Mencari Lailatul Qadar

Aku tak mau menunggu lagi. Pokoknya Ramadhan tahun ini, aku akan beribadah bersungguh-sungguh dan mendapatkan lailatul qadar. Aku menyesal tahun lalu melewatkannya dengan berbaring di rumah sakit. Pokoknya sekarang, jaga stamina dan aku benar-benar siap untuk menyambut ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadhan!!!!!!!!!!

“Is! Iswari turun! Kamu nggak makan sahur?”, teriak seorang wanita.

“Sebentar lagi!!”, sahut anak yang di panggil Iswari itu.

“Kamu sedang apa sih? Nanti keburu imsak!”, teriak wanita itu lagi.

Lalu terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Dia turun dengan membawa sebuah teropong. “Iswari sedang menyiapkan teropong untuk lailatul qadar nantinya, ma!” katanya mengelus – ngelus teropongnya.

“ya ampun, Is! Masih lama, kan? Kita aja baru seminggu menjalani puasa” kata ibu Iswari.

“iya. Yang penting Is’ sudah memperhitungkan saat 10 malam terakhir itu, Is’ nggak datang bulan! Pasti Iswari akan mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu!” kata Iswari dengan penuh semangat.

“yakin banget, sih?” kata seorang lelaki yang sedang mengambil nasi.

“ih, kak Amin mematahkan semangat ku aja! Pokoknya kita harus yakin dan bersungguh – sungguh untuk mendapatkannya!” kata Iswari yang mulai mengambil piring dan menaruh teropong pelan – pelan.

“jangan begitu, min! Adik mu itu sedang optimis. Lagipula apa hubungannya teropong dengan malam lailatul qadar, Is?” tanya seorang lelaki dengan kacamata dan bawaan bijaksana.

“teropong ini akan Is’ gunakan untuk mencari malam lailatul qadar” jawab Iswari dengan sangat riang.

“Iswari, malam lailatul qadar itu tak bisa di cari dengan teropong! Malam lailatul qadar hanya bisa kita sambut dan untuk mendapatkannya dengan berikhtikaf serta beribadah” jelas ayahnya Iswari.

“Iswari tahu! Yang penting Iswari ingin melakukan hal yang sudah Is’ jadwalkan!” kata Iswari.

“mungkin hal ini akan mengecewakanmu, Is! Minggu – minggu menjelang 10 malam terakhir ada mid test! Kau ingat? Jangan – jangan kau lupa?” tanya Amin

“hah? Oh iya! Kenapa Is’ bisa lupa, ya? Mungkin karena terlalu senang menyambut ramadhan” keluh Iswari.

Setelah menyantap sahur, Iswari pergi ke kamar dan menyambar beberapa buku. Iswari benar – benar kecewa. “kenapa? Kenapa harus ada mid test di tengah – tengah bulan ramadhan? Bagaimana dengan malam lailatul qadar ku? Padahal aku sudah menyusun rencana untuk mendapatkan malam yang di perebutkan oleh orang banyak!”. Iswari menangis terisak – isak. Menahan suara desahan tangisannya agar tak di dengar oleh orang lain bahwa dia sedang menangis.

Terdengar derap langkah kecil sesorang menaiki tangga, tapi Iswari tidak mendengarnya. Derap langkah itu berhenti di depan pintu kamar Iswari dan hendak membuka pintu kamar Iswari. Tapi tangan itu tidak sampai membuka pintu kamar Iswari. Lalu derap langkah kaki kecil itu pergi menuruni tangga.

Menjelang pertengahan ramadhan, Iswari mati – matian mengejar ketinggalan waktu. Dia berusaha membagi waktunya untuk mendapat malam lailatul qadar dan mendapat nilai bagus untuk mid testnya. Amin hanya memperhatikan Iswari, adiknya itu dari jauh. Dia khawatir Iswari akan sakit. Daya tahan tubuh Iswari sangat lemah, tapi baru kali ini Amin melihat adiknya memiliki 2 stamina. Kedua stamina itu untuk malam lailatul qadar dan untuk mid testnya. Ternyata perkiraan Amin salah, yang mengira Iswari akan jatuh sakit dalam beberapa hari menjelang hari mid test dan malam – malam ganjil untuk berikhtikaf. Mungkin ini di karenakan  tekad Iswari yang bulat.

“sudahlah Iswari! Kau tak boleh memaksakan diri untuk berikhtikaf semalaman. Kau terlihat lelah” sahut Amin menghampiri Iswari yang sedang memulai untuk mengaji.

“Iswari berpikir, dengan Is’ mendapatkan malam lailatul qadar, do’a Is’ untuk mendapat nilai bagus di mid test akan terkabulkan oleh Allah” lelah Iswari yang duduk di meja belajarnya dengan terkantuk – kantuk.

“Allah akan mengabul do’a sesorang bila orang itu juga berusaha”

“kakak, nggak lihat? Iswari sedang berusaha! Jangan ganggu! Aku ingin mengaji” Iswari berjuang membuka mata.

“dasar keras kepala! Maksud ku, bila kamu ingin mendapatkan nilai bagus dalam mid test, kamu harus belajar! Kamu tak bisa melakukan kedua hal yang kamu inginkan! Kamu harus memilih salah satu dari keduanya!”

“Iswari nggak bisa memilih antara malam lailatul qadar dan nilai mid test! Ada peribahasa menyelam sambil minum air, dan Is’ akan melakukan seperti peribahasa itu” keluh Iswari.

“sekarang namanya bukan menyelam sambil minum air, tapi kau tenggelam! Tenggelam dalam 2 tekad mu itu!” kata Amin yang pergi meninggalkan iswari.

“pergi sana! Lagipula Is’ sudah ada janji dengan ayah untuk berikhtikaf bersama” teriak Iswari.

Keesokan harinya, ada berita gempa di sumatra barat. Ayah harus pergi untuk mencari sanak keluarga yang bertempat tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan ku? Janji ayah untuk ikhtikaf besama? Kenapa ayah lebih mementingkan orang lain di banding Allah? Mid test semakin lama semakin menjepit ku yang ingin mengejar malam lailatul qadar. Para guru ku menghubungi mama dan memberitahukannya bahwa belakangan ini nilai ku turun drastis. Kata para guru, aku harus meningkatkan belajar ku sampai 2 kali lipat. Berarti itu tandanya aku tak mempunyai kesempatan untuk mencari malam lailatul qadar ku!

Semakin lama mata ku semakin membengkak. Mama menyuruh ku belajar 2 kali lipat dan tidak boleh bergadang untuk berikhtikaf. Tapi aku tak bisa tidur dengan perasaan bahwa orang lain akan mendapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Jadi, aku membangkang perintah mama. Inilah pertama kalinya aku membangkang perintahnya. Mata ku bengkak, merah dan terdapat lingkaran hitam di sekelilingnya. Mirip seperti mata gaara, tokoh kartun dalam kartun naruto kesukaan ku.

Ngomong – ngomong soal naruto, aku di larang menontonnya. Kakak bukannya membantu, dia malah menasihati ku panjang lebar. Kepala ku pusing, aku tak sanggup menahan kantuk ini lagi…………….

“Is! Iswari! Kamu hebat!”

“anda siapa? Kenapa anda tidak terlihat? Banyak cahaya disini! Apa yang anda berikan pada saya?”

“ini lencana! Lencana itu menandakan bahwa kau mahkluk Allah yang taat. Kau mengorbankan  diri mu untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Jadi, lencana itu juga sebagai tanda kau telah mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan”

“benarkah? Tapi dimana anda? Siapa anda? Kenapa tak terlihat? Hey! Jawab aku! Tapi terima kasih! Akhirnya aku berhasil”

“berhasil apanya?”

“bu guru?”

“nilai mu merah semua! Apa ini yang di sebut murid teladan sekolah?. Ibu sangat kecewa! Bahkan teman mu yang paling bodoh saja masih lebih pintar daripada kamu!”

“nggak mungkin! Saya belum mengikuti mid test, bu!”

“kau mengigau! Makanya jangan bergadang! Kau tidur di kelas! Tidak mengerjakan mid test dengan baik!”

“nggak! Nggak mungkin!”

“anak macam apa kau! Tak menuruti apa kata mama! Memalukan! Nilai mid test itu akan menentukan kelulusan mu sebesar 30%. Mama benar – benar kecewa”

“mama?”

“walaupun hanya 30%, itu sangat berharga! Kenapa kau mengecewakan ayah mu?”

“ayah!!!!! Kakak! Kakak! Tolong aku! Bela aku! Lihat ini di dada ku! Lencana malam lailatul qadar!”

“aku tak melihat lencana apa pun di dada mu! Sudah ku bilang, kau akan tenggelam dalam tekad mu! Tenggelam! Tenggelam!”

“nggak mungkin! Tadi lencana itu berada disini! Dimana lencana itu?”

“kau benar – benar sudah tenggelam!”

“kakak!”

“yah tenggelam!”

“ayah, ibu!”

“benar – benar tenggelam”

“bu guru!”

Cahaya yang penuh itu menenggelamkan ku. Tiba – tiba saja semua gelap. Seolah – olah mata ku yang bengkak membutakan mata ku. Aku berusaha untuk melihat. Dan……….. mata ku terbuka dan semua itu hanya mimpi. Mimpi itu selalu datang beberapa malam. Aku takut, sangat takut. Mungkin kakak benar kalau aku harus memilih salah satu. Maafkan hamba-MU ini ya, Allah! Hamba  tak sanggup mengejar malam istimewa-MU. Tapi hamba berharap ENGKAU memberi kesempatan untuk mencari, mungkin bukan mencari tapi menjemput malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu.

Akhirnya aku angkat tangan. Dan belajar sungguh – sungguh. Lingkaran hitam di bawah mata ku masih terlihat walaupun mata ku sudah agak mendingan. Semua teman – teman yang melihat, selalu berkata bahwa aku belajar mati – matian sampai 100 kali lipat. Mereka salah besar! Aku capek. Aku capek dengan bulan ramadhan ini. Aku memopong nama ku, iswari ramdhani. Menopang kata ramadhani dalam nama ku, membuatku ingin selalu ada untuk bulan ramadhan. Tapi apakah ramadhan selalu ada untuk ku? Yang aku takutkan tahun depan aku sudah tiada dan aku tak punya kesempatan untuk menjemput malam istimewa, lailatul qadar.

Keputusan yang berat bagi ku. Sekarang hari terakhir ku menjalani mid test. Aku senang masih mempunyai satu hari malam ganjil untuk berikhtikaf tapi tiba – tiba saja perut ku sakit, menandakan hal yang tidak baik. Jangan – jangan stamina ku melemah. Ya Allah jangan turunkan stamina hamba – MU ini. Sesampai di rumah, do’a ku terkabulkan. Stamina ku masih stabil tapi yang bikin aku kesal. Sakit perut itu datang karena aku datang bulan. Semua terjadi dengan tak terduga dan tak sesuai dengan rencana ku.

Aku jadi benci semua orang termasuk Allah. Mereka semua tidak memberikan ku kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Malam hari, aku duduk di atas atap dengan mengeluakan semua air mata. Biarkan saja mata ini bengkak kembali.

“jangan begitu. Semua orang tidak bermaksud menghalangi mu untuk mencari malam lailatul qadar mu itu” sapa seseorang.

“tidak bermaksud? Aku takut kesempatan ku untuk mendapatkan malam lailatul qadar tahun depan tidak ada. Pokoknya aku benci semuanya! Bahkan aku benci pada Allah!” teriak tangis iswari. “berawal dari ayah yang tak menepati janji, bu guru yang menyuruh ku belajar dengan giat 2 kali lipat, ibu yang melarang ku untuk begadang, nasihat – nasihat kakak, mimpi buruk yang menghantuiku belakangan ini dan terakhir Allah yang tak memberikan ku kesempatan di detik – detik terakhir”

“ayah tidak menepati janjinya karena musibah yang menimpa saudara kita, guru mu menyuruh belajar dengan giat 2x lipat karena dia ingin kau berhasil menjalani mid test, ibu melarang mu begadang karena dia khawatir akan kesehatan mu, nasihat ku berikan karena aku peduli pada adikku, mimpi – mimpi mu itu menandakan pikiran dan hati mu capek untuk menjalankan 2 tekad secara bersamaan sampai mereka selalu memperingati mu tiap malam, dan bukan Allah yang mendatangkan datang bulan mu. Kamu datang bulan karena kamu kecapekan. Jangan pernah kamu membenci Allah karena suatu rencana yang tak berjalan dengan lancar” amin duduk di samping iswari.

Aku menerima apa yang di katakan kakak. Mereka semua melakukan hal itu terhadap ku karena ada alasannya. Mungkin aku terlalu egois, mementingkan tekad di banding diri ku sendiri. Aku belum bisa mengerti orang lain, aku terlalu keras kepala, aku tak sabaran, aku cepat marah, aku cepat berpikiran negatif terhadap orang lain, berburuk sangka, aku cepat menyalahkan orang lain ketika semua rencana berjalan dengan tidak sesuai, aku bersikap pesimis dan terakhir aku mulai membenci Allah hanya karena aku tidak dapat kesempatan di detik terakhir. Mungkin itu semualah yang menghambat diri ku untuk mencari, menjemput dan mendapatkan malam lailatul qadar.

Benar – benar malam yang istimewa. Mungkin aku belum pantas untuk menjemputnya dan mendapatkannya. Dengan teropong yang berada di tangan ku, mungkin aku hanya bisa mencari – cari bulan yang lain. Bulan yang biasa tanpa keistimewaan. Aku dan kak amin duduk di atas atap dengan menyalakan kembang api. Aku hanya bisa minta maaf kepada Allah yang maha pengampunan atas keburuk sangkaan ku terhadapnya apalagi rasa kebencian yang mulai muncul.

Banyak yang ku pelajari di bulan suci ramadhan ini. Mungkin keputusan ku adalah keputusan yang bijaksana. Tapi tahun depan, aku nggak akan menyerah! Aku akan terus berusaha mendapatkan malam istimewa itu. Bersama kakak, aku duduk di atas atap menikmati keindahan malam yang gelap ciptaan Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s