Strange Dream

“Adakah suatu alasan yang menelatarbelakangi nama panggung kalian saat ini?” Tanya seorang wartawan.

“Tentu saja ada” jawab anggota alice nine serentak seraya melempar senyum.

***

34512_415521804339_680809339_4676655_6255335_n

Setelah wawancara, akhirnya semua kegiatan untuk hari ini berakhir. Para anggota Alice Nine menghela nafas panjang menyambut hari esok dimana mereka libur dari segala kegiatan. Saga menghela nafas sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang yang empuk. Hiroto yang mengikutinya pun langsung melompat dengan riang melepas kelelahan dari jadwal yang padat.

“Pon, sadarlah…kasur ini bisa roboh. Kembali ke kamarmu” keluh Saga.

“Ah, sudahlah! kita nikmati hari ini tanpa tidur. Mumpung besok libur!!!” girang hiroto yang masih lompat-lompat di kasurnya.

“Yo!” tora masuk sambil membawa beberapa minuman soda.

“Kami juga ikut” kata Nao yang datang bersama shou membawa perlengkapan tidur.

“Haa…bakal menjadi malam yang panjang” kata saga menutupi wajahnya dengan bantal.

***

                “Hey, Naoli!! Kau memang cocok dengan nama itu!” kata seorang nenek.

“Naoli?? Apa itu??” Tanya anak lelaki berusia sekitar 4 tahun.

“Naoli artinya cantik. Bahasa batak itu. Masa kau tak mengerti? Hayoo…ikut nenek ke medan”

“Oto-san? Oka-san?? Dimana mereka?” rengek anak kecil itu bingung.

“Bahasa apa itu? Nenek tidak mengerti. Pasti Naoli bingung kan? Nenek sebenernya orang batak tapi karena sudah terbiasa di Jakarta ini, nenek jadi kehilangan khas nenek. Hayoo gabung sama temen-temenmu” kata nenek itu menggandeng anak lelaki berusia 4 tahun itu.

“Naoli? Namaku bukan naoli” kata anak lelaki itu.

“Hai, Nao!” kata seorang anak lelaki berbaju biru yang seusianya. Dengan senyum jenaka dia memberikan tangannya untuk berkenalan.

“Namaku bukan Naoli. Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Aku mau mama dan papa. Huaaa..” kata anak yang sudah diberi nama naoli.

“Ya, sesuka nenek itu lah. Aku diberi nama Tora olehnya. Katanya kelak, aku akan setampan orang yang di idolakan nenek itu” kata anak berbaju biru itu sambil menunjuk poster di salah satu sudut dinding.

“Te..oto..er..ara..Tora. Es..usu. su…deidi..di..eroro…Sudiro.. Tora Sudiro” eja Naoli.

“Padahal aku pasti lebih tampan dari lelaki itu” kata Tora sambil melipat tangannya.

“Hey, kalian berdua. Ikut main dengan kami yuk” Ajak seorang anak laki-laki dengan kaos bertuliskan I LOVE SUPONO

“Supono?” terka tora dengan alis terangkat sebelah.

“Pon. Kata nenek itu. Dia baik sekali memberikan aku nama” kata pon dengan memperlihatkan kaosnya yang bertuliskan I LOVE SUPONO. “Kenalkan yang disana itu Shoundoro dan Sagar. Mereka juga sama seperti kita. Mulai sekarang kita berteman”

Naoli yang bingung dengan semua situasi ini pun akhirnya ikut bermain bersama Tora, Pon, Shoundoro dan Sagar. Selama bermain, Naoli mulai melupakan kesedihannya akan mencari mama dan papanya. Siapa nenek itu? Mengapa dirinya diberi nama Naoli? Naoli pun bertanya pada 4 teman barunya itu tentang pemberian nama. Sagar bercerita bahwa suami sang nenek bernama Sagar sirajaguguk, saat masih kecil wajahnya imut seperti dirinya. Sehingga dia diberi nama Sagar. Sementara Shoundoro becerita tentang makanan shoun bihun buatan sang nenek yang diberikan padanya saat menangis mencari mama dan papanya. Sejak saat itu sang nenek memberikan nama shoundoro padanya.

“Asal-asalan sekali si nenek itu yah” kata Tora.

“Eh, tapi Nao bingung kenapa kita ada disini??” Tanya Naoli.

“Umm…pon denger kata nenek itu, orang tua kita sedang asik liburan makanya kita dititipkan” kata Pon.

“Huaaa…mama..papaa” rengek shoun.

Rengekan Shoun membuat yang lainnya pun ikut menangis. Menyuarakan keberadaan papa dan mama mereka. Sang nenek pun datang membawa makanan dan sebuah buku dongeng. Kelima anak itu pun akhirnya mulai berhenti menangis dan melahap makanan mereka. Ternyata menangis adalah suatu kegiatan yang membuat mereka mengeluarkan energi cukup banyak.

“Nenek membawa suatu magic nih. Suatu perjalanan waktu yang ajaib bagaikan mimpi. Alice in wonderland” kata sang Nenek menunjukkan buku dongengnya.

Sentak kelima anak laki-laki itu pun akhirnya benar-benar diam dan tenang. Mata mereka yang bulat tertuju pada buku dongeng yang dibawa sang nenek. Larut dalam cerita yang penuh imajinasi bagaikan masuk dalam mimpi, akhirnya kelima anak itu pun tertidur bak terhipnotis sebuah cerita dongeng.

“Kalian berlima datanglah kesini lagi yah. Nenek tunggu kalian disini. Atau mungkin banyak wanita lain yang akan menunggu kalian disini”

****

Pagi yang sunyi dengan langit berwarna putih cerah. Sinar matahari mulai menyapa dunia dan mengetuk sebuah jendela yang tampaknya suram. Jendela itu adalah jendela kamar dimana para anggota alice nine berada. 5 laki-laki tidur dengan sembarangan dalam 1 kamar yang tadinya terlihat luas kini terlihat sempit.

Dari arah pintu kamar, terlihat tora tertidur di sofa dengan pulasnya. Wajahnya merah menandakan Ia terlalu banyak minum. Sama halnya lelaki dengan rambut blonde yang tertidur tak jauh darinya, Saga. Mereka berdua tertidur terlalu puas disbanding lainnya. Dengan kacang dan snack-snack ringan yang berada di sekitar kaki mereka. Di atas kasur, tampak Hiroto menguasai bidang luas kasur. Kaki Hiroto pun menimpa sebuah guling yang empuk. Guling itu tidak lain dan tidak bukan ialah Shou dengan lilitan selimut menempati bidang terkecil kasur. Di sisi lain Hiroto, tampak Nao yang tidur meringkuk menyesuaikan diri dengan sisa kasur yang ada.

“Aaaaa’…” sendawa Tora bak macan mulai membangunkan Saga.

Saga terbangun sesaat dan mulai tidur lagi dengan lengan menutupi mata. Sinar matahari kini berhasil masuk melalui sela-sela tirai jendela. Sinar matahari itu pun menyapa mata Nao. Nao yang mulai terganggu tidurnya itu pun mulai terbangun dan memposisikan diri dalam keadaan duduk.

“Mimpi yang aneh” gumam Nao mengucek matanya.

“Kau juga?” Tanya seseorang.

Nao mencari sumber suara yang bertanya padanya. Ternyata suara itu berasal dari Shou dibalik selimutnya. Shou mencoba memposisikan dirinya dalam keadaan duduk. Namun tubuhnya terhimpit oleh kaki Hiroto. Nao yang melihat itu pun langsung mengangkat kaki Hiroto dan membuat Hiroto terganggu dari tidurnya.

“Uhmm…apaan sih” gumam hiroto masih dalam keadaan mata tertutup.

Shou pun akhirnya berhasil duduk. Nao memperhatikan shou yang mulai berusaha menampakkan dirinya dibalik lilitan selimut yang dibuatnya sendiri.

“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Nao pada shou yang pada akhirnya berhasil keluar dari lilitan selimutnya.

“Mimpi tentang aku, hmm maksudku kita berlima masih kecil. Aneh, kita berkata dalam bahasa lain. Seperti bukan di Jepang. Aku memakan makanan seperti ramen tapi bukan ramen” jelas Shou.

“Aku juga. Apakah kita berlima bermimpi sama?” Tanya Nao.

Shou mengangkat kedua bahunya. Saga ngesot menuju kasur untuk mengikuti pembicaraan Shou dan Nao. Tampak sekali bahwa Saga begitu lemas. Tora pun terbangun dan langsung menuju toilet.

“Aku dan tora juga bermimpi sama seperti kalian berdua” sambung Saga.

Shou dan Nao saling tatap heran. Mereka pun berada dalam keheningan sesaat. Tora keluar dari toilet sambil membenarkan celananya.

“Barusan aku berpikir, sepertinya ada suatu negara yang harus kita kunjungi. Negara dengan bahasa seperti itu. Bahasa apa itu?” kata Tora kepada 3 temannya yang telah terbangun.

Mereka berempat pun saling menatap. Memikirkan apakah mimpi mereka adalah suatu tanda perintah atau hanya mimpi biasa yang lewat begitu saja. Namun mimpi yang memasuki mereka berempat secara bersamaan itu adalah hal yang teraneh. Beberapa menit mereka memikirkan tentang kesamaan mimpi. Mereka berempat pun menatap kea rah yang sama, yaitu ke arah Hiroto yang masih tertidur pulas.

“Menurutmu pon bermimpi yang sama dengan kita?” Tanya Shou.

Shou, Saga, Tora dan Nao pun mulai memandangi Hiroto yang masih tertidur pulas dan bertukar pandang sesekali.

“Hey, pon! Kau sedang bermimpi apa?” Tanya Tora.

“I Love Supono” gumam Hiroto dalam keadaan setengah sadar.

Iklan

Mencari Lailatul Qadar

Aku tak mau menunggu lagi. Pokoknya Ramadhan tahun ini, aku akan beribadah bersungguh-sungguh dan mendapatkan lailatul qadar. Aku menyesal tahun lalu melewatkannya dengan berbaring di rumah sakit. Pokoknya sekarang, jaga stamina dan aku benar-benar siap untuk menyambut ramadhan. Selamat datang bulan suci Ramadhan!!!!!!!!!!

“Is! Iswari turun! Kamu nggak makan sahur?”, teriak seorang wanita.

“Sebentar lagi!!”, sahut anak yang di panggil Iswari itu.

“Kamu sedang apa sih? Nanti keburu imsak!”, teriak wanita itu lagi.

Lalu terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Dia turun dengan membawa sebuah teropong. “Iswari sedang menyiapkan teropong untuk lailatul qadar nantinya, ma!” katanya mengelus – ngelus teropongnya.

“ya ampun, Is! Masih lama, kan? Kita aja baru seminggu menjalani puasa” kata ibu Iswari.

“iya. Yang penting Is’ sudah memperhitungkan saat 10 malam terakhir itu, Is’ nggak datang bulan! Pasti Iswari akan mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu!” kata Iswari dengan penuh semangat.

“yakin banget, sih?” kata seorang lelaki yang sedang mengambil nasi.

“ih, kak Amin mematahkan semangat ku aja! Pokoknya kita harus yakin dan bersungguh – sungguh untuk mendapatkannya!” kata Iswari yang mulai mengambil piring dan menaruh teropong pelan – pelan.

“jangan begitu, min! Adik mu itu sedang optimis. Lagipula apa hubungannya teropong dengan malam lailatul qadar, Is?” tanya seorang lelaki dengan kacamata dan bawaan bijaksana.

“teropong ini akan Is’ gunakan untuk mencari malam lailatul qadar” jawab Iswari dengan sangat riang.

“Iswari, malam lailatul qadar itu tak bisa di cari dengan teropong! Malam lailatul qadar hanya bisa kita sambut dan untuk mendapatkannya dengan berikhtikaf serta beribadah” jelas ayahnya Iswari.

“Iswari tahu! Yang penting Iswari ingin melakukan hal yang sudah Is’ jadwalkan!” kata Iswari.

“mungkin hal ini akan mengecewakanmu, Is! Minggu – minggu menjelang 10 malam terakhir ada mid test! Kau ingat? Jangan – jangan kau lupa?” tanya Amin

“hah? Oh iya! Kenapa Is’ bisa lupa, ya? Mungkin karena terlalu senang menyambut ramadhan” keluh Iswari.

Setelah menyantap sahur, Iswari pergi ke kamar dan menyambar beberapa buku. Iswari benar – benar kecewa. “kenapa? Kenapa harus ada mid test di tengah – tengah bulan ramadhan? Bagaimana dengan malam lailatul qadar ku? Padahal aku sudah menyusun rencana untuk mendapatkan malam yang di perebutkan oleh orang banyak!”. Iswari menangis terisak – isak. Menahan suara desahan tangisannya agar tak di dengar oleh orang lain bahwa dia sedang menangis.

Terdengar derap langkah kecil sesorang menaiki tangga, tapi Iswari tidak mendengarnya. Derap langkah itu berhenti di depan pintu kamar Iswari dan hendak membuka pintu kamar Iswari. Tapi tangan itu tidak sampai membuka pintu kamar Iswari. Lalu derap langkah kaki kecil itu pergi menuruni tangga.

Menjelang pertengahan ramadhan, Iswari mati – matian mengejar ketinggalan waktu. Dia berusaha membagi waktunya untuk mendapat malam lailatul qadar dan mendapat nilai bagus untuk mid testnya. Amin hanya memperhatikan Iswari, adiknya itu dari jauh. Dia khawatir Iswari akan sakit. Daya tahan tubuh Iswari sangat lemah, tapi baru kali ini Amin melihat adiknya memiliki 2 stamina. Kedua stamina itu untuk malam lailatul qadar dan untuk mid testnya. Ternyata perkiraan Amin salah, yang mengira Iswari akan jatuh sakit dalam beberapa hari menjelang hari mid test dan malam – malam ganjil untuk berikhtikaf. Mungkin ini di karenakan  tekad Iswari yang bulat.

“sudahlah Iswari! Kau tak boleh memaksakan diri untuk berikhtikaf semalaman. Kau terlihat lelah” sahut Amin menghampiri Iswari yang sedang memulai untuk mengaji.

“Iswari berpikir, dengan Is’ mendapatkan malam lailatul qadar, do’a Is’ untuk mendapat nilai bagus di mid test akan terkabulkan oleh Allah” lelah Iswari yang duduk di meja belajarnya dengan terkantuk – kantuk.

“Allah akan mengabul do’a sesorang bila orang itu juga berusaha”

“kakak, nggak lihat? Iswari sedang berusaha! Jangan ganggu! Aku ingin mengaji” Iswari berjuang membuka mata.

“dasar keras kepala! Maksud ku, bila kamu ingin mendapatkan nilai bagus dalam mid test, kamu harus belajar! Kamu tak bisa melakukan kedua hal yang kamu inginkan! Kamu harus memilih salah satu dari keduanya!”

“Iswari nggak bisa memilih antara malam lailatul qadar dan nilai mid test! Ada peribahasa menyelam sambil minum air, dan Is’ akan melakukan seperti peribahasa itu” keluh Iswari.

“sekarang namanya bukan menyelam sambil minum air, tapi kau tenggelam! Tenggelam dalam 2 tekad mu itu!” kata Amin yang pergi meninggalkan iswari.

“pergi sana! Lagipula Is’ sudah ada janji dengan ayah untuk berikhtikaf bersama” teriak Iswari.

Keesokan harinya, ada berita gempa di sumatra barat. Ayah harus pergi untuk mencari sanak keluarga yang bertempat tinggal di sana. Lalu bagaimana dengan ku? Janji ayah untuk ikhtikaf besama? Kenapa ayah lebih mementingkan orang lain di banding Allah? Mid test semakin lama semakin menjepit ku yang ingin mengejar malam lailatul qadar. Para guru ku menghubungi mama dan memberitahukannya bahwa belakangan ini nilai ku turun drastis. Kata para guru, aku harus meningkatkan belajar ku sampai 2 kali lipat. Berarti itu tandanya aku tak mempunyai kesempatan untuk mencari malam lailatul qadar ku!

Semakin lama mata ku semakin membengkak. Mama menyuruh ku belajar 2 kali lipat dan tidak boleh bergadang untuk berikhtikaf. Tapi aku tak bisa tidur dengan perasaan bahwa orang lain akan mendapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Jadi, aku membangkang perintah mama. Inilah pertama kalinya aku membangkang perintahnya. Mata ku bengkak, merah dan terdapat lingkaran hitam di sekelilingnya. Mirip seperti mata gaara, tokoh kartun dalam kartun naruto kesukaan ku.

Ngomong – ngomong soal naruto, aku di larang menontonnya. Kakak bukannya membantu, dia malah menasihati ku panjang lebar. Kepala ku pusing, aku tak sanggup menahan kantuk ini lagi…………….

“Is! Iswari! Kamu hebat!”

“anda siapa? Kenapa anda tidak terlihat? Banyak cahaya disini! Apa yang anda berikan pada saya?”

“ini lencana! Lencana itu menandakan bahwa kau mahkluk Allah yang taat. Kau mengorbankan  diri mu untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Jadi, lencana itu juga sebagai tanda kau telah mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan”

“benarkah? Tapi dimana anda? Siapa anda? Kenapa tak terlihat? Hey! Jawab aku! Tapi terima kasih! Akhirnya aku berhasil”

“berhasil apanya?”

“bu guru?”

“nilai mu merah semua! Apa ini yang di sebut murid teladan sekolah?. Ibu sangat kecewa! Bahkan teman mu yang paling bodoh saja masih lebih pintar daripada kamu!”

“nggak mungkin! Saya belum mengikuti mid test, bu!”

“kau mengigau! Makanya jangan bergadang! Kau tidur di kelas! Tidak mengerjakan mid test dengan baik!”

“nggak! Nggak mungkin!”

“anak macam apa kau! Tak menuruti apa kata mama! Memalukan! Nilai mid test itu akan menentukan kelulusan mu sebesar 30%. Mama benar – benar kecewa”

“mama?”

“walaupun hanya 30%, itu sangat berharga! Kenapa kau mengecewakan ayah mu?”

“ayah!!!!! Kakak! Kakak! Tolong aku! Bela aku! Lihat ini di dada ku! Lencana malam lailatul qadar!”

“aku tak melihat lencana apa pun di dada mu! Sudah ku bilang, kau akan tenggelam dalam tekad mu! Tenggelam! Tenggelam!”

“nggak mungkin! Tadi lencana itu berada disini! Dimana lencana itu?”

“kau benar – benar sudah tenggelam!”

“kakak!”

“yah tenggelam!”

“ayah, ibu!”

“benar – benar tenggelam”

“bu guru!”

Cahaya yang penuh itu menenggelamkan ku. Tiba – tiba saja semua gelap. Seolah – olah mata ku yang bengkak membutakan mata ku. Aku berusaha untuk melihat. Dan……….. mata ku terbuka dan semua itu hanya mimpi. Mimpi itu selalu datang beberapa malam. Aku takut, sangat takut. Mungkin kakak benar kalau aku harus memilih salah satu. Maafkan hamba-MU ini ya, Allah! Hamba  tak sanggup mengejar malam istimewa-MU. Tapi hamba berharap ENGKAU memberi kesempatan untuk mencari, mungkin bukan mencari tapi menjemput malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu.

Akhirnya aku angkat tangan. Dan belajar sungguh – sungguh. Lingkaran hitam di bawah mata ku masih terlihat walaupun mata ku sudah agak mendingan. Semua teman – teman yang melihat, selalu berkata bahwa aku belajar mati – matian sampai 100 kali lipat. Mereka salah besar! Aku capek. Aku capek dengan bulan ramadhan ini. Aku memopong nama ku, iswari ramdhani. Menopang kata ramadhani dalam nama ku, membuatku ingin selalu ada untuk bulan ramadhan. Tapi apakah ramadhan selalu ada untuk ku? Yang aku takutkan tahun depan aku sudah tiada dan aku tak punya kesempatan untuk menjemput malam istimewa, lailatul qadar.

Keputusan yang berat bagi ku. Sekarang hari terakhir ku menjalani mid test. Aku senang masih mempunyai satu hari malam ganjil untuk berikhtikaf tapi tiba – tiba saja perut ku sakit, menandakan hal yang tidak baik. Jangan – jangan stamina ku melemah. Ya Allah jangan turunkan stamina hamba – MU ini. Sesampai di rumah, do’a ku terkabulkan. Stamina ku masih stabil tapi yang bikin aku kesal. Sakit perut itu datang karena aku datang bulan. Semua terjadi dengan tak terduga dan tak sesuai dengan rencana ku.

Aku jadi benci semua orang termasuk Allah. Mereka semua tidak memberikan ku kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Malam hari, aku duduk di atas atap dengan mengeluakan semua air mata. Biarkan saja mata ini bengkak kembali.

“jangan begitu. Semua orang tidak bermaksud menghalangi mu untuk mencari malam lailatul qadar mu itu” sapa seseorang.

“tidak bermaksud? Aku takut kesempatan ku untuk mendapatkan malam lailatul qadar tahun depan tidak ada. Pokoknya aku benci semuanya! Bahkan aku benci pada Allah!” teriak tangis iswari. “berawal dari ayah yang tak menepati janji, bu guru yang menyuruh ku belajar dengan giat 2 kali lipat, ibu yang melarang ku untuk begadang, nasihat – nasihat kakak, mimpi buruk yang menghantuiku belakangan ini dan terakhir Allah yang tak memberikan ku kesempatan di detik – detik terakhir”

“ayah tidak menepati janjinya karena musibah yang menimpa saudara kita, guru mu menyuruh belajar dengan giat 2x lipat karena dia ingin kau berhasil menjalani mid test, ibu melarang mu begadang karena dia khawatir akan kesehatan mu, nasihat ku berikan karena aku peduli pada adikku, mimpi – mimpi mu itu menandakan pikiran dan hati mu capek untuk menjalankan 2 tekad secara bersamaan sampai mereka selalu memperingati mu tiap malam, dan bukan Allah yang mendatangkan datang bulan mu. Kamu datang bulan karena kamu kecapekan. Jangan pernah kamu membenci Allah karena suatu rencana yang tak berjalan dengan lancar” amin duduk di samping iswari.

Aku menerima apa yang di katakan kakak. Mereka semua melakukan hal itu terhadap ku karena ada alasannya. Mungkin aku terlalu egois, mementingkan tekad di banding diri ku sendiri. Aku belum bisa mengerti orang lain, aku terlalu keras kepala, aku tak sabaran, aku cepat marah, aku cepat berpikiran negatif terhadap orang lain, berburuk sangka, aku cepat menyalahkan orang lain ketika semua rencana berjalan dengan tidak sesuai, aku bersikap pesimis dan terakhir aku mulai membenci Allah hanya karena aku tidak dapat kesempatan di detik terakhir. Mungkin itu semualah yang menghambat diri ku untuk mencari, menjemput dan mendapatkan malam lailatul qadar.

Benar – benar malam yang istimewa. Mungkin aku belum pantas untuk menjemputnya dan mendapatkannya. Dengan teropong yang berada di tangan ku, mungkin aku hanya bisa mencari – cari bulan yang lain. Bulan yang biasa tanpa keistimewaan. Aku dan kak amin duduk di atas atap dengan menyalakan kembang api. Aku hanya bisa minta maaf kepada Allah yang maha pengampunan atas keburuk sangkaan ku terhadapnya apalagi rasa kebencian yang mulai muncul.

Banyak yang ku pelajari di bulan suci ramadhan ini. Mungkin keputusan ku adalah keputusan yang bijaksana. Tapi tahun depan, aku nggak akan menyerah! Aku akan terus berusaha mendapatkan malam istimewa itu. Bersama kakak, aku duduk di atas atap menikmati keindahan malam yang gelap ciptaan Allah.

Lilin Terakhir

~Manusia diciptakan untuk mempercayai indra penglihatannya dibandingkan keempat indra lainnya. Itulah mengapa manusia takut pada sesuatu yang tidak terlihat. Tuhan, masa depan, kematian, dan hal yang tidak terlihat lainnya~

***

lilin

            FHUUUUU…

Lilin ke 25 telah mati dan seperempat kegelapan mulai menyelimuti ruangan tari yang luas dan kosong itu. Kamu melebarkan matamu untuk memastikan Fandy, temanmu itu berjalan ke arahmu dan ketiga temanmu. Kamu memainkan jemarimu, menggigit bibir bawahmu perlahan, menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa Kamu tidak sendirian. Terlihat di samping kananmu Rima yang menyenderkan kepalanya di bahu Tendi, kekasihnya, dan Ali yang dari tadi merunduk di samping kirimu. Fandy yang merangkak ke arahmu itu, akhirnya duduk di hadapanmu, membuat posisi duduk lingkaran menjadi sempurna.

“Haaa…mulai berasa gelapnya dan atmosfirnya. Gue percaya setan itu ada dan mungkin mereka sedang berada di sekitar kita.” Kata Fandy dengan sedikit berbisik. Membuat keheningan semakin terasa.

Kamu dan keempat temanmu saat ini sedang duduk melingkar di tengah ruangan tari penuh cermin yang gelap dan hanya disinari 100 lilin yang mengelilingi. Lingkaran yang Kamu dan temanmu buat dari posisi duduk, cukup jauh dari 20 lilin yang merupakan lingkaran pertama yang mengelilingi dirimu dan temanmu. Setiap orang wajib membagi cerita horror yang mereka punya, dan setiap selesai menceritakannya, orang itu harus meniup satu lilin. Dari awal hanya Kamu yang menentang ide Fandy ini, walau semua ini dilakukan demi “Team Building” kelompok. Baca lebih lanjut

Legenda Sagakuriang dan Mapon Kundang

Alice Nine

Hiroto atau yang biasa disebut Pon mengisi waktu luangnya dengan mengutak-atik sebuah laptop. Ia senyum-senyum dan asik sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya. Tanpa disadari oleh Pon, Nao sudah berada dibelakangnya.

“Uwaaah…tiba-tiba saja” Kata Pon yang terkejut mengetahui Nao berada di belakangnya.

“Sedang apa, pon?” Tanya Nao

“Kau tidak liat? Sedang browsing. Hohoho…lihat ini. FF mengenai kita. Mereka membuat versi yaoi pula” kata Pon dengan semangat.

“Yaoi? Apakah ada tentang aku?” Tanya Nao.

“Umm….daritadi aku hanya menemukan cerita yaoi mengenai Tora dan Saga, Saga dan Shou, bahkan lihat ini…ini aku dan Shou” Kata Pon.

Nao hanya merengutkan dahinya. Ada beberapa pemikiran yang melintas di pikirannya. “Ah, kau membacanya?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya. Hohoho…aku tidak bisa membayangkannya” kata Pon.

“Aku pinjam” kata Nao yang langsung mengambil alih laptop. “Sebaiknya cari yang lain. Seperti legenda gitu. Nah…ini”

****

Cerita dimulai dari alkisah seorang wanita cantik yang bernama Dayang Shoumbi.  Dayang Shoumbi memiliki kecantikan abadi, yang membuat wajahnya tak pernah tua. Semua orang mengagumi kecantikan Dayang Shoumbi namun hati Dayang Shoumbi hanya dimiliki satu orang yaitu,Si Toramang. Si Toramang yang merupakan jelmaan macan liar itu pun menikahi Dayang Shoumbi. Mereka memadu kasih dan akhirnya memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Sagakuriang. Seiring berjalannya waktu, Sagakuriang tumbuh menjadi sosok lelaki yang tampan. Sementara wajah Dayang Shoumbi, ibunya tidak pernah tua. Bahkan semakin cantik. Kecantikan Dayang Shoumbi membuat Sagakuriang terpesona dan jatuh hati pada ibunya sendiri.

Suatu hari Si Toramang yang menjelma menjadi macan, mengajak Sagakuriang berburu di hutan.

“Mengapa ayahku adalah seekor macan bisa menikahi Dayang Shoumbi yang begitu cantiknya??” Tanya Sagakuriang dalam hati. “Rasanya Aku lebih pantas menjadi pendamping Dayang Shoumbi”. Sagakuriang berjalan sambil memikirkan cintanya terhadap Dayang Shoumbi. Ia merasa macan pemburu jelmaan yang merupakan ayahnya sendiri tidaklah pantas mendampingi Dayang Shoumbi.

Di tengah hutan yang begitu gelap, Sagakuriang dan toramang jelmaan macan mulai berburu untuk memenuhi makan malam mereka.

“Disini kita akan mulai berburu, nak” kata Toramang dalam jelmaan macan. “Sekarang praktikan apa yang telah ayah ajarkan padamu, nak”

Sagakuriang mengeluarkan golok asahan kebanggaannya. Dengan mata tajam, dia mulai membunuh ayahnya sendiri. Sagakuriang tidak terkendali, Ia menghabisi ayahnya demi mendapatkan cinta Dayang Shoumbi. Setelah sang ayah, tora mati. Sagakuriang mulai menyadari perbuatannya. Dia mulai memegangi kepalanya dan pergi keluar hutan berlari pulang dengan tangan dan golok yang berlumuran darah.

“Sagakuriang? Itu kau?” Tanya Dayang Shoumbi yang terkejut melihat Sagakuriang yang pulang dengan cepat.

Sagakuriang berjalan memasuki ruangan dan mulai melihat wajah Dayang Shoumbi yang membuatnya terpesona.

“Dimana tora? Mengapa tanganmu penuh darah??” Tanya Dayang Shoumbi memegangi pundak Saga yang berbidang. Kulitnya yang putih kontras dengan darah segar yang menyelimuti tangan kanannya.

Sagakuriang yang benar-benar jatuh hati pada Dayang Shoumbi hanya diam dan tersenyum pada pujaan hatinya yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Tangan kiri Sagakuriang mengelus rambut Dayang Shoumbi dengan lembut.

“Aku terluka. Ayah menyuruhku pulang dan dia berburu sendiri” kata Sagakuriang.

“Benarkah? Kalau begitu, mari ku obati lukamu” kata Dayang Shoumbi.

Dayang Shoumbi membersihkan tangan kanan Sagakuriang yang penuh darah. Dayang Shoumbi melihat luka-luka Sagakuriang yang dikarenakan beberapa gigitan binatang buas. Dayang Shoumbi begitu mencemaskan luka sagakuriang, Ia pun membalut luka sagakuriang dengan hati-hati. Sagakuriang yang duduk dalam diam hanya memperhatikan kecantikan Dayang Shoumbi. Hatinya semakin berdegup kencang melihat raut wajah Dayang Shoumbi yang sedang membalut lukanya.

“Aku cinta padamu, Dayang Shoumbi” kata Sagakuriang yang meluncur begitu saja.

Dayang Shoumbi yang terkejut pun mulai menghentikan membalut luka Sagakuriang. Dia pun memandangi Sagakuriang yang tersenyum jenaka terhadapnya.

“Sudah mulai larut. Aku akan mencari tora” kata Dayang Shoumbi yang menghiraukan pernyataan Sagakuriang.

“Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku” kata Sagakuriang yang memegangi tangan Dayang Shoumbi. Mencegah Dayang Shoumbi untuk mencari ayahnya ke hutan. “Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

“Kau gila. Ayahmu belum pulang. Aku harus mencarinya. Aku begitu mencemaskannya” kata Dayang Shoumbi yang melepaskan tangan Sagakuriang dan pergi mencari Tora jelmaan macan, suami terkasihnya.

Sagakuriang yang masih tersenyum hanya berkata “Aku gila karenamu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi berlari menuju hutan. Begitu cintanya, Ia terhadap suaminya. Sampailah di tengah hutan. Ia menemukan jejak-jejak darah. Dayang Shoumbi pun mengikutinya dan betapa terkejutnya dia menemukan Toramang, suaminya dalam bentuk tubuh manusia terkapar penuh darah. Dayang shoumbi menangis dan memeluk suaminya itu. Di bibir tora, Dayang Shoumbi menemukan potongan baju Sagakuriang. Ia menduga bahwa luka pada tangan Sagakuriang adalah hasil dari gigitan Tora. Dayang Shoumbi yang terpukul mengetahui bahwa Sagakurianglah yang membunuh Tora pun mulai menguburkan suami terkasihnya seorang diri. Setelah itu, Dayang Shoumbi pulang dengan penuh amarah.

“Sudah pulang kau rupanya, calon istriku” kata Sagakuriang menyambut Dayang Shoumbi dan hendak memeluknya.

Dayang Shoumbi menampar pipi putih Sagakuriang. “Pembunuh! Aku tidak mau hidup bersama anak pembunuh sepertimu”

“Tunggu sebentar, Nao. Tragis sekali cerita ini” kata Pon yang mulai ikut mengikuti alur cerita.

“Kau membacanya?” Tanya Nao yang hendak menutup jendela browsing.

“Umm…lanjutkan saja. Aku ingin melihat endingnya” kata Pon yang mulai mengikutinya.

Sagakuriang yang tidak mempedulikan kata-kata Dayang Shoumbi pun langsung memeluk paksa Dayang Shoumbi. “Macan itu tidak pantas mendampingi mu. Karena aku lah yang pantas mendampingimu. Aku mencintaimu, Dayang Shoumbi”

Dayang Shoumbi yang berusaha melepaskan pelukan Sagakuriang namun tidak bisa hanya pasrah dan memukul punggung Sagakuriang. “Kau gila. Buktikan kalau kau memang mencintaiku. Buktikan bahwa kau memang pantas menjadi pendampingku”

Sagakuriang mulai melepaskan pelukannya pada Dayang Shoumbi. “Apapun itu asalkan demi kau menjadi istriku, aku akan melakukannya”

Dayang Shoumbi yang menyetujuinya pun meminta Sagakuriang untuk membuat perahu dan telaga dalam waktu semalam. Sagakuriang yang menyetujuinya pun langsung pergi keluar rumah. Sebelum Sagakuriang meninggalkan rumahnya, dia pun berjanji bahwa Dayang Shoumbi akan segera menjadi miliknya.

Tubuh Dayang Shoumbi bergetar dengan segala hal yang terjadi pun hanya bisa berharap bahwa anaknya tidak akan bisa menyelesaikan perintahnya dalam semalam. Dengan bantuan para Iblis, Sagakuriang dengan cepat mengerjakan perintah Dayang Shoumbi. Dayang Shoumbi yang mengetahui hal itu pun mulai cemas. Dia pun memohon kepada Tuhan agar matahari segera datang. Dayang Shoumbi menyerahkan dirinya sebagai sebuah ganti bila permohonannya terkabul.

Ketika itu, fajar pun mulai merekah di ufuk timur. Melihat itu, Sagakuriang panik dengan pekerjaannya yang belum selesai tepat waktu. Sagakuriang yang marah besar hendak mengejar Dayang Shoumbi dan memperlihatkan bukti cintanya. Namun Dayang Shoumbi tiba-tiba menghilang. Membuat Sagakuriang benar-benar kesal dan hendak menendang perahu yang sudah capek dibuatnya.

“Et, et…haiaaah…mana tadi ceritanya?? Haa…bentar lagi selesai tuh” kata Nao.

“Maaf, kepencet. Coba cari kata perahu” kata Pon yang tidak sengaja menekan exit pada jendela browsing. Ia pun mengutak-atik mencari cerita legenda itu lagi dengan keyword ‘perahu’. “Okeh, lanjut lagi ini dia”.

“Stop! Jangan ditendang. Aku akan membelinya” Kata seseorang pria yang sepertinya adalah saudagar kaya raya.

“Siapa kau?” Tanya Sagakuriang yang mulai jengkel.

“Kenalkan, Aku Mapon Kundang” kata pria itu dengan dandanan pakaian ala Sumatra barat. “Aku merantau dari Sumatra. Setelah kaya raya, aku akan balik kesana. Tapi perahuku rusak. Sepertinya perahu buatanmu bagus dan berkelas”

Sagakuriang yang baru pertama kali melihat seorang pria dengan dandanan Sumatra itu pun menyetujui perahunya dibeli. Dengan duit hasil jual perahu, Sagakuriang pergi mencari Dayang Shoumbi, cinta terkasihnya.

Sementara itu, Mapon Kundang menggunakan perahu Sagakuriang dan pergi berlayar ke kampung halamannya. Bersama awak kapal dan istrinya. Mapon kundang menjelajahi laut. Dari Bandung tempat Sagakuriang berada, hingga sampai di Sumatra Barat. Akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Mapon Kundang.

“Ibu Nao!! Mapon kundang telah pulang” kata beberapa orang yang menghampiri seorang Ibu yang rindu akan anaknya, Mapon kundang.

“Mapon!! Syukurlah kau pulang. Ibu rindu padamu” kata ibu Mapon kundang yang memeluk Mapon kundang melepas rindunya.

“Cih, siapa kamu! Aku tak pernah punya ibu miskin seperti kamu. Kau salah orang” kata Mapon Kundang yang pergi meninggalkan ibu tua itu.

“Ya, tuhan bila Ia memang benar anakku, aku sumpahi Ia menjadi……”

Piiip…piiip….Low batteray…piip…

“Yaaah….mati. Sial!! Aku lupa nyolokin chargernya!!!” kata Pon histeris.

Mau Kemana?

Tidak kemana-mana. Hanya disini, Andre berdiri dalam diam sambil melihat sebuah kertas berarti di tangannya. Ia menghela nafasnya dan mulai merekahkan senyumannya. Sesekali Ia menatap punggung gadis pujaan hatinya yang sedang mengangkat sebuah almamater berwarna kuning. Almamater berwarna kuning itu tampak berkilauan di bawah sinar matahari yang menyinarinya. Terukir senyum kebanggaan di bibir sang gadis. Matanya tak sedikit pun pindah dari almamater itu.

Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang. Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya. Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

~***~

            “Aku sih udah pasti teknik industri UI”

“Hmm aku apa yah? Yang pasti tujuanku itu UGM!”

Andre memejamkan matanya sambil mengemut lebih dalam es krim yang ada di tangannya. Ini masih pagi, di hadapan papan nilai angkatannya, telinga Andre harus dicambuk oleh topik pembicaraan ‘tujuan perguruan tinggi’. Ia menghela nafas panjangnya sambil menatap kepergian dua perempuan yang baru saja melewatinya.

Beberapa bulan lagi ujian nasional, yang Andre lakukan setiap hari hanyalah berdiri di hadapan papan nilai yang terpajang megah sambil menikmati makanan pokoknya, yaitu es krim. Andre menatap namanya yang tak pernah berpindah dari angka 190 dari 200 anak di angkatannya. Kemudian matanya berpindah pada sebuah nama yang nasibnya sama sepertinya. Nama yang tetap berhenti di tempat dan tak berpindah dari peringkatnya.

“Cocok dengan julukannya sebagai ‘forever number one’, Ana Larasati selalu berada di atas yah!” ujar sosok pria yang tiba-tiba berada di samping Andre dan merangkulkan tangannya pada pundak Andre.

“R.S.J!!” kejut Andre menatap pria yang berada di sampingnya.Pria gila yang tenar dengan inisial rumah sakit jiwa itu kini menyeringai padanya dan ikut menatap papan nilai. “RezaSatria Jaya. Haa selalu datang dengan penuh kejutan”

Reza hanya tertawa menanggapi teguran temannya itu.Ia menatap peringkat 200 yang menyantumkan namanya itu. Reza mendesis kegirangan kemudian menepuk pundak Andre dengan dengan semangat.“Kau lihat itu?Sesuai target, aku berada di peringkat 200. Hahaha”

“Kau gila! Kau ini pintar, tetapi mengapa kau malah mempermainkan peringkatmu! Kalau kau mau, kau bisa berada di peringkat satu!” seru Andre menatap heran pada Reza yang masih tertawa senang.

“Nah itu kau tahu! Hahaha aku bisa mencapai apa yang aku mau. Entah itu peringkat paling atas atau pun yang paling rendah.Aku berhasil menguji diriku sendiri dan pergi ke peringkat yang aku mau.Sekarang giliranmu, mau kemana?” jelas Reza penuh semangat.

Andre menelan ludahnya dan mulai menatap papan nilai kembali.Si jenius gila Reza Satria Jaya memang satu-satunya teman atau mungkin siswa di sekolahnya, yang tak pernah dapat pahami jalan pikirnya.Semua guru sudah tahu tingginya IQ Reza dan perilaku gila Reza yang tidak dapat diprediksi. Oleh karenanya, semua guru telah memberikan kebebasan pada Reza untuk melakukan apa pun yang Ia inginkan selama itu tidak melanggar peraturan.

“Ingatkan aku, minggu depan namaku di peringkat 50 yah. Hahahaha aku cukup puas dengan respon orang-orang dengan peringkat 200-ku itu. Tuh pujaan hatimu tetap berada di peringkat nomor satu! Kau tidak mau mengejarnya?Hehehe” ujar Reza menyeringai pada Andre sambil menepuk pundak Andre lagi.Ia melepaskan rangkulannya dari temannya itu dan hendak beranjak dari tempatnya. “Kejarlah!Dia masih tetap disana, tak ke mana-mana dari peringkatnya itu.Banyak pria yang mengincarnya juga loh. Hehehe”

Reza pergi meninggalkan Andre yang kini telah menghabiskan sebatang es krim yang merupakan sarapan paginya.Hati Andre berdegup sangat kencang menanggapi kata-kata reza.Ia pun mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari mengitari lapangan sekolah demi menghilangkan debaran hatinya itu. Sudah dua tahun hingga saat ini, hatinya tak pernah berubah, tetap pada Ana Larasati, si ‘forever number one’.

Bel sekolah berbunyi, Andre berhenti berlari.Ia menghela nafas panjangnya, memikirkan mau ke mana Ia setelah lulus nanti? Atau mungkin dirinya tidak lulus SMA? Semua kemungkinan muncul di benaknya, hingga membuat Ia berjalan tak tentu.

“Mau ke mana?”

Andre menolehkan kepalanya, mencari sumber suara yang menanyakan pertanyaan yang dibencinya mulai hari ini.Ia menemukan sumber suara itu. Suara seorang pria yang mengejar Ana.Andre memperhatikan punggung Ana yang sangat berkilauan dan kian jauh dari matanya.Hatinya mulai berdebar lagi, tetapi kali ini berhenti begitu saja ketika pria lainnya datang dan berjalan mengiringi Ana. Hingga Ia tidak perlu berlari lagi untuk menghilangkan debaran hatinya. Gadis pujaan hatinya itu terlalu berkilauan.Cantik dan pintar adalah paket spesial yang dimiliki Ana untuk menarik perhatian para pria.Tidak hanya menarik untuk dijadikan sebagai kekasih, tetapi juga sebagai calon istri.

***

            Andre memasuki kelas dan memandang kursi Ana yang penuh dengan beberapa temannya. Seiring dengan lamanya perasaan Andre pada Ana, Ia baru menyadari bahwa selama itu pula Ia sekelas dengan Ana. Selama itu pula lah Andre tak melakukan apa pun pada perasaannya, hanya memandang punggung Ana dari jauh dan memandang kakinya sendiri sebagai bentuk rendah dirinya.

Andre merundukkan kepalanya, menatap kakinya yang berjalan menuju kursinya.Ia melihat kaki lain yang duduk di kursinya dan mulai menatap wajah orang yang menduduki kursinya.

“Yo!” sapa Reza sambil menyeringai pada Andre yang masih menatapnya aneh. Reza mengetuk kursi di sebelahnya, memberi isyarat pada temannya itu untuk segera duduk.

Andre memutar bola matanya dan mulai duduk di sebelah Reza.Ia mencari sosok teman sebangkunya yang sudah duduk di tempat lain. Andre teringat akan hak kebebasan yang dimiliki Reza di sekolahnya. “Jadi ada angin apaan nih milih kelasku?”

“Hahahaha hanya ingin memata-matai cara belajarmu” canda Reza memandang meja Ana yang ramai dengan teman-teman yang sedang asik menanyakan pelajaran. “Atau mungkin cara belajar pujaan hatimu itu. Hehehe”

Andre mengulum bibirnya, tidak suka Reza mengusik masalah hatinya.Ia pun mulai menatap Ana lagi. Kini keramaian kelas terpusat pada kursi Ana.Hanya Andre dan Reza yang tetap duduk di tempat.Reza menatap Ana sambil menyeringai, mengeluarkan senyum jenakanya, senyum jahilnya.

“Kau tidak ikut ke tempat Ana?Semua orang saat ini sedang berlari dan kau hanya diam di tempat.Memangnya kau tidak mau ke mana-mana?” lontar Reza tersenyum menatap keramaian di kursi Ana. Ia tahu orang yang berada di sebelahnya sedang menatapnya dengan wajah aneh sekaligus heran seperti biasanya.

“Ana, kau mau melanjutkan ke mana nanti?” tanya salah seorang dari keramaian yang mengelilingi kursi Ana.

“Tujuanku ITB” jawab Ana tegas.

Suara Ana begitu nyaring hingga Andre dan Reza yang duduk di kursi paling belakang pun dapat mendengar jawaban Ana. Andre melirik Reza yang masih tersenyum santai, senyuman khas Reza yang tidak disukainya itu.Andre mulai memegangi kepalanya, merasa bahwa hanya dirinya lah yang belum mempunyai tujuan. Gadis pujaan hatinya ingin menjadi mahasiswi ITB, sementara Ia masih tidak tahu akan lulus dari sekolahnya atau tidak. Andre mulai memukul-mukul kepalanya. Mengapa Ia harus menyukai gadis yang tingkatannya begitu tinggi? Mengapa rasa sukanya tidak hilang sejak kelas satu saat Ia mengenal Ana? Menyukai seseorang yang sangat berbeda dengannya, membuat hati Andre sakit.

“Apakah selama ini aku gila?Kenapa aku baru sadar sekarang? Haruskah aku ke rumah sakit jiwa?” tanya Andre retoris. Ia mulai memandang seseorang yang berada di sampingnya. “Aku tahu, aku tidak akan bisa mengejarnya menjadi mahasiswa ITB, setidaknya beberapa bulan menjelang kelulusan, aku ingin dia melihat aku ada.Jadi, bantulah aku, R.S.J!”

Reza tercengang mendapati temannya berkata seperti itu. Setiap hari Ia sudah sering mendengar Andre berbicara tentang Ana, tetapi baru kali inilah Ia mendengar Andre memutuskan sesuatu. “Hahahaha sudah tidak tahan yah memandangi punggungnya terus? Aku hanya membantu seorang pemburu, seorang pria yang benar-benar teguh akan keputusannya. Jadi, kau sudah yakin dengan keputusanmu itu?”

Andre menelan ludahnya dan mengangguk.Reza hanya menyeringai, memberikan senyuman khasnya, senyuman jahilnya. Tiba-tiba Andre mendapati firasat buruk akan dirinya ditangan si jenius gila yang tak pernah dapat dipahami jalan pikirnya, Reza Satria Jaya.

***

            “Katanya ingin membantuku! Tapi ini mau ke mana?” tanya Andre mengikuti Reza yang berjalan di depannya. Andre melihat Reza menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruangan yang tidak disukainya. “Perpustakaan? Kau kan tahu, aku tidak suka bau keusangan itu! Aku alergi perpustakaan! Harusnya kau mengajakku ke tempat Ana dan …”

Reza meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Ia mendesis untuk menghentikan ocehan temannya itu. Andre pun menghela nafasnya dan mulai mengeluarkan sebuah masker berwarna hitam, kacamata hitam dan sebungkus permen rasa es krim. Setelah menggunakan masker dan kacamata hitamnya, Andre pun mengangguk sebagai tanda Ia sudah siap memasuki perpustakaan.

Reza menuju kursi favoritnya di perpustakaan.Kursi dengan pemandangan jendela yang menghadap ke lapangan.Andre duduk di tempat itu sambil menunggu Reza yang pergi mencari buku untuknya.Ia mulai membuka bungkusan permen rasa es krimnya perlahan. Bau debu, bau keusangan, bau buku mulai menusuk hidung Andre saat Ia membuka maskernya untuk memasukan permen rasa es krim ke dalam mulutnya.Sesekali rasa mual muncul di perutnya hingga membuatnya menghela nafas berulang-ulang.

Andre mengenakan maskernya lagi, mengunyah permen rasa es krim sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.Ia melihat punggung wanita yang tak asing lagi di matanya, punggung Ana. Ia melihat Ana mengangkat buku yang begitu banyak hingga Ia terjatuh.Andre terkejut dan ingin sekali membantu Ana berdiri dan membawakan buku-bukunya.

“Ingin membantunya berdiri yah?Ana bisa berdiri dengan kakinya sendiri.Tidak sepertimu, hanya bisa menatap kaki semu yang kau miliki itu” ujar Reza.

Andre terkejut dengan keberadaan Reza yang kini telah duduk di hadapannya.Keterkejutannya pun bertambah dengan buku-buku yang sudah menumpuk di mejanya.Andre mulai mengambil satu buku, penasaran dengan buku-buku yang dibawa temannya itu.Reza tertawa kecil, menyeringai dengan senyuman khasnya melihat wajah aneh Andre yang terkejut melihat buku-buku yang dibawanya.

“Kau kira, aku akan memberimu buku tips menaklukkan wanita yah? Hahahaha” lontar Reza bersamaan dengan senyuman khas yang tidak disukai Andre itu.“Belajar lah, Ndre!Ujian nasional sebentar lagi.Tak peduli mau ke mana dirimu nanti yang penting adalah usahamu dulu. Kalau sudah usaha, kau akan tahu kemampuanmu untuk target indahmu. Dan pasti kau akan bertanya, apa hubungan belajar untuk UN dengan Ana? Hahaha kau akan tahu setelah kau melakukan apa yang ku perintahkan”

Andre hanya berdecak kesal menanggapi ucapan Reza.Ia tahu bahwa temannya itu gila dan Ia masih saja mau berurusan dengan temannya itu. Reza memandang sepuluh bungkusan permen rasa es krim yang telah menjadi tumpukan sampah di atas mejanya.Ia mulai tersenyum penuh makna, “Oke, akan ku buat menarik. Minggu depan aku akan menepati janjiku untuk berada di peringkat 50. Kalau kau berhasil menggagalkan janjiku, aku akan memberimu es krim. Bila gagal, kau yang akan membelikannya untukku”

***

            Andre memukul-mukul papan nilai kesal, melihat namanya bertengger di peringkat 150.Di belakang Andre, Reza tertawa sambil mengemut es krim dengan nikmatnya. Sesuai janjinya, nama Reza berada di peringkat 50. Andre masih merasa kesal sekaligus senang dengan peringkatnya itu, Ia belum pernah merasakan gejolak seperti ini. Sebuah gejolak yang membuat hati melambung tinggi namun ada rasa perih ketidakpuasan disana.

“Taklukan matematika lebih dahulu, baru kau bisa taklukan wanita.Hahaha” canda Reza di sela-sela kekesalan Andre yang masih saja memandang papan nilai.Reza melihat Ana berada disana, berada tidak jauh dari tempatnya dan Andre berada.Reza hanya tersenyum sambil mengemut es krimnya.Ia memilih untuk tidak memberi tahu Andre dan membiarkan temannya itu larut dalam perasaannya saat ini.

Hari-hari berlalu, Andre tidak pernah mengetahui soal-soal yang Reza berikan bukanlah soal persiapan UN, melainkan soal persiapan masuk perguruan tinggi.Ia sangat senang melihat Andre menderita karena soal-soal itu. Hampir setiap hari, di perpustakaan dan meja yang sama, Andre dan Reza belajar bersama. Di tangan Reza, Andre mulai merubah dirinya.Di dalam perpustakaan, Andre sudah tidak mengenakan kacamata hitamnya lagi tapi tetap dengan masker berwarna hitamnya dan sebungkus permen rasa es krim yang menemaninya. Perlahan namun pasti, Andre mulai beradaptasi dengan bau ilmu pengetahuan yang dulu Ia anggap sebagai bau keusangan.

Reza berhasil mengalihkan perhatian Andre terhadap Ana. Kini hanya pelajaran dan masa depan lah yang Andre bicarakan hingga tanpa disadarinya peringkat 20 telah dicapai. Andre memandang namanya sambil tersenyum puas walaupun tetap Reza yang menikmati es krim dari uangnya.

“Uhuk…uhuk…jadi sekarang mau ke mana?” tanya Reza yang pada akhirnya membuang sisa es krim yang dimakannya. Setiap minggu mendapatkan es krim gratis itu ternyata membuatnya menderita juga.Dari belakang, Reza melihat kepala Andre yang mendongak ke atas. Baru kali ini lah, Andre menatap namanya dengan cara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

“Aku ingin ke sana!” seru Andre menunjuk peringkat angka satu di papan nilai itu.

“Woah! Jadi target kita minggu depan adalah nomor satu nih? Baiklah.Tapi kali ini, aku tidak ingin es krim lagi” kata Reza kagum dengan kemajuan temannya itu.

“Ah, sombong sekali kau! Minggu depan kau yang akan membelikan aku es krim! Dobel yah!” seru Andre menanggapi teman gilanya itu. Andre memandang lekat-lekat nama gadis pujaan hatinya itu, Ana Larasati. “Tapi bagaimana bisa aku melampaui Ana?”

“Bisa kok.Selama kau ini adalah seorang pria.Bersyukurlah kita dianugerahi syaraf otak yang lebih banyak dari wanita.Jadi, malu kan kalau sudah ada potensi tetapi tidak bisa digali” jelas Reza sambil menyeringaikan senyuman khasnya, senyum jahilnya.

Bunyi bel sekolah membuat Andre dan Reza meninggalkan papan nilai yang terpajang megah itu.Dari kejauhan Ana memperhatikan Andre dan Reza dengan tatapan perih.Ia pun mulai berjalan di belakang Andre dan Reza sambil memandang punggung dua pria yang kini kian jauh dari pandangannya.

Hari-hari berlalu dengan peringkat 2 yang diraih Andre selama tiga minggu berturut-turut.Peringkat 1 masih dipegang Ana, sementara Reza kembali dengan kegilaannya untuk mempermainkan peringkatnya.Semua guru berdecak kagum dengan kemajuan pesat Andre menjelang UN.

“Kalau begini caranya, kau bisa masuk universitas mana pun yang kamu inginkan, Ndre.Hebat, nak. Bapak salut denganmu” ujar seorang Pak Guru mengelus kepala Andre, sambil lalu pergi meninggalkan Andre di lorong kelas, tempat papan nilai terpajang.

Andre tersenyum melepas kepergian sang guru dan kembali mengalihkan matanya pada papan nilai yang berada di hadapannya. Tanpa disadarinya, Ana berdiri di sampingnya dengan mata seperti Andre.Mata yang terfokus pada namanya di papan nilai itu.

“Baru kali ini aku memperhatikan papan nilai hanya karena mu” kata Ana memecahkan keheningan.

Andre menolehkan kepalanya ke sumber suara.Ia terkejut melihat Ana yang berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Andre dapat memandang wajah Ana dengan jarak sedekat ini.Mata tegas, bibir mungil dengan hidung yang tak terlalu mancung dan rambut panjang yang terurai Ana, membuat hati Andre berdegup sangat kencang.Ana benar-benar cantik dan Andre pun makin ingin memiliki gadis pujaannya ini.Andre menghirup nafasnya dalam-dalam, terhirup aroma tubuh Ana yang membuat otaknya tidak bisa berpikir.Ia benar-benar ingin segera berlari untuk mengurangi rasa debaran hatinya yang kian memuncak.

“Harusnya aku tidak boleh merasa puas yah?Julukan itu malah menjatuhkan diriku sendiri. Lihatlah, nilai kita sama. Aku berada di peringkat satu itu hanya karena secara absen, namaku berada di atas namamu.Seandainya tidak seperti itu, mungkin kau sudah berada di peringkat satu meninggalkan aku” jelas Ana sambil menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan kesal pada dirinya sendiri.

“Aku tidak akan meninggalkanmu kok. Namaku akan selalu berada di dekatmu, nggak peduli siapa yang akan menjadi nomor satu. Aku selalu memimpikan ini, memimpikan namaku dan namamu berdekatan seperti suatu hal yang tak terpisahkan” jelas Andre tanpa disadarinya.

Mata Ana terbelalak mendengar apa yang diucapkan Andre. Kini Ia memandang wajah Andre dengan wajah tercengang. Andre memandang wajah terkejut Ana, membuat Ia tersadar dengan apa yang Ia katakan. Andre menggaruk-garuk kepalanya walau tak ada yang gatal.

“Ma…maafkan aku, Na!Pokoknya tetaplah jadi Ana biasanya.Ana yang ingin jadi mahasiswi ITB, Ana yang selalu berada di peringkat nomor satu, oke?” kata Andre gugup.

“O…oke” jawab Ana masih dalam keadaan kaget.

Andre berlari meninggalkan Ana yang masih terkejut.Ia pun berhenti perlahan sambil berteriak, “Anaaaa, ingat yah! Aku akan menjadi calon suami yang pantas untukmu! Janji padaku, jadi mahasiswi ITB yaah! Jangan pikirkan nama pria lain selain namaku!!!”

Wajah Ana memerah saat mendengar teriakan Andre yang kini telah hilang dari pandangannya.“Cieeeee” sorak sorai orang-orang di sekitar Ana yang mendengar teriakan Andre mulai terdengar dari berbagai arah.Andre mungkin sudah ketularan kegilaan Reza. Sekarang yang Ia lakukan adalah berlari kencang agar debaran hatinya cepat berhenti seiring tenaga yang Ia keluarkan.

~***~

            Andre menghela nafasnya lagi, kali ini lebih panjang.Ia memejamkan matanya sesaat, seolah-olah ingin mengeluarkan hal yang dipendamnya. Ia melihat punggung gadis pujaan hatinya itu dan mulai berkata, “Ba…bagaimana?”

Sang gadis masih berada di posisinya, berdiri memunggungi Andre dan memandang kagum penuh bangga almamater kuning yang dipegangnya.Andre mulai merundukkan kepalanya, menunggu sebuah tanggapan.

“Ana, bagaimana?Sudah siap belum?Jangan dilihat terus itu jakun!” kata Andre yang mulai melipat dan memasukkan kertas yang dipegangnya ke dalam kantong almamater berwarna biru yang dikenakannya.

Ana menolehkan kepalanya pada Andre sambil tersenyum manis. Iapun akhirnya mengenakan almamater kuning dengan lambang makara Universitas Indonesia yang dari tadi dipegangnya. “Hahaha ku kira, kau masih membaca surat dari Reza”

Andre hanya tertawa kecil menghampiri pujaan hatinya itu atau mungkin calon istrinya itu.Ia mulai mengalungkan tangannya ke pingggang Ana dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Ana. Begitu pula Ana yang menyambut pelukan Andre dan memperlihatkan papan yang bertuliskan nama Andre.

“Calon mempelai pria, lambang almamater ITB-nya ketutupan itu!” seru sang fotografer pre-wedding.

“Lambang kampusku itu harus kelihatan yah, Ndre!Ini lambang kampusmu aja aku perlihatkan” kata Ana merapihkan almamater miliknya yang dikenakan oleh Andre, calon suaminya.

“Iya-iya.Hahaha karena aku menang suit tadi, foto kali ini kita katakan UI yah” ujar Andre tersenyum memperhatikan calon istrinya itu.

“Iya deh.Foto pre-wed besok teriaknya ITB yah” balas Ana tidak mau kalah.

Setelah selesai merapihkan almamater ITB yang dikenakan Andre, mereka pun kembali ke posisi semula. Posisi saling merangkul dan mengangkat papan bertuliskan nama pasangan mereka. Fotografer pun mulai memberikan aba-aba, 1…2…3

“UI !!!” seru Andre dan Ana serentak memperlihatkan senyuman gigi mereka pada kamera.

~Yo! Konnichiwa! Hahaha kaget kan aku bisa bahasa Jepang? Padahal kemarin aku bilang, aku berada di Inggris.Pokoknya sekarang aku sedang ada di Jepang untuk risetku. Hehehe mungkin aku akan berpindah ke negara lain lagi kali yah? Hahaha sengaja lewat surat biar berasa dekat gitu. Hohoho selamat yah, Ndre! Habis lulusan langsung nikah.Asiiik yang ngelamar pake jakun UI. Kau lebih gila dari ku, Ndre! Kau menggilai Ana. Kalau sempat, aku akan datang ke pernikahan kalian. Salam hangat dari ku. Konnichiwa!! Hahaha

R.S.J~

            Sudah beberapa tahun lamanya, sejak kelulusan SMA, Andre berpisah dengan dua orang yang berarti untuknya.Walau begitu, janji itu tetap ditepati.Ana menepati janjinya untuk menjadi mahasiswi ITB.Sementara Reza dengan target dan kegilaannya, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Inggris.Melihat dua orang yang berarti untuk Andre sudah sukses, dia sendiri mau ke mana?Tidak ke mana-mana, hanya ke hati Ana.

SELESAI

Only You

ONLY YOU/EUNHAE/PG-15/GENDERSWITCH/ROMANCE/ONESHOOT

Cast: Donghae, Eunhyuk (yeoja), Hangeng dan Henry

Eunhae

*Donghae PoV*

Hai, namaku Donghae. Ya, tanpa ku perkenalkan diri pun kalian sudah tahu siapa aku. Hehe bukannya sombong, di sekolah ini tidak ada yang tidak mengenalku. Mau bukti? Saat ku berjalan, semua mata tertuju padaku terutama mata para yeoja itu dan yang ku lakukan hanya satu yaitu memberikan senyuman mautku yang mempesona ini.

 

“Annyeong, Donghae-a!!” sapa beberapa yeoja yang tersipu menatapku. Seperti biasa, untuk membahagiakan mereka, ku berikan senyum tipisku yang lembut. “Kyaa…Donghae sshi menatapku!!” sahut seru beberapa yeoja lain yang ku jumpai di lorong sekolah terpanjang—tempat favoritku menikmati waktu luangku di sekolah karena lorong ini adalah lorong ter-ramai.

Aku berjalan santai dan semakin memperlambat langkahku. Ku masukan kedua tanganku ke dalam kantong celana dan sesekali bersiul santai sambil mengumbar senyum terbaikku. Dari kejauhan, seorang yeoja dengan handphonenya menarik perhatianku. Ia berjalan santai tidak menatapku. Apa? Tidak menatapku?! Ini tidak boleh terjadi. Aku menatap yeoja itu yang semakin mendekat ke arahku. Dahiku mengerut, melihat yeoja itu yang tidak kunjung menatapku. Apakah handphonenya itu lebih menarik dibanding aku? Aku menggelengkan kepalaku.

“Mianhae” kata yeoja itu—tersadar aku menghalangi jalannya namun tetap pada pendiriannya, Ia tidak menatapku.

Ia bergeser ke kiri dan aku pun ikut bergeser ke kiri. Yeoja itu menarik nafas pelan namun tidak kunjung menatapku, Ia bergeser ke kanan dan aku pun ikut bergeser ke kanan. Aku menghalanginya jalan agar Ia melihatku dan menyapaku seperti para yeoja lainnya. Jangan salah paham, aku hanya berusaha adil. Aku tidak akan membiarkan satu yeoja pun tidak mendapatkan senyumanku—yang biasanya membahagiakan mereka.

“Apa?” tanya yeoja itu mendongakkan kepalanya, menatapku.

Akhirnya Ia menatapku. Aku mulai merekahkan ujung – ujung bibirku dan memperlihatkan senyuman terbaikku padanya. Yeoja itu mengatupkan mulutnya dan mulai mengangguk pelan. Akhirnya dia mengerti maksudku. Ayo, sapa aku! Kau ingin menyapaku, bukan?

Yeoja itu menepuk pundakku dan pergi meninggalkan ku begitu saja. Ia berjalan santai sambil menatap handphonenya lagi tanpa mempedulikan aku. Apa – apaan yeoja ini?! Tidak bisa dibiarkan. Namja setampan aku dianggurkan begitu saja, huh?! Dasar.

Aku menarik pundaknya hingga Ia menghentikan langkahnya dan menatapku santai. “Kau tahu siapa aku,huh? Aku Lee Donghae”

“Oh. Mau kenalan? Bilang dari tadi dong. Panggil saja aku Eunhyuk” yeoja itu langsung meraih tanganku dan menjabatnya. Ia memberikan senyuman ramahnya sambil memperlihatkan gusi giginya.

Aku tercengang mendapati perlakuan yeoja ini. Tanpa basa – basi, Ia menepuk pundakku lagi dan pergi meninggalkanku sambil menatap handphonenya lagi. Aku menatap tanganku kemudian menatap punggung yeoja itu yang semakin menjauh dari pandanganku. “Eunhyuk” gumamku

***

“Bwahahahahaha” tawa Hangeng hyung dan Henry membahana di telingaku. Mereka tampak senang mendapati diriku yang populer ini diperlakukan seperti itu oleh seorang yeoja yang memandangku dengan tatapan biasa. Atau mungkin tidak memandangku.

“Artinya teorimu yang mengatakan bahwa tidak ada satu pun yeoja yang tak mengenalmu itu salah” ujar Hangeng hyung di sela – sela gelak tawanya.

Mendengar itu dahiku mengernyit dan bibirku mengulum maju—tidak terima, berbeda dengan Henry yang tertawa semakin keras. Inilah kami, tiga namja tampan yang populer di sekolah ini. Aku dan Henry belajar banyak dari Hangeng hyung bagaimana caranya memperlakukan yeoja dengan baik.

Henry mengadahkan tangannya di depan wajahku. Ia tersenyum penuh kemenangan hingga aku pasrah mengeluarkan beberapa lembar uang yang ada di kantong celanaku. “Tunggu! Kau pikir, yeoja yang bernama Eunhyuk itu mengenalmu, huh?! Dia itu yeoja yang tidak peduli dengan sekitarnya kecuali dunianya”

Henry mendengus, mendengar ucapanku. Ia melirik Hangeng hyung sekilas dan Ia pun mengangguk—mengerti maksudku. “Aku terima tantanganmu”

*Donghae PoV end*

 

***

Seperti biasanya, Donghae berjalan santai di lorong favoritnya sambil memperhatikan para yeoja yang menatap kagum padanya. Di saat yang sama, mata Donghae tertuju pada yeoja yang menjadi perhatiannya belakangan ini. Seperti biasanya pula, Ia berjalan menatap handphonenya tanpa melihatnya.

Donghae menghela nafasnya dan tetap berjalan lurus sambil memperhatikan Eunhyuk yang berjalan ke arahnya. Dugaan Donghae tepat, Eunhyuk berjalan melaluinya begitu saja tanpa meliriknya. Donghae menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang—menatap punggung Eunhyuk yang semakin menjauh. Ia melihat Henry yang berjalan ke arahnya. Donghae bertaruh, Eunhyuk juga tidak akan mengenali Henry.

“Eunhyuk-aa” sapa Henry mengulum senyum sambil melirk Donghae di balik kepala Eunhyuk.

Donghae mendengus dan mulai merekahkan senyum kemenangan saat Eunhyuk berhenti di hadapan Henry tanpa memandangnya. Donghae bersiul pelan, Ia tahu Henry tidak akan menang darinya.

“Ah, Henry sshi. Annyeong!” sapa Eunhyuk yang langsung melipat handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya. Ia membungkukkan diri sesaat di hadapan Henry, layaknya para yeoja lain yang memuja Henry.

Henry semakin melancarkan senyuman mautnya sambil menatap geli wajah Donghae yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ah, tidak ku sangka. Kau mengenalku yah”

“Tentu! Siapa yang tidak mengenalmu? Kenapa Henry berkata seperti itu?” tanya Eunhyuk tidak mengerti. Kata – kata Eunhyuk membuat Donghae makin tercengang.

“Ah, anii. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar – benar mengenaliku. Repot juga kan kalau aku ingin berbicara denganmu tapi kau tidak mengenaliku” jelas Henry yang berhasil membuat Eunhyuk tersipu.

Donghae mengacak – acak rambutnya—tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari kejauhan, Henry mengajak Eunhyuk untuk berbincang – bincang ringan sambil lalu meninggalkan lorong—tempat Donghae berdiri memperhatikan.

Hangeng muncul tiba – tiba di balik punggung Donghae. Ia mulai merangkul pundak Donghae dan meletakkan dagunya di atas bahu Donghae. “Bagaimana? Ternyata kemajuan Henry lebih pesat dibanding dirimu. Tidak ku sangka, Henry yang terhitung murid baruku itu bisa mengalahkanmu, yang merupakan murid handalku”

“Itu hanya kebetulan!” seru Donghae yang masih memandang kepergian Henry dan Eunhyuk yang mulai luput dari pandangannya.

“Kebetulan? Lucu juga. Kebetulan yang menarik yah? Kenapa hanya dia, yeoja yang tidak memandangmu?” bisik Hangeng di telinga Donghae. Hangeng menepuk pundak Donghae dan pergi meninggalkan Donghae secara perlahan.

Mata Donghae membulat, menelan tiap kalimat Hangeng—gurunya itu. Deru nafas Hangeng masih terasa di sela – sela telinga Donghae hingga Ia benar – benar mengecam kata – kata Hangeng. “Kenapa hanya dia?” gumam Donghae sangsi.

***

Setiap hari Donghae rajin berjalan di lorong favoritnya. Ia baru menyadari bahwa Eunhyuk juga suka berjalan di lorong ini. Donghae mengerutkan alisnya, ini semua hanya kebetulan, pikirnya. Tidak hanya Eunhyuk yang suka berjalan di lorong ini. Ada banyak siswa yang melalui lorong ini setiap harinya walau lorong ini bukanlah lorong satu – satunya yang ada di sekolahnya.

“Kau lihat itu? Itu yang namanya Lee Donghae. Orang yang paling gigih, yang pernah ku kenal” jelas Hangeng memperhatikan Donghae dari kejauhan.

Henry mengangguk setuju dengan Hangeng. Dari jejeran jendela lorong, Henry dan Hangeng dapat dengan jelas memperhatikan gerak – gerik Donghae menyusuri lorong favoritnya itu. Hangeng mengangkat kedua tangannya dan mulai menyenderkan punggungnya ke pohon yang memayunginya.

“Film yang menarik. Kau dapat berapa? Sepertinya untung banyak” kata Hangeng melirik Henry penuh makna. Henry hanya tersenyum seraya menepuk saku seragam sekolahnya.

Karena Eunhyuk, Donghae melupakan senyum tipis mautnya yang biasanya Ia tebar pada para yeoja yang mengharapkannya. Beberapa yeoja menyapa Donghae namun Donghae hanya diam sambil terus menerus memperhatikan satu yeoja yang makin mendekat ke arahnya. Donghae baru menyadari bahwa lorong favoritnya itu terlalu padat dan ramai hingga Ia harus memfokuskan matanya pada Eunhyuk agar yeoja itu tidak luput dari pandangannya.

BRUK!!

“Donghae-aa!!”, “Donghae oppa!!” , “Donghae sshi!!”, “Gwenchanayo?!!” seru beruntun beberapa yeoja yang terkejut mendapati Donghae terjatuh. Mereka heboh membantu Donghae yang hanya terjatuh ringan.

Donghae bangkit dengan bantuan para yeoja itu. Ia mengangguk – anggukan kepalanya—mengucap terima kasih pada mereka. Bisa – bisanya Donghae tersandung dan terjatuh di lorong favoritnya, di lorong—tempatnya menebar pesona. Dan itu semua hanya karena satu yeoja, yaitu Eunhyuk.

Donghae mengadahkan kepalanya kemudian menyapu pandangannya ke segala arah, mencari sosok Eunhyuk. Yeoja rambut pirang dan pendek itu telah berjalan menjauhi Donghae. Tak disangka, yeoja itu berjalan santai tanpa mempedulikan Donghae yang terjatuh disana. Donghae yang terjatuh pun tidak dapat mengalihkan pandangan Eunhyuk dari handphonenya.

Keesokan harinya, Donghae telah membulatkan tekad. Donghae akan membuat Eunhyuk memandangnya hingga hanya dia yang ada di matanya bukan handphonenya. Donghae berdiri di ujung lorong, menghirup nafas dalam – dalam. Eunhyuk, hanya nama itu yang ada di otaknya sekarang. Donghae mulai berjalan santai seperti biasanya. Ia melirik beberapa yeoja yang tersenyum dan menyapanya. Kali ini Ia hanya mengangguk pelan—memberi respon pada para yeoja itu. Donghae memilih untuk tidak menebar senyumnya agar Ia fokus dengan sosok yang dicarinya.

Deg…Deg…dada Donghae berdegup kencang saat melihat sosok yang dicarinya telah Ia kunci di matanya. Donghae melangkahkan kakinya hati – hati, mengikuti irama tabuhan hatinya. Eunhyuk dengan handphonenya semakin mendekat ke arahnya, hati Donghae pun semakin bertabuh hingga kakinya tidak sabar untuk berjalan cepat. Eunhyuk berjalan melewati Donghae tanpa memandangnya bahkan meliriknya seperti biasanya. Donghae menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang kemudian dalam satu gerakan cepat Ia menarik lengan Eunhyuk dan meraih handphone Eunhyuk.

Eunhyuk yang terkejut pun langsung menerkam tangan Donghae yang mengambil handphonenya. Donghae mengangkat tangannya yang memegang handphone Eunhyuk setinggi – tingginya hingga Eunhyuk tidak dapat meraihnya.

“Masih tidak mau menatap ku juga?!” gertak Donghae memperhatikan mata Eunhyuk yang masih berusaha meraih handphonenya. “Ternyata memang hanya handphone ini yang ada di matamu? Baiklah”

“Jangan dibuka!!” pinta Eunhyuk memberontak.

Donghae tidak menuruti kata – kata Eunhyuk. Ia penasaran dengan dunia Eunhyuk yang selama ini berada di dalam handphonenya—yang telah membuat mata Eunhyuk tidak menatapnya. Donghae memegang kepala Eunhyuk, menghentikan yeoja itu untuk berontak. “Aku tidak mau menurutimu. Aku tidak menebar pesona senyumku belakangan ini hanya karena kamu yang ada di mataku. Aku tersandung dan terjatuh di lorong ini juga karena kamu. Karena hanya kamu yang ada di mataku. Tapi kenapa kamu tidak pernah mau menatapku?”

Eunhyuk menghentikan pemberontakannya. Ia makin membuang mukanya, tidak ingin menatap wajah namja yang ada di hadapannya kini. Donghae menggelengkan kepalanya dan mendesis heran. Bahkan sampai di detik terakhir pun, yeoja yang ada di hadapannya ini masih tidak mau memandang wajahnya. Donghae melirik handphone lipat Eunhyuk yang ada di genggamannya. Ia membuka handphone itu dan terkejut mendapati apa yang dilihatnya.

“Kau bilang, aku tidak pernah menatapmu? Selama ini di lorong ini, aku selalu memandangmu. Hanya kamu, dunia yang ada di handphoneku dan hanya kamu yang ada di mataku” jelas Eunhyuk merunduk—tidak ingin menatap Donghae.

Donghae tersenyum senang melihat semua foto – fotonya yang ada di handphone Eunhyuk. Ia meraih dagu runcing Eunhyuk dan menyuruhnya untuk menatapnya namun Eunhyuk malah menutup matanya—masih tidak ingin menatapnya. “Kau selama ini memandangku melalui handphne? Eunhyukkie, sekarang hanya ada aku di hadapanmu. Tataplah aku”

“Nggak mau. Aku malu” ceplos Eunhyuk masih bertahan dengan mata yang tertutup. Eunhyuk tidak tahu semerah apa wajahnya yang masih disentuh Donghae. Bibirnya terlalu jujur hari itu.

Eunhyuk dapat mendengar desisan tawa yang ditahan Donghae. Eunhyuk mengerutkan alisnya, semakin tidak ingin membuka matanya. Ia ingin cepat – cepat melepaskan diri dari Donghae namun ternyata tubuhnya terkunci oleh tubuh Donghae dan dinding lorong yang baru Ia sadari telah menjepitnya. Hati Eunhyuk bedegup semakin kencang, membuatnya ingin memberontak dari kuncian Donghae. “Ya! Apa yang akan kau laku—–“

Eunhyuk membuka matanya dengan cepat. Ia memandang mata Donghae yang berada tepat di depan matanya. Hidung Eunhyuk dan Donghae saling beradu. Donghae dengan beraninya mencium bibirnya di lorong yang masih ramai dengan murid – murid yang berlalu lalang. Donghae menatap mata bulat Eunhyuk yang terkejut memandangnya. Donghae melepaskan bibirnya dari bibir Eunhyuk namun Ia masih memandang mata Eunhyuk yang terbuka lebar memandanginya.

“Apa aku harus menciummu seperti ini dulu, baru kau memandangku?” goda Donghae mulai merekahkan senyum tipis mautnya. Ia menarik kepala Eunhyuk ke dadanya dan mulai memeluknya. “Kau malu kan? Biar aku yang menutupi wajahmu dengan tubuhku. Apa sekarang aku harus mengatakan kata itu?”

“Tidak perlu. Aku sudah mendengar kata itu dari hatimu” ujar Eunhyuk dalam pelukan Donghae. Eunhyuk tersenyum pelan, mendengar kata cinta dari tabuhan hati Donghae yang sama berdebarnya dengan hatinya. Donghae tersenyum dan semakin menenggelamkan kepala Eunhyuk ke dalam pelukannya.

_THE END_

Rahmah dan Dhani

Di sebuah mushola kecil yang terletak di halaman belakang rumah Pak Haji, aku duduk termenung dan sedih. Aku terus menerus melihat wajah seorang gadis polos yang tidur tersenyum. Bukan sekedar tidur, dia tidur untuk selamanya. Dari kejauhan terdengar alunan nada mobil ambulance. Rupanya Pak Haji telah datang bersama petugas ambulance untuk membawa gadis innocence ini pergi. Aku memegang tangannya yang dingin sama seperti udara malam ini. Rasanya air mata ini tak tertahan lagi. Air mata adalah hal yang menunjukkan suatu kelemahan hati. Aku tak mau terlihat lemah di saat seperti ini.

Pak Haji melepaskan tanganku dari gadis innocence itu dan membawanya pergi bersama petugas ambulance. Kerutan wajah Pak Haji menunjukkan lintasan kesedihan pada wajahnya. Aku hanya mengikuti Pak Haji dan petugas ambulance dari belakang. Aku berjalan sambil memegangi papan clipboard milik gadis innocence itu dan hanya ini benda kenanganku dengannya. Aku membuka lembar demi lembar kertas dan mengingatkan akan kenangan kami selama Ramadhan. Ini bukan kisah Romeo dan Juliet, ini kisahku dan adikku, Rahmah. Walaupun dia bukan adik kandungku, tapi aku sangat menyayanginya.

***

            DUAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!

Semua warga keluar dari masjid dengan wajah yang sangat, sangat, sangaaaat kesal. Ini untuk yang ketiga kalinya suara petasan itu muncul dari arah atas pohon. Para warga keluar bersama Pak Haji yang sedang menjadi imam tarawih mereka. “Hey, Dhani! Turun dari atas pohon itu! Dasar anak kurang ajar!” kata seseorang dari kerumunan.

“Emang aku kurang di ajar! Habis, nggak sekolah sih!”, kata lelaki yang duduk di atas pohon dengan tas selempang yang melingkar di tubuhnya. Semua orang memanggilnya dengan sebutan nama Dhani. Dia mengambil sebuah buku tulis dari tasnya dan mencatat sesuatu. “Eksperimen nomor 10, ternyata kesabaran manusia hanya memiliki batas 3 kali. Kata orang, manusia memiliki kesabaran yang terbatas. Tapi, kesabaran yang terbatas itu hanya 3 kali”.

“Kurang ajar kamu, ya! Ngapain kamu nulis–nulis hal seperti itu! Yang salah kamu, kok! Mengganggu kami sholat!”, kata beberapa orang dari kerumunan.

Aku menatap mereka semua yang mencaci diriku. Salah satu dari mereka, ada Pak Haji yang dari tadi hanya diam dan menatapku tajam. Mungkin aku bisa menuliskan di bukuku, bahwa tidak semua orang memiliki batas kesabaran 3 kali. Aku belum yakin melihat tulisanku tentang tidak semua orang memiliki batas kesabaran 3 kali. Saat itu, aku melihat seorang gadis yang tampaknya berusia lebih muda dariku. Dia berdiri di samping kanan Pak Haji. Dia memeluk papan clipboard dan tersenyum kepadaku. Orang yang aneh?

“Turun, nak! Bapak sudah memberi kesempatan kamu 3 kali. Kamu sudah puas, kan?”, kata Pak Haji yang berpakaian serba putih.

Kesimpulanku, katanya puasa itu melatih kesabaran. Tapi kenapa para warga tak bisa melatih kesabaran? Kalau begitu tak perlu puasa untuk melatih kesabaran. Dan juga katanya, puasa itu harus menahan amarah kita. Tapi kenapa para warga tetap mengeluarkan amarah mereka dengan cacian terhadap ku? Berarti puasa itu tak ada gunanya. Eksperimen nomor 10 selesai.

Saat semua orang memulai untuk menyelesaikan beberapa rakaat dalam sholat tarawih, aku turun dari pohon. Karena eksperimenku sudah cukup, saatnya aku pulang untuk beristirahat. Beberapa saat kemudian, Pak Haji pulang dengan membawa gadis berjilbab yang tersenyum padaku sambil memeluk papan clipboard. Oh ya, aku belum memberi tahu pada kalian semua, bahwa sebenarnya aku ini anak angkat Pak Haji yang hidup sebatang kara. Entah kenapa, Beliau memperbolehkan aku melakukan eksperimenku untuk menuju jalan Allah.

Lagi-lagi gadis itu memeluk papan clipboard dengan wajah tersenyum. Saat aku bertanya pada Pak Haji, Beliau menjawab bahwa gadis itu bernama Rahmah, dan dia lah yang akan mengakhiri eksperimenku. Dengan begitu, aku bisa langsung menuju jalan Allah. Tidak bisa! Aku merasa Bapak alias Pak Haji itu menginginkan aku mendapatkan bantuan dari orang lain. Aku tak mau dibantu orang lain untuk memuaskan keingintahuanku terhadap tujuan manusia pada Allah. Apalagi dengan gadis yang umurnya 2 tahun lebih muda dariku. Aku kan malu! Sebenarnya apa sih hubungan si Rahmah ini dengan Bapak angkatku? Bapak bilang, Rahmah adalah anak angkatnya. Berarti aku akan tersingkir dong? Tidak bisa, pokoknya aku nggak akan pernah mau menemukan jawaban keingintahuanku dari orang lain.

Pak Haji meninggalkan aku berdua dengannya di ruang tamu. Aku kesal dengannya. Jadi, aku biarkan saja dia yang bicara lebih dulu untuk mencairkan suasana. Lima menit kami habiskan waktu di ruang tamu dengan keheningan dan senyumannya itu. Aku muak dengan keheningan ini. Aku benci keheningan. “Kenapa tak mau bicara? Oh, ya! aku tahu! Menurut eksperimen ku nomor 3, wanita itu suka bergosip. Jadi, mentang-mentang bulan puasa … kau berusaha agar tidak banyak bicara yang cenderung ke arah menggosip. Benar, kan?”

Gadis yang bernama Rahmah itu langsung menulis sesuatu di papan clipboarnya yang terdapat kertas-kertas yang terjepit. Lalu dia menunjukkan tulisannya padaku, ~KENAPA KAKAK JUGA TAK MAU BICARA? APA KAKAK TERMASUK ORANG YANG SUKA MENGGOSIP? RAHMAH MENYIMPULKAN INI, KARENA KAKAK LANGSUNG MENUDUH RAHMAH TUKANG GOSIP~

“Aku bukan tukang gosip! Lagipula apa alasanmu menggunakan papan clipboard untuk berkomunikasi? Maka dari itu, aku menyimpulkan kau itu adalah orang yang munafik. Yang berpuasa untuk tidak bergosip hanya selama Ramadhan”

Kemudian, Rahmah menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi. Kali ini dia menuliskan ~MEMANGNYA KAKAK TAHU APA ARTINYA MUNAFIK?~

Aku terkejut melihat tulisannya itu. Aku menelan ludah karena tak sanggup untuk menjawab. Kenapa? Kenapa pertanyaanku mudah dipatahkan olehnya dalam waktu singkat? Padahal semua tetangga menjulukiku sebagai si pintar bicara. Karena aku bisa membuat pertanyaan yang membuat tenggorokan orang tercekik dan tak bisa menjawab. Aku benar-benar tidak tahu apa artinya? Aku hanya tahu kata itu dari sinetron saja. Ayolah, Dhani! Pikirkan baik-baik untuk membalikan pertanyaannya itu!. “Apa alasan mu memanggilku, kakak? Hah! Sok akrab!”

Rahmah menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi. Kenapa dia tak mau bicara padaku? Biasanya hanya orang berilmu yang tak mau banyak bicara padaku. Apa jangan- jangan dia lebih berilmu dibanding diriku? Tidak mungkin! Dia hanya gadis kecil. Saat itu, Rahmah membalikkan papannya dan tulisannya berbunyi ~RAHMAH MEMANGGIL KAK DHANI DENGAN SEBUATAN KAKAK, KARENA KITA BERDUA SAMASAMA ANAK ANGKAT. KALAU KAKAK TAK BISA MENJAWAB PERTANYAAN RAHMAH, KAKAK TAK PERLU MEMBUAT PERTANYAAN YANG SUDAH KAKAK KETAHUI JAWABANNYA~.

Aku semakin gugup melihat tulisan dan senyumannya itu. Mungkin anak ini adalah orang gila. Tak mungkin dia masih bisa tersenyum pada diriku ini. Tiba-tiba saja, senyuman yang membuat aku gugup itu memudar dari wajahnya. Dia menuliskan sesuatu di papan clipboardnya lagi, lagi dan lagi. Membuatku heran, kenapa dia masih tak mau membuka suaranya? Membuatku ingin tahu. Membuat aku ingin tahu? Aku jadi ingin membuat halaman tentang dirinya di buku eksperimenku. Setelah selesai menulis, seperti yang lalu, dia memperlihatkannya. Kali ini tulisannya berbunyi ~MAAFKAN RAHMAH YA, KAK! RAHMAH TAK BERMAKSUD MEMBUAT KAKAK GUGUP tunggu? Dari mana dia tahu aku gugup? Lalu aku meneruskan membacanya SUDAH TAK PERLU KAKAK PIKIRKAN LAGI. SEKARANG RAHMAH INGIN PERGI KE KAMAR YANG AKAN RAHMAH TEMPATI. MALAM SUDAH LARUT, RAHMAH INGIN TIDUR. SELAMAT MALAM~ saat itu, dia bangkit dari kursinya. Aku jadi merasa tak enak. Saat dia ingin pergi, aku mencegahnya agar tidak meninggalkanku di ruang tamu. Karena aku tahu, dia ingin membuatku menjadi agak santai dan nyaman. “Kenapa kamu berpuasa?”, tanyaku spontan.

Dia terhenti dan menuliskan sesuatu lagi. Lalu memperlihatkan tulisannya itu padaku. ~KARENA RAHMAH INGIN MENDAPATKAN CINTA ALLAH~. Cinta Allah? Dia pasti berbohong! Menurut eksperimenku nomor 1, para warga di sini berpuasa hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah. Jawabannya berbeda dengan para warga yang banyak aku tanyakan. “Kenapa kau mengharapkan cinta Allah? Menurut pengamatanku terhadap anak-anak cewek seusiamu itu, mereka lebih mementingkan cowok dari apapun bahkan otaknya pun berisi cowok. Intinya lebih mengharapkan cinta dari manusia lain”

Dia menulis sesuatu lagi. Yang sudah biasa kulihat bila aku berbicara dengannya. ~RAHMAH TAK MAU DAN TAK AKAN PERNAH MENGHARAPKAN KASIH SAYANG MAUPUN CINTA YANG BERSIFAT SEMENTARA. RAHMAH HANYA INGIN MENDAPATKAN CINTA YANG ABADI. DAN CINTA MAUPUN KASIH SAYANG YANG ABADI ITU DATANG DARI ALLAH~ Aku terkejut mendengar hal itu. Mungkin saat dia menuliskan segala sesuatu di papan clipboard yang dia gunakan untuk berkomunikasi padaku, tak ada suara yang terdengar oleh telingaku. Tapi tulisannya itu bagaikan suara yang sampai ke hatiku. Suara yang tak terdengar tapi menggetarkan hati. Membuat keingintahuanku menciut. Dia memiliki jawaban yang berbeda dengan manusia lain yang pernah kutanyakan, kecuali Pak Haji dan dia.

Aku heran, kenapa dia tak mau mengharapkan kasih sayang maupun cinta dari manusia lain? Allah menciptakan manusia di bumi untuk mencintai sesama manusia bahkan sesama mahkluk lain di bumi ini. Aku semakin ingin membuat eksperimen tentang dirinya. Dia langsung pergi dengan cepat. Dia tahu, aku akan bertanya lagi padanya. Benar-benar orang yang berbeda. Aku jadi tertarik untuk mengetahui dirinya lebih banyak.

Saat sahur, entah apa yang menggerakkan badanku untuk ikut serta sahur. Di minggu pertama Ramadhan, ini lah pertama kalinya aku berniat sekali untuk berpuasa. Sudah 6 hari aku tak berpuasa. Mungkin karena kata-kata Rahmah tentang cinta Allah. Aku jadi ingin berlomba-lomba dengan semua orang di dunia ini untuk mendapatkan cinta-NYA. Lagipula berlomba-lomba dalam kebaikan itu kan baik.

Pak Haji terkagum-kagum melihat diriku yang sedang menyantap sahur. Mungkin ini saatnya aku menghentikan eksperimenku. Dan memulai untuk merasakan puasa yang dibilang oleh anak muda di gang sebelah sebagai trend Ramadhan. Di meja makan, kami bertiga menyantap sahur dalam keheningan. Rasanya, aku ingin mengambil persediaan petasanku dan menghidupkannya di tengah meja makan. Aku benci keheningan.

Suatu hari, aku mulai bosan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Mungkin benar menurut ekperimenku nomor 5, puasa adalah ibadah terberat yang pernah di jalani oleh para warga. Tiba-tiba saja, Rahmah meminta izin padaku untuk membersihkan kamarku yang super jorok itu. Bahkan Pak Haji bilang, kandang ayam masih lebih bersih daripada kamarku. Rahmah beralasan, dia ingin memberi sebagian keimanan untuk aku dengan kamar yang bersih. Apa maksudnya itu? Apa itu maksud dari kebersihan sebagian dari iman? Setelah dia selesai, aku penasaran apa yang telah dia perbuat terhadap kamarku itu. Aku terkejut melihat kamarku.

Dimana poster-poster band luar negeri kesukaanku? Padahal poster itu susah payah aku dapatkan! Jangan-jangan dibuang di tong sampah! Tidaaaaaaaaak! Sekarang di dinding kamarku, hanya ada poster-poster tata cara sholat, poster untuk mengenali huruf Tajwid dalam Al-Qur’an dengan benar. Dan slogan-slogan yang dibuat sendiri oleh Rahmah. Slogan-slogan itu benar-benar mengerikan. Slogan-slogan itu berisi tentang hari kiamat bila aku tak mentaati semua perintah Allah. Aku benar-benar takut. Yang paling aku kesal adalah saat ku ingin melepaskan slogan-slogan itu dari dinding kamar, ternyata slogan itu tak bisa dilepas. Di bawah slogan, ada tulisan kecil berupa notebook yang bertuliskan bahwa hanya Rahmah saja yang bisa melepaskan slogan-slogan itu.

Aaaaah! Aku jadi takut sendiri melihat dinding-dinding kamar yang dulunya kusukai, saat masih ada posternya. Mungkin slogan itu tak bisa dibilang slogan. Karena banyak sekali. Satu hal lagi yang bikin aku kesal. Lemari kecil untuk menyimpan kasetku, berubah dan berisi buku-buku tentang ilmu agama mengenai Tauhid, Fiqih, kaidah-kaidah dalam Islam, kisah-kisah para Rasul Allah dan lain-lain. Seharusnya lemari kecil itu adalah tempat penyimpanan kaset-kaset yang aku sukai! Sekarang ada dimana kaset-kasetku itu? Aku cepat-cepat keluar dari kamar dan mencari Rahmah. Apa ini maksudnya memberi sebagian keimanan untukku dengan kamar yang bersih?

Saat aku menemukannya, dia sedang menyiram tanaman dengan wajah tersenyum di bawah sinar matahari. Dia menoleh dan melihat aku berjalan ke arahnya dengan penuh amarah. Dia tersenyum melihat aku yang datang padanya. Sebelum aku mulai memarahinya, dia memperlihatkan papan clipboardnya. ~MENURUT EKSPERIMEN NOMOR 10, BATAS KESABARAN MANUSIA HANYA 3 KALI. TAPI MENURUT RAHMAH, BATAS KESABARAN KAKAK HANYA 1 KALI~. Aku terkejut melihat tulisan di papan clipboardnya itu. Kalimat itu ada di buku eksperimenku. Tidak sopan melihat buku orang. Memang sih itu bukan buku diari, tapi…tapi…uuuuhh! Aku sebal dengannya. Tapi aku malah malu sendiri. Ternyata aku lebih buruk daripada para warga yang aku jadikan bahan eksperimen.

Kemudian Rahmah menuliskan hal yang lain di papan clipboardnya yang bertuliskan ~YANG SABAR YA, KAK! UNTUK MENJALANI PUASA INI. MAAF RAHMAH TELAH MEMBACA BUKU EKSPERIMEN KAKAK. TAPI BUKU ITU HANYA BERDASARKAN PEMIKIRAN KAKAK SAJA KAN? ISI BUKU ITU LUCU SEKALI~. Setelah aku membaca tulisan itu, aku melihat Rahmah yang menutupi bibirnya dengan papan clipboardnya. Mungkin dia tertawa? Haaaa…dia memang orang aneh tapi hanya dia yang bisa membuat rasa ingin tahuku semakin menciut dan kadang meningkat. Mungkin ini saatnya bereksperimen dengan berbagi ilmu bersama orang lain.

Hari-hari Ramadhan kulewati bersama Pak Haji dan Rahmah. Ya, aku mulai terbiasa dengannya. Teringat dengan buku eksperimen, aku benar-benar telah menyisikan halaman untuk eksperimenku terhadap Rahmah. Dia pasti berbohong mengenai dirinya yang tak pernah mengharapkan cinta dari manusia lain. Lihat saja! Aku akan buktikan pernyataannya itu salah. Aku akan mencari tahu, apa yang membuatnya istimewa selain diriku di mata Pak Haji.

Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, kenapa dia berkomunikasi menggunakan papan clipboard? Untuk menjawab pertanyaanku itu, langsung saja aku bertanya padanya. Dia hanya tersenyum padaku dan tidak menjawab. Sok jual mahal banget sih. Dasar wanita. Pak Haji berkata padaku, seorang wanita memang harus jual mahal. Karena mereka mempunyai perhiasan yang harus mereka jaga dari mata pria, yaitu aurat mereka. Oke, dugaan pertama untuk eksperimen nomor 1 bab Rahmah adalah kemungkinan dia jual mahal di depan semua orang. Mungkin dia ingin memperdengarkan suaranya hanya pada suaminya kelak.

Ternyata memang sangat membosankan untuk tinggal di rumah sendirian. Rahmah pergi ke tempat mobil perpustakaan keliling yang sedang berkunjung ke alun-alun, sementara Pak Haji mendapat tawaran berdakwah sana-sini. Dan aku hanya diam di rumah sambil memperhatikan  anak-anak lain berseragam sekolah putih  abu-abu. Iri? Jelas aku iri. Tapi ini lah resiko yang aku tanggung karena telah menolak tawaran Pak Haji untuk menyekolahkan aku. Daripada bosan dan berpikiran yang tidak-tidak, aku mampir ke pos gang sebelah dengan ditemani tas selempang kesayanganku. Ya, pos gang sebelah adalah tempatnya anak-anak bertingkah laku preman dan brandal. Pak Haji melarang aku untuk ke sana, tapi peraturan memang dibuat untuk dilanggar. Jadi, aku sering pergi ke sana untuk ngobrol. Terlihat disana, anak-anak yang sudah tidak sanggup untuk menjalani puasa. Istilah puasa bagi mereka adalah Trend Ramadhan.

“Hoy, Dhani! Jarang sekali hidung elu terlihat disini. Kita rindu ama elu!” sapa seorang lelaki yang lebih tua. Yang diduga sebagai bos di pos ini. Panggilannya BP (singkatan dari bos pos. Di baca : Bepe)

“Assalammu’alaikum, Bep!”

“Sudahlah. Jangan pakai kata sandi itu! Kata itu dikatakan saat ada orang – orang yang lewat di depan pos kita saja”, kata Bepe. Benar-benar orang bermuka dua. Di depan orang bersifat seperti kucing tapi kalau di belakang, bersifat seperti harimau. Pantas saja pos ini tak digusur oleh warga. Aneh, hanya Pak Haji dan aku yang mengetahui hal ini. Kata Pak Haji, selama mereka tak berbuat macam-macam, kita pun tidak akan berbuat apa-apa terhadap mereka.

“Ada seorang gadis….”

“Jadi elu mau konsultasi cinta?”, potong Bepe. Benar-benar tidak sopan.

“Bukan. Dia cuma tidak mau berbicara padaku, mungkin hanya di bulan ramadhan ini”, jelasku.

“Mungkin dia sedang melakukan puasa ngomong”, sahut salah seorang anak buah Bepe.

“puasa ngomong?”

“Anak Pak Haji kok nggak tahu hal itu sih? Kita sering melakukan hal itu sebagai taruhan, dan kita tahu itu dari seseorang yang tak mau bicara pada kita”, jawab Bepe.

“Oh, begitu! Terima kasih. Aku mau pulang dulu”

“Elu kaga’ mau minum dulu?”, tanya Bepe yang memegang botol yang terlihat seperti minuman beralkohol.

Minum? Benar-benar mereka menganggap bulan suci Ramadhan itu sebagai trend belaka. Sungguh menyebalkan. Bulan suci Allah dipermainkan seperti ini. Sabar, Dhani! Ingat eksperimen nomor 10-mu. Bagaimana ya cara menasihati mereka? Ya, Allah! Aku telah melihat kemunkaran. Tidak mungkin, aku menggunakan fisik untuk melawannya. Atau menggunakan kata-kata yang penuh amarah untuk melawannya. Semoga hatiku sanggup melawan kemunkaran itu. “Terima kasih atas tawarannya. Aku masih menjalankan trend Ramadhan. Maaf, ya! Aku nggak mau ketinggalan trend saat ini”, singkatku dan berbalik pergi meninggalkan mereka. Apa segitu cukup untuk melawan kemunkaran? Ah, yang penting aku harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.

BRUUUKK!!

Ah, sakit. Kurang ajar! Beraninya melawan dari belakang. Apa itu pria sejati? Memukul orang dari belakang. Rasanya aku ingin membalasnya! Sabar, sabar!. Aku melihat jam tanganku, jam menunjukkan angka setengah tiga. Tanggung sekali untuk membatalkan puasaku begitu saja. Aku yang masih terkapar di tanah, melihat ke arah mereka. Ternyata mereka sedang menertawakanku. Aku berdo’a di dalam hatiku “Hey, malaikat Atid! Kau lihat mereka kan? Rekam keburukkan mereka! Dan beritahukan kepada Allah untuk membukakan pintu hati mereka. Amin”. Aku bangkit dan pergi meninggalkan mereka. Aku tidak lari. Karena kalau aku lari, aku benar-benar terlihat seperti seorang pengecut. Aku berjalan membalikkan tubuh tanpa menoleh ke arah mereka lagi. Aku berjalan santai dan tetap stay cool seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sepanjang perjalanan, aku mengambil buku eksperimen ku dan memulai menuangkan pemikiranku.

  • Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, dugaan kedua adalah dia sedang melakukan puasa ngomong selama Ramadhan. Eksperimen nomor 1 bab Rahmah berlanjut.
  • Eksperimen nomor 11, katanya sholat menghindarkan kita dari sifat keji dan munkar. Tapi kenapa masih ada aja orang yang bersifat seperti itu walaupun mereka sholat. Catatan khusus: itu terjadi bukan hanya pada Bepe and the gank. Apa kita tidak perlu sholat untuk menghindarkan diri kita dari sifat itu? Eksperimen nomor 11 berlanjut.

Saat melanjutkan perjalanan dengan pemikiran-pemikiranku dan buku eksperimen, aku melihat sosok gadis dengan jilbab putih dan senyuman yang sudah sering kulihat. Siapa? Tentu saja Rahmah. Aku melihatnya menghampiriku dengan senyumannya. Aku berhenti melangkah, tentu saja untuk menunggunya menghampiriku. Saat dia di hadapan aku, dia mulai menuliskan sesuatu di papan clipboard yang selalu dibawanya. Ya, aku sudah terbiasa melihat hal itu. Dia pun membalikkan papannya dan tulisan itu berbunyi ~KAK DHANI MASIH MENGGUNAKAN BUKU EKSPERIMEN ITU, YA? LEBIH BAIK KAKAK IKUT AKU KE SUATU TEMPAT YANG BISA MENJAWAB EKSPERIMEN PEMIKIRAN KAKAK ITU~. Aku hanya terdiam dan melihat wajahnya yang tersenyum padaku. “Dimana tempat itu?”

Rahmah menunjuk ke arah mobil perpustakaan keliling. Ah, aku mengerti maksudnya. Aku membaca? Aku malas sekali membaca. Aku lebih baik mendengarkan orang berceramah dibanding aku membaca. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku mau tahu tanggapannya terhadap jawabanku. Dan ternyata dia mulai menuliskan sesuatu lagi. ~PASTINYA KAKAK INGIN MEMUASKAN RASA KEINGINTAHUAN KAKAK TANPA BANTUAN ORANG LAIN KAN? SEKARANG SAATNYA MENCARI TAHU SENDIRI DENGAN MEMBACA~. Aku tercengang melihat tulisannya. Dia seperti pernah membaca isi hatiku. Memang itu prinsip aku, tapi masalahnya adalah membaca. Hal yang tak pernah aku lakukan. Rahmah memberiku isyarat untuk mengikutinya. Senyumannya itu yang membuat hatiku tergerak dan memasukkan buku eksperimenku, kemudian mengikutinya. Rahmah, kau nggak tahu kalau buku ini juga tentang kamu. Eksperimen nomor 2 bab Rahmah, kenapa dia selalu tersenyum? Dugaan pertama, senyuman itu membangun kesan ramah. Dugaan kedua, Rahmah ingin menambah pahalanya hanya dengan senyuman. Karena senyum adalah ibadah. Eksperimen nomor 2 bab rahmah selesai. Tentu saja, aku tak akan berhenti bereksperimen tentang mu, Rahmah.

Kami menghabiskan Ramadhan ini bertiga. Aku, Rahmah dan Pak Haji. 10 malam terakhir, kami bertiga menghabiskan waktu di mushola kecil Pak Haji untuk berikhtikaf. Kami begadang setiap malam ganjil untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Semoga saja kami bertiga mendapatkan malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu. Aku menyayangi Rahmah seperti adik kandung, seperti halnya Pak Haji menyayanginya seperti anak kandung. Kami benar-benar menyayanginya. Tapi Rahmah? Aku dan Pak Haji tak pernah mengusik tentang “kasih sayang fana”, itu di depannya. Karena eksperimenku tentangnya mulai terjawab sekarang.

  • Eksperimen 0 alias tidak bernomor (tujuan awal eksperimen) bab Rahmah, kenapa Rahmah tidak mengharapkan kasih sayang atau cinta dari manusia lain? Rahmah adalah anak yang di buang oleh orang tua yang tak mengharapkan kehadirannya. Mungkin itu alasannya untuk tidak mengharapkan cinta dari manusia.
  • Eksperimen nomor 1 bab Rahmah, kenapa Rahmah berkomunikasi menggunakan papan clipboard? Karena selama ini dia bisu, sesuai informasi dari Pak Haji setelah sekian hari. Catatan khusus: bukankah seorang yang bisu itu berawal dari tuli? Tapi kenapa aku dan Pak Haji masih bisa berkomunikasi dengan Rahmah tanpa menggunakan bahasa isyarat? Berarti dia bisa mendengarkan kami kan? Jawabannya adalah pada umur 8 tahun, Rahmah di beri mukjizat oleh Allah. Mukjizat itu berupa pendengaran. Walaupun dapat mendengar, dia masih belum bisa mengeluarkan suaranya. Tapi dia bersyukur dapat mendengar. Mungkin karena itu Rahmah sangat menginginkan cinta abadi yang datangnya dari Allah. Mengejutkan bukan?

 

Belakangan ini, wajah Rahmah pucat. Aku benar-benar memperhatikannya semenjak aku membuat eksperimen tentang dirinya. Mungkin karena setelah begadang  malam-malam ganjil kemarin ini, wajahnya menjadi pucat. Pada malam ke 29, saat kami mengaji (Rahmah mengaji dalam hati), Rahmah terjatuh dari posisi duduknya. Mungkin dia ngantuk? Tentu saja. Aku rasanya ingin tidur. Aku dan Pak Haji hanya membiarkannya tidur. Kasihan bila dibangunkan. Aku melihatnya tidur. Cantik sekali. Rasanya aku ingin melindunginya dan menjaganya setiap saat. Aneh, dia tertidur sambil tersenyum.

Aduh, jadi nggak konsen ngaji nih! Waktu berlalu begitu cepat, tidak menyangka waktu sahur telah tiba. Aku dan Pak Haji pun beranjak dari mushola untuk menyiapkan hidangan sahur. Biasanya, Rahmah yang selalu menyediakannya untuk kami. Walaupun ada waktu giliran untuk menyediakan santapan sahur. Sementara Pak Haji pergi, aku iseng-iseng mengintip tulisan-tulisan pada kertas-kertas terjepit di papan clipboard. Aku membaca kertas pertama. Kalimat-kalimat yang tidak aku ketahui. Sampai pada kertas kelima, aku melihat kalimat pertama kali ketika aku ngobrol dengan Rahmah. Jadi terkenang pada minggu pertama bulan Ramadhan. Dimana aku belum pernah puasa sekali pun. Aku hanya tertawa membayangkannya. Sesekali aku memandangi wajah Rahmah yang tidur sambil tersenyum. Aku pun teringat pada Pak Haji yang sedang bertarung di dapur untuk menyediakan santapan sahur. Aku pun beranjak pergi meninggalkan Rahmah yang masih tertidur dan langsung menolong Pak Haji di dapur.

Sementara aku meletakkan makanan di meja makan, Pak Haji pergi ke mushola kecil di belakang halaman rumah untuk membangunkan Rahmah. Tiba-tiba saja Pak Haji kembali dan berkata bahwa Rahmah telah tiada. Aku hanya diam. Pak Haji pun menghubungi dokter. Apa itu maksudnya tiada adalah arwah Rahmah yang telah tiada?

***

Bau obat menghentikan bayangan terhadap kenanganku dengan Rahmah. Sekarang aku di sebuah kursi rumah sakit. Yang ada di tanganku hanya sebuah clipboard milik Rahmah. Tulisan di papan clipboard itu mengingatkan aku dengan percakapan kami saat pertama kali bertemu sampai percakapan kami selama sebulan Ramadhan. Aku melihat halaman terakhir lembaran kertas yang terjepit di papan clipboard. Tulisan itu berisi ~TERIMA KASIH ATAS KASIH SAYANG KAKAK DAN BAPAK. RAHMAH BISA MERASAKANNYA, KASIH SAYANG SEMENTARA DARI MANUSIA~. Dengan begini, aku tambah sedih membayangkan ketiadaannya. Dia datang dan pergi dari kehidupanku di bulan Ramadhan. Satu hal lagi, slogan di kamarku tak ada yang bisa melepaskannya kecuali Rahmah. Aaaaaahhhh! Tidaaaaaaaaaak! Tapi mungkin tulisan slogan-slogan itu akan menjadi kenangan darinya. Dan mungkin juga, Allah mengirimkan Rahmah dalam kehidupanku untuk menunjukan jalanku menuju Allah.

Aku terduduk sedih seraya bergumam, “Rahmah, bila kau memang sudah tiada, tapi kau akan selalu ada di hati kakak. Sama seperti bulan Ramadhan ini. Tidak menyangka, bulan Ramadhan ini menjadi sebuah pertemuan dan perpisahan kita. Mungkin Allah sangat menyayangi mu sampai dia mengambil mu dari kakak dan Bapak. Kakak berharap kau berhasil mendapatkan cinta abadi dari-NYA. Kakak juga nggak akan kalah dari mu, kakak akan berusaha mendapatkan cinta-NYA juga”.

Pak Haji menghampiri aku dengan raut muka yang sama denganku. Dia pun duduk di sampingku dan berkata, “Apa rasa keingintahuanmu sudah terpenuhi atau terjawab, nak?”. Mendengar itu, aku jadi tambah sedih. Teringat akan eksperimenku yang sudah terjawab semua. Aku tak bisa berkata-kata dan tak bisa menahan air mata ini. Aku hanya mengangguk dan tak berani menatap wajah Pak Haji. Tiba-tiba Pak Haji berbisik pada ku, “Allah menciptakan air mata tentu ada gunanya kan?”. Setelah berkata seperti itu, Pak Haji berdiri dan menutupi diriku yang duduk di kursi. Sungguh, baru pertama kalinya aku memperlihatkan kelemahan hati pada orang lain selain Allah. Pak Haji sungguh baik telah berdiri membelakangiku, pura – pura tidak tahu apa yang aku lakukan.

 

~Rahmah, adikku yang mencintai Allah melebihi diriku. Aku akan mengingatmu dalam hati bukan dalam pikiran, aku akan mengenangmu dengan do’a bukan dengan air mata, aku akan merindukan suaramu yang terdengar di hatiku bukan di telingaku. Selamat jalan Rahmah adikku, selamat jalan bulan Ramadhan~.

Setelah menorehkan tulisanku pada papan clipboard Rahmah, aku pun mengusapkan air mata ini. Tentu awal yang berat bagiku. Suara gemuruh adzan shubuh sudah bergaung. Hari terakhir Ramadhan dan hari terakhir aku melihat Rahmah yang belum terselimuti tanah. Aku pun berdiri dan melihat wajah Pak Haji yang mengisyaratkanku untuk sholat. Sekilas aku melihat senyuman Rahmah di sampingku. Senyuman yang menggetarkanku dan senyuman yang selama ini menyiutkan rasa keingintahuanku. Di kejauhan sana  gema takbir berkumandang,

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR

WA LILLAH ILHAM….