Reuni Sania

Suara tawa memenuhi ruangan pesta sederhana temu kangen kawan lama. Mata mereka tertuju pada satu layar besar yang mempertontonkan dokumentasi kenangan masa sekolah mereka. Mereka begitu menikmatinya, dan membahasnya hingga muncul sebuah foto yang membuat mereka semua hening.

***

“SANIAAAAA!!!” teriak sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain bekel.

Sania berlari kegirangan setelah mengacaukan permainan bekel mereka. Siapa yang tidak tahu Sania, anak super bandel yang tidak pernah ada yang berani melawannya karena dia anak guru. Mudah bagi Sania untuk memutarbalikan fakta, mengadu pada ibunya. Dan selayaknya guru, dia akan member hukuman pada siapa yang telah menyakiti murid lainnya, terlebih murid tersebut adalah anaknya sendiri.

Semua murid berharap akan tiba dimana ada hari pembalasan untuk Sania. Hingga hari itu tiba. Hari dimana Sania membuat Rayya menangis. Rayya, si tuan putri sekolah, cantik, pintar, dan baik hati. Semua orang menyayangi Rayya, berbanding terbalik dengan Sania.

“Mulai hari ini, kita semua, satu angkatan cuekin Sania! Nggak ada yang boleh ngobrol sama dia. Kalau ada yang ngobrol, kita semua memusuhi dia juga, setuju?!” kata ketua kelas di depan kelas yang direspon positif oleh satu kelas. Tentu saja pertemuan itu tanpa Sania, dia telah pulang duluan dengan Ibunya.

“Tapi aku kan sebangku dengan Sania” sahut Tia merasa tidak enak hati. Tentu semua mata tertuju padanya hari itu.

“Hmm yaa pokoknya seperlunya saja, Tia. Yang lain bantu Tia, biar nggak banyak terjadi obrolan antara Tia dan Sania, oke?! Biar Sania tahu rasa!” ketua kelas mengakhiri kata-katanya dan pergi bermain sepak bola bersama murid laki-laki lainnya. Entah bagaimana semua murid laki-laki itu bisa kehabisan tingkat kesabarannya jika semua berhubungan dengan Rayya, si tuan putri sekolah.

Sejak saat itu, Tia hanya memberi respon seadanya pada percakapan Sania. Respon iya, tidak, diam mengangguk dan lain sebagainya. Ketika Sania mulai bercerita tentang apa yang telah dia lakukan, semua orang menarik Tia ke suatu tempat mengajaknya bermain tanpa Sania tentunya.

Sania mengambil bola yang dimainkan anak laki-laki di lapangan dan mulai berlari. Tidak ada lagi yang mengejarnya untuk mendapatkan bola. Sania melempar bola itu ke lapangan merasa bosan dan bersemangat untuk mengacaukan permainan bekel sekumpulan anak perempuan di salah satu lorong kelas. Permainan kacau, tetapi yang tersisa hanya Sania di sana. Semua perempuan telah pergi ke tempat lain, menganggap Sania telah tiada. Entah bagaimana kejadian itu terjadi sangat lama hingga menjadi sebuah kebiasaan, sampai kelulusan tiba.

Kabar angin sampai ke telinga masing-masing murid bahwa Sania dimasukkan ke sebuah padepokan oleh Ibunya agar menjadi anak yang baik dan tidak bandel lagi seperti dulu. Semua hanya tertawa dan menjalani kehidupan sekolah yang baru, tentunya dengan teman-teman baru.

***

New chat room

Tia: Reuni yang diadain sekolah? Pasti boring, mending jalan aje yuk kemana gitu. Kan reuni juga, yang ikut bisa hubungin gue sekarang. Mari kabur dari reuni.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ayo dah.

Vera: Eh, parah lo semua. Nanti sepi loh. Gue kesana deh.

Wandi: Katanya ada Sania loh. Kan emaknya yang bikin reunian ini kan.

Udin –ketua kelas angkatan 05-: Ver, lo wakilin kita yak. Palingan itu reuni 20 orang nggak nyampe.

***

Lima hari setelah acara reuni, Vera berlari tergopoh-gopoh ke rumah Tia dan memaksanya ke rumah Sania. Kabar angin berhembus dengan cepat, Vera mengabarkan bahwa semua orang harus ke rumah Sania hari itu juga dan dia akan memberitahukan alasannya jika semua sudah berkumpul di sana. Semua orang tanpa terkecuali harus datang kesana hari ini, terutama Tia yang wajib datang.

“Gila apa? Kenapa gue yang diwajibin sih? Oke gue tahu, gue salah, gue yang bikin semua orang pada nggak dateng ke reuni. Tapi bu Siska uda nggak ada hak buat ngehukum gue atau apa. Kita bukan murid dia lagi” panjang lebar Tia menolak ajakan Vera.

“Kali ini aja. Lo bakalan nyesel kalo nggak ke rumah Sania hari ini. Gue jamin, nggak akan ada apa-apaan yang penting lo dateng. Gue habis dari sana dan keburu janji sama bu Siska buat bawa lo kesana” panjang lebar Vera dengan wajah memohon.

Tia menyetujui permintaan Vera dan pergi bersama ke rumah Sania. Berjarak dua rumah dari rumah Sania, Tia sudah merasakan suasana yang aneh. Beberapa orang berdatangan ke sana. Vera masuk ke dalam rumah Sania lebih dulu, sementara Tia berhenti di ambang pintu dengan penuh keraguan.

“Tiaaaaaaa!!!” teriak bu Siska sambil menangis. Tia menghampiri bu Siska dengan cepat dan melihat Vera yang duduk tidak jauh darinya. “Makasih sudah kesini, Tia. Kenapa kemarin tidak datang ke reuni?”

“Saya ada urusan, bu” singkat Tia penuh kebingungan melihat bu Siska yang menangis penuh histeris.

“Sania, naaak. Sania kesana. Sania ingin ketemu kamu, karena katanya, nak Tia adalah satu-satunya teman Sania. Huhuh….Sania nggak punya teman di padepokan, naaak” ujar bu Siska yang air matanya mengalir semakin deras.

Tia ikut menangis dan memalingkan wajahnya ke sebuah ruang keluarga yang besar, terlihat disana tumpukan kain yang menutupi tubuh seseorang yang berbaring di sana. Tia dan Vera bertukar pandang dan pergi ke ruangan tersebut, memandangi tubuh yang ditutupi kain tanpa terkecuali.

“Itu Sania, naaak. Sania sakit dari kemarin. Tapi dia tetap bela-belain datang ke reuni untuk bertemu Tia dan teman-teman!!” seru bu Siska yang ditenangi oleh beberapa ibu yang berada di sekelilingnya.

“Eee gue ngerasa bersalah sama Sania. Kemarin di reunian, nggak ada yang sadar ada dia, gue juga. Kebiasaan sama…kelakuan kita setahun terakhir. Gue baru ngeh pas gue ke kamar mandi, gue kira dia…dia…setan” cerita Vera yang membuat Tia sedikit terkejut. “Soalnya dia pucat banget, putih gitu. Makanya gue kaget”

Vera memukul-mukul mulutnya, dia lupa kalau saat ini sedang dalam keadaan duka. Tia dan Vera hanya diam duduk di dekat sana. Tak ada satu pun dari mereka yang berani untuk membuka kain yang menutupi wajah Sania di sana. Setelah cukup lama, mereka pun pergi meninggalkan rumah Sania. Di perjalanan pulang, Tia memikirkan bagaimana bisa Sania menganggapnya sebagai satu-satunya teman baginya. Mungkin Tia adalah satu-satunya orang yang merespon Sania lebih banyak dibanding anak-anak yang lain, tetapi itu semua hanya karena dia adalah teman sebangku Sania. Hanya itu.

***

Semua orang terdiam memandangi foto Sania di sana. Beberapa orang memilih untuk menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya. Bukan hanya karena sikap mereka pada Sania yang terpantul disana, melainkan karena mengetahui bagaimana cara Sania meninggal.

 

Beberapa orang bilang, Sania belum meninggal karena hanya ibunya saja yang mengatakannya. Tidak ada pemeriksaan dokter atau apa pun di sana. Pemandian dan semuanya diurus oleh bu Siska seorang. Orang-orang hanya membantu pemakaman ketika mengetahui kabar Sania telah tiada. Tanpa sengaja, orang-orang mengubur Sania dalam keadaan hidup.

SELESAI

Author’s Note: #NulisRandom2015 hari ke 6. Hari ini ada reuni SD yang nggak bisa gue datangin karena gue sakit. Dan kalau bengong, nginget reuni itu inget “Sania”. Yup, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Tentunya dengan polesan sana-sini. Dalam cerita ini, gue adalah Tia. Saat ini gue cuma bisa mendoakan “sania” aja ketika gue mengingatnya. Missed satu hari nulis, kemarin gue bener-bener dalam keadaan kritis. Semoga besok sudah sehat ^^ terima kasih sudah membaca.

List #NulisRandom2015:

Day 1: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Day 2: Kacamata (fiksi)

Day 3: Hadiah Dari Kucing (non fiksi)

Day 4: Dalam Lift (fiksi)

Iklan

Dalam Lift

“ANJRIT! GUE BAKAL BUNUH LU HARI INI!” kesal seorang laki-laki yang sempat membanting smartphone-nya ke sudut lift.

Laki-laki tersebut mengacak-acak rambutnya gusar, kemudian menyenderkan punggungnya ke dinding lift. Penampilan laki-laki tersebut terlihat normal seperti anak muda pada umumnya. Dia mengenakan kaos hitam polos, celana jeans biru, dan sepatu sneakers berwarna merah. Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya mengerutkan alisnya memandang laki-laki muda tersebut. Penampilannya tentu berbeda jauh dari anak laki-laki tersebut. Pria tersebut menggunakan kemeja biru polos, celana bahan, sepatu pantofel hitam, jam tangan, dan kacamata minus.

“Memangnya siapa yang ingin kau bunuh itu, Dek?” kata pria tersebut dengan santai. Dia hanya mengadahkan kepalanya menghadap kumpulan lubang kecil yang berada di atas tombol-tombol angka lift. Dia berharap suara pertolongan keluar dari speaker tersebut.

Sudah hampir setengah jam dia terjebak di dalam lift bersama anak muda yang tidak dikenalnya. Yang dilakukannya hanya duduk tenang dan diam, sementara anak muda yang duduk di sudut kanan lift asyik memainkan game di smartphone-nya beberapa waktu yang lalu sebelum dia melempar smartphone nya ke sudut lift yang lain.

“Saya ingin membunuh Rudal” jawab anak muda memandang lurus ke pintu lift yang masih tertutup.

“Rudal? Hahaha…ah game yah” pria tersebut sedikit tertawa dan ikut memandangi pintu lift kemudian memandangi speaker lagi.

“Bukan, pak. Rudal itu nama teman saya. Rudi Handal namanya. Disingkat Rudal” anak muda tersebut memandang sepatu merahnya dan mulai menggerakkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri secara berlawanan.

Pria paru baya sedikit mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak. Dia sedikit terkejut dengan pernyataan anak muda itu. Tapi apa yang bisa dipercaya dari ucapan anak muda ini di situasi seperti ini, situasi dimana imajinasi pintu lift terbuka mulai menguasai otak.

“Hahaha namanya lucu yah. Rudi Handal. Diharapkan untuk menjadi anak yang dihandalkan yah?” enteng Pria paru baya tanpa memikirkan apa yang dia katakan. Yang dipikirannya saat ini adalah berapa lama dia masih bisa bertahan. Kepalanya mulai terasa pusing, mungkin dikarenakan oksigen yang berada di dalam lift itu semakin menipis.

“Kalau memang dia bisa dihandalkan, harusnya dia mengirimi pesan menanyakan keberadaan saya, pak. Bukannya malah mengirimi invite-an game” anak muda itu mulai mengambil smartphone-nya menggunakan kakinya.

“LOH?! HAPEMU ADA SINYAL?!! KENAPA NGGAK HUBUNGI ORANG BUAT MENOLONG KITA?!!” pria tersebut berteriak memandang kesal anak muda yang kini memandangnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Nggak ada sinyal, pak! Itu juga saya kaget sekalinya ada sinyal kenapa yang masuk malah chat dari Rudal yang isinya kampret! Makanya saya bilang saya ingin bunuh dia!” kata anak muda itu dengan nada penuh kejengkelan.

“Yayaya…bunuh saja dia. Bunuh Rudal itu. Siapa namanya, Rudi Handal itu”

Keheningan kembali meliputi kedua laki-laki tersebut. Terdengar suara pernapasan pria yang tidak teratur. Anak muda menolehkan wajahnya ke pria yang berada di samping kirinya. Terlihat keringat yang bercucuran di wajah pria itu.

TING

Pintu lift terbuka, sontak mereka berdua berdiri dengan penuh semangat dan keluar dari lift. Dua orang petugas langsung mendekati lift dan memeriksa keadaan lift dengan cepat. Seorang perempuan meminta maaf pada pria paru baya yang sedang mengelap keringatnya. Pria mengeluarkan semua keluhannya pada saat itu juga, sementara anak muda pergi meninggalkan kejadian. Tanpa ada kata, pertemuan kedua orang asing tersebut berakhir hari itu.

***

Tiga hari kemudian,

-HEADLINE-

Laki-laki berusia 18 tahun berinisial RH tewas dibunuh temannya. Motif pembunuhan diduga karena rasa kesal invite-an game.

SELESAI

Author’s Note: Hari ke empat #NulisRandom2015 diisi dengan fiksi tentunya. Besok akan kembali ke nonfiksi di blog yang satunya lagi –> langitayu.blogspot.com ohiya berikut list #NulisRandom2015 :
Hari pertama: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Hari Kedua: Kacamata (fiksi)

Hari Ketiga: Hadiah Dari Kucing (nonfiksi)

Kacamata

AKU BENCI KACAMATA.

dan keluargaku benci kalau aku mengatakannya dengan keras. Bagaimana tidak? Kacamata adalah benda yang telah menyekolahkanku dan membuat perutku selalu sejahtera. Dia seperti berhala di rumah yang telah menjadi toko kacamata ini. Ahya rumah kami kebetulan berada di tempat dimana sepanjang jalan isinya para pedagang.

“Ah, kalian lagi. Ayo masuk, kemarin baru saja frame kacamata terbaru datang” sapa ibuku ramah pada tiga remaja perempuan yang memasuki toko kami dengan penuh semangat.

Aku memperhatikan ketiga remaja perempuan itu dari kejauhan sambil memegang erat gagang sapu. Ketiganya terlihat sangat stylish dengan kacamatanya. Yang satu berambut panjang dan digerai, yang kedua rambutnya dikuncir kuda, dan yang ketiga rambutnya pendek. Wajah mereka tampak bingung memilah kacamata yang mereka inginkan, padahal tak perlu bingung seperti itu jika memang butuh. Tak bisa kupungkiri, belakangan ini kacamata ‘naik tahta’ menjadi aksesori fashion, bukan lagi hanya menjadi sekadar alat bantu melihat. Walau begitu, aku tetap benci kacamata.

“Uda selesai nyapunya? Ada pelanggan tuh ya senyum dong. Gimana sih?” kata pria yang baru saja melaluiku dan menghampiri ibuku. Ya kenalkan pria itu adalah….

“kyaa…kak fakhri….” respon salah satu perempuan pelanggan kami, si rambut panjang yang digerai. Sepintas wajahnya memerah saat melihat Fakhri, abangku yang merupakan anak pertama dan mungkin akan menuruni usaha kacamata keluarga kami. “Ha-hari…ini kacamata kak Fakhri cocok banget”

“ah masa? Aku kan nggak pernah ganti kacamata” kata Kak Fakhri dengan senyum ramahnya.

“eh iya yah? Hahaha salah deh kalo gitu” sahut si rambut panjang yang kemungkinan menyukai abangku itu. Mereka pun tertawa bersama.

Ibuku pergi meninggalkan ketiga pelanggan kami itu pada Kak Fakhri dan masuk ke dalam rumah. Dia sepintas melihat jam dan tersenyum senang. Ibuku berhenti di hadapanku dan memegang kedua bahuku, “Yu, kamu bisa nyapu tanpa kacamata gitu? Nanti nggak bersih loh”

Aku hanya menghela nafasku, menghentikan aktivitas menyapuku, dan mengambil kacamataku yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Ini ironi, aku membenci kacamata tapi aku membutuhkannya. Mungkin ini sama seperti orang yang sakit, mereka membenci obat tapi membutuhkannya, seperti sebuah ketergantungan dan aku benci itu. Aku mengelap kacamataku perlahan sambil mendengar sayup-sayup suara pelanggan lain yang datang.

***

Namaku Fakhri, anak pertama dari empat bersaudara. Kalian sudah melihat Ayu, adik perempuanku yang sedang menyapu di sana, wajahnya selalu tak bisa ramah ketika pelanggan kami datang. Dua adikku yang lain sedang bersekolah dan aku berharap mereka cepat pulang untuk membantuku mengatasi ketiga pelanggan muda kami yang terlalu lama memilih dan berujung pada tidak membeli. Itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Bagaimana pun orang yang telah sampai di toko kami haruslah menukarkan uangnya dengan kacamata kami.

Seorang bapak dengan anaknya berhenti sejenak di depan toko kami, tapi mereka berdiri agak jauh dari toko kami. Dari raut wajahnya terlihat sekali dia sedang berpikir. Terlihat tangan kanan Bapak itu menggandeng anak laki-lakinya yang sedang memeluk kotak mainan robot baru dan tangan kirinya memegang plastik belanjaan yang entah apa isinya. Penampilannya sederhana, tapi aku tahu, dia akan menjadi pelanggan yang akan melayangkan uang ke toko kami.

“Boleh dilihat dulu saja, Pak. Atau mungkin mau dicoba juga nggak apa. Bapak perlu kacamata yang seperti apa?” kataku melengkungkan senyuman ramahku.

Bapak itu mendekat ke meja etalase kacamata kami. Dia melihat-lihat tanpa banyak bicara. Salah satu perempuan pelanggan muda yang tadi menyapaku mulai berbicara lagi dan menanyakan apakah kacamata yang dipakainya sesuai dengan dirinya atau tidak.

“Iya cocok kok. Itu juga bagus” kataku sambil membalas senyuman singkat. Aku kembali memperhatikan bapak yang dari tadi masih melihat kacamata dalam diam. Aku tidak boleh kehilangan fokus pada bapak yang berpotensi membeli kacamata ini. Aku mulai tidak sabar dan mengambil sembarang kacamata.

“Bagaimana dengan yang ini, pak? Bapak butuh kacamata untuk siapa?” tanyaku dengan ramah. Bapak itu akhirnya menoleh ke arahku dan mulai melihat kacamata yang kugenggam.

“Kak Fakhri, aku cocok dengan kacamata yang ini, nggak?” kata salah satu perempuan yang dari tadi berusaha mengambil alih perhatianku.

“Yang ini ada warna biru nggak? Kalo nggak ada, aku nggak jadi beli deh” kata teman perempuannya yang berambut pendek.

Aku tidak bisa fokus kalau begini caranya. Aku menoleh ke belakang, melihat Ayu yang sedang memasukkan sampah dari pengkinya ke tong sampah. Aku memberinya kode untuk membantuku, mengatasi perempuan-perempuan ini selagi aku fokus pada si bapak yang berpotensi beli ini. Ayu hanya melewatiku, membawa sampahnya keluar toko. Benar-benar adik yang menyebalkan.

“AH! GALEH! LIDYA!!” teriakku gembira melihat kedua adik kembarku yang telah pulang. Bantuan itu selalu datang pada orang yang membutuhkan, ya aku percaya itu.

“kyaaa si kembar pulang yah!!” seru pelanggan perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. Dia yang dari tadi diam, kini melihat si kembar dengan penuh semangat. Sepertinya dia menyukai anak-anak.

“Kakak yang kemarin yah?! Beli kacamata lagi kan?” kata Lidya dengan senyum lebar.

Bagus Lidya, kau memang adikku, kau pintar sekali.

“Ah, kakak nggak tau mau beli apa nggak. Masih liat-liat nih hehehe” jawab si rambut panjang digerai.

Seperti yang kuduga, memang dia tidak ingin membelinya. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Aku tampan dan aku tahu itu.

“Nggak apa-apa, kak! Galeh tahu! Kakak-kakak cantik semua ini kesini untuk menemui Galeh yang ganteng ini kan?” kata Galeh bertolak pinggang. Kemudian si rambut kuncir kuda menghampiri Galeh dan mencubit pipinya gemas.

“Dasar si Galeh ini. Bisa-bisanya berkata seperti itu” gumamku gregetan.

“Bukannya itu mirip sepertimu, kak” sahut Ayu pergi melewatiku begitu saja.

***

Tik….Tok….

Sebentar lagi menunjukkan jam 3 Sore, tetapi belum satu pun pelanggan yang membeli kacamata kami. Aku membaca buku catatan keuangan kami dan mengadahkan kepalaku ke atas, melihat kak Fakhri yang masih membujuk bapak pelanggan kami. Dari dalam kaca etalase, aku dapat melihat Galeh, kakak kembarku masih bermain dengan kakak-kakak itu. Harusnya dia letakkan tas sekolahnya dulu ke dalam, baru lanjut menemani pelanggan.

Aku melihat Kak Ayu sedang menggonta-ganti channel televisi dengan bosan. Ya, selama ada kami, mana mungkin dia turun tangan. Permasalahannya sebentar lagi toko kami akan tutup dan pelanggan belum ada satu pun yang membeli kacamata kami. Aku memandang wajah pelanggan perempuan kami yang berambut pendek, wajahnya tampak bosan. Berbeda dengan dua yang lainnya. Aku tidak boleh kalah dari Kak Fakhri atau pun Galeh. Aku juga harus bisa mengajak pelanggan ini berbicara.

“Kakak…kakak bosan yah?” kataku yang kini telah berada di hadapannya.

“Iya. Habisnya dua temanku itu nggak selesai-selesai milih dari tadi” katanya.

“Hngg memangnya kakak nggak berniat membeli kacamata?” kataku begitu pelan dan hati-hati. Tapi aku harus tetap memperlihatkan wajah polosku.

“Hemm nggak tahu yah. Tadinya aku suka kacamata yang itu. Tapi nggak ada warna biru. Aku suka warna biru soalnya”

Yang benar saja. Kakak ini cuma cari alasan agar tidak membelinya. Kacamata formal seperti itu mana mungkin ada yang berwarna biru. Ah, mungkin saja ada suatu saat nanti. Aku menengok jam dinding toko telah menunjukkan angka tiga. Mataku dan mata Kak Ayu saling melirik. Seketika Kak Ayu berjalan menghampiri Kak Fakhri. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan. Toko kami akan tutup sebentar lagi dan hari ini haruslah ada pelanggan. Aku harus mencari cara.

TRING….

“Wah gantungan tas midorima! Lucu banget!”

“KAMU TAHU MIDORIMA?!!” teriak histeris kakak berambut pendek.

GOTCHA!

“Tahu doooong. Kuroko no basket kaaaan?? Ih kakak ini. Aku juga suka anime tauuu” pancingku.

“Ya ampuuun aku nggak nyangka malah nemuin fangirl di sini. Aku kemarin pengen banget nge-cosu midorma. Crossdressing gitu deh hahahaha, tapi aku masih nabung buat beli wignya. Wignya hijau sih” celoteh panjang kakak pelanggan berambut pendek.

“Kakak suka warna biru yah? Pasti punya wig biru kan?” tanyaku yang dibalasnya dengan anggukan semangat. “Kalau begitu, beli kacamata merah ini aja. Kakak bisa nge-cross jadi Rei loh. Kakak nonton free, nggak?”

Wajahnya terkejut memandangiku dan kacamata merah yang sedang kupegang.

***

Aku melihat Lidya di sana dengan kakak berambut pendek yang telah jatuh ke dalam perangkapnya. Kak Ayu yang mulai membantu Kak Fakhri, kemudian pergerakan cepat Lidya, dan angin sore yang menerpa rambutku, adalah tanda bahwa toko kami sebentar lagi tutup. Tidak ada waktu lagi, aku juga harus cepat beraksi.

“Aku beli kacamata merahnya!” kata kakak berambut pendek itu.

Lidya memberikan senyuman jenakanya padaku dari jauh. Dia berhasil. Dia duluan yang membuat pelanggan kami mengeluarkan uang. Kak Fakhri menyiapkan bon dan kacamata yang dibeli oleh kakak berambut pendek itu. Sementara Kak Ayu mulai berbicara dengan si Bapak yang dari tadi kebingungan memilih tapi belum mencoba kacamatanya sama sekali.

“Galeh lucu banget sih. Gimana rasanya jadi kakak kembar?” kata kakak rambut kuncir kuda.

“Rasanya….hemmm apa yah. Kami sebagai anak kembar selalu bersaing. Dan aku selalu saja kalah” kataku mulai membentuk wajah sedih.

“Loh kenapa? Kamu kan kakak. Lahir duluan sudah merupakan kemenangan, bukan?”

“Ah itu kan cuma lahir saja. Selama ini Lidya selalu terdepan. Itu lihat aja barusan, dia bisa bikin temen kakak beli kacamata. Sementara aku nggak bisa. Di rumah, cuma aku yang nggak berguna” kataku melihat raut wajah tak tega kakak rambut kuncir kuda. “Tuh liat, Kak Fakhri senyum-senyum sambil elus-elus Lidya. Memang Lidya yang paling bisa diandalkan”

Kakak perempuan kuncir kuda itu membuka tasnya, dan mengeluarkan dompetnya. Aku berhasil.

***

Fakhri melihat jam dinding yang menunjukkan jam 4 Sore. Dia sudah tidak sabar menghadapi bapak yang berpotensi beli itu. Dia menyerahkannya pada Ayu. Fakhri menerima uang dari dua pelanggan perempuannya. Hanya tinggal satu perempuan yang belum membeli kacamatanya, si rambut panjang yang digerai, yang daritadi mencuri perhatiannya. Fakhri melihat si kembar yang masih asik berbicara dengan pelanggannya masing-masing. Dia pun mulai menatap serius pelanggan perempuan berambut panjang digerai.

“Apakah ini cocok untukku?” kata perempuan itu yang telah mencoba banyak kacamata.

“Apapun yang kamu pakai itu cocok dan cantik. Sekarang saatnya tetapkan pilihan yah” kata Fakhri menggenggam tangan perempuan itu dengan tatapan mata yang tajam nan serius.

“a–aku beli yang ini” katanya.

Ketiga remaja perempuan itu pulang dengan membawa kacamata dari toko kami. Si kembar sedang bermain dengan anak si Bapak yang tak kunjung menetapkan pilihannya. Fakhri masih menghitung uang dengan senang, sementara Ayu masih menatap bapak dengan rasa yang ditahannya. Tunggu sampai….

“Coba saja yang ini pak! Yang ini tidak bikin bapak terlihat tua dan harganya murah harganya! MURAH PAK MURAH! SAYA CUMA AMBIL UNTUNG SEDIKIT, BAPAK TEGA SEKALI MINTA MURAH LEBIH DARI INI” teriak Ayu sambil menghentakkan tangannya di meja sontak membuat beberapa pejalan kaki terdiam dan melihat ke arah toko kacamata kami.

Bapak tersebut melihat ke sekeliling dimana semua orang memandangnya termasuk si pemilik toko yang berada di depan toko kami dan pelanggannya. Suasana hening seketika.

“Papa emang pelit. Buruan beli biar kita cepet pulang, pa”

Bapak itu tertawa ringan sambil mengeluarkan uangnya perlahan dan mengambil kacamata itu dengan perasaan tidak enak. Fakhri tersenyum memberikan bungkusan kacamata pada bapak itu, “Terima kasih telah membeli kacamata kami dan jangan kapok datang kesini lagi”

Bapak itu mengambil bungkusannya dengan cepat dan bergumam pelan, “Senyuman laki-laki tadi itu mengerikan”.

Fakhri, Ayu, dan Si kembar menutup toko bersama. Setelah itu dia berlari ke dalam rumah dengan cepat. Aku tahu itu. Aku bisa mendengar suaranya.

“AKU DAPAT SATU PELANGGAN!” teriak si kembar bersamaan.

“Akhirnya berakhir juga hari ini. Sesuai perjanjian~~” kata Ayu.

“Nah jadi?” sahut Fakhri.

“Ya, ya, ya. Liburan jaga toko selama sebulan buat Ayu, game untuk Galeh, komik untuk Lidya, dan uang jajan tambahan sebesar 50% untuk Fakhri” jelasku panjang lebar.

Raut wajah mereka berempat begitu gembira dan mereka berlari ke ruangan yang lain meninggalkanku. Ya, tak apa. Setidaknya hari ini aku bisa tidur siang, merawat kecantikanku agar awet muda, dan toko kacamata tetap berjalan dengan adanya pembeli tiap harinya.

SELESAI

Author’s note: hari kedua dalam rangka #NulisRandom2015 hohohoho. Hari ini aku minta kata benda sama si Galeh buat bikin cerita ini, dan kata yang dia kasih adalah “kacamata”. Alur dan sudut pandangnya ngasal aja, nggak mikir lama yang penting ngetik aja. Endingnya juga rada nggak jelas gitu yah? Yaudalahyah. Bahkan sebenernya ini cerita apaan sih? Hahaha demi menyembuhkan diri dari writer’s block. Special thanks buat KeCe yang nama-namanya aku pakai di sini hahahaha. Ohya untuk #NulisRandom2015 hari pertamanya ada di sini yah

[Songfic] Memori Untuk Didit (Riddim – Walking Other Way)

Author’s note: Hello semuanya, saya Puti Ayu Amatullah. Cerita sedikit mengenai “Memori Untuk Didit” sebenarnya adalah cerpen yang sekarang saya remake menjadi songfic (song fiction). Sisipan lirik yang ada di cerita ini diambil dari lagu Riddim yang berjudul Walking Other Way, yang juga merupakan ost bgm komik webtoon ‘orange marmalade’. Kamu bisa dengerin lagunya disini. Kebetulan gambar juga diambil dari komiknya. Selamat membaca ^^

Marmalade2

*New chat from my best stranger: “jadi telpon kah? Nomorku masih yang sama. Kau bisa cerita saat kau siap

Tuuuuut….tuuut….tuuuut….

“Halo?”

Ya, ini aku. Mungkin cerita ini akan panjang karena aku bingung memulainya darimana. Tapi kau boleh menyuruhku berhenti jika cerita ini sangat membosankan.

*^0^*

“Hey, kau, Melly kan? Hehehe aku Didit dan aku suka banget loh gambarmu”

Wajah ramah, bibir yang selalu tersenyum dengan tawa jenaka di sela-sela kata, suara riang yang lembut, mata bulat yang begitu jernih, dan rambut yang berantakan karena diterpa angin. Didit Senopati, nama yang tertulis di seragam SMA-nya. Aku tidak akan pernah lupa pada pertemuan pertama kita. Karena saat itu, aku berpikir bahwa kau telah menemukanku.

Didit yang begitu menyilaukan bagai matahari, menemukanku, rumput liar yang hanya menjadi bahan injakan orang. Aku dan Didit menyukai gambar. Yang berbeda adalah gambar Didit yang bagus selalu berada di mading yang sering dilihat orang, sementara gambarku berada di mading yang jarang dilihat, seringkali gambarku terjatuh dan terinjak oleh orang yang berlalulalang.

“Semuanya! Kenalkan ini Melly dari kelas 3C! Hari ini kita akan mendapatkan bantuan yang besar dari dia! Pokoknya gambar dia keren deh!” seru Didit penuh semangat.

Semua mata tertuju padaku dan aku hanya tersenyum kaku. Mungkin ini keputusan yang salah untuk mengiyakan ajakan Didit berpartisipasi dalam acara OSIS yang biasanya hanya orang terkenal dan pandai bersosialisasi saja yang ada di dalamnya, pikirku.

“Tenang saja, Mel. Mereka itu belum tau kemampuanmu! Pokoknya kita sukseskan acara perpisahan angkatan kita ini, oke?” bisik Didit ceria. “Jangan khawatir yah, kan ada aku”

Mataku melirik wajah Didit yang begitu dekat denganku. Wajah ceria yang dapat menenangkan hatiku, perilaku yang lembut hingga membuatku tidak takut dan membuatku percaya padanya. Perlahan tapi pasti, roda duniaku berputar.

~Wanted to tell you, but my lips are closed.

Wanted to hug you, but my heart is locked.~

“Kamu kok ngejauhin si Cindy, Dit? Ketahuan banget loh kamu nyuekin dia” kataku dengan nada heran. Aku melihat Didit berhenti membuat sketsa gambar dan beranjak dari kursinya menuju piano tua sekolah yang sudah lama berada di ruang OSIS yang cukup luas.

“Eh coba deh, Mel. Kamu gambarin aku lagi main piano. Perspektifnya dari pintu ruang OSIS itu jadi bagus, nggak, yah?” Didit mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano.

“Dit, jangan alihin pembicaraan deh” aku menghela nafasku dan berjalan ke arah pintu OSIS yang daritadi tertutup rapat.

Mata Didit yang tajam memandang lurus ke arahku, sesekali dia tersenyum dan kembali memandang tuts pianonya. Jantungku berdegup kencang memompa aliran darahku yang mengalir begitu cepat. Wajahku memanas, nafasku tak beraturan. Aku mengalihkan pandanganku ke buku gambar yang kupegang dan berpura-pura mencoba menggambar Didit. Ujung pensilku tidak kunjung bergerak sama sekali. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara denting piano dan degup jantungku. Aku mulai menggoreskan pensilku untuk menutupi suara jantungku yang begitu mengganggu. Aku tidak tahu sejak kapan, Didit menjadi orang yang begitu berarti untukku.

TRIIING

Aku sedikit terkejut mendengar Didit mengakhiri permainan pianonya dengan menekan tuts piano begitu keras.

“Haaaaaaah kakuuuuu!! Sudah lama nggak maiiiin jadi ya gitu deh” Didit merenggangkan kedua tangannya sambil menekan-nekan jemarinya.

“Aku nggak percaya. Dari suara pianonya mah ketahuan banget kamu sering mainin piano buat orang lain. Ah main piano buat Cindy yah? Hahaha” celetukku fokus pada gambarku.

“Mainin piano buat Cindy yah? Hmm Cindy belum pernah liat aku main piano. Ehya berarti kamu, cewek pertama yang liat permainan pianoku hahaha”

DEG

Tanganku berhenti menggambar. Aku menolehkan kepalaku menatap Didit yang masih merenggangkan tangannya. Apakah aku boleh berpikir bahwa aku ini istimewa untukmu, Dit?

“Kenapa?” tanya Didit memecahkan keheningan, tanpa sadar mata kami bertemu. “Pasti seneng kan aku mainin piano? Hahahaha”.

“Ge-er!” balasku cepat sambil melihat Didit yang berjalan ke arahku.

“Halah, nggak mau ngaku. Coba sini liat apa yang sudah kamu gambar” kata Didit yang dengan cepat mengambil buku gambarku dan memperhatikannya. “Heeh masa baru pianonya saja yang digambar”

“Aku itu bukan kamu, Dit yang bisa gambar secepat kilat” kataku ketus.

“Bukan, bukan. Ini tanda kamu terpesona dengan permainan pianoku! Makanya gambarnya nggak kelar Hahahaha!” candanya.

Aku hanya ikut tertawa, berusaha menghilangkan debaran hatiku. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu, Dit? Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya padamu kalau aku menyukaimu sementara kamu telah memiliki perempuan lain? Yang dapat kulakukan saat ini hanya membangun sebuah dinding tak terlihat, agar kau tak pernah tahu perasaanku. Agar aku bisa sedekat ini denganmu tanpa perlu kau merasa terganggu dengan perasaanku.

~Looking into your face, it hurts my heart.

Whenever I turn back, I just miss you again.~

Sistem otakku memiliki memori khusus untuk Didit. Dimana mataku selalu mencari keberadaannya, telingaku mudah mengenali suaranya, dan panca perabaku yang selalu ingin menyentuhnya. Tapi semua sistem itu berbanding terbalik dengan bibirku yang selalu mengeluarkan reaksi yang berlawanan.

Dari kejauhan, aku dapat melihat Didit sedang tertawa dengan Cindy. Matanya  begitu tenang memandang Cindy, tangannya juga terlihat begitu hati-hati mengusap bahu Cindy, dan lengkung senyumnya begitu lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, seperti kuku jari yang tergores di dinding.

“Buang….buang…buang” gumamku berkali-kali. Aku ingin membuang perasaanku. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus membuangnya, aku harus membunuh perasaan ini. Acara perpisahan sekolah tinggal sebulan lagi, aku hanya tinggal menyelesaikannya dengan tenang dan tidak perlu berhubungan dengan Didit lagi.

~Seeing your eyes turning red (with tears), words I wanted tell you won’t just go out of my lips.

Lingering before you, I just turn down my eyes.~

“Loh, Dit? Kamu kenapa?” kataku melihat Didit yang berjongkok di sana. Dia langsung menyeka air matanya begitu melihatku.

Perpustakaan bagian sejarah, tempat Didit menyendiri dan hanya aku yang mengetahui tempat ini. Anak-anak OSIS sedang mencarinya saat ini dan tidak ada yang menemukan Didit. Aku duduk di sebelah Didit dan memperhatikan ke arah lain. Mungkin semua orang tahu tentang Didit yang ceria, Didit yang dewasa dan punya wibawa tapi tidak ada yang tahu Didit yang bocah, Didit yang kesepian dan Didit yang cengeng. Hanya aku yang mengetahui itu. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya aku merasa senang untuk menjadi satu-satunya orang yang tahu kelemahan Didit. Aku biarkan keheningan meliputi kami hingga Didit yang berbicara sendiri.

“Mereka itu ngeselin banget. Buat apa ada team building, kalo ujung-ujungnya mereka pergi setelah kerjaan mereka selesai? Aku maunya setelah acara ini selesai, kita tetap berteman dan dekat gitu. Kamu juga, Mel. Jangan pernah berpikir ninggalin aku yah” panjang lebar Didit.

Aku masih memandang buku-buku sejarah yang tebal dan usang. Dari sudut mataku, aku dapat melihat Didit berbicara memandang buku-buku itu.

“Hu um” singkatku. Aku hanya menjawab seadanya dan secepatnya saja.

Entah apa yang kupikirkan, pikiranku benar-benar kosong mendengar Didit berbicara seperti itu. Aku seperti terhanyut lagi. Dalam diam, aku mulai berharap lagi. Aku menyukai orang yang selalu membuat hatiku sakit.

~Stood waiting for you soaked in the rain then I turn back

My unwilling steps left in the shower of rain,

Just walking away from where my heart up to.~

Bodoh. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan diriku sekarang. Hubunganku dengan Didit benar-benar semakin mendalam. Tapi rasa suka ini tetap sepihak, hanya padaku saja. Di dalam diriku, aku berharap Didit menyadari perasaanku, tetapi di sisi lain aku berharap dia tidak mengetahuinya sama sekali. Mungkinkah pemberi harapan palsu itu memang sebenarnya tidak ada? Karena hanya aku saja yang berharap. Atau mungkinkah hubungan persahabatan antara lawan jenis itu tidak pernah murni sahabat? Ya, secara sepihak aku tidak menganggap Didit sebagai sahabatku.

Tiga hari sebelum acara, rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan perasaan pribadi. Aku harus akrab dengan teman-teman yang lainnya, untuk merusak sistem memori otakku, untuk melupakan Didit, dan untuk membunuh perasaanku. Dan itu cukup berhasil sampai aku membuka ruang OSIS untuk mengambil barangku.

Didit dan Cindy menatapku yang masih tersenyum riang di ambang pintu. Cindy keluar dari ruang OSIS, melewatiku sambil menatap benci padaku. Senyumku mulai memudar, merasakan suasana yang tidak enak. Aku menghampiri Didit yang masih diam dan melihat buku gambarku terbuka lebar. Gambar Didit yang sedang bermain piano dengan tulisan ‘aku suka…’ di sana. Aku sudah lama menyelesaikan gambar itu tapi aku tidak bermaksud ingin memperlihatkannya pada Didit atau siapa pun.

“ngg…Mel, ini…”

“Bukan apa-apa” kataku cepat. Aku mengatur nada bicaraku agar tidak terlihat panik.

Kami sama-sama diam. Didit masih memperhatikan gambarku. Sementara aku memikirkan diriku sendiri. Apakah akhirnya Didit menyadari perasaanku? Apakah aku boleh berharap bahwa aku bisa memelukmu sekarang? Kakiku lemas. Aku egois, aku memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku telah terlanjur berkata bahwa gambar itu bukan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

“Hmm iya. Ini kan waktu itu kamu suka sama permainan pianoku kan maksudnya” katanya memecahkan keheningan. “Maaf yah, Mel, Cindy selalu salah paham. Padahal semua orang tahu, kalo aku sayang banget sama dia. Tapi dia selalu khawatir aku menyukai orang lain. Yaa kamulah yang paling tahu, kan aku sering cerita ini ke kamu kan hehehe”

Aku itu bodoh. Didit benar, akulah yang paling tahu perasaannya pada Cindy dengan segala ceritanya padaku di hari-hari yang lalu. Tapi aku menepisnya dan malah membangun imajinasi bahwa Didit menyukaiku hanya karena dia mempedulikanku. Aku berharap pada imajinasiku sendiri.

“Iya hahaha. Mau aku yang jelaskan ke Cindy, Dit?” bibirku selalu saja berlawanan dengan apa yang kupikirkan.

“Ah, nggak usah, Mel. Biar aku saja. Aku selalu merepotkanmu. Ohya gambarnya bagus” kata Didit menepuk bahuku pelan dan meninggalkanku sendiri di ruang OSIS.

Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku sudah memutuskannya, aku yang harus menjauh darinya kalau aku tidak mau sakit lagi. Atau mungkin memutuskan hubungan ini, sahabat sepihak ini atau apalah namanya. Hari itu air mata tidak keluar sama sekali dari mataku. Dit, aku pergi.

Keesokan harinya sampai beberapa hari setelah acara, aku tidak masuk sekolah. Kondisi tubuhku lemah dan entah bagaimana ini menjadi sebuah anugerah untukku. Kemudian kami menjalani kehidupan masing-masing sampai aku melihat pengumuman namaku dan nama Didit berada di Universitas yang sama. Entah bagaimana aku menghadapinya nanti. Aku terlalu pengecut.

*^0^*

Kau benar, memori atau ingatan itu tidak bisa dihapus, mereka tetap mengendap di dalam otak kita dan akan keluar jika dibutuhkan. Apalagi memoriku untuk Didit terlalu banyak, maka dari itu yang kulakukan adalah membuat banyak memori baru tanpanya agar aku tidak perlu sering mengingatnya. Satu hal yang kutahu, aku tidak menyesal pernah kenal dengan Didit. Satu hal, memoriku untuk Didit yang nggak boleh kulupakan adalah ‘terima kasih telah menemukanku dan mengubah hidupku menjadi lebih baik’. Sok romantis yah? Yaa gitu deh ceritanya. Membosankan kan? Kayak sinetron gitu.

“Aku harap kamu baik-baik saja saat ini, Mel. Terima kasih sudah mau cerita. Hmm semoga waktu memberikan cerita baru untukmu, walau misalnya tokoh ceritanya sama”

Iya, aku juga berharap begitu. Terima kasih yah….Didit.

Tuuuut…..tuuuuut….tuuut…

SELESAI

[Nusantaranger] Sleeping Beauty-ku

SLEEPING BEAUTY-KU/RAJANxNAYAxGEMA/PG-15/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Nusantaranger, Ci Stefani, Sandekala, Pandita, Gema. (hampir semuanye)

Author by: Soraciel21 | Puti Ayu Amatullah

Disclaimer: Semua nama tokoh di dalam fanfic ini diambil dari http://comic.nusantaranger.com/ saya tidak memilikinya hoohoho. Hanya ceritanya saja~

Author’s note: Hai, saya Puti Ayu Amatullah. Ini fanfiction nusantaranger pertama saya untuk merayakan tamatnya nusantaranger pada tanggal 31 Desember 2014 pada pukul 12.00 WIB. Kebetulan fanfiction ini dibuat di tanggal yang sama setelah sholat subuh jadi mohon maaf kekurangannya :”( nusantaranger merupakan komik super-sentai Indonesia. Kalian bisa langsung klik link di atas untuk baca ceritanya dan bersiaplah menjadi Jagawana hehehe. Happy Reading!

1332314_20140604065533

              Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Aku seperti tidur panjang di balik jeruji besi dan melihat diriku berjalan sendiri  di luar sana, bebas tanpa kendaliku.

            “Hey, kau! Siapa kau?! Kembali ke sini dan keluarkan aku! KEMBALIKAN TUBUHKU!!”

***

          Mata Rajan terbuka dengan bulir-bulir keringat mengalir di wajahnya. Pintolee menatapnya heran. Pintolee dengan sigap mengusap wajah Rajan dengan tangannya.

          “Ada apa, sayang? Kau tampak lelah” kata Pintolee dengan nada lembutnya. Pintolee memperhatikan mata Rajan yang kosong dan tidak merespon apa-apa.

            Rajan melepaskan tangan Pintolee dan berdiri dari tempatnya tidur. Dia pergi meninggalkan pintolee yang masih duduk dan menatap punggungnya. Sudah 2 hari, Rajan terbangun dengan keringat yang tidak biasa. Dia seperti bermimpi buruk dan mudah saja bagi Pintolee menyadari itu. Hanya Rajan yang ada di matanya.

           “Sejak pertarungan terakhir, sayangku Rajan menjadi aneh” Pintolee mengadukan keadaan Rajan pada Garaka dan Prana. Dia khawatir Rajan tidak akan bisa ikut bertarung melawan musuh abadi mereka, ksatria nusantara.

            “Itu hanya perasanmu saja, Pintolee. Dalam hal ini janganlah kau terlalu membawa perasaan. Kita tidak membutuhkannya!” tegas Garaka yang mulai muak dengan segala curahan hati Pintolee tentang kekasihnya.

            Berbeda dari Garaka. Prana terdiam sesaat dan menatap Pintolee penuh makna. “Aku merasakan aura Rajan mulai melemah”

            Pintolee dan Garaka terkejut mendengar apa yang dikatakan Prana. Dia bukanlah orang yang sepatutnya memiliki rasa kepedulian. Mereka sadar bahwa ada yang salah dengan Rajan.

***

            Perkarangan rumah Stefani yang luas, sudah menjadi tempat yang nyaman untuk para ksatria berkumpul. Wajah Naya tampak begitu murung. Dia hanya berjalan-jalan santai sambil memikirkan pertarungan terakhir yang terus menerus mengusiknya. Naya berhenti sejenak melihat Rangga dan Rena dari kejauhan.

        “Sleeping beauty itu cerita lemah! Dia tidak bisa melawan kutukannya sendiri. Itu namanya tidak ada usaha. Jika tidak ada ciuman dari pangeran, maka dia akan tidur selamanya” panjang lebar Rena yang membuat Naya sedikit terkejut mendengarnya. Anak itu tidak pernah berbicara sebanyak itu selama ini. Tidak, jika lawan bicaranya bukan Rangga.

         “Loh, itu yang dinamakan takdir, Rena! Hahaha” tanggap Rangga enteng. “Wajarlah kalau perempuan cantik…” Rangga menunjuk Rena dengan jempolnya, “berjodoh dengan pangeran tampan!” Rangga mengarahkan jempolnya ke dada yang dibusungkannya. “Hahahahaha”

       “Huh, apasih!” kesal Rena menanggapi Rangga yang masih tertawa. Rena melihat Naya yang memperhatikannya dari kejauhan. Dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Rangga.

      “Hey, Rena! Maaf aku bercanda! Renaaa!” seru Rangga yang ingin mengejar Rena tetapi terhenti oleh keberadaan Naya yang berada di belakangnya. Rangga mengerti mengapa Rena tiba-tiba pergi, selain karena candaannya mungkin karena Naya. “Euuh maafkan Rena yah. Dia tidak bermaks…”

      “Tidak apa. Memang ini semua salahku. Lebih baik kau susul Rena.” Naya menundukkan kepalanya. Rangga dapat merasakan rasa bersalah yang terukir di wajah Naya. Rangga mengusap pundak Naya sekilas dan pergi mengejar Rena.

         Naya memandang gelang kana nusantaranya dengan perasaan risau. Dia berjalan menuju laboratorium Stefani. Terlihat Stefani sibuk mengutak-atik mesin dan komputernya, hingga menyadari keberadaan Naya yang dari tadi berdiri tak jauh darinya.

        “Ah, Naya, kau rupanya. Hmm bagaimana keadaanmu? Sejak pertarungan kemarin itu, aku takut kau akan mati ditangan Rajan” kata Stefani memperhatikan raut wajah Naya yang berubah tiap kali dia menyebut nama Rajan. “Aku sedang menyelidikinya dan semoga dugaanku salah, tanpa sengaja kau memberikan energimu pada Rajan”

          Mata Naya membulat. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Stefani. Naya menutup kedua matanya, mengingat kembali pertarungan terakhir yang membuatnya dan teman-temannya hampir mati

**^0^**

           Naya tidak akan pernah melupakan hari itu dimana sandekala mengerahkan segala kekuatan. Tak hanya asura tetapi juga ribuan celuluk siap menghabiskan energi para ksatria nusantara sebelum para sandekala menghabiskan nyawa mereka. Rimba mengomandokan para ksatria untuk fokus melawan sandekala, yang mengendalikan asura dan celuluk yang jumlahnya tak ada habis-habisnya. Tanpa sengaja Naya berhadapan dengan Rajan.

         “Orang yang menyakiti orang lain, tidak akan kuampuni!” Naya mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia berlari dan akan menyerang Rajan dari depan.

         Rajan melebarkan senyumannya. Dalam satu gerakan cepat, Rajan menangkap tangan Naya dan menghentikan serangannya. Mata mereka pun bertemu. Naya melihat bayangannya memantul di mata Rajan, semakin lama semakin dalam, hingga dia melihat wajah Gema yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu. Seolah-olah mata Rajan memisahkan sebuah dimensi antara dirinya dan Gema. Rajan mendekatkan tubuhnya pada Naya, seolah-olah dia memeluk Naya.

      “Naya” bisik Rajan. Naya membeku, lidahnya kelu, tubuhnya lemas. Dia tahu betul itu suara Gema yang bergaung di telinganya. Dia tidak akan mungkin membunuh Gema. Perlahan tubuh Naya melemah, dia tak sanggup berdiri jika bukan tangan Rajan yang menopangnya saat ini. Rajan menyeringai dan mengangkat tangannya yang bebas untuk menyerang punggung Naya.

      “Bodoh!” gumam Rena seraya menyerang Rajan hingga membuatnya terpental jauh. Naya bertekuk lutut, tubuhnya begitu lemas. Rena menatap Naya yang tampak tak berdaya. Rena menatap kedua tangannya, sesuatu yang aneh. Dia juga merasakan energinya melemah. “Tidak ada waktu lagi! Aku akan membunuh si muka jelek itu!”

          “JANGAAN!”

         Naya melompat dan menarik Rena sebelum dia pergi untuk menyerang Rajan. Mereka berdua terseret di tanah. Rena kesal dan melepaskan tangan Naya dari dirinya. Tangan itu begitu lemah hingga mudah saja terhempas di udara.

         “Kau sudah gila?! KAU LEMAH!!” hardik Rena.

        Dari kejauhan, Stefani menyadari energi para ksatria terjadi sebuah keanehan. Jika mereka tidak menyatukan perasaan mereka, maka energi mereka akan semakin berkurang. Rimba, Rangga, dan Oji pun telah diserang dari berbagai arah. Stefani mulai menyiapkan teleportasi terakhir agar para ksatria nusantara mundur dari pertarungan.

         “RIMBA! CEPAT MUN…” Stefani terkejut melihat asura, celuluk, dan sandekala yang tiba-tiba saja menghilang. “Apa yang terjadi?”

**^0^**

            “Ingatlah, cakra pandita yang ada pada kalian itu saling melengkapi. Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kalian, maka yang lainnya juga akan merasakan dampaknya. Kalian saling terikat” jelas Stefani memperhatikan wajah muram Naya. Stefani berjalan mendekati Naya kemudian memegangi pundaknya. “Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, kumohon tetaplah hidup”

            “Ste, jika aku membunuh Rajan, apakah itu artinya aku membunuh Gema?” tanya Naya dengan mata tajam.

       Stefani melepaskan tangannya dari pundak Naya. Dia hanya diam dan tidak memberikan jawaban pada pertanyaan Naya. Stefani berjalan menuju mesin-mesin laboratoriumnya.

            “Ste, tolong jawab aku! Aku melihat Gema di sana.” suara Naya bergetar. Dia tidak sanggup membayangkan wajah Gema yang terpantul jelas di balik mata yang kejam itu. “Tubuh itu milik Gema, Ste! Jika aku membunuhnya, apa yang terjadi pada Gema?”

            Stefani tetap diam kemudian membalikkan tubuhnya memandang Naya yang masih menunggu jawabannya. Naya terlihat menahan air matanya. Tampilannya memang tomboy, tapi siapa yang tahu Naya memiliki hati yang begitu lembut. Dia menoleh sebentar pada mesin yang dinyalakannya untuk memanggil Pandita. Naya terkejut melihat Pandita yang muncul di hadapannya.

            “Pandita, apakah aku harus membunuh Rajan? Apakah Gema sudah tidak ada? Kemana Gema pergi?” tanya Naya beruntun. Matanya mulai berair, pandangannya sedikit kabur untuk memandang pandita. Semua pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam dirinya.

            “Dia tertidur” jawab Pandita.

***

            Rajan mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari yang menyilaukan.

         “Kuning” gumamnya. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengannya, terutama sejak matanya bertemu tatap dengan ksatria kuning. Masih dalam ingatan, ada seseorang yang lain, pemilik tubuhnya, hendak memberontak keluar dari dirinya saat itu. Sebuah sinar yang menyilaukan merasuki tubuhnya, rasanya hangat kemudian perlahan terasa panas seperti sinar matahari dan terasa energi yang begitu besar masuk ke dalam dirinya hingga tubuhnya ingin meledak.

         Dalam pikirannya, hari itu dia harus membunuh ksatria kuning sebelum tubuhnya tak sanggup menerima energi aneh yang masuk terus menerus ke dalam dirinya. Entah bagaimana tubuhnya tak terkendali.

            “Bocah sialan!” seru Rajan kesal menyadari bahwa dia berbagi tubuh dengan orang lain.

       Percuma Rajan berbicara pada dirinya sendiri saat ini. Hanya dalam mimpi, dia dapat melihat bocah itu berteriak meminta dikeluarkan. Gema akan bangun saat dirinya tidur, tetapi pertarungan terakhir merupakan sebuah ganjalan. Gema bangun atas kehendaknya sendiri, dengan Rajan yang mengambil kendali penuh tubuhnya. Rajan tidak menyangka, keadaan menjadi begitu merepotkan.

          Ular berjalan melingkari tubuh Pintolee yang sedari tadi diam memperhatikan Rajan dari kejauhan. Kepalanya sedikit mendongak, menatap Rajan yang duduk di atas atap. Gentiri berjalan menghampirinya dan ikut melihat orang yang sedang menjadi topik diskusi sandekala belakangan ini.

   “Dia terlihat frustrasi” singkat Gentiri melirik Pintolee yang membalas lirikan matanya sekilas. “Kau merasakannya juga kan? Ketika ksatria hitam menyerang Rajan, aku merasakan gelombang energi yang aneh pada diriku juga”

       “Aku tak akan lupa itu. Rajan sayangku, memukul kepalanya sendiri dengan sangat keras. Aku tak pernah melihat dia begitu kesakitan” Pintolee masih melihat Rajan dengan tatapan prihatin. Dia mengusap ularnya yang entah bagaimana ularnya mengerti perasaannya.

            “Tapi dia tidak bisa begitu terus. Kita tidak mungkin menunggu dia untuk menyerang ksatria nusantara” jelas Gentiri yang pergi meninggalkan Pintolee.

            Gentiri berjalan perlahan ke tempat dimana dia biasa bereksperimen membuat asura-asura baru. Langkah kakinya berhenti melihat teman-temannya berkumpul secara diam-diam. Dia memasuki ruangan dengan santai, tetapi teman-temannya serentak berhenti bicara. Gentiri tahu, ada yang dibicarakan tanpa sepengetahuannya.

            “Ada apa? Teruskan saja obrolan kalian” kata Gentiri tersenyum seperti biasanya.

            “Masuklah, dan tutup pintu itu” kata Garaka melihat keberadaan Gentiri yang tidak bisa dia hindari.

            “Jadi, ada apa ini?” tanya Gentiri.

            “Kita akan membunuh Rajan!” seru Basu.

             “Pelankan sedikit suaramu itu!” Garaka memukul Basu dengan cepat. Dia bisa melihat ekspresi kaget Gentiri.

           “Dengan kata lain, membunuh bocah sialan yang masih hidup di dalam tubuh Rajan” jelas Garaka menatap teman-temannya. “Bocah itu merepotkan! Rajan terlalu lama tidur di dalam tubuh itu! Wajar saja jika bocah itu masih bisa berontak!”

              “Apakah pintolee tahu hal ini?” respon Gentiri.

             “Siapa yang peduli dengan izinnya? Tujuan kita membangkitkan Rajan bukan untuk melanjutkan kisah cinta mereka!” sinis Vunjagu menanggapi pertanyaan Gentiri.

           “Jika Rajan mati, apakah dia tidak mempengaruhi keadaan kita? Aku yakin kalian juga merasakan energi aneh yang merasuki Rajan dan mempengaruhi kita. Kalau tidak berpengaruh, buat apa kita mundur kemarin?” panjang lebar Gentiri. Dia tidak mengkhawatirkan Rajan, sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri.

       “Jika yang kau maksud adalah kekuatan kita untuk bertarung, maka itu tidak akan menjadi masalah selama masih ada aku” kata Prana.

      Mudah saja Prana berkata seperti itu, dia merupakan tangan kanan kelana, sementara dirinya dan lima temannya hanyalah hasil renkarnasi yang mendapatkan cakra kelana dari terusan pendahulu. Jika Rajan dapat dibunuh, maka dirinya suatu saat nanti juga akan dibunuh bila dia tidak berguna lagi, pikir Gentiri. Sejenak Gentiri memiliki egonya untuk tetap bertahan hidup tanpa mempedulikan tujuan awalnya berada di sini. Gentiri hanya diam dan melihat ketiga temannya yang lain menganggukkan kepala mereka pelan.

        “Yaa lagipula jumlah mereka lebih sedikit disbanding kita” kata Basu enteng.

***

          Rangga dan Rena berjalan memasuki laboratorium Stefani. Wajah mereka sedikit terkejut melihat yang lainnya berkumpul di sana, termasuk pandita yang telah berdiri di antara mereka. Mereka tahu bahwa ada hal serius yang akan dibicarakan. Mereka telah berkumpul, berdiri melingkar. Rena melirik Naya yang berdiri dengan kepala tertunduk sambil memegang lengan kirinya. Sadar diperhatikan, Naya menoleh untuk melihat Rena yang dengan cepat telah mengalihkan pandangannya.

          “Jadi mengenai Rajan…”

       “Biar aku yang membunuhnya” Rena memotong pembicaraan Stefani membuat semuanya memperhatikan Rena.

            “Rena, tenangkan dirimu” kata Oji

    “Ksatria hitam, tujuan kita adalah menyeimbangkan siklus energi marcapada bersama kelana. Bukan memusnahkan mereka” jelas Pandita yang membuat keheningan sesaat di laboratorium itu. Rena tertegun dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Apa yang terjadi pada kelana, dapat aku rasakan. Begitu juga sebaliknya”

      “Tidak memusnahkan. Tapi hanya menghentikan” gumam Rimba memikirkan kalimat Pandita. “Tetapi bukankah selama ini cara menghentikan mereka adalah menghancurkan mereka? Terutama para pengikut kelana?”

            “Iya kau benar. Permasalahannya adalah temanku, Gema masih tertidur di dalam tubuh Rajan” kata Naya.

            “Itu artinya jika kita membunuhnya, maka temanmu akan…”

            “Mati” Naya memotong kalimat Oji. Raut wajahnya kosong memikirkan nasib Gema.

            “Eee kalo dia tidur, berarti ada cara membangunkannya kan? Ouou atau mungkin dengan satu kecupan gitu?” timpal Rangga berusaha mencairkan suasana kaku. “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

            Piiip….piiip…

            Stefani membalikkan tubuhnya dan melihat komputernya mendeteksi sinyal sandekala menyerang penduduk. Para ksatria telah menyiapkan ancang-ancang untuk berubah. Stefani menganggukan kepalanya dengan pasti,

            “BERUBAH!” teriak lima ksatria.

        Stefani menekan sebuah tombol. Para ksatria yang telah berubah ke ranger mode pun diteleportasikan ke tempat sandekala berada. Sesaat mereka tiba di tempat sandekala berada, Rena dan Oji dapat merasakan asura yang kini telah menghadangnya. Asura ciptaan Gentiri yang merupakan perwujudan dari manusia.

            “Hati-hati! Mereka bukan asura biasa. Mereka manusia” kata Oji memperingatkan teman-temannya.

          Gentiri tertawa dari kejauhan. Rena dengan cepat terbang menyerang Gentiri. Rimba dapat melihat Garaka, Basu, Rajan, dan Pintolee yang kemudian menyebar ke berbagai arah. Rangga dan Oji menangani asura-asura yang menghadang mereka. Rimba dan Naya berlari mengejar sandekala. Entah apa yang telah direncanakan sandekala kali ini.

            “Kita akan berpencar. Aku yang akan menangani Rajan” kata Rimba pada Naya.

            “Tidak. Aku bertanggungjawab untuk semua ini. Aku yang akan menghadapinya” kata Naya bersikukuh.

            “Jangan gegabah, ksatria kuning!”

            Ular pintolee menyerang Naya secara tiba-tiba, membuatnya terpental jauh. Rimba yang hendak menolong pun terhenti dengan serangan Garaka dan Basu bersamaan. Rangga datang menolong Naya dan menangani pintolee. Naya berlari mengejar Rajan. Entah apa yang dipikirannya. Dia hanya merasa dapat membangunkan Gema dan menyelamatkannya. Tetapi di sisi lain, dia tidak ingin mengecewakan ksatria lainnya dan tetap memegang janjinya pada Stefani untuk tetap hidup.

            “Puti, yakinlah pada dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Lindungi apa yang kamu cintai. Aku akan melindungimu” bisik ganendra harimau yang tiba-tiba bergema di hati Naya.

          Naya semakin menghentakkan pijakan kakinya dan mempercepat larinya. Naya menemukan Rajan yang sedari tadi berdiri menunggunya. Tempat yang tidak asing bagi Naya, gedung dimana dia dan Gema melihat sunset yang indah. Rajan tersenyum licik dan berjalan perlahan mendekati Naya.

            “Kau belum takut rupanya dengan seranganku, huh?” tanya Rajan retoris.

           Sebelumnya, Rajan telah berjanji pada teman-temannya dan kelana, bahwa dialah yang akan menghabisi Naya sebagai tanda menebus kesalahannya. Tentu saja teman-temannya itu menyetujuinya kecuali Pintolee yang merasa Rajan tidak akan mampu menanganinya seorang diri. Pintolee bertekad bahwa dia yang akan menyerang ksatria kuning lebih dahulu. Sesuai rencana, Rajan harus mati ditangan ksatria kuning. Dengan begitu, sandekala bisa mengambil energi ksatria kuning yang mungkin saja akan diserap tanpa sengaja oleh Rajan seperti pertarungan kemarin.

***

            Sinar matahari masuk ke sela-sela jeruji besi, tempat dimana aku berada. Aku mengangkat tanganku persis di depan wajahku, menutupi sinar matahari yang menyilaukan. Aku seperti bangun di pagi hari, padahal biasanya aku terbangun di tempat yang gelap dan tentunya masih di balik jeruji besi.

                “Aku ingin melihat sunset”

            Naya? Aku mendengar suara Naya. Aku berdiri dari tempatku berbaring dan dengan cepat memegang erat jeruji besi. Berusaha melihat keluar. Ini tidak biasa. Aku tidak melihat orang itu di mana pun. Hanya sinar matahari yang menyilaukan.

            “NAYA!!” panggilku dengan keras. Aku yakin aku mendengar suara Naya tadi.

***

                      UGH!

          Tubuh Naya terhempas dan punggungnya menabrak tembok. Telinga Naya berdengung, dia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Rajan tertawa licik dan berlari untuk menyerang Naya lagi. Naya berpikir keras, dia tidak yakin untuk membunuh Rajan yang artinya membunuh Gema sekaligus.

         “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

         Naya berdiri dari tempatnya. Meneguhkan hatinya dan melihat Rajan yang sedang berlari ke arahnya. Dengan satu gerakan cepat. Naya menangkap wajah Rajan dengan kedua tangannya. Tubuh Rajan berhenti, tiba-tiba tangannya kaku tidak bisa melancarkan serangannya. Mata mereka sekali lagi beradu. Tatapan mereka begitu dalam hingga Rajan dapat melihat mata Naya dibalik topengnya. Naya melihat dirinya terpantul jelas di mata Rajan. Semakin lama semakin dalam, wajah mereka kian dekat. Naya dapat melihat Gema yang berada di dalam mata itu. Dahi dan hidung mereka bertemu. Kedua tangan Rajan masih terbuka lebar dan bergetar, berusaha menggerakkannya. Bibir mereka bertemu sepintas. Wajah Rajan seperti terbakar. Naya melepaskan dirinya dari Rajan. Tubuhnya lemas. Energinya lagi-lagi terserap pada Rajan.

***

            “NAYA! NAYA! NAYAAA!!” hanya itu teriakku di balik jeruji besi.

            Aku tidak bisa melihat apa-apa selain sinar matahari berwarna putih dan kuning. Sinar matahari yang hangat merasuki tubuhku dan semakin lama semakin terasa panas. Kedua tanganku mengeluarkan hawa panas yang sangat dahsyat hingga jeruji besi yang kupegang perlahan meleleh.

            Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Yang kutahu, ini semua milikku!

***

            “Energi apa ini? Apakah Rajan sudah mati? Mereka benar. Aku merasa semakin kuat” gumam Gentiri yang kemudian membalas serangan Rena.

            Di tempat lain, Garaka dan Basu menyeringai. Mereka melancarkan serangan balik pada Rimba. Sementara Pintolee merasa resah, dia pergi mencari Rajan. Rangga masih mengejar Pintolee dengan menembakan peluru pistolnya pada Pintolee.

                AAAAAAAARGGH!!

            Pintolee menemukan Rajan yang berteriak kesakitan. Kali ini tubuh Rajan bergetar, seperti tertahan oleh sesuatu. Tidak jauh dari sana, Pintolee melihat Naya yang telah tergeletak di tanah, berusaha bangkit dari posisinya. Rangga menembak Pintolee tepat mengenai tangan kanannya. Pintolee lengah hingga membuatnya terjatuh tepat di samping Rajan yang mengerang kesakitan. Rangga berlari menghampiri Naya, membantunya berdiri. Rangga dapat merasakan energinya melemah.

            “Ini tidak bagus! Energi kalian melemah! Aku akan mengembalikan kalian!” seru Stefani sambil memantau apa yang terjadi dengan Rajan.

            Mata Pintolee terbelalak melihat wajah Rajan yang perlahan berubah. Dia tidak mengenali lagi kekasihnya itu. Rangga membawa Naya pergi dari tempat itu. Pintolee hendak menyentuh tubuh Rajan tetapi terhenti oleh Garaka dan Basu.

            “Dia akan segera meledak! Lebih baik kita pergi dan membawa energi yang kita rasakan ini ke markas!” seru Basu menarik tangan Pintolee.

            “Jadi…kalian sudah tahu kalau dia akan mati?” tanya Pintolee dengan tatapan tidak mengerti.

          “Rumit menjelaskannya. Rajan telah berkorban untuk kita. Ditambah entitas energi Rajan, Kelana akan senang dengan hasil curian energi ini” jelas Garaka yang mengomandokan Basu untuk menyeret Pintolee menjauh dari Rajan.

            “Kalian membunuhnya?” tanya Pintolee tanpa ada jawaban dari kedua temannya.

***

            Naya membuka matanya. Dia melihat selang-selang yang terhubung dengan tubuhnya. Apa yang terjadi pada Gema, hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berbicara. Dia melihat wajah Stefani yang tersenyum senang. Rangga dan Rena juga berada di sana.

            “Baguslah kau tetap hidup. Aku yakin kau menepati janjimu. Aku akan memanggil Rimba dan George” kata Stefani yang pergi meninggalkan Naya bersama Rangga dan Rena.

            Naya mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Rena. Dia merasa semakin bersalah. Bibir Naya bergumam maaf tetapi tidak ada suara yang keluar di sana. Rena menggenggam tangan Naya dengan lembut. Dia mulai mempedulikan keadaan Naya.

            Di tempat lain, hembusan angin senja membukakan sepasang mata yang dari tadi tertidur. Dia terbangun dan memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Dia mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari terbenam yang hangat. Matanya belum terbuka sepenuhnya dan mulai beradaptasi hingga menyadari tempat dia berada, gedung yang merupakan spot paling keren untuk melihat,

            “Sunset” gumam Gema tersenyum pelan. “Naya”

SELESAI

Strange Dream

“Adakah suatu alasan yang menelatarbelakangi nama panggung kalian saat ini?” Tanya seorang wartawan.

“Tentu saja ada” jawab anggota alice nine serentak seraya melempar senyum.

***

34512_415521804339_680809339_4676655_6255335_n

Setelah wawancara, akhirnya semua kegiatan untuk hari ini berakhir. Para anggota Alice Nine menghela nafas panjang menyambut hari esok dimana mereka libur dari segala kegiatan. Saga menghela nafas sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Hiroto yang mengikutinya pun langsung melompat dengan riang melepas kelelahan dari jadwal yang padat.

“Pon, sadarlah…kasur ini bisa roboh. Kembali ke kamarmu” keluh Saga.

“Ah, sudahlah! kita nikmati hari ini tanpa tidur. Mumpung besok libur!!!” girang hiroto yang masih lompat-lompat di kasurnya.

“Yo!” tora masuk sambil membawa beberapa minuman soda.

“Kami juga ikut” kata Nao yang datang bersama shou membawa perlengkapan tidur.

“Haa…bakal menjadi malam yang panjang” kata saga menutupi wajahnya dengan bantal.

***

                “Hey, Naoli!! Kau memang cocok dengan nama itu!” kata seorang nenek.

“Naoli?? Apa itu??” Tanya anak lelaki berusia sekitar 4 tahun.

“Naoli artinya cantik. Bahasa batak itu. Masa kau tak mengerti? Hayoo…ikut nenek ke medan”

“Oto-san? Oka-san?? Dimana mereka?” rengek anak kecil itu bingung.

“Bahasa apa itu? Nenek tidak mengerti. Pasti Naoli bingung kan? Nenek sebenernya orang batak tapi karena sudah terbiasa di Jakarta ini, nenek jadi kehilangan khas nenek. Hayoo gabung sama temen-temenmu” kata nenek itu menggandeng anak lelaki berusia 4 tahun itu.

“Naoli? Namaku bukan naoli” kata anak lelaki itu.

“Hai, Nao!” kata seorang anak lelaki berbaju biru yang seusianya. Dengan senyum jenaka dia memberikan tangannya untuk berkenalan.

“Namaku bukan Naoli. Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Aku mau mama dan papa. Huaaa..” kata anak yang sudah diberi nama naoli.

“Ya, sesuka nenek itu lah. Aku diberi nama Tora olehnya. Katanya kelak, aku akan setampan orang yang di idolakan nenek itu” kata anak berbaju biru itu sambil menunjuk poster di salah satu sudut dinding.

“Te..oto..er..ara..Tora. Es..usu. su…deidi..di..eroro…Sudiro.. Tora Sudiro” eja Naoli.

“Padahal aku pasti lebih tampan dari lelaki itu” kata Tora sambil melipat tangannya.

“Hey, kalian berdua. Ikut main dengan kami yuk” Ajak seorang anak laki-laki dengan kaos bertuliskan I LOVE SUPONO

“Supono?” terka tora dengan alis terangkat sebelah.

“Pon. Kata nenek itu. Dia baik sekali memberikan aku nama” kata pon dengan memperlihatkan kaosnya yang bertuliskan I LOVE SUPONO. “Kenalkan yang disana itu Shoundoro dan Sagar. Mereka juga sama seperti kita. Mulai sekarang kita berteman”

Naoli yang bingung dengan semua situasi ini pun akhirnya ikut bermain bersama Tora, Pon, Shoundoro dan Sagar. Selama bermain, Naoli mulai melupakan kesedihannya akan mencari mama dan papanya. Siapa nenek itu? Mengapa dirinya diberi nama Naoli? Naoli pun bertanya pada 4 teman barunya itu tentang pemberian nama. Sagar bercerita bahwa suami sang nenek bernama Sagar sirajaguguk, saat masih kecil wajahnya imut seperti dirinya. Sehingga dia diberi nama Sagar. Sementara Shoundoro becerita tentang makanan shoun bihun buatan sang nenek yang diberikan padanya saat menangis mencari mama dan papanya. Sejak saat itu sang nenek memberikan nama shoundoro padanya.

“Asal-asalan sekali si nenek itu yah” kata Tora.

“Eh, tapi Nao bingung kenapa kita ada disini??” Tanya Naoli.

“Umm…pon denger kata nenek itu, orang tua kita sedang asik liburan makanya kita dititipkan” kata Pon.

“Huaaa…mama..papaa” rengek shoun.

Rengekan Shoun membuat yang lainnya pun ikut menangis. Menyuarakan keberadaan papa dan mama mereka. Sang nenek pun datang membawa makanan dan sebuah buku dongeng. Kelima anak itu pun akhirnya mulai berhenti menangis dan melahap makanan mereka. Ternyata menangis adalah suatu kegiatan yang membuat mereka mengeluarkan energi cukup banyak.

“Nenek membawa suatu magic nih. Suatu perjalanan waktu yang ajaib bagaikan mimpi. Alice in wonderland” kata sang Nenek menunjukkan buku dongengnya.

Sentak kelima anak laki-laki itu pun akhirnya benar-benar diam dan tenang. Mata mereka yang bulat tertuju pada buku dongeng yang dibawa sang nenek. Larut dalam cerita yang penuh imajinasi bagaikan masuk dalam mimpi, akhirnya kelima anak itu pun tertidur bak terhipnotis sebuah cerita dongeng.

“Kalian berlima datanglah kesini lagi yah. Nenek tunggu kalian disini. Atau mungkin banyak wanita lain yang akan menunggu kalian disini”

****

Pagi yang sunyi dengan langit berwarna putih cerah. Sinar matahari mulai menyapa dunia dan mengetuk sebuah jendela yang tampaknya suram. Jendela itu adalah jendela kamar dimana para anggota alice nine berada. 5 laki-laki tidur dengan sembarangan dalam 1 kamar yang tadinya terlihat luas kini terlihat sempit.

Dari arah pintu kamar, terlihat tora tertidur di sofa dengan pulasnya. Wajahnya merah menandakan Ia terlalu banyak minum. Sama halnya lelaki dengan rambut blonde yang tertidur tak jauh darinya, Saga. Mereka berdua tertidur terlalu puas disbanding lainnya. Dengan kacang dan snack-snack ringan yang berada di sekitar kaki mereka. Di atas kasur, tampak Hiroto menguasai bidang luas kasur. Kaki Hiroto pun menimpa sebuah guling yang empuk. Guling itu tidak lain dan tidak bukan ialah Shou dengan lilitan selimut menempati bidang terkecil kasur. Di sisi lain Hiroto, tampak Nao yang tidur meringkuk menyesuaikan diri dengan sisa kasur yang ada.

“Aaaaa’…” sendawa Tora bak macan mulai membangunkan Saga.

Saga terbangun sesaat dan mulai tidur lagi dengan lengan menutupi mata. Sinar matahari kini berhasil masuk melalui sela-sela tirai jendela. Sinar matahari itu pun menyapa mata Nao. Nao yang mulai terganggu tidurnya itu pun mulai terbangun dan memposisikan diri dalam keadaan duduk.

“Mimpi yang aneh” gumam Nao mengucek matanya.

“Kau juga?” Tanya seseorang.

Nao mencari sumber suara yang bertanya padanya. Ternyata suara itu berasal dari Shou dibalik selimutnya. Shou mencoba memposisikan dirinya dalam keadaan duduk. Namun tubuhnya terhimpit oleh kaki Hiroto. Nao yang melihat itu pun langsung mengangkat kaki Hiroto dan membuat Hiroto terganggu dari tidurnya.

“Uhmm…apaan sih” gumam hiroto masih dalam keadaan mata tertutup.

Shou pun akhirnya berhasil duduk. Nao memperhatikan shou yang mulai berusaha menampakkan dirinya dibalik lilitan selimut yang dibuatnya sendiri.

“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Nao pada shou yang pada akhirnya berhasil keluar dari lilitan selimutnya.

“Mimpi tentang aku, hmm maksudku kita berlima masih kecil. Aneh, kita berkata dalam bahasa lain. Seperti bukan di Jepang. Aku memakan makanan seperti ramen tapi bukan ramen” jelas Shou.

“Aku juga. Apakah kita berlima bermimpi sama?” Tanya Nao.

Shou mengangkat kedua bahunya. Saga ngesot menuju kasur untuk mengikuti pembicaraan Shou dan Nao. Tampak sekali bahwa Saga begitu lemas. Tora pun terbangun dan langsung menuju toilet.

“Aku dan tora juga bermimpi sama seperti kalian berdua” sambung Saga.

Shou dan Nao saling tatap heran. Mereka pun berada dalam keheningan sesaat. Tora keluar dari toilet sambil membenarkan celananya.

“Barusan aku berpikir, sepertinya ada suatu negara yang harus kita kunjungi. Negara dengan bahasa seperti itu. Bahasa apa itu?” kata Tora kepada 3 temannya yang telah terbangun.

Mereka berempat pun saling menatap. Memikirkan apakah mimpi mereka adalah suatu tanda perintah atau hanya mimpi biasa yang lewat begitu saja. Namun mimpi yang memasuki mereka berempat secara bersamaan itu adalah hal yang teraneh. Beberapa menit mereka memikirkan tentang kesamaan mimpi. Mereka berempat pun menatap kea rah yang sama, yaitu ke arah Hiroto yang masih tertidur pulas.

“Menurutmu pon bermimpi yang sama dengan kita?” Tanya Shou.

Shou, Saga, Tora dan Nao pun mulai memandangi Hiroto yang masih tertidur pulas dan bertukar pandang sesekali.

“Hey, pon! Kau sedang bermimpi apa?” Tanya Tora.

“I Love Supono” gumam Hiroto dalam keadaan setengah sadar.

Mencari Lailatul Qadar

Aku tak mau menunggu lagi. Pokoknya Ramadhan tahun ini, aku akan beribadah bersungguh-sungguh dan mendapatkan lailatul qadar. Aku menyesal tahun lalu melewatkannya dengan berbaring di rumah sakit. Pokoknya sekarang, jaga stamina dan aku benar-benar siap untuk menyambut ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadhan!!!!!!!!!!

“Is! Iswari turun! Kamu nggak makan sahur?”, teriak seorang wanita.

“Sebentar lagi!!”, sahut anak yang di panggil Iswari itu.

“Kamu sedang apa sih? Nanti keburu imsak!”, teriak wanita itu lagi.

Lalu terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Dia turun dengan membawa sebuah teropong. “Iswari sedang menyiapkan teropong untuk lailatul qadar nantinya, ma!” katanya mengelus – ngelus teropongnya.

“ya ampun, Is! Masih lama, kan? Kita aja baru seminggu menjalani puasa” kata ibu Iswari.

“iya. Yang penting Is’ sudah memperhitungkan saat 10 malam terakhir itu, Is’ nggak datang bulan! Pasti Iswari akan mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu!” kata Iswari dengan penuh semangat.

“yakin banget, sih?” kata seorang lelaki yang sedang mengambil nasi.

“ih, kak Amin mematahkan semangat ku aja! Pokoknya kita harus yakin dan bersungguh – sungguh untuk mendapatkannya!” kata Iswari yang mulai mengambil piring dan menaruh teropong pelan – pelan.

“jangan begitu, min! Adik mu itu sedang optimis. Lagipula apa hubungannya teropong dengan malam lailatul qadar, Is?” tanya seorang lelaki dengan kacamata dan bawaan bijaksana.

“teropong ini akan Is’ gunakan untuk mencari malam lailatul qadar” jawab Iswari dengan sangat riang.

“Iswari, malam lailatul qadar itu tak bisa di cari dengan teropong! Malam lailatul qadar hanya bisa kita sambut dan untuk mendapatkannya dengan berikhtikaf serta beribadah” jelas ayahnya Iswari.

“Iswari tahu! Yang penting Iswari ingin melakukan hal yang sudah Is’ jadwalkan!” kata Iswari.

“mungkin hal ini akan mengecewakanmu, Is! Minggu – minggu menjelang 10 malam terakhir ada mid test! Kau ingat? Jangan – jangan kau lupa?” tanya Amin

“hah? Oh iya! Kenapa Is’ bisa lupa, ya? Mungkin karena terlalu senang menyambut ramadhan” keluh Iswari.

Setelah menyantap sahur, Iswari pergi ke kamar dan menyambar beberapa buku. Iswari benar – benar kecewa. “kenapa? Kenapa harus ada mid test di tengah – tengah bulan ramadhan? Bagaimana dengan malam lailatul qadar ku? Padahal aku sudah menyusun rencana untuk mendapatkan malam yang di perebutkan oleh orang banyak!”. Iswari menangis terisak – isak. Menahan suara desahan tangisannya agar tak di dengar oleh orang lain bahwa dia sedang menangis.

Terdengar derap langkah kecil sesorang menaiki tangga, tapi Iswari tidak mendengarnya. Derap langkah itu berhenti di depan pintu kamar Iswari dan hendak membuka pintu kamar Iswari. Tapi tangan itu tidak sampai membuka pintu kamar Iswari. Lalu derap langkah kaki kecil itu pergi menuruni tangga.

Menjelang pertengahan ramadhan, Iswari mati – matian mengejar ketinggalan waktu. Dia berusaha membagi waktunya untuk mendapat malam lailatul qadar dan mendapat nilai bagus untuk mid testnya. Amin hanya memperhatikan Iswari, adiknya itu dari jauh. Dia khawatir Iswari akan sakit. Daya tahan tubuh Iswari sangat lemah, tapi baru kali ini Amin melihat adiknya memiliki 2 stamina. Kedua stamina itu untuk malam lailatul qadar dan untuk mid testnya. Ternyata perkiraan Amin salah, yang mengira Iswari akan jatuh sakit dalam beberapa hari menjelang hari mid test dan malam – malam ganjil untuk berikhtikaf. Mungkin ini di karenakan  tekad Iswari yang bulat.

“sudahlah Iswari! Kau tak boleh memaksakan diri untuk berikhtikaf semalaman. Kau terlihat lelah” sahut Amin menghampiri Iswari yang sedang memulai untuk mengaji.

“Iswari berpikir, dengan Is’ mendapatkan malam lailatul qadar, do’a Is’ untuk mendapat nilai bagus di mid test akan terkabulkan oleh Allah” lelah Iswari yang duduk di meja belajarnya dengan terkantuk – kantuk.

“Allah akan mengabul do’a sesorang bila orang itu juga berusaha”

“kakak, nggak lihat? Iswari sedang berusaha! Jangan ganggu! Aku ingin mengaji” Iswari berjuang membuka mata.

“dasar keras kepala! Maksud ku, bila kamu ingin mendapatkan nilai bagus dalam mid test, kamu harus belajar! Kamu tak bisa melakukan kedua hal yang kamu inginkan! Kamu harus memilih salah satu dari keduanya!”

“Iswari nggak bisa memilih antara malam lailatul qadar dan nilai mid test! Ada peribahasa menyelam sambil minum air, dan Is’ akan melakukan seperti peribahasa itu” keluh Iswari.

“sekarang namanya bukan menyelam sambil minum air, tapi kau tenggelam! Tenggelam dalam 2 tekad mu itu!” kata Amin yang pergi meninggalkan iswari.

“pergi sana! Lagipula Is’ sudah ada janji dengan ayah untuk berikhtikaf bersama” teriak Iswari.

Keesokan harinya, ada berita gempa di sumatra barat. Ayah harus pergi untuk mencari sanak keluarga yang bertempat tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan ku? Janji ayah untuk ikhtikaf besama? Kenapa ayah lebih mementingkan orang lain di banding Allah? Mid test semakin lama semakin menjepit ku yang ingin mengejar malam lailatul qadar. Para guru ku menghubungi mama dan memberitahukannya bahwa belakangan ini nilai ku turun drastis. Kata para guru, aku harus meningkatkan belajar ku sampai 2 kali lipat. Berarti itu tandanya aku tak mempunyai kesempatan untuk mencari malam lailatul qadar ku!

Semakin lama mata ku semakin membengkak. Mama menyuruh ku belajar 2 kali lipat dan tidak boleh bergadang untuk berikhtikaf. Tapi aku tak bisa tidur dengan perasaan bahwa orang lain akan mendapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Jadi, aku membangkang perintah mama. Inilah pertama kalinya aku membangkang perintahnya. Mata ku bengkak, merah dan terdapat lingkaran hitam di sekelilingnya. Mirip seperti mata gaara, tokoh kartun dalam kartun naruto kesukaan ku.

Ngomong – ngomong soal naruto, aku di larang menontonnya. Kakak bukannya membantu, dia malah menasihati ku panjang lebar. Kepala ku pusing, aku tak sanggup menahan kantuk ini lagi…………….

“Is! Iswari! Kamu hebat!”

“anda siapa? Kenapa anda tidak terlihat? Banyak cahaya disini! Apa yang anda berikan pada saya?”

“ini lencana! Lencana itu menandakan bahwa kau mahkluk Allah yang taat. Kau mengorbankan  diri mu untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Jadi, lencana itu juga sebagai tanda kau telah mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan”

“benarkah? Tapi dimana anda? Siapa anda? Kenapa tak terlihat? Hey! Jawab aku! Tapi terima kasih! Akhirnya aku berhasil”

“berhasil apanya?”

“bu guru?”

“nilai mu merah semua! Apa ini yang di sebut murid teladan sekolah?. Ibu sangat kecewa! Bahkan teman mu yang paling bodoh saja masih lebih pintar daripada kamu!”

“nggak mungkin! Saya belum mengikuti mid test, bu!”

“kau mengigau! Makanya jangan bergadang! Kau tidur di kelas! Tidak mengerjakan mid test dengan baik!”

“nggak! Nggak mungkin!”

“anak macam apa kau! Tak menuruti apa kata mama! Memalukan! Nilai mid test itu akan menentukan kelulusan mu sebesar 30%. Mama benar – benar kecewa”

“mama?”

“walaupun hanya 30%, itu sangat berharga! Kenapa kau mengecewakan ayah mu?”

“ayah!!!!! Kakak! Kakak! Tolong aku! Bela aku! Lihat ini di dada ku! Lencana malam lailatul qadar!”

“aku tak melihat lencana apa pun di dada mu! Sudah ku bilang, kau akan tenggelam dalam tekad mu! Tenggelam! Tenggelam!”

“nggak mungkin! Tadi lencana itu berada disini! Dimana lencana itu?”

“kau benar – benar sudah tenggelam!”

“kakak!”

“yah tenggelam!”

“ayah, ibu!”

“benar – benar tenggelam”

“bu guru!”

Cahaya yang penuh itu menenggelamkan ku. Tiba – tiba saja semua gelap. Seolah – olah mata ku yang bengkak membutakan mata ku. Aku berusaha untuk melihat. Dan……….. mata ku terbuka dan semua itu hanya mimpi. Mimpi itu selalu datang beberapa malam. Aku takut, sangat takut. Mungkin kakak benar kalau aku harus memilih salah satu. Maafkan hamba-MU ini ya, Allah! Hamba  tak sanggup mengejar malam istimewa-MU. Tapi hamba berharap ENGKAU memberi kesempatan untuk mencari, mungkin bukan mencari tapi menjemput malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu.

Akhirnya aku angkat tangan. Dan belajar sungguh – sungguh. Lingkaran hitam di bawah mata ku masih terlihat walaupun mata ku sudah agak mendingan. Semua teman – teman yang melihat, selalu berkata bahwa aku belajar mati – matian sampai 100 kali lipat. Mereka salah besar! Aku capek. Aku capek dengan bulan ramadhan ini. Aku memopong nama ku, iswari ramdhani. Menopang kata ramadhani dalam nama ku, membuatku ingin selalu ada untuk bulan ramadhan. Tapi apakah ramadhan selalu ada untuk ku? Yang aku takutkan tahun depan aku sudah tiada dan aku tak punya kesempatan untuk menjemput malam istimewa, lailatul qadar.

Keputusan yang berat bagi ku. Sekarang hari terakhir ku menjalani mid test. Aku senang masih mempunyai satu hari malam ganjil untuk berikhtikaf tapi tiba – tiba saja perut ku sakit, menandakan hal yang tidak baik. Jangan – jangan stamina ku melemah. Ya Allah jangan turunkan stamina hamba – MU ini. Sesampai di rumah, do’a ku terkabulkan. Stamina ku masih stabil tapi yang bikin aku kesal. Sakit perut itu datang karena aku datang bulan. Semua terjadi dengan tak terduga dan tak sesuai dengan rencana ku.

Aku jadi benci semua orang termasuk Allah. Mereka semua tidak memberikan ku kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Malam hari, aku duduk di atas atap dengan mengeluakan semua air mata. Biarkan saja mata ini bengkak kembali.

“jangan begitu. Semua orang tidak bermaksud menghalangi mu untuk mencari malam lailatul qadar mu itu” sapa seseorang.

“tidak bermaksud? Aku takut kesempatan ku untuk mendapatkan malam lailatul qadar tahun depan tidak ada. Pokoknya aku benci semuanya! Bahkan aku benci pada Allah!” teriak tangis iswari. “berawal dari ayah yang tak menepati janji, bu guru yang menyuruh ku belajar dengan giat 2 kali lipat, ibu yang melarang ku untuk begadang, nasihat – nasihat kakak, mimpi buruk yang menghantuiku belakangan ini dan terakhir Allah yang tak memberikan ku kesempatan di detik – detik terakhir”

“ayah tidak menepati janjinya karena musibah yang menimpa saudara kita, guru mu menyuruh belajar dengan giat 2x lipat karena dia ingin kau berhasil menjalani mid test, ibu melarang mu begadang karena dia khawatir akan kesehatan mu, nasihat ku berikan karena aku peduli pada adikku, mimpi – mimpi mu itu menandakan pikiran dan hati mu capek untuk menjalankan 2 tekad secara bersamaan sampai mereka selalu memperingati mu tiap malam, dan bukan Allah yang mendatangkan datang bulan mu. Kamu datang bulan karena kamu kecapekan. Jangan pernah kamu membenci Allah karena suatu rencana yang tak berjalan dengan lancar” amin duduk di samping iswari.

Aku menerima apa yang di katakan kakak. Mereka semua melakukan hal itu terhadap ku karena ada alasannya. Mungkin aku terlalu egois, mementingkan tekad di banding diri ku sendiri. Aku belum bisa mengerti orang lain, aku terlalu keras kepala, aku tak sabaran, aku cepat marah, aku cepat berpikiran negatif terhadap orang lain, berburuk sangka, aku cepat menyalahkan orang lain ketika semua rencana berjalan dengan tidak sesuai, aku bersikap pesimis dan terakhir aku mulai membenci Allah hanya karena aku tidak dapat kesempatan di detik terakhir. Mungkin itu semualah yang menghambat diri ku untuk mencari, menjemput dan mendapatkan malam lailatul qadar.

Benar – benar malam yang istimewa. Mungkin aku belum pantas untuk menjemputnya dan mendapatkannya. Dengan teropong yang berada di tangan ku, mungkin aku hanya bisa mencari – cari bulan yang lain. Bulan yang biasa tanpa keistimewaan. Aku dan kak amin duduk di atas atap dengan menyalakan kembang api. Aku hanya bisa minta maaf kepada Allah yang maha pengampunan atas keburuk sangkaan ku terhadapnya apalagi rasa kebencian yang mulai muncul.

Banyak yang ku pelajari di bulan suci ramadhan ini. Mungkin keputusan ku adalah keputusan yang bijaksana. Tapi tahun depan, aku nggak akan menyerah! Aku akan terus berusaha mendapatkan malam istimewa itu. Bersama kakak, aku duduk di atas atap menikmati keindahan malam yang gelap ciptaan Allah.