[Nusantaranger] Sleeping Beauty-ku

SLEEPING BEAUTY-KU/RAJANxNAYAxGEMA/PG-15/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Nusantaranger, Ci Stefani, Sandekala, Pandita, Gema. (hampir semuanye)

Author by: Soraciel21 | Puti Ayu Amatullah

Disclaimer: Semua nama tokoh di dalam fanfic ini diambil dari http://comic.nusantaranger.com/ saya tidak memilikinya hoohoho. Hanya ceritanya saja~

Author’s note: Hai, saya Puti Ayu Amatullah. Ini fanfiction nusantaranger pertama saya untuk merayakan tamatnya nusantaranger pada tanggal 31 Desember 2014 pada pukul 12.00 WIB. Kebetulan fanfiction ini dibuat di tanggal yang sama setelah sholat subuh jadi mohon maaf kekurangannya :”( nusantaranger merupakan komik super-sentai Indonesia. Kalian bisa langsung klik link di atas untuk baca ceritanya dan bersiaplah menjadi Jagawana hehehe. Happy Reading!

1332314_20140604065533

              Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Aku seperti tidur panjang di balik jeruji besi dan melihat diriku berjalan sendiri  di luar sana, bebas tanpa kendaliku.

            “Hey, kau! Siapa kau?! Kembali ke sini dan keluarkan aku! KEMBALIKAN TUBUHKU!!”

***

          Mata Rajan terbuka dengan bulir-bulir keringat mengalir di wajahnya. Pintolee menatapnya heran. Pintolee dengan sigap mengusap wajah Rajan dengan tangannya.

          “Ada apa, sayang? Kau tampak lelah” kata Pintolee dengan nada lembutnya. Pintolee memperhatikan mata Rajan yang kosong dan tidak merespon apa-apa.

            Rajan melepaskan tangan Pintolee dan berdiri dari tempatnya tidur. Dia pergi meninggalkan pintolee yang masih duduk dan menatap punggungnya. Sudah 2 hari, Rajan terbangun dengan keringat yang tidak biasa. Dia seperti bermimpi buruk dan mudah saja bagi Pintolee menyadari itu. Hanya Rajan yang ada di matanya.

           “Sejak pertarungan terakhir, sayangku Rajan menjadi aneh” Pintolee mengadukan keadaan Rajan pada Garaka dan Prana. Dia khawatir Rajan tidak akan bisa ikut bertarung melawan musuh abadi mereka, ksatria nusantara.

            “Itu hanya perasanmu saja, Pintolee. Dalam hal ini janganlah kau terlalu membawa perasaan. Kita tidak membutuhkannya!” tegas Garaka yang mulai muak dengan segala curahan hati Pintolee tentang kekasihnya.

            Berbeda dari Garaka. Prana terdiam sesaat dan menatap Pintolee penuh makna. “Aku merasakan aura Rajan mulai melemah”

            Pintolee dan Garaka terkejut mendengar apa yang dikatakan Prana. Dia bukanlah orang yang sepatutnya memiliki rasa kepedulian. Mereka sadar bahwa ada yang salah dengan Rajan.

***

            Perkarangan rumah Stefani yang luas, sudah menjadi tempat yang nyaman untuk para ksatria berkumpul. Wajah Naya tampak begitu murung. Dia hanya berjalan-jalan santai sambil memikirkan pertarungan terakhir yang terus menerus mengusiknya. Naya berhenti sejenak melihat Rangga dan Rena dari kejauhan.

        “Sleeping beauty itu cerita lemah! Dia tidak bisa melawan kutukannya sendiri. Itu namanya tidak ada usaha. Jika tidak ada ciuman dari pangeran, maka dia akan tidur selamanya” panjang lebar Rena yang membuat Naya sedikit terkejut mendengarnya. Anak itu tidak pernah berbicara sebanyak itu selama ini. Tidak, jika lawan bicaranya bukan Rangga.

         “Loh, itu yang dinamakan takdir, Rena! Hahaha” tanggap Rangga enteng. “Wajarlah kalau perempuan cantik…” Rangga menunjuk Rena dengan jempolnya, “berjodoh dengan pangeran tampan!” Rangga mengarahkan jempolnya ke dada yang dibusungkannya. “Hahahahaha”

       “Huh, apasih!” kesal Rena menanggapi Rangga yang masih tertawa. Rena melihat Naya yang memperhatikannya dari kejauhan. Dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Rangga.

      “Hey, Rena! Maaf aku bercanda! Renaaa!” seru Rangga yang ingin mengejar Rena tetapi terhenti oleh keberadaan Naya yang berada di belakangnya. Rangga mengerti mengapa Rena tiba-tiba pergi, selain karena candaannya mungkin karena Naya. “Euuh maafkan Rena yah. Dia tidak bermaks…”

      “Tidak apa. Memang ini semua salahku. Lebih baik kau susul Rena.” Naya menundukkan kepalanya. Rangga dapat merasakan rasa bersalah yang terukir di wajah Naya. Rangga mengusap pundak Naya sekilas dan pergi mengejar Rena.

         Naya memandang gelang kana nusantaranya dengan perasaan risau. Dia berjalan menuju laboratorium Stefani. Terlihat Stefani sibuk mengutak-atik mesin dan komputernya, hingga menyadari keberadaan Naya yang dari tadi berdiri tak jauh darinya.

        “Ah, Naya, kau rupanya. Hmm bagaimana keadaanmu? Sejak pertarungan kemarin itu, aku takut kau akan mati ditangan Rajan” kata Stefani memperhatikan raut wajah Naya yang berubah tiap kali dia menyebut nama Rajan. “Aku sedang menyelidikinya dan semoga dugaanku salah, tanpa sengaja kau memberikan energimu pada Rajan”

          Mata Naya membulat. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Stefani. Naya menutup kedua matanya, mengingat kembali pertarungan terakhir yang membuatnya dan teman-temannya hampir mati

**^0^**

           Naya tidak akan pernah melupakan hari itu dimana sandekala mengerahkan segala kekuatan. Tak hanya asura tetapi juga ribuan celuluk siap menghabiskan energi para ksatria nusantara sebelum para sandekala menghabiskan nyawa mereka. Rimba mengomandokan para ksatria untuk fokus melawan sandekala, yang mengendalikan asura dan celuluk yang jumlahnya tak ada habis-habisnya. Tanpa sengaja Naya berhadapan dengan Rajan.

         “Orang yang menyakiti orang lain, tidak akan kuampuni!” Naya mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia berlari dan akan menyerang Rajan dari depan.

         Rajan melebarkan senyumannya. Dalam satu gerakan cepat, Rajan menangkap tangan Naya dan menghentikan serangannya. Mata mereka pun bertemu. Naya melihat bayangannya memantul di mata Rajan, semakin lama semakin dalam, hingga dia melihat wajah Gema yang menatapnya dengan perasaan ingin tahu. Seolah-olah mata Rajan memisahkan sebuah dimensi antara dirinya dan Gema. Rajan mendekatkan tubuhnya pada Naya, seolah-olah dia memeluk Naya.

      “Naya” bisik Rajan. Naya membeku, lidahnya kelu, tubuhnya lemas. Dia tahu betul itu suara Gema yang bergaung di telinganya. Dia tidak akan mungkin membunuh Gema. Perlahan tubuh Naya melemah, dia tak sanggup berdiri jika bukan tangan Rajan yang menopangnya saat ini. Rajan menyeringai dan mengangkat tangannya yang bebas untuk menyerang punggung Naya.

      “Bodoh!” gumam Rena seraya menyerang Rajan hingga membuatnya terpental jauh. Naya bertekuk lutut, tubuhnya begitu lemas. Rena menatap Naya yang tampak tak berdaya. Rena menatap kedua tangannya, sesuatu yang aneh. Dia juga merasakan energinya melemah. “Tidak ada waktu lagi! Aku akan membunuh si muka jelek itu!”

          “JANGAAN!”

         Naya melompat dan menarik Rena sebelum dia pergi untuk menyerang Rajan. Mereka berdua terseret di tanah. Rena kesal dan melepaskan tangan Naya dari dirinya. Tangan itu begitu lemah hingga mudah saja terhempas di udara.

         “Kau sudah gila?! KAU LEMAH!!” hardik Rena.

        Dari kejauhan, Stefani menyadari energi para ksatria terjadi sebuah keanehan. Jika mereka tidak menyatukan perasaan mereka, maka energi mereka akan semakin berkurang. Rimba, Rangga, dan Oji pun telah diserang dari berbagai arah. Stefani mulai menyiapkan teleportasi terakhir agar para ksatria nusantara mundur dari pertarungan.

         “RIMBA! CEPAT MUN…” Stefani terkejut melihat asura, celuluk, dan sandekala yang tiba-tiba saja menghilang. “Apa yang terjadi?”

**^0^**

            “Ingatlah, cakra pandita yang ada pada kalian itu saling melengkapi. Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari kalian, maka yang lainnya juga akan merasakan dampaknya. Kalian saling terikat” jelas Stefani memperhatikan wajah muram Naya. Stefani berjalan mendekati Naya kemudian memegangi pundaknya. “Aku tidak menyalahkanmu. Hanya saja, kumohon tetaplah hidup”

            “Ste, jika aku membunuh Rajan, apakah itu artinya aku membunuh Gema?” tanya Naya dengan mata tajam.

       Stefani melepaskan tangannya dari pundak Naya. Dia hanya diam dan tidak memberikan jawaban pada pertanyaan Naya. Stefani berjalan menuju mesin-mesin laboratoriumnya.

            “Ste, tolong jawab aku! Aku melihat Gema di sana.” suara Naya bergetar. Dia tidak sanggup membayangkan wajah Gema yang terpantul jelas di balik mata yang kejam itu. “Tubuh itu milik Gema, Ste! Jika aku membunuhnya, apa yang terjadi pada Gema?”

            Stefani tetap diam kemudian membalikkan tubuhnya memandang Naya yang masih menunggu jawabannya. Naya terlihat menahan air matanya. Tampilannya memang tomboy, tapi siapa yang tahu Naya memiliki hati yang begitu lembut. Dia menoleh sebentar pada mesin yang dinyalakannya untuk memanggil Pandita. Naya terkejut melihat Pandita yang muncul di hadapannya.

            “Pandita, apakah aku harus membunuh Rajan? Apakah Gema sudah tidak ada? Kemana Gema pergi?” tanya Naya beruntun. Matanya mulai berair, pandangannya sedikit kabur untuk memandang pandita. Semua pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam dirinya.

            “Dia tertidur” jawab Pandita.

***

            Rajan mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari yang menyilaukan.

         “Kuning” gumamnya. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengannya, terutama sejak matanya bertemu tatap dengan ksatria kuning. Masih dalam ingatan, ada seseorang yang lain, pemilik tubuhnya, hendak memberontak keluar dari dirinya saat itu. Sebuah sinar yang menyilaukan merasuki tubuhnya, rasanya hangat kemudian perlahan terasa panas seperti sinar matahari dan terasa energi yang begitu besar masuk ke dalam dirinya hingga tubuhnya ingin meledak.

         Dalam pikirannya, hari itu dia harus membunuh ksatria kuning sebelum tubuhnya tak sanggup menerima energi aneh yang masuk terus menerus ke dalam dirinya. Entah bagaimana tubuhnya tak terkendali.

            “Bocah sialan!” seru Rajan kesal menyadari bahwa dia berbagi tubuh dengan orang lain.

       Percuma Rajan berbicara pada dirinya sendiri saat ini. Hanya dalam mimpi, dia dapat melihat bocah itu berteriak meminta dikeluarkan. Gema akan bangun saat dirinya tidur, tetapi pertarungan terakhir merupakan sebuah ganjalan. Gema bangun atas kehendaknya sendiri, dengan Rajan yang mengambil kendali penuh tubuhnya. Rajan tidak menyangka, keadaan menjadi begitu merepotkan.

          Ular berjalan melingkari tubuh Pintolee yang sedari tadi diam memperhatikan Rajan dari kejauhan. Kepalanya sedikit mendongak, menatap Rajan yang duduk di atas atap. Gentiri berjalan menghampirinya dan ikut melihat orang yang sedang menjadi topik diskusi sandekala belakangan ini.

   “Dia terlihat frustrasi” singkat Gentiri melirik Pintolee yang membalas lirikan matanya sekilas. “Kau merasakannya juga kan? Ketika ksatria hitam menyerang Rajan, aku merasakan gelombang energi yang aneh pada diriku juga”

       “Aku tak akan lupa itu. Rajan sayangku, memukul kepalanya sendiri dengan sangat keras. Aku tak pernah melihat dia begitu kesakitan” Pintolee masih melihat Rajan dengan tatapan prihatin. Dia mengusap ularnya yang entah bagaimana ularnya mengerti perasaannya.

            “Tapi dia tidak bisa begitu terus. Kita tidak mungkin menunggu dia untuk menyerang ksatria nusantara” jelas Gentiri yang pergi meninggalkan Pintolee.

            Gentiri berjalan perlahan ke tempat dimana dia biasa bereksperimen membuat asura-asura baru. Langkah kakinya berhenti melihat teman-temannya berkumpul secara diam-diam. Dia memasuki ruangan dengan santai, tetapi teman-temannya serentak berhenti bicara. Gentiri tahu, ada yang dibicarakan tanpa sepengetahuannya.

            “Ada apa? Teruskan saja obrolan kalian” kata Gentiri tersenyum seperti biasanya.

            “Masuklah, dan tutup pintu itu” kata Garaka melihat keberadaan Gentiri yang tidak bisa dia hindari.

            “Jadi, ada apa ini?” tanya Gentiri.

            “Kita akan membunuh Rajan!” seru Basu.

             “Pelankan sedikit suaramu itu!” Garaka memukul Basu dengan cepat. Dia bisa melihat ekspresi kaget Gentiri.

           “Dengan kata lain, membunuh bocah sialan yang masih hidup di dalam tubuh Rajan” jelas Garaka menatap teman-temannya. “Bocah itu merepotkan! Rajan terlalu lama tidur di dalam tubuh itu! Wajar saja jika bocah itu masih bisa berontak!”

              “Apakah pintolee tahu hal ini?” respon Gentiri.

             “Siapa yang peduli dengan izinnya? Tujuan kita membangkitkan Rajan bukan untuk melanjutkan kisah cinta mereka!” sinis Vunjagu menanggapi pertanyaan Gentiri.

           “Jika Rajan mati, apakah dia tidak mempengaruhi keadaan kita? Aku yakin kalian juga merasakan energi aneh yang merasuki Rajan dan mempengaruhi kita. Kalau tidak berpengaruh, buat apa kita mundur kemarin?” panjang lebar Gentiri. Dia tidak mengkhawatirkan Rajan, sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri.

       “Jika yang kau maksud adalah kekuatan kita untuk bertarung, maka itu tidak akan menjadi masalah selama masih ada aku” kata Prana.

      Mudah saja Prana berkata seperti itu, dia merupakan tangan kanan kelana, sementara dirinya dan lima temannya hanyalah hasil renkarnasi yang mendapatkan cakra kelana dari terusan pendahulu. Jika Rajan dapat dibunuh, maka dirinya suatu saat nanti juga akan dibunuh bila dia tidak berguna lagi, pikir Gentiri. Sejenak Gentiri memiliki egonya untuk tetap bertahan hidup tanpa mempedulikan tujuan awalnya berada di sini. Gentiri hanya diam dan melihat ketiga temannya yang lain menganggukkan kepala mereka pelan.

        “Yaa lagipula jumlah mereka lebih sedikit disbanding kita” kata Basu enteng.

***

          Rangga dan Rena berjalan memasuki laboratorium Stefani. Wajah mereka sedikit terkejut melihat yang lainnya berkumpul di sana, termasuk pandita yang telah berdiri di antara mereka. Mereka tahu bahwa ada hal serius yang akan dibicarakan. Mereka telah berkumpul, berdiri melingkar. Rena melirik Naya yang berdiri dengan kepala tertunduk sambil memegang lengan kirinya. Sadar diperhatikan, Naya menoleh untuk melihat Rena yang dengan cepat telah mengalihkan pandangannya.

          “Jadi mengenai Rajan…”

       “Biar aku yang membunuhnya” Rena memotong pembicaraan Stefani membuat semuanya memperhatikan Rena.

            “Rena, tenangkan dirimu” kata Oji

    “Ksatria hitam, tujuan kita adalah menyeimbangkan siklus energi marcapada bersama kelana. Bukan memusnahkan mereka” jelas Pandita yang membuat keheningan sesaat di laboratorium itu. Rena tertegun dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. “Apa yang terjadi pada kelana, dapat aku rasakan. Begitu juga sebaliknya”

      “Tidak memusnahkan. Tapi hanya menghentikan” gumam Rimba memikirkan kalimat Pandita. “Tetapi bukankah selama ini cara menghentikan mereka adalah menghancurkan mereka? Terutama para pengikut kelana?”

            “Iya kau benar. Permasalahannya adalah temanku, Gema masih tertidur di dalam tubuh Rajan” kata Naya.

            “Itu artinya jika kita membunuhnya, maka temanmu akan…”

            “Mati” Naya memotong kalimat Oji. Raut wajahnya kosong memikirkan nasib Gema.

            “Eee kalo dia tidur, berarti ada cara membangunkannya kan? Ouou atau mungkin dengan satu kecupan gitu?” timpal Rangga berusaha mencairkan suasana kaku. “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

            Piiip….piiip…

            Stefani membalikkan tubuhnya dan melihat komputernya mendeteksi sinyal sandekala menyerang penduduk. Para ksatria telah menyiapkan ancang-ancang untuk berubah. Stefani menganggukan kepalanya dengan pasti,

            “BERUBAH!” teriak lima ksatria.

        Stefani menekan sebuah tombol. Para ksatria yang telah berubah ke ranger mode pun diteleportasikan ke tempat sandekala berada. Sesaat mereka tiba di tempat sandekala berada, Rena dan Oji dapat merasakan asura yang kini telah menghadangnya. Asura ciptaan Gentiri yang merupakan perwujudan dari manusia.

            “Hati-hati! Mereka bukan asura biasa. Mereka manusia” kata Oji memperingatkan teman-temannya.

          Gentiri tertawa dari kejauhan. Rena dengan cepat terbang menyerang Gentiri. Rimba dapat melihat Garaka, Basu, Rajan, dan Pintolee yang kemudian menyebar ke berbagai arah. Rangga dan Oji menangani asura-asura yang menghadang mereka. Rimba dan Naya berlari mengejar sandekala. Entah apa yang telah direncanakan sandekala kali ini.

            “Kita akan berpencar. Aku yang akan menangani Rajan” kata Rimba pada Naya.

            “Tidak. Aku bertanggungjawab untuk semua ini. Aku yang akan menghadapinya” kata Naya bersikukuh.

            “Jangan gegabah, ksatria kuning!”

            Ular pintolee menyerang Naya secara tiba-tiba, membuatnya terpental jauh. Rimba yang hendak menolong pun terhenti dengan serangan Garaka dan Basu bersamaan. Rangga datang menolong Naya dan menangani pintolee. Naya berlari mengejar Rajan. Entah apa yang dipikirannya. Dia hanya merasa dapat membangunkan Gema dan menyelamatkannya. Tetapi di sisi lain, dia tidak ingin mengecewakan ksatria lainnya dan tetap memegang janjinya pada Stefani untuk tetap hidup.

            “Puti, yakinlah pada dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka menyakitimu. Lindungi apa yang kamu cintai. Aku akan melindungimu” bisik ganendra harimau yang tiba-tiba bergema di hati Naya.

          Naya semakin menghentakkan pijakan kakinya dan mempercepat larinya. Naya menemukan Rajan yang sedari tadi berdiri menunggunya. Tempat yang tidak asing bagi Naya, gedung dimana dia dan Gema melihat sunset yang indah. Rajan tersenyum licik dan berjalan perlahan mendekati Naya.

            “Kau belum takut rupanya dengan seranganku, huh?” tanya Rajan retoris.

           Sebelumnya, Rajan telah berjanji pada teman-temannya dan kelana, bahwa dialah yang akan menghabisi Naya sebagai tanda menebus kesalahannya. Tentu saja teman-temannya itu menyetujuinya kecuali Pintolee yang merasa Rajan tidak akan mampu menanganinya seorang diri. Pintolee bertekad bahwa dia yang akan menyerang ksatria kuning lebih dahulu. Sesuai rencana, Rajan harus mati ditangan ksatria kuning. Dengan begitu, sandekala bisa mengambil energi ksatria kuning yang mungkin saja akan diserap tanpa sengaja oleh Rajan seperti pertarungan kemarin.

***

            Sinar matahari masuk ke sela-sela jeruji besi, tempat dimana aku berada. Aku mengangkat tanganku persis di depan wajahku, menutupi sinar matahari yang menyilaukan. Aku seperti bangun di pagi hari, padahal biasanya aku terbangun di tempat yang gelap dan tentunya masih di balik jeruji besi.

                “Aku ingin melihat sunset”

            Naya? Aku mendengar suara Naya. Aku berdiri dari tempatku berbaring dan dengan cepat memegang erat jeruji besi. Berusaha melihat keluar. Ini tidak biasa. Aku tidak melihat orang itu di mana pun. Hanya sinar matahari yang menyilaukan.

            “NAYA!!” panggilku dengan keras. Aku yakin aku mendengar suara Naya tadi.

***

                      UGH!

          Tubuh Naya terhempas dan punggungnya menabrak tembok. Telinga Naya berdengung, dia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Rajan tertawa licik dan berlari untuk menyerang Naya lagi. Naya berpikir keras, dia tidak yakin untuk membunuh Rajan yang artinya membunuh Gema sekaligus.

         “Humm seperti sleeping beauty yang bangun karena pangeran menciumnya”

         Naya berdiri dari tempatnya. Meneguhkan hatinya dan melihat Rajan yang sedang berlari ke arahnya. Dengan satu gerakan cepat. Naya menangkap wajah Rajan dengan kedua tangannya. Tubuh Rajan berhenti, tiba-tiba tangannya kaku tidak bisa melancarkan serangannya. Mata mereka sekali lagi beradu. Tatapan mereka begitu dalam hingga Rajan dapat melihat mata Naya dibalik topengnya. Naya melihat dirinya terpantul jelas di mata Rajan. Semakin lama semakin dalam, wajah mereka kian dekat. Naya dapat melihat Gema yang berada di dalam mata itu. Dahi dan hidung mereka bertemu. Kedua tangan Rajan masih terbuka lebar dan bergetar, berusaha menggerakkannya. Bibir mereka bertemu sepintas. Wajah Rajan seperti terbakar. Naya melepaskan dirinya dari Rajan. Tubuhnya lemas. Energinya lagi-lagi terserap pada Rajan.

***

            “NAYA! NAYA! NAYAAA!!” hanya itu teriakku di balik jeruji besi.

            Aku tidak bisa melihat apa-apa selain sinar matahari berwarna putih dan kuning. Sinar matahari yang hangat merasuki tubuhku dan semakin lama semakin terasa panas. Kedua tanganku mengeluarkan hawa panas yang sangat dahsyat hingga jeruji besi yang kupegang perlahan meleleh.

            Hati ini milik siapa? Tubuh ini milik siapa? Yang kutahu, ini semua milikku!

***

            “Energi apa ini? Apakah Rajan sudah mati? Mereka benar. Aku merasa semakin kuat” gumam Gentiri yang kemudian membalas serangan Rena.

            Di tempat lain, Garaka dan Basu menyeringai. Mereka melancarkan serangan balik pada Rimba. Sementara Pintolee merasa resah, dia pergi mencari Rajan. Rangga masih mengejar Pintolee dengan menembakan peluru pistolnya pada Pintolee.

                AAAAAAAARGGH!!

            Pintolee menemukan Rajan yang berteriak kesakitan. Kali ini tubuh Rajan bergetar, seperti tertahan oleh sesuatu. Tidak jauh dari sana, Pintolee melihat Naya yang telah tergeletak di tanah, berusaha bangkit dari posisinya. Rangga menembak Pintolee tepat mengenai tangan kanannya. Pintolee lengah hingga membuatnya terjatuh tepat di samping Rajan yang mengerang kesakitan. Rangga berlari menghampiri Naya, membantunya berdiri. Rangga dapat merasakan energinya melemah.

            “Ini tidak bagus! Energi kalian melemah! Aku akan mengembalikan kalian!” seru Stefani sambil memantau apa yang terjadi dengan Rajan.

            Mata Pintolee terbelalak melihat wajah Rajan yang perlahan berubah. Dia tidak mengenali lagi kekasihnya itu. Rangga membawa Naya pergi dari tempat itu. Pintolee hendak menyentuh tubuh Rajan tetapi terhenti oleh Garaka dan Basu.

            “Dia akan segera meledak! Lebih baik kita pergi dan membawa energi yang kita rasakan ini ke markas!” seru Basu menarik tangan Pintolee.

            “Jadi…kalian sudah tahu kalau dia akan mati?” tanya Pintolee dengan tatapan tidak mengerti.

          “Rumit menjelaskannya. Rajan telah berkorban untuk kita. Ditambah entitas energi Rajan, Kelana akan senang dengan hasil curian energi ini” jelas Garaka yang mengomandokan Basu untuk menyeret Pintolee menjauh dari Rajan.

            “Kalian membunuhnya?” tanya Pintolee tanpa ada jawaban dari kedua temannya.

***

            Naya membuka matanya. Dia melihat selang-selang yang terhubung dengan tubuhnya. Apa yang terjadi pada Gema, hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Tubuhnya terlalu lemah untuk berbicara. Dia melihat wajah Stefani yang tersenyum senang. Rangga dan Rena juga berada di sana.

            “Baguslah kau tetap hidup. Aku yakin kau menepati janjimu. Aku akan memanggil Rimba dan George” kata Stefani yang pergi meninggalkan Naya bersama Rangga dan Rena.

            Naya mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Rena. Dia merasa semakin bersalah. Bibir Naya bergumam maaf tetapi tidak ada suara yang keluar di sana. Rena menggenggam tangan Naya dengan lembut. Dia mulai mempedulikan keadaan Naya.

            Di tempat lain, hembusan angin senja membukakan sepasang mata yang dari tadi tertidur. Dia terbangun dan memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Dia mengangkat telapak tangannya persis di depan wajahnya, menutupi sinar matahari terbenam yang hangat. Matanya belum terbuka sepenuhnya dan mulai beradaptasi hingga menyadari tempat dia berada, gedung yang merupakan spot paling keren untuk melihat,

            “Sunset” gumam Gema tersenyum pelan. “Naya”

SELESAI

Iklan

4 respons untuk ‘[Nusantaranger] Sleeping Beauty-ku

  1. Kakaaak, sebelumnya salam kenaaal~mau ngereview, mauuu. Udah lama enggak baca fanfiksi, eh begitu baca, serial aslinya udahan :”.
    Pembukanya Rangga-Rena, bikin senyam-senyum deh. #RanggaRenaGarisKeras /eh.
    Rena masih judes di sinii uuu. Alurnya gampang diikutin, cuma aku rada bingung pas adegan Naya nyium Rajan…
    enggak langsung dong ya? ketutupan helm?
    Terus, menurutku akan lebih baik kalau ‘sleeping beauty’ diganti jadi ‘putri tidur’, biar pake istilah Indonesia sekalian 😀
    Tulisannya rapih, karakternya enggak OOC..
    Makasih udah bikin fanfiksinya ya, kak 😀

    • Salam kenal, indah? Hihihi makasih banget loh uda dikomen sepanjang ini. Aku senang sekali. Soal adegan kissu rajan dan naya bisa dikatakan langsung dan ga langsung, karena topeng para ranger sebenarnya terbentuk oleh energi dari pandita 🙂 terserah imajinasimu mau pilih yang mana. Soal judul aku juga lebih suka pake bahasa indonesia cuma kalo disebut putri tidur kesian rajan disebut putri wkwkwk. Waaa #RanggaRenaGarisKeras *tos iya masih jutek karena belom baca versi endingnya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s