Dalam Lift

“ANJRIT! GUE BAKAL BUNUH LU HARI INI!” kesal seorang laki-laki yang sempat membanting smartphone-nya ke sudut lift.

Laki-laki tersebut mengacak-acak rambutnya gusar, kemudian menyenderkan punggungnya ke dinding lift. Penampilan laki-laki tersebut terlihat normal seperti anak muda pada umumnya. Dia mengenakan kaos hitam polos, celana jeans biru, dan sepatu sneakers berwarna merah. Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya mengerutkan alisnya memandang laki-laki muda tersebut. Penampilannya tentu berbeda jauh dari anak laki-laki tersebut. Pria tersebut menggunakan kemeja biru polos, celana bahan, sepatu pantofel hitam, jam tangan, dan kacamata minus.

“Memangnya siapa yang ingin kau bunuh itu, Dek?” kata pria tersebut dengan santai. Dia hanya mengadahkan kepalanya menghadap kumpulan lubang kecil yang berada di atas tombol-tombol angka lift. Dia berharap suara pertolongan keluar dari speaker tersebut.

Sudah hampir setengah jam dia terjebak di dalam lift bersama anak muda yang tidak dikenalnya. Yang dilakukannya hanya duduk tenang dan diam, sementara anak muda yang duduk di sudut kanan lift asyik memainkan game di smartphone-nya beberapa waktu yang lalu sebelum dia melempar smartphone nya ke sudut lift yang lain.

“Saya ingin membunuh Rudal” jawab anak muda memandang lurus ke pintu lift yang masih tertutup.

“Rudal? Hahaha…ah game yah” pria tersebut sedikit tertawa dan ikut memandangi pintu lift kemudian memandangi speaker lagi.

“Bukan, pak. Rudal itu nama teman saya. Rudi Handal namanya. Disingkat Rudal” anak muda tersebut memandang sepatu merahnya dan mulai menggerakkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri secara berlawanan.

Pria paru baya sedikit mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak. Dia sedikit terkejut dengan pernyataan anak muda itu. Tapi apa yang bisa dipercaya dari ucapan anak muda ini di situasi seperti ini, situasi dimana imajinasi pintu lift terbuka mulai menguasai otak.

“Hahaha namanya lucu yah. Rudi Handal. Diharapkan untuk menjadi anak yang dihandalkan yah?” enteng Pria paru baya tanpa memikirkan apa yang dia katakan. Yang dipikirannya saat ini adalah berapa lama dia masih bisa bertahan. Kepalanya mulai terasa pusing, mungkin dikarenakan oksigen yang berada di dalam lift itu semakin menipis.

“Kalau memang dia bisa dihandalkan, harusnya dia mengirimi pesan menanyakan keberadaan saya, pak. Bukannya malah mengirimi invite-an game” anak muda itu mulai mengambil smartphone-nya menggunakan kakinya.

“LOH?! HAPEMU ADA SINYAL?!! KENAPA NGGAK HUBUNGI ORANG BUAT MENOLONG KITA?!!” pria tersebut berteriak memandang kesal anak muda yang kini memandangnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Nggak ada sinyal, pak! Itu juga saya kaget sekalinya ada sinyal kenapa yang masuk malah chat dari Rudal yang isinya kampret! Makanya saya bilang saya ingin bunuh dia!” kata anak muda itu dengan nada penuh kejengkelan.

“Yayaya…bunuh saja dia. Bunuh Rudal itu. Siapa namanya, Rudi Handal itu”

Keheningan kembali meliputi kedua laki-laki tersebut. Terdengar suara pernapasan pria yang tidak teratur. Anak muda menolehkan wajahnya ke pria yang berada di samping kirinya. Terlihat keringat yang bercucuran di wajah pria itu.

TING

Pintu lift terbuka, sontak mereka berdua berdiri dengan penuh semangat dan keluar dari lift. Dua orang petugas langsung mendekati lift dan memeriksa keadaan lift dengan cepat. Seorang perempuan meminta maaf pada pria paru baya yang sedang mengelap keringatnya. Pria mengeluarkan semua keluhannya pada saat itu juga, sementara anak muda pergi meninggalkan kejadian. Tanpa ada kata, pertemuan kedua orang asing tersebut berakhir hari itu.

***

Tiga hari kemudian,

-HEADLINE-

Laki-laki berusia 18 tahun berinisial RH tewas dibunuh temannya. Motif pembunuhan diduga karena rasa kesal invite-an game.

SELESAI

Author’s Note: Hari ke empat #NulisRandom2015 diisi dengan fiksi tentunya. Besok akan kembali ke nonfiksi di blog yang satunya lagi –> langitayu.blogspot.com ohiya berikut list #NulisRandom2015 :
Hari pertama: Terjangkit Writer’s Block (non fiksi)

Hari Kedua: Kacamata (fiksi)

Hari Ketiga: Hadiah Dari Kucing (nonfiksi)

Iklan

4 thoughts on “Dalam Lift

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s