang banyak!”. Iswari menangis terisak – isak. Menahan suara desahan tangisannya agar tak di dengar oleh orang lain bahwa dia sedang menangis.

Terdengar derap langkah kecil sesorang menaiki tangga, tapi Iswari tidak mendengarnya. Derap langkah itu berhenti di depan pintu kamar Iswari dan hendak membuka pintu kamar Iswari. Tapi tangan itu tidak sampai membuka pintu kamar Iswari. Lalu derap langkah kaki kecil itu pergi menuruni tangga.

Menjelang pertengahan ramadhan, Iswari mati – matian mengejar ketinggalan waktu. Dia berusaha membagi waktunya untuk mendapat malam lailatul qadar dan mendapat nilai bagus untuk mid testnya. Amin hanya memperhatikan Iswari, adiknya itu dari jauh. Dia khawatir Iswari akan sakit. Daya tahan tubuh Iswari sangat lemah, tapi baru kali ini Amin melihat adiknya memiliki 2 stamina. Kedua stamina itu untuk malam lailatul qadar dan untuk mid testnya. Ternyata perkiraan Amin salah, yang mengira Iswari akan jatuh sakit dalam beberapa hari menjelang hari mid test dan malam – malam ganjil untuk berikhtikaf. Mungkin ini di karenakan  tekad Iswari yang bulat.

“sudahlah Iswari! Kau tak boleh memaksakan diri untuk berikhtikaf semalaman. Kau terlihat lelah” sahut Amin menghampiri Iswari yang sedang memulai untuk mengaji.

“Iswari berpikir, dengan Is’ mendapatkan malam lailatul qadar, do’a Is’ untuk mendapat nilai bagus di mid test akan terkabulkan oleh Allah” lelah Iswari yang duduk di meja belajarnya dengan terkantuk – kantuk.

“Allah akan mengabul do’a sesorang bila orang itu juga berusaha”

“kakak, nggak lihat? Iswari sedang berusaha! Jangan ganggu! Aku ingin mengaji” Iswari berjuang membuka mata.

“dasar keras kepala! Maksud ku, bila kamu ingin mendapatkan nilai bagus dalam mid test, kamu harus belajar! Kamu tak bisa melakukan kedua hal yang kamu inginkan! Kamu harus memilih salah satu dari keduanya!”

“Iswari nggak bisa memilih antara malam lailatul qadar dan nilai mid test! Ada peribahasa menyelam sambil minum air, dan Is’ akan melakukan seperti peribahasa itu” keluh Iswari.

“sekarang namanya bukan menyelam sambil minum air, tapi kau tenggelam! Tenggelam dalam 2 tekad mu itu!” kata Amin yang pergi meninggalkan iswari.

“pergi sana! Lagipula Is’ sudah ada janji dengan ayah untuk berikhtikaf bersama” teriak Iswari.

Keesokan harinya, ada berita gempa di sumatra barat. Ayah harus pergi untuk mencari sanak keluarga yang bertempat tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan ku? Janji ayah untuk ikhtikaf besama? Kenapa ayah lebih mementingkan orang lain di banding Allah? Mid test semakin lama semakin menjepit ku yang ingin mengejar malam lailatul qadar. Para guru ku menghubungi mama dan memberitahukannya bahwa belakangan ini nilai ku turun drastis. Kata para guru, aku harus meningkatkan belajar ku sampai 2 kali lipat. Berarti itu tandanya aku tak mempunyai kesempatan untuk mencari malam lailatul qadar ku!

Semakin lama mata ku semakin membengkak. Mama menyuruh ku belajar 2 kali lipat dan tidak boleh bergadang untuk berikhtikaf. Tapi aku tak bisa tidur dengan perasaan bahwa orang lain akan mendapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Jadi, aku membangkang perintah mama. Inilah pertama kalinya aku membangkang perintahnya. Mata ku bengkak, merah dan terdapat lingkaran hitam di sekelilingnya. Mirip seperti mata gaara, tokoh kartun dalam kartun naruto kesukaan ku.

Ngomong – ngomong soal naruto, aku di larang menontonnya. Kakak bukannya membantu, dia malah menasihati ku panjang lebar. Kepala ku pusing, aku tak sanggup menahan kantuk ini lagi…………….

“Is! Iswari! Kamu hebat!”

“anda siapa? Kenapa anda tidak terlihat? Banyak cahaya disini! Apa yang anda berikan pada saya?”

“ini lencana! Lencana itu menandakan bahwa kau mahkluk Allah yang taat. Kau mengorbankan  diri mu untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Jadi, lencana itu juga sebagai tanda kau telah mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan”

“benarkah? Tapi dimana anda? Siapa anda? Kenapa tak terlihat? Hey! Jawab aku! Tapi terima kasih! Akhirnya aku berhasil”

“berhasil apanya?”

“bu guru?”

“nilai mu merah semua! Apa ini yang di sebut murid teladan sekolah?. Ibu sangat kecewa! Bahkan teman mu yang paling bodoh saja masih lebih pintar daripada kamu!”

“nggak mungkin! Saya belum mengikuti mid test, bu!”

“kau mengigau! Makanya jangan bergadang! Kau tidur di kelas! Tidak mengerjakan mid test dengan baik!”

“nggak! Nggak mungkin!”

“anak macam apa kau! Tak menuruti apa kata mama! Memalukan! Nilai mid test itu akan menentukan kelulusan mu sebesar 30%. Mama benar – benar kecewa”

“mama?”

“walaupun hanya 30%, itu sangat berharga! Kenapa kau mengecewakan ayah mu?”

“ayah!!!!! Kakak! Kakak! Tolong aku! Bela aku! Lihat ini di dada ku! Lencana malam lailatul qadar!”

“aku tak melihat lencana apa pun di dada mu! Sudah ku bilang, kau akan tenggelam dalam tekad mu! Tenggelam! Tenggelam!”

“nggak mungkin! Tadi lencana itu berada disini! Dimana lencana itu?”

“kau benar – benar sudah tenggelam!”

“kakak!”

“yah tenggelam!”

“ayah, ibu!”

“benar – benar tenggelam”

“bu guru!”

Cahaya yang penuh itu menenggelamkan ku. Tiba – tiba saja semua gelap. Seolah – olah mata ku yang bengkak membutakan mata ku. Aku berusaha untuk melihat. Dan……….. mata ku terbuka dan semua itu hanya mimpi. Mimpi itu selalu datang beberapa malam. Aku takut, sangat takut. Mungkin kakak benar kalau aku harus memilih salah satu. Maafkan hamba-MU ini ya, Allah! Hamba  tak sanggup mengejar malam istimewa-MU. Tapi hamba berharap ENGKAU memberi kesempatan untuk mencari, mungkin bukan mencari tapi menjemput malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu.

Akhirnya aku angkat tangan. Dan belajar sungguh – sungguh. Lingkaran hitam di bawah mata ku masih terlihat walaupun mata ku sudah agak mendingan. Semua teman – teman yang melihat, selalu berkata bahwa aku belajar mati – matian sampai 100 kali lipat. Mereka salah besar! Aku capek. Aku capek dengan bulan ramadhan ini. Aku memopong nama ku, iswari ramdhani. Menopang kata ramadhani dalam nama ku, membuatku ingin selalu ada untuk bulan ramadhan. Tapi apakah ramadhan selalu ada untuk ku? Yang aku takutkan tahun depan aku sudah tiada dan aku tak punya kesempatan untuk menjemput malam istimewa, lailatul qadar.

Keputusan yang berat bagi ku. Sekarang hari terakhir ku menjalani mid test. Aku senang masih mempunyai satu hari malam ganjil untuk berikhtikaf tapi tiba – tiba saja perut ku sakit, menandakan hal yang tidak baik. Jangan – jangan stamina ku melemah. Ya Allah jangan turunkan stamina hamba – MU ini. Sesampai di rumah, do’a ku terkabulkan. Stamina ku masih stabil tapi yang bikin aku kesal. Sakit perut itu datang karena aku datang bulan. Semua terjadi dengan tak terduga dan tak sesuai dengan rencana ku.

Aku jadi benci semua orang termasuk Allah. Mereka semua tidak memberikan ku kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Malam hari, aku duduk di atas atap dengan mengeluakan semua air mata. Biarkan saja mata ini bengkak kembali.

“jangan begitu. Semua orang tidak bermaksud menghalangi mu untuk mencari malam lailatul qadar mu itu” sapa seseorang.

“tidak bermaksud? Aku takut kesempatan ku untuk mendapatkan malam lailatul qadar tahun depan tidak ada. Pokoknya aku benci semuanya! Bahkan aku benci pada Allah!” teriak tangis iswari. “berawal dari ayah yang tak menepati janji, bu guru yang menyuruh ku belajar dengan giat 2 kali lipat, ibu yang melarang ku untuk begadang, nasihat – nasihat kakak, mimpi buruk yang menghantuiku belakangan ini dan terakhir Allah yang tak memberikan ku kesempatan di detik – detik terakhir”

“ayah tidak menepati janjinya karena musibah yang menimpa saudara kita, guru mu menyuruh belajar dengan giat 2x lipat karena dia ingin kau berhasil menjalani mid test, ibu melarang mu begadang karena dia khawatir akan kesehatan mu, nasihat ku berikan karena aku peduli pada adikku, mimpi – mimpi mu itu menandakan pikiran dan hati mu capek untuk menjalankan 2 tekad secara bersamaan sampai mereka selalu memperingati mu tiap malam, dan bukan Allah yang mendatangkan datang bulan mu. Kamu datang bulan karena kamu kecapekan. Jangan pernah kamu membenci Allah karena suatu rencana yang tak berjalan dengan lancar” amin duduk di samping iswari.

Aku menerima apa yang di katakan kakak. Mereka semua melakukan hal itu terhadap ku karena ada alasannya. Mungkin aku terlalu egois, mementingkan tekad di banding diri ku sendiri. Aku belum bisa mengerti orang lain, aku terlalu keras kepala, aku tak sabaran, aku cepat marah, aku cepat berpikiran negatif terhadap orang lain, berburuk sangka, aku cepat menyalahkan orang lain ketika semua rencana berjalan dengan tidak sesuai, aku bersikap pesimis dan terakhir aku mulai membenci Allah hanya karena aku tidak dapat kesempatan di detik terakhir. Mungkin itu semualah yang menghambat diri ku untuk mencari, menjemput dan mendapatkan malam lailatul qadar.

Benar – benar malam yang istimewa. Mungkin aku belum pantas untuk menjemputnya dan mendapatkannya. Dengan teropong yang berada di tangan ku, mungkin aku hanya bisa mencari – cari bulan yang lain. Bulan yang biasa tanpa keistimewaan. Aku dan kak amin duduk di atas atap dengan menyalakan kembang api. Aku hanya bisa minta maaf kepada Allah yang maha pengampunan atas keburuk sangkaan ku terhadapnya apalagi rasa kebencian yang mulai muncul.

Banyak yang ku pelajari di bulan suci ramadhan ini. Mungkin keputusan ku adalah keputusan yang bijaksana. Tapi tahun depan, aku nggak akan menyerah! Aku akan terus berusaha mendapatkan malam istimewa itu. Bersama kakak, aku duduk di atas atap menikmati keindahan malam yang gelap ciptaan Allah.

Lilin Terakhir

~Manusia diciptakan untuk mempercayai indra penglihatannya dibandingkan keempat indra lainnya. Itulah mengapa manusia takut pada sesuatu yang tidak terlihat. Tuhan, masa depan, kematian, dan hal yang tidak terlihat lainnya~

***

lilin

            FHUUUUU…

Lilin ke 25 telah mati dan seperempat kegelapan mulai menyelimuti ruangan tari yang luas dan kosong itu. Kamu melebarkan matamu untuk memastikan Fandy, temanmu itu berjalan ke arahmu dan ketiga temanmu. Kamu memainkan jemarimu, menggigit bibir bawahmu perlahan, menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa Kamu tidak sendirian. Terlihat di samping kananmu Rima yang menyenderkan kepalanya di bahu Tendi, kekasihnya, dan Ali yang dari tadi merunduk di samping kirimu. Fandy yang merangkak ke arahmu itu, akhirnya duduk di hadapanmu, membuat posisi duduk lingkaran menjadi sempurna.

“Haaa…mulai berasa gelapnya dan atmosfirnya. Gue percaya setan itu ada dan mungkin mereka sedang berada di sekitar kita.” Kata Fandy dengan sedikit berbisik. Membuat keheningan semakin terasa.

Kamu dan keempat temanmu saat ini sedang duduk melingkar di tengah ruangan tari penuh cermin yang gelap dan hanya disinari 100 lilin yang mengelilingi. Lingkaran yang Kamu dan temanmu buat dari posisi duduk, cukup jauh dari 20 lilin yang merupakan lingkaran pertama yang mengelilingi dirimu dan temanmu. Setiap orang wajib membagi cerita horror yang mereka punya, dan setiap selesai menceritakannya, orang itu harus meniup satu lilin. Dari awal hanya Kamu yang menentang ide Fandy ini, walau semua ini dilakukan demi “Team Building” kelompok. Baca lebih lanjut

Mau Kemana?

Tidak kemana-mana. Hanya disini, Andre berdiri dalam diam sambil melihat sebuah kertas berarti di tangannya. Ia menghela nafasnya dan mulai merekahkan senyumannya. Sesekali Ia menatap punggung gadis pujaan hatinya yang sedang mengangkat sebuah almamater berwarna kuning. Almamater berwarna kuning itu tampak berkilauan di bawah sinar matahari yang menyinarinya. Terukir senyum kebanggaan di bibir sang gadis. Matanya tak sedikit pun pindah dari almamater itu.

Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang. Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya. Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

~***~

            “Aku sih udah pasti teknik industri UI”

“Hmm aku apa yah? Yang pasti tujuanku itu UGM!”

Andre memejamkan matanya sambil mengemut lebih dalam es krim yang ada di tangannya. Ini masih pagi, di hadapan papan nilai angkatannya, telinga Andre harus dicambuk oleh topik pembicaraan ‘tujuan perguruan tinggi’. Ia menghela nafas panjangnya sambil menatap kepergian dua perempuan yang baru saja melewatinya.

Beberapa bulan lagi ujian nasional, yang Andre lakukan setiap hari hanyalah berdiri di hadapan papan nilai yang terpajang megah sambil menikmati makanan pokoknya, yaitu es krim. Andre menatap namanya yang tak pernah berpindah dari angka 190 dari 200 anak di angkatannya. Kemudian matanya berpindah pada sebuah nama yang nasibnya sama sepertinya. Nama yang tetap berhenti di tempat dan tak berpindah dari peringkatnya.

“Cocok dengan julukannya sebagai ‘forever number one’, Ana Larasati selalu berada di atas yah!” ujar sosok pria yang tiba-tiba berada di samping Andre dan merangkulkan tangannya pada pundak Andre.

“R.S.J!!” kejut Andre menatap pria yang berada di sampingnya.Pria gila yang tenar dengan inisial rumah sakit jiwa itu kini menyeringai padanya dan ikut menatap papan nilai. “RezaSatria Jaya. Haa selalu datang dengan penuh kejutan”

Reza hanya tertawa menanggapi teguran temannya itu.Ia menatap peringkat 200 yang menyantumkan namanya itu. Reza mendesis kegirangan kemudian menepuk pundak Andre dengan dengan semangat.“Kau lihat itu?Sesuai target, aku berada di peringkat 200. Hahaha”

“Kau gila! Kau ini pintar, tetapi mengapa kau malah mempermainkan peringkatmu! Kalau kau mau, kau bisa berada di peringkat satu!” seru Andre menatap heran pada Reza yang masih tertawa senang.

“Nah itu kau tahu! Hahaha aku bisa mencapai apa yang aku mau. Entah itu peringkat paling atas atau pun yang paling rendah.Aku berhasil menguji diriku sendiri dan pergi ke peringkat yang aku mau.Sekarang giliranmu, mau kemana?” jelas Reza penuh semangat.

Andre menelan ludahnya dan mulai menatap papan nilai kembali.Si jenius gila Reza Satria Jaya memang satu-satunya teman atau mungkin siswa di sekolahnya, yang tak pernah dapat pahami jalan pikirnya.Semua guru sudah tahu tingginya IQ Reza dan perilaku gila Reza yang tidak dapat diprediksi. Oleh karenanya, semua guru telah memberikan kebebasan pada Reza untuk melakukan apa pun yang Ia inginkan selama itu tidak melanggar peraturan.

“Ingatkan aku, minggu depan namaku di peringkat 50 yah. Hahahaha aku cukup puas dengan respon orang-orang dengan peringkat 200-ku itu. Tuh pujaan hatimu tetap berada di peringkat nomor satu! Kau tidak mau mengejarnya?Hehehe” ujar Reza menyeringai pada Andre sambil menepuk pundak Andre lagi.Ia melepaskan rangkulannya dari temannya itu dan hendak beranjak dari tempatnya. “Kejarlah!Dia masih tetap disana, tak ke mana-mana dari peringkatnya itu.Banyak pria yang mengincarnya juga loh. Hehehe”

Reza pergi meninggalkan Andre yang kini telah menghabiskan sebatang es krim yang merupakan sarapan paginya.Hati Andre berdegup sangat kencang menanggapi kata-kata reza.Ia pun mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari mengitari lapangan sekolah demi menghilangkan debaran hatinya itu. Sudah dua tahun hingga saat ini, hatinya tak pernah berubah, tetap pada Ana Larasati, si ‘forever number one’.

Bel sekolah berbunyi, Andre berhenti berlari.Ia menghela nafas panjangnya, memikirkan mau ke mana Ia setelah lulus nanti? Atau mungkin dirinya tidak lulus SMA? Semua kemungkinan muncul di benaknya, hingga membuat Ia berjalan tak tentu.

“Mau ke mana?”

Andre menolehkan kepalanya, mencari sumber suara yang menanyakan pertanyaan yang dibencinya mulai hari ini.Ia menemukan sumber suara itu. Suara seorang pria yang mengejar Ana.Andre memperhatikan punggung Ana yang sangat berkilauan dan kian jauh dari matanya.Hatinya mulai berdebar lagi, tetapi kali ini berhenti begitu saja ketika pria lainnya datang dan berjalan mengiringi Ana. Hingga Ia tidak perlu berlari lagi untuk menghilangkan debaran hatinya. Gadis pujaan hatinya itu terlalu berkilauan.Cantik dan pintar adalah paket spesial yang dimiliki Ana untuk menarik perhatian para pria.Tidak hanya menarik untuk dijadikan sebagai kekasih, tetapi juga sebagai calon istri.

***

            Andre memasuki kelas dan memandang kursi Ana yang penuh dengan beberapa temannya. Seiring dengan lamanya perasaan Andre pada Ana, Ia baru menyadari bahwa selama itu pula Ia sekelas dengan Ana. Selama itu pula lah Andre tak melakukan apa pun pada perasaannya, hanya memandang punggung Ana dari jauh dan memandang kakinya sendiri sebagai bentuk rendah dirinya.

Andre merundukkan kepalanya, menatap kakinya yang berjalan menuju kursinya.Ia melihat kaki lain yang duduk di kursinya dan mulai menatap wajah orang yang menduduki kursinya.

“Yo!” sapa Reza sambil menyeringai pada Andre yang masih menatapnya aneh. Reza mengetuk kursi di sebelahnya, memberi isyarat pada temannya itu untuk segera duduk.

Andre memutar bola matanya dan mulai duduk di sebelah Reza.Ia mencari sosok teman sebangkunya yang sudah duduk di tempat lain. Andre teringat akan hak kebebasan yang dimiliki Reza di sekolahnya. “Jadi ada angin apaan nih milih kelasku?”

“Hahahaha hanya ingin memata-matai cara belajarmu” canda Reza memandang meja Ana yang ramai dengan teman-teman yang sedang asik menanyakan pelajaran. “Atau mungkin cara belajar pujaan hatimu itu. Hehehe”

Andre mengulum bibirnya, tidak suka Reza mengusik masalah hatinya.Ia pun mulai menatap Ana lagi. Kini keramaian kelas terpusat pada kursi Ana.Hanya Andre dan Reza yang tetap duduk di tempat.Reza menatap Ana sambil menyeringai, mengeluarkan senyum jenakanya, senyum jahilnya.

“Kau tidak ikut ke tempat Ana?Semua orang saat ini sedang berlari dan kau hanya diam di tempat.Memangnya kau tidak mau ke mana-mana?” lontar Reza tersenyum menatap keramaian di kursi Ana. Ia tahu orang yang berada di sebelahnya sedang menatapnya dengan wajah aneh sekaligus heran seperti biasanya.

“Ana, kau mau melanjutkan ke mana nanti?” tanya salah seorang dari keramaian yang mengelilingi kursi Ana.

“Tujuanku ITB” jawab Ana tegas.

Suara Ana begitu nyaring hingga Andre dan Reza yang duduk di kursi paling belakang pun dapat mendengar jawaban Ana. Andre melirik Reza yang masih tersenyum santai, senyuman khas Reza yang tidak disukainya itu.Andre mulai memegangi kepalanya, merasa bahwa hanya dirinya lah yang belum mempunyai tujuan. Gadis pujaan hatinya ingin menjadi mahasiswi ITB, sementara Ia masih tidak tahu akan lulus dari sekolahnya atau tidak. Andre mulai memukul-mukul kepalanya. Mengapa Ia harus menyukai gadis yang tingkatannya begitu tinggi? Mengapa rasa sukanya tidak hilang sejak kelas satu saat Ia mengenal Ana? Menyukai seseorang yang sangat berbeda dengannya, membuat hati Andre sakit.

“Apakah selama ini aku gila?Kenapa aku baru sadar sekarang? Haruskah aku ke rumah sakit jiwa?” tanya Andre retoris. Ia mulai memandang seseorang yang berada di sampingnya. “Aku tahu, aku tidak akan bisa mengejarnya menjadi mahasiswa ITB, setidaknya beberapa bulan menjelang kelulusan, aku ingin dia melihat aku ada.Jadi, bantulah aku, R.S.J!”

Reza tercengang mendapati temannya berkata seperti itu. Setiap hari Ia sudah sering mendengar Andre berbicara tentang Ana, tetapi baru kali inilah Ia mendengar Andre memutuskan sesuatu. “Hahahaha sudah tidak tahan yah memandangi punggungnya terus? Aku hanya membantu seorang pemburu, seorang pria yang benar-benar teguh akan keputusannya. Jadi, kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?”

Andre menelan ludahnya dan mengangguk.Reza hanya menyeringai, memberikan senyuman khasnya, senyuman jahilnya. Tiba-tiba Andre mendapati firasat buruk akan dirinya ditangan si jenius gila yang tak pernah dapat dipahami jalan pikirnya, Reza Satria Jaya.

***

            “Katanya ingin membantuku! Tapi ini mau ke mana?” tanya Andre mengikuti Reza yang berjalan di depannya. Andre melihat Reza menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruangan yang tidak disukainya. “Perpustakaan? Kau kan tahu, aku tidak suka bau keusangan itu! Aku alergi perpustakaan! Harusnya kau mengajakku ke tempat Ana dan …”

Reza meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Ia mendesis untuk menghentikan ocehan temannya itu. Andre pun menghela nafasnya dan mulai mengeluarkan sebuah masker berwarna hitam, kacamata hitam dan sebungkus permen rasa es krim. Setelah menggunakan masker dan kacamata hitamnya, Andre pun mengangguk sebagai tanda Ia sudah siap memasuki perpustakaan.

Reza menuju kursi favoritnya di perpustakaan.Kursi dengan pemandangan jendela yang menghadap ke lapangan.Andre duduk di tempat itu sambil menunggu Reza yang pergi mencari buku untuknya.Ia mulai membuka bungkusan permen rasa es krimnya perlahan. Bau debu, bau keusangan, bau buku mulai menusuk hidung Andre saat Ia membuka maskernya untuk memasukan permen rasa es krim ke dalam mulutnya.Sesekali rasa mual muncul di perutnya hingga membuatnya menghela nafas berulang-ulang.

Andre mengenakan maskernya lagi, mengunyah permen rasa es krim sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.Ia melihat punggung wanita yang tak asing lagi di matanya, punggung Ana. Ia melihat Ana mengangkat buku yang begitu banyak hingga Ia terjatuh.Andre terkejut dan ingin sekali membantu Ana berdiri dan membawakan buku-bukunya.

“Ingin membantunya berdiri yah?Ana bisa berdiri dengan kakinya sendiri.Tidak sepertimu, hanya bisa menatap kaki semu yang kau miliki itu” ujar Reza.

Andre terkejut dengan keberadaan Reza yang kini telah duduk di hadapannya.Keterkejutannya pun bertambah dengan buku-buku yang sudah menumpuk di mejanya.Andre mulai mengambil satu buku, penasaran dengan buku-buku yang dibawa temannya itu.Reza tertawa kecil, menyeringai dengan senyuman khasnya melihat wajah aneh Andre yang terkejut melihat buku-buku yang dibawanya.

“Kau kira, aku akan memberimu buku tips menaklukkan wanita yah? Hahahaha” lontar Reza bersamaan dengan senyuman khas yang tidak disukai Andre itu.“Belajar lah, Ndre!Ujian nasional sebentar lagi.Tak peduli mau ke mana dirimu nanti yang penting adalah usahamu dulu. Kalau sudah usaha, kau akan tahu kemampuanmu untuk target indahmu. Dan pasti kau akan bertanya, apa hubungan belajar untuk UN dengan Ana? Hahaha kau akan tahu setelah kau melakukan apa yang ku perintahkan”

Andre hanya berdecak kesal menanggapi ucapan Reza.Ia tahu bahwa temannya itu gila dan Ia masih saja mau berurusan dengan temannya itu. Reza memandang sepuluh bungkusan permen rasa es krim yang telah menjadi tumpukan sampah di atas mejanya.Ia mulai tersenyum penuh makna, “Oke, akan ku buat menarik. Minggu depan aku akan menepati janjiku untuk berada di peringkat 50. Kalau kau berhasil menggagalkan janjiku, aku akan memberimu es krim. Bila gagal, kau yang akan membelikannya untukku”

***

            Andre memukul-mukul papan nilai kesal, melihat namanya bertengger di peringkat 150.Di belakang Andre, Reza tertawa sambil mengemut es krim dengan nikmatnya. Sesuai janjinya, nama Reza berada di peringkat 50. Andre masih merasa kesal sekaligus senang dengan peringkatnya itu, Ia belum pernah merasakan gejolak seperti ini. Sebuah gejolak yang membuat hati melambung tinggi namun ada rasa perih ketidakpuasan disana.

“Taklukan matematika lebih dahulu, baru kau bisa taklukan wanita.Hahaha” canda Reza di sela-sela kekesalan Andre yang masih saja memandang papan nilai.Reza melihat Ana berada disana, berada tidak jauh dari tempatnya dan Andre berada.Reza hanya tersenyum sambil mengemut es krimnya.Ia memilih untuk tidak memberi tahu Andre dan membiarkan temannya itu larut dalam perasaannya saat ini.

Hari-hari berlalu, Andre tidak pernah mengetahui soal-soal yang Reza berikan bukanlah soal persiapan UN, melainkan soal persiapan masuk perguruan tinggi.Ia sangat senang melihat Andre menderita karena soal-soal itu. Hampir setiap hari, di perpustakaan dan meja yang sama, Andre dan Reza belajar bersama. Di tangan Reza, Andre mulai merubah dirinya.Di dalam perpustakaan, Andre sudah tidak mengenakan kacamata hitamnya lagi tapi tetap dengan masker berwarna hitamnya dan sebungkus permen rasa es krim yang menemaninya. Perlahan namun pasti, Andre mulai beradaptasi dengan bau ilmu pengetahuan yang dulu Ia anggap sebagai bau keusangan.

Reza berhasil mengalihkan perhatian Andre terhadap Ana. Kini hanya pelajaran dan masa depan lah yang Andre bicarakan hingga tanpa disadarinya peringkat 20 telah dicapai. Andre memandang namanya sambil tersenyum puas walaupun tetap Reza yang menikmati es krim dari uangnya.

“Uhuk…uhuk…jadi sekarang mau ke mana?” tanya Reza yang pada akhirnya membuang sisa es krim yang dimakannya. Setiap minggu mendapatkan es krim gratis itu ternyata membuatnya menderita juga.Dari belakang, Reza melihat kepala Andre yang mendongak ke atas. Baru kali ini lah, Andre menatap namanya dengan cara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

“Aku ingin ke sana!” seru Andre menunjuk peringkat angka satu di papan nilai itu.

“Woah! Jadi target kita minggu depan adalah nomor satu nih? Baiklah.Tapi kali ini, aku tidak ingin es krim lagi” kata Reza kagum dengan kemajuan temannya itu.

“Ah, sombong sekali kau! Minggu depan kau yang akan membelikan aku es krim! Dobel yah!” seru Andre menanggapi teman gilanya itu. Andre memandang lekat-lekat nama gadis pujaan hatinya itu, Ana Larasati. “Tapi bagaimana bisa aku melampaui Ana?”

“Bisa kok.Selama kau ini adalah seorang pria.Bersyukurlah kita dianugerahi syaraf otak yang lebih banyak dari wanita.Jadi, malu kan kalau sudah ada potensi tetapi tidak bisa digali” jelas Reza sambil menyeringaikan senyuman khasnya, senyum jahilnya.

Bunyi bel sekolah membuat Andre dan Reza meninggalkan papan nilai yang terpajang megah itu.Dari kejauhan Ana memperhatikan Andre dan Reza dengan tatapan perih.Ia pun mulai berjalan di belakang Andre dan Reza sambil memandang punggung dua pria yang kini kian jauh dari pandangannya.

Hari-hari berlalu dengan peringkat 2 yang diraih Andre selama tiga minggu berturut-turut.Peringkat 1 masih dipegang Ana, sementara Reza kembali dengan kegilaannya untuk mempermainkan peringkatnya.Semua guru berdecak kagum dengan kemajuan pesat Andre menjelang UN.

“Kalau begini caranya, kau bisa masuk universitas mana pun yang kamu inginkan, Ndre.Hebat, nak. Bapak salut denganmu” ujar seorang Pak Guru mengelus kepala Andre, sambil lalu pergi meninggalkan Andre di lorong kelas, tempat papan nilai terpajang.

Andre tersenyum melepas kepergian sang guru dan kembali mengalihkan matanya pada papan nilai yang berada di hadapannya. Tanpa disadarinya, Ana berdiri di sampingnya dengan mata seperti Andre.Mata yang terfokus pada namanya di papan nilai itu.

“Baru kali ini aku memperhatikan papan nilai hanya karena mu” kata Ana memecahkan keheningan.

Andre menolehkan kepalanya ke sumber suara.Ia terkejut melihat Ana yang berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Andre dapat memandang wajah Ana dengan jarak sedekat ini.Mata tegas, bibir mungil dengan hidung yang tak terlalu mancung dan rambut panjang yang terurai Ana, membuat hati Andre berdegup sangat kencang.Ana benar-benar cantik dan Andre pun makin ingin memiliki gadis pujaannya ini.Andre menghirup nafasnya dalam-dalam, terhirup aroma tubuh Ana yang membuat otaknya tidak bisa berpikir.Ia benar-benar ingin segera berlari untuk mengurangi rasa debaran hatinya yang kian memuncak.

“Harusnya aku tidak boleh merasa puas yah?Julukan itu malah menjatuhkan diriku sendiri. Lihatlah, nilai kita sama. Aku berada di peringkat satu itu hanya karena secara absen, namaku berada di atas namamu.Seandainya tidak seperti itu, mungkin kau sudah berada di peringkat satu meninggalkan aku” jelas Ana sambil menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan kesal pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan meninggalkanmu kok. Namaku akan selalu berada di dekatmu, nggak peduli siapa yang akan menjadi nomor satu. Aku selalu memimpikan ini, memimpikan namaku dan namamu berdekatan seperti suatu hal yang tak terpisahkan” jelas Andre tanpa disadarinya.

Mata Ana terbelalak mendengar apa yang diucapkan Andre. Kini Ia memandang wajah Andre dengan wajah tercengang. Andre memandang wajah terkejut Ana, membuat Ia tersadar dengan apa yang Ia katakan. Andre menggaruk-garuk kepalanya walau tak ada yang gatal.

“Ma…maafkan aku, Na!Pokoknya tetaplah jadi Ana biasanya.Ana yang ingin jadi mahasiswi ITB, Ana yang selalu berada di peringkat nomor satu, oke?” kata Andre gugup.

“O…oke” jawab Ana masih dalam keadaan kaget.

Andre berlari meninggalkan Ana yang masih terkejut.Ia pun berhenti perlahan sambil berteriak, “Anaaaa, ingat yah! Aku akan menjadi calon suami yang pantas untukmu! Janji padaku, jadi mahasiswi ITB yaah! Jangan pikirkan nama pria lain selain namaku!!!”

Wajah Ana memerah saat mendengar teriakan Andre yang kini telah hilang dari pandangannya.“Cieeeee” sorak sorai orang-orang di sekitar Ana yang mendengar teriakan Andre mulai terdengar dari berbagai arah.Andre mungkin sudah ketularan kegilaan Reza. Sekarang yang Ia lakukan adalah berlari kencang agar debaran hatinya cepat berhenti seiring tenaga yang Ia keluarkan.

~***~

            Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang.Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya.Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

“Ana, bagaimana?Sudah siap belum?Jangan dilihat terus itu jakun!” kata Andre yang mulai melipat dan memasukkan kertas yang dipegangnya ke dalam kantong almamater berwarna biru yang dikenakannya.

Ana menolehkan kepalanya pada Andre sambil tersenyum manis. Iapun akhirnya mengenakan almamater kuning dengan lambang makara Universitas Indonesia yang dari tadi dipegangnya. “Hahaha ku kira, kau masih membaca surat dari Reza”

Andre hanya tertawa kecil menghampiri pujaan hatinya itu atau mungkin calon istrinya itu.Ia mulai mengalungkan tangannya ke pingggang Ana dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Ana. Begitu pula Ana yang menyambut pelukan Andre dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Andre.

“Calon mempelai pria, lambang almamater ITB-nya ketutupan itu!” seru sang fotografer pre-wedding.

“Lambang kampusku itu harus kelihatan yah, Ndre!Ini lambang kampusmu aja aku perlihatkan” kata Ana merapihkan almamater miliknya yang dikenakan oleh Andre, calon suaminya.

“Iya-iya.Hahaha karena aku menang suit tadi, foto kali ini kita katakan UI yah” ujar Andre tersenyum memperhatikan calon istrinya itu.

“Iya deh.Foto pre-wed besok teriaknya ITB yah” balas Ana tidak mau kalah.

Setelah selesai merapihkan almamater ITB yang dikenakan Andre, mereka pun kembali ke posisi semula. Posisi saling merangkul dan mengangkat papan bertuliskan nama pasangan mereka. Fotografer pun mulai memberikan aba-aba, 1…2…3

“UI !!!” seru Andre dan Ana serentak memperlihatkan senyuman gigi mereka pada kamera.

~Yo! Konnichiwa! Hahaha kaget kan aku bisa bahasa Jepang? Padahal kemarin aku bilang, aku berada di Inggris.Pokoknya sekarang aku sedang ada di Jepang untuk risetku. Hehehe mungkin aku akan berpindah ke negara lain lagi kali yah? Hahaha sengaja lewat surat biar berasa dekat gitu. Hohoho selamat yah, Ndre! Habis lulusan langsung nikah.Asiiik yang ngelamar pake jakun UI. Kau lebih gila dari ku, Ndre! Kau menggilai Ana. Kalau sempat, aku akan datang ke pernikahan kalian. Salam hangat dari ku. Konnichiwa!! Hahaha

R.S.J~

            Sudah beberapa tahun lamanya, sejak kelulusan SMA, Andre berpisah dengan dua orang yang berarti untuknya.Walau begitu, janji itu tetap ditepati.Ana menepati janjinya untuk menjadi mahasiswi ITB.Sementara Reza dengan target dan kegilaannya, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Inggris.Melihat dua orang yang berarti untuk Andre sudah sukses, dia sendiri mau ke mana?Tidak ke mana-mana, hanya ke hati Ana.

SELESAI