Legenda Sagakuriang dan Mapon Kundang

Alice Nine

Hiroto atau yang biasa disebut Pon mengisi waktu luangnya dengan mengutak-atik sebuah laptop. Ia senyum-senyum dan asik sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya. Tanpa disadari oleh Pon, Nao sudah berada dibelakangnya.

“Uwaaah…tiba-tiba saja” Kata Pon yang terkejut mengetahui Nao berada di belakangnya.

“Sedang apa, pon?” Tanya Nao

“Kau tidak liat? Sedang browsing. Hohoho…lihat ini. FF mengenai kita. Mereka membuat versi yaoi pula” kata Pon dengan semangat.

“Yaoi? Apakah ada tentang aku?” Tanya Nao.

“Umm….daritadi aku hanya menemukan cerita yaoi mengenai Tora dan Saga, Saga dan Shou, bahkan lihat ini…ini aku dan Shou” Kata Pon.

Nao hanya merengutkan dahinya. Ada beberapa pemikiran yang melintas di pikirannya. “Ah, kau membacanya?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya. Hohoho…aku tidak bisa membayangkannya” kata Pon.

“Aku pinjam” kata Nao yang langsung mengambil alih laptop. “Sebaiknya cari yang lain. Seperti legenda gitu. Nah…ini”

****

Cerita dimulai dari alkisah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Shoumbi.  Dayang Shoumbi memiliki kecantikan abadi, yang membuat wajahnya tak pernah tua. Semua orang mengagumi kecantikan Dayang Shoumbi namun hati Dayang Shoumbi hanya dimiliki satu orang yaitu,Si Toramang. Si Toramang yang merupakan jelmaan macan liar itu pun menikahi Dayang Shoumbi. Mereka memadu kasih dan akhirnya memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Sagakuriang. Seiring berjalannya waktu, Sagakuriang tumbuh menjadi sosok lelaki yang tampan. Sementara wajah Dayang Shoumbi, ibunya tidak pernah tua. Bahkan semakin cantik. Kecantikan Dayang Shoumbi membuat Sagakuriang terpesona dan jatuh hati pada ibunya sendiri.

Suatu hari Si Toramang yang menjelma menjadi macan, mengajak Sagakuriang berburu di hutan.

“Mengapa ayahku adalah seekor macan bisa menikahi Dayang Shoumbi yang begitu cantiknya??” Tanya Sagakuriang dalam hati. “Rasanya Aku lebih pantas menjadi pendamping Dayang Shoumbi”. Sagakuriang berjalan sambil memikirkan cintanya terhadap Dayang Shoumbi. Ia merasa macan pemburu jelmaan yang merupakan ayahnya sendiri tidaklah pantas mendampingi Dayang Shoumbi.

Di tengah hutan yang begitu gelap, Sagakuriang dan toramang jelmaan macan mulai berburu untuk memenuhi makan malam mereka.

“Disini kita akan mulai berburu, nak” kata Toramang dalam jelmaan macan. “Sekarang praktikan apa yang telah ayah ajarkan padamu, nak”

Sagakuriang mengeluarkan golok asahan kebanggaannya. Dengan mata tajam, dia mulai membunuh ayahnya sendiri. Sagakuriang tidak terkendali, Ia menghabisi ayahnya demi mendapatkan cinta Dayang Shoumbi. Setelah sang ayah, tora mati. Sagakuriang mulai menyadari perbuatannya. Dia mulai memegangi kepalanya dan pergi keluar hutan berlari pulang dengan tangan dan golok yang berlumuran darah.

“Sagakuriang? Itu kau?” Tanya Dayang Shoumbi yang terkejut melihat Sagakuriang yang pulang dengan cepat.

Sagakuriang berjalan memasuki ruangan dan mulai melihat wajah Dayang Shoumbi yang membuatnya terpesona.

“Dimana tora? Mengapa tanganmu penuh darah??” Tanya Dayang Shoumbi memegangi pundak Saga yang berbidang. Kulitnya yang putih kontras dengan darah segar yang menyelimuti tangan kanannya.

Sagakuriang yang benar-benar jatuh hati pada Dayang Shoumbi hanya diam dan tersenyum pada pujaan hatinya yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Tangan kiri Sagakuriang mengelus rambut Dayang Shoumbi dengan lembut.

“Aku terluka. Ayah menyuruhku pulang dan dia berburu sendiri” kata Sagakuriang.

“Benarkah? Kalau begitu, mari ku obati lukamu” kata Dayang Shoumbi.

Dayang Shoumbi membersihkan tangan kanan Sagakuriang yang penuh darah. Dayang Shoumbi melihat luka-luka Sagakuriang yang dikarenakan beberapa gigitan binatang buas. Dayang Shoumbi begitu mencemaskan luka sagakuriang, Ia pun membalut luka sagakuriang dengan hati-hati. Sagakuriang yang duduk dalam diam hanya memperhatikan kecantikan Dayang Shoumbi. Hatinya semakin berdegup kencang melihat raut wajah Dayang Shoumbi yang sedang membalut lukanya.

“Aku cinta padamu, Dayang Shoumbi” kata Sagakuriang yang meluncur begitu saja.

Dayang Shoumbi yang terkejut pun mulai menghentikan membalut luka Sagakuriang. Dia pun memandangi Sagakuriang yang tersenyum jenaka terhadapnya.

“Sudah mulai larut. Aku akan mencari tora” kata Dayang Shoumbi yang menghiraukan pernyataan Sagakuriang.

“Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku” kata Sagakuriang yang memegangi tangan Dayang Shoumbi. Mencegah Dayang Shoumbi untuk mencari ayahnya ke hutan. “Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

“Kau gila. Ayahmu belum pulang. Aku harus mencarinya. Aku begitu mencemaskannya” kata Dayang Shoumbi yang melepaskan tangan Sagakuriang dan pergi mencari Tora jelmaan macan, suami terkasihnya.

Sagakuriang yang masih tersenyum hanya berkata “Aku gila karenamu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi berlari menuju hutan. Begitu cintanya, Ia terhadap suaminya. Sampailah di tengah hutan. Ia menemukan jejak-jejak darah. Dayang Shoumbi pun mengikutinya dan betapa terkejutnya dia menemukan Toramang, suaminya dalam bentuk tubuh manusia terkapar penuh darah. Dayang shoumbi menangis dan memeluk suaminya itu. Di bibir tora, Dayang Shoumbi menemukan potongan baju Sagakuriang. Ia menduga bahwa luka pada tangan Sagakuriang adalah hasil dari gigitan Tora. Dayang Shoumbi yang terpukul mengetahui bahwa Sagakurianglah yang membunuh Tora pun mulai menguburkan suami terkasihnya seorang diri. Setelah itu, Dayang Shoumbi pulang dengan penuh amarah.

“Sudah pulang kau rupanya, calon istriku” kata Sagakuriang menyambut Dayang Shoumbi dan hendak memeluknya.

Dayang Shoumbi menampar pipi putih Sagakuriang. “Pembunuh! Aku tidak mau hidup bersama anak pembunuh sepertimu”

“Tunggu sebentar, Nao. Tragis sekali cerita ini” kata Pon yang mulai ikut mengikuti alur cerita.

“Kau membacanya?” Tanya Nao yang hendak menutup jendela browsing.

“Umm…lanjutkan saja. Aku ingin melihat endingnya” kata Pon yang mulai mengikutinya.

Sagakuriang yang tidak mempedulikan kata-kata Dayang Shoumbi pun langsung memeluk paksa Dayang Shoumbi. “Macan itu tidak pantas mendampingi mu. Karena aku lah yang pantas mendampingimu. Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi yang berusaha melepaskan pelukan Sagakuriang namun tidak bisa hanya pasrah dan memukul punggung Sagakuriang. “Kau gila. Buktikan kalau kau memang mencintaiku. Buktikan bahwa kau memang pantas menjadi pendampingku”

Sagakuriang mulai melepaskan pelukannya pada Dayang Shoumbi. “Apapun itu asalkan demi kau menjadi istriku, aku akan melakukannya”

Dayang Shoumbi yang menyetujuinya pun meminta Sagakuriang untuk membuat perahu dan telaga dalam waktu semalam. Sagakuriang yang menyetujuinya pun langsung pergi keluar rumah. Sebelum Sagakuriang meninggalkan rumahnya, dia pun berjanji bahwa Dayang Shoumbi akan segera menjadi miliknya.

Tubuh Dayang Shoumbi bergetar dengan segala hal yang terjadi pun hanya bisa berharap bahwa anaknya tidak akan bisa menyelesaikan perintahnya dalam semalam. Dengan bantuan para Iblis, Sagakuriang dengan cepat mengerjakan perintah Dayang Shoumbi. Dayang Shoumbi yang mengetahui hal itu pun mulai cemas. Dia pun memohon kepada Tuhan agar matahari segera datang. Dayang Shoumbi menyerahkan dirinya sebagai sebuah ganti bila permohonannya terkabul.

Ketika itu, fajar pun mulai merekah di ufuk timur. Melihat itu, Sagakuriang panik dengan pekerjaannya yang belum selesai tepat waktu. Sagakuriang yang marah besar hendak mengejar Dayang Shoumbi dan memperlihatkan bukti cintanya. Namun Dayang Shoumbi tiba-tiba menghilang. Membuat Sagakuriang benar-benar kesal dan hendak menendang perahu yang sudah capek dibuatnya.

“Et, et…haiaaah…mana tadi ceritanya?? Haa…bentar lagi selesai tuh” kata Nao.

“Maaf, kepencet. Coba cari kata perahu” kata Pon yang tidak sengaja menekan exit pada jendela browsing. Ia pun mengutak-atik mencari cerita legenda itu lagi dengan keyword ‘perahu’. “Okeh, lanjut lagi ini dia”.

“Stop! Jangan ditendang. Aku akan membelinya” Kata seseorang pria yang sepertinya adalah saudagar kaya raya.

“Siapa kau?” Tanya Sagakuriang yang mulai jengkel.

“Kenalkan, Aku Mapon Kundang” kata pria itu dengan dandanan pakaian ala Sumatra barat. “Aku merantau dari Sumatra. Setelah kaya raya, aku akan balik kesana. Tapi perahuku rusak. Sepertinya perahu buatanmu bagus dan berkelas”

Sagakuriang yang baru pertama kali melihat seorang pria dengan dandanan Sumatra itu pun menyetujui perahunya dibeli. Dengan duit hasil jual perahu, Sagakuriang pergi mencari Dayang Shoumbi, cinta terkasihnya.

Sementara itu, Mapon Kundang menggunakan perahu Sagakuriang dan pergi berlayar ke kampung halamannya. Bersama awak kapal dan istrinya. Mapon kundang menjelajahi laut. Dari Bandung tempat Sagakuriang berada, hingga sampai di Sumatra Barat. Akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Mapon Kundang.

“Ibu Nao!! Mapon kundang telah pulang” kata beberapa orang yang menghampiri seorang Ibu yang rindu akan anaknya, Mapon kundang.

“Mapon!! Syukurlah kau pulang. Ibu rindu padamu” kata ibu Mapon kundang yang memeluk Mapon kundang melepas rindunya.

“Cih, siapa kamu! Aku tak pernah punya ibu miskin seperti kamu. Kau salah orang” kata Mapon Kundang yang pergi meninggalkan ibu tua itu.

“Ya, tuhan bila Ia memang benar anakku, aku sumpahi Ia menjadi……”

Piiip…piiip….Low batteray…piip…

“Yaaah….mati. Sial!! Aku lupa nyolokin chargernya!!!” kata Pon histeris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s